
Sepanjang perjalanan menuju tempat dimana Pram berada, menempuh waktu yang cukup cepat, sebab taman itu tidak terlalu jauh dari pusat kota.
Ed sepertinya tahu jika Nana sangat merindukan sang mantan suami.
"Aku merasa kau tidak ada perasaan denganku, tetapi begitu ingin bersama mantan istrimu."
"Apa maksudmu? kenapa begitu mudahnya mengatakan hal yang demikian. Padahal kita sudah bertunangan."
"Aku hanya menerka saja, kau diam-diam ingin bertemu dengan mantan suamimu. Padahal kau sudah akan menikah denganmu. Apa itu hal yang layak di perbincangkan?" ucap Ed dengan nada dan mimik wajah serius.
Dia jarang mengatakan semua isi hatinya kepada Nana, baru kali ini saja sang wanita berada dalam kondisi terdesak, dia tidak mau mengakui apapun, hanya saja di paksa untuk mengatakan sesuatu.
"Kalau kau memang menganggap kami masih berada dalam kondisi yang kau curigai, kau salah. Aku saat ini masih senang memakai cincin pertunangan, kau adalah pilihan terakhirku."
"Buktikan jika itu nyata adanya."
Ed lebih cepat mengemudikan mobilnya karena akan memastikan jika apa yang ada di dalam prasangka hatinya.
.
.
.
Taman, tempat Nana dan Pram janjian ...
Pram baru saja turun dari mobil, lalu segera saja turun.
Dia membayar uang kepada tukang parkir, lalu berjalan ke arah sebuah kursi yang berada di antara area permainan anak-anak, konsepnya memang tempat itu ramah anak.
"Huft, akhirnya sampai juga, aku tidak menyangka akan bertemu dengan Nana secara diam-diam, rasanya sangat aneh."
Dia duduk dengan nyaman di sana sambil melihat ponsel, sedari tadi ada banyak panggilan, Pram tidak menggubris sama sekali.
Namun, saat ada pesan dari Nana, matanya sangat jeli.
Hanya saja saat membaca pesan yang di kirim, bibirnya tersenyum smirk.
"Cih, dia mau apa memangnya? sok sekali ingin bersama dengan Nana bertemu denganku, lalu setelah menjadi mata-mata, apa yang dia dapatkan?" ucap Pram.
Dia menelepon Nana, tidak ada gunanya bersembunyi lagi.
Nana tidak menjawab panggilan telepon Pram, namun membalas dengan sebuah pesan.
"Dua puluh menit lagi, aku akan sampai. Kau jangan datang dulu."
"Aku akan datang, nyatanya sudah ada di sini."
Sang pria berfoto selfi, dia langsung mengirimnya kepada sang mantan istri.
__ADS_1
"Sial, kenapa kau sudah duduk di sana. Pokoknya aku tidak mau kalian berada dalam masalah lagi. Kau yang bertanggung jawab."
"Iya, kau santai saja, tidak perlu merasa bahwa hidup ini sulit, kau hanya perlu bahagia. Paham tidak?"
"Tahu dah, malas denganmu! kau sangat susah diberi tahu."
Sang mantan istri tidak lagi membalas pesan dari Pram.
Pram segera menghubungi Nana dengan melakukan panggilan telepon.
Namun, hasilnya nihil.
Pram memiliki cara unik untuk mengusir Ed dari taman itu, dia akan menjadi badut anime.
Sang pria mencari badut dengan tokoh anime kesukaannya, kebetulan badut yang dia inginkan ada di sekitar tempatnya duduk.
"Aku ingin menyewa kostum yang kau pakai, habis berapa duit?"
"Dua juta untuk sehari."
"Oke, kau berikan kostum itu, aku akan bayar cash."
Setelah membayar, Pram meminta si pria badut untuk pulang terlebih dahulu, nanti kostum itu akan di titipkan pada satpam yang ada di taman.
Pemilik kostum setuju, dia sangat bahagia dengan uang pemberian sang pria sebab selama dua hari ini, dia hanya mendapatkan uang sedikit.
"Terima kasih ya, kau sudah menolongku," ucap pemilik kostum.
"Ya tuan."
Pemilik kostum, pergi dari taman.
Kini giliran Pram melakukan aksinya dengan baik, tapi sebelumnya memberitahukan pada Nana bahwa dia menggunakan kostum anime, berada di dekat area permainan anak.
Sang pria segera melakukan hal tidak terduga, dia masuk ke dalam kostum itu dan menghibur banyak orang.
Dia memanggil anak-anak, rasanya sangat nyaman dengan kondisi seperti ini.
..
Sedangkan di tempat lain ...
Mobil yang ditumpangi Nana, ternyata terjebak macet, Ed menjadi orang yang sangat sabar menunggu dengan bermain game.
Berbeda jauh dengan seorang Nana, dia sangat gelisah.
Rasanya sangat ingin pergi dari sana, lalu segera menemui Pram untuk menyelesaikan urusan.
"Kau gelisah? tidak sabar bertemu Pram?" tanya Ed.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan? apakah bagus berkata seperti itu padaku?"
Sang wanita agak ngegas, sebab Ed sangat senang mencampuri urusannya.
Padahal Nana hanya ingin berada dalam kondisi yang sangat bagus dalam berhubungan. Perasaan curiga ini akan mudah menimbulkan masalah di kemudian hari.
Ed juga tidak salah sebab dia cemas jika calon istri akan kembali pada mantannya.
"Iya, aku ingin kau menyadari bahwa cintaku lebih besar dari Pram. Kau hanya akan mendapatkan kesepian jika bertemu dengan pria semacam itu."
Perkataan Ed, membuat Nana terpancing emosi.
"Jika aku ingin kabur dengan Pram, sudah sejak dulu aku lakukan, tapi kenapa tidak demikian? aku menghormati kau. Kita akan menikah Ed, kenapa masih saja mengurusi hal-hal yang tidak penting ini."
Nana merasa Ed tidak percaya padanya, dia ngambek.
Ed juga merasa jengkel. Dia sangat mencintai Nana, tapi selama ini yang Ed lakukan hanya angin lalu.
Perasaan yang membuncah itu tidak ada lagi ketika mengetahui jika Pram adalah kepingan puzzle dari masa lalu Nana yang sangat rumit.
Nana menghidupkan ponselnya, lalu segera menelepon ojek online, dia memesan ojol dengan suara yang terdengar jelas.
Ed diam, dia merasa sang calon istri melakukan hal yang tidak benar.
"Aku akan menyewa motor itu, kita pergi bersama."
"Ed, apakah ini tidak terlalu berlebihan?"
"Kenapa? sulit sekali untuk mengatakan ya?"
"Oke, kita pergi bersama dengan motor yang berbeda. Kau pesan sendiri ojolnya."
"Ya, siap."
.
.
.
Beberapa menit kemudian, keduanya mendapatkan ojol, lalu menitipkan mobil pada teman Ed yang kebetulan ada jalan yang macet itu, sang teman on the way berjalan dari kantor yang ada di seberang jalan. Sang teman adalah bos, tidak masalah baginya untuk menunggu mobil yang mogok.
Namun, tiba-tiba sang teman tidak bisa, ia ada pertemuan dengan banyak kolega hari ini, alhasil mobil itu di jual saja kepada seorang pria yang ada di belakang mobil Ed.
Untung saja orang itu mau beli dengan harga tinggi, Ed tidak rugi bandar.
"Kau memang tidak waras Ed, kenapa melakukan ini?"
"Demi menjagamu dari paparan mantan suami. Aku hanya rugi dua puluh juta saja, tidak ada yang bisa di sampaikan lagi. Ayo kita lets go!"
__ADS_1
*****