Sebatas Pernikahan Kontrak

Sebatas Pernikahan Kontrak
Hari pertunangan


__ADS_3

Nana memutuskan untuk menerima lamaran si pria, dia tak mau lagi pusing dengan semua yang ada di dalam kehidupannya. Dia merasa bahwa Pram adalah masa lalu yang benar-benar harus dilupakan karena kehadirannya begitu mengganggu.


Satu minggu berlalu, pesta pertunangan itu pun terjadi.


Semuanya begitu sangat membahagiakan. Namun, setelah bertunangan, hatinya masih saja tak tenang.


Cintanya hanya untuk Pram, memang tak bisa di ganggu gugat lagi.


Apalagi Pram seperti pasrah dengan yang ada di dalam hidupnya.


Dia tak tahu perasaan sang mantan, dia hanya paham Nana berada dalam satu kesempatan yang tak mampu diraih.


Kesempatan itu berupa cinta yang hanya terlihat seperti buih di lautan, sama sekali tidak berharga.


Perayaannya hanya dihadiri oleh beberapa orang saja.


Nana tak suka jika acara sakral terlalu banyak orang.


...


"Na, aku tak suka dengan wajahmu yang cemberut, apakah kau baik-baik saja?" tanya Ed.


Sejak di perpustakaan, dia merasa sang kekasih sangat berubah sikapnya, tidak seperti sebelumnya.


Nana terlalu pendiam.


Ed, yang sudah melakukan penyelidikan, menemukan fakta bahwa ada pria lain di sisi Nana.


Setelah acara pertunangan, dia meminta bertemu dengan Pram.


Cafe dekat perpustakaan ...

__ADS_1


Pram kini berhadapan dengan Ed.


Keduanya menggengam perasaan yang berbeda, tapi sangat sakral.


Cinta keduanya untuk seorang Nana begitu besar.


"Apa maumu?" tanya Ed.


"Apa maksudmu?" jawab Pram.


"Aku dan Nana sudah bertunangan, kenapa kau sangat menyebalkan?"


"Aku juga paham, tapi apakah kau tahu, perasaan Nana itu seperti apa terhadapmu?"


Sang pria sungguh kesal dan langsung melayangkan bogem mentah kepada Pram.


"Aku tidak pernah semarah ini dengan orang, kau telah membuat aku semakin membencimu."


Ed gelap mata, Pram yang selama ini tak pernah mengganggu kehidupan kedua orang itu semakin kesal dan ikut terpancing emosi sehingga melayani apa yang sejak awal dimulai oleh Ed.


Cinta pada satu wanita, membuat klep mata sehingga menghancurkan segalanya.


Di tempat itu, kebetulan ada teman Nana.


Seorang wanita bernama Yorin.


Yorin segera menelpon temannya itu dan memintanya datang ke Cafe yang ada di dekat perpustakaan.


"Na, ada tunanganmu. Dia bertemu dengan seorang pria. Sepertinya, pria itu adalah orang yang sebelumnya pernah bertemu denganmu."


"Dia tinggi dan putih? suka pakai topi?"

__ADS_1


"Iya, dia memang seperti itu, kau datanglah kemari karena mereka membuat keributan di Cafe. Beberapa pengunjung bahkan sudah melerai tetapi perkelahian semakin sengit, aku hanya tahu, kau yang mampu menghentikan mereka."


Panggilan telepon itu tiba-tiba mati dan pandangan Yorin masih tertuju kepada dua pria yang sangat mencintai Nana.


.


.


.


Kantor polisi ....


Nana dan dua pria itu, ini berada di dalam kantor polisi dan sedang diminta keterangannya.


"Tuan, apakah kau melakukan kejahatan selain ini?" tanya polisi.


"Aku tidak pernah terlibat apapun selain berkelahi dengannya," jawab Pram.


"Aku juga tidak pernah terlibat perkelahian apapun, dia yang membuatku harus mengajarnya pak polisi."


Pram dan Ed terlihat begitu mencekam keadaannya karena sama sekali tidak menunjukkan sifat rukun.


Nana, tak bisa membantu karena dia juga kesal.


"Pak polisi, tolong tahan saja mereka berdua."


"Apa?"


"Kenapa? ? makanya jangan bertengkar saja, aku tidak suka dengan pria yang terlibat keributan."


Nana meminta keduanya untuk saling memaafkan, meski tidak mau, Pram dan Ed, harus menjalani hukuman selama beberapa hari di sana.

__ADS_1


Hanya saja ibu Pram datang, dia ingin menyelamatkan anaknya, dia melihat Nana, seketika itu langsung memintanya untuk berbicara.


*****


__ADS_2