
Perpustakaan kota ...
"Kau yakin akan turun di sini?" tanya Ed.
"Iya, aku yakin. Kau pergilah menemui temanmu, kasihan dia," pinta sang kekasih.
"Iya, aku paham."
Kedua orang itu terlibat pertautan bibir, meski hanya beberapa menit, begitu manis.
"Bye."
"Bye."
Nana menunggu Ed pergi lebih dulu, baru dia masuk ke dalam perpustakaan kota.
.
.
.
Area baca perpustakaan ....
Saat membaca buku, sang gadis menabrak seorang pria, dia mencoba untuk membantu pria itu.
Di dalam ruang baca, dilarang untuk berisik, jadi si gadis hanya bisa diam.
"Apa kabar?" tanya sang pria.
"Hm."
Sang gadis langsung membereskan semua buku yang ia tabrak.
__ADS_1
Pria itu, masih penasaran dengan tanggapan Nana.
Apakah Nana lupa dengannya? itu yang ada di benak pria tadi.
Nana, dia mengetahui siapa pria itu tetapi tidak akan menyapa ataupun memberikan sapaan terlebih dahulu.
Dia tetap fokus dengan kehidupannya saat ini dan tidak akan melihat ke masa lalu.
"Aku tunggu di depan perpustakaan, setidaknya berikan kata maaf untuk ibuku karena selama ini dia merasa bersalah telah mengusirmu."
Kata-kata si pria tadi, seperti menghancurkan dinding yang sangat keras, Nana sudah menempa dirinya untuk menjadi orang yang lebih kuat tetapi hari ini begitu lelah rasanya dan ingin menangis.
"Hiks, kenapa kau datang kemari, Pram."
.
.
.
Sang gadis sampai malas keluar dari perpustakaan karena pasti akan bertemu dengan mantan suaminya.
Namun, jika tidak keluar dari sana, sebentar lagi perpustakaan itu akan tutup.
Nana terpaksa keluar dari sana dan mencoba untuk menenangkan hatinya terlebih dahulu.
"Dia hanya mantan suamiku dan bukan siapa-siapa lagi, setelah ini aku akan menikahi Ed. Aku tidak boleh kembali ke masa lalu."
Dengan kata-kata itu sang gadis selalu berjalan keluar, perasaannya begitu hancur ketika mengingat hal yang selama ini tidak ingin ia tetap.
Hingga dia berdiri tepat di depan pintu, di sana ada seorang pria yang satu tahun lalu bersamanya, yang dulu sangat dia benci karena suka dengan banyak wanita dan tidur dengan banyak wanita.
Seorang pria dengan kepribadian yang sangat aneh dan tidak bisa ditebak sama sekali.
__ADS_1
"Pram."
Sang pria tak mendengar suara lirih yang keluar dari mulut mantan istrinya, Pram berdiri membelakangi Nana.
Dia masih sibuk dengan ponsel, sepertinya dia sedang berbalas pesan.
Nana berinisiatif untuk berjalan perlahan dan melewati samping gedung, pada akhirnya dia bisa lolos dari semua sakit hati yang akan terulang kembali.
Akan tetapi, dia merasa baik-baik saja langkahnya dihentikan oleh Pram.
"Tunggu!"
Pram memahami jika mantan kekasihnya pasti akan menghindar tapi dia mencoba untuk menyampaikan salam yang diberikan oleh ibunya.
"Aku tahu jika kau sangat membenci keluarga kami tetapi ayahku sakit, ibuku juga merasa sedih. Dia ingin sekali bertemu denganmu dan meminta maaf, permintaan kami hanya itu saja."
Pram mencoba mengatakan semua itu di hadapan sang mantan istri. Meski sang mantan istri membelakangi posisinya, pada intinya, Pram sudah menyampaikan segala beban yang ada di dalam dadanya.
"Nana, selamat atas semua kebahagiaan yang kau dapatkan, aku tidak akan pernah mengganggumu lagi."
Pram merasa bahwa dia tidak memiliki kesempatan lagi untuk berbicara dengan Nana.
Jadi dia mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya.
Pram berbalik badan. Namun suara Nana mencegah kepergiannya.
"Tunggu, kita bicara sebentar, aku hanya ingin memberitahukan bahwa aku sudah memiliki calon. Semua permintaan maaf mu Sudah aku terima, tidak perlu datang kemari ataupun mencari ku. Itu saja yang bisa aku sampaikan kepadamu."
Duar!
Rasanya seperti disambar petir, dia merasa tidak ada harapan lagi untuk bersama dengan seorang Nana, gadis itu sudah mendapatkan jodoh yang seharusnya ia dapatkan selama ini.
Cinta yang ada di dalam hati Pram, tidak akan pernah bisa terungkap sampai kapanpun meskipun dia mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya.
__ADS_1
"Ya, selamat atas kebahagiaanmu, aku merasa lebih tenang ketika kau sudah mendapatkan kekasih yang akan menjadi suamimu."
*****