Sebatas Pernikahan Kontrak

Sebatas Pernikahan Kontrak
Negosiasi


__ADS_3

Ibu Pram dan Nana terlihat berdiri di sisi ruangan yang berbeda.


Ibu Pram begitu menatap tajam ke arah Nana.


"Aku tidak tahu apa yang ada di dalam otakmu itu, tapi setahuku, kalian sudah berpisah," ucap sang ibu Pram.


"Aku akan segera menikah bibi, aku tidak tahu apa-apa."


"Cih, mana bisa tidak tahu apa-apa, kau adalah penyebab dari semua hal buruk ini. Aku tidak paham dengan isi otakmu itu!"


Ibu Pram begitu kasar, ini sangat menyakitkan.


Sebelumnya, ibu Pram tak pernah melakukan hal ini.


Mungkin dia kecewa.


"Maaf bibi, aku tidak bermaksud untuk melukai hati Pram. Aku dan Pram hanya masa lalu. Maafkan calon suamiku, dia hanya tidak ingin ada masalah diantara kami, mungkin dia salah paham."


"Masa bodoh dengan semua itu, aku hanya berharap kau bisa menjadi orang yang memiliki otak yang cerdas."


"Maaf bibi."


"Katakan pada mereka, anakku tidak bersalah."


"Bibi, aku tidak bisa."


Saat sang ibu memaksa mantan menantu, Pram datang.

__ADS_1


Entah mengapa dia berbuat demikian, tapi sang anak justru membela Nana.


"Dia tidak bersalah, aku yang masih cinta dengan Nana."


Duar!


Perkataan Pram membuat ibunya shock karena selama ini tidak ada kata-kata dari Pram yang menjadi tolak ukur kebencian dirinya terhadap mantan istrinya.


"Apakah ini pilihanmu? atau kau terpaksa?"


"Ini pilihanku ibu, Nana, katakan saja sebelum semuanya terlambat!"


"Apa maksudnya?"


Edward tiba-tiba datang, hampir saja ada keributan lagi, tapi dia meminta Pram untuk masuk sel bersamanya.


Namun, Nana hanya diam saja, dia tidak mengatakan sepatah katapun.


Perasaannya sangat kacau, dia merasa menjadi penyebab kekecauan ini.


"Kau adalah wanita tidak punya malu!"


Status menantu memang sudah hilang, tapi perasaan seorang Nana, masih sayang dengan mantan mertuanya.


"Ibu, tolong maafkan aku," batinnya.


Sang mantan ibu mertua, sudah pergi dari hadapannya, kini hanya kepiluan yang ada.

__ADS_1


Dia datang bersama temannya Yorin, setelahnya hanya bisa pasrah.


"Ed sepertinya tahu jika aku ada hubungan dengan Pram," ucap Yorin.


"Tahu darimana?" jawab Nana heran.


"Iya, kan mereka tidak saling kenal, tapi saat aku melihat mereka berdua rasanya seperti ada dendam yang belum terungkap. Aku paham jika seorang Ed tidak mudah menyerah mendapatkan kau, so pasti akan cari tahu hal yang sekiranya bisa membuatnya tenang tanpa berpikir jika kau akan menjadi milik orang lain."


Apa yang dikatakan oleh sang teman ada benarnya, semuanya tak sempurna seperti biasanya.


Perasaan yang aneh, tiba-tiba merasuk ke dalam sekujur tubuh sang wanita.


Dia tak bisa mengatakan apapun lagi, selain harus menyadari bahwa sebenarnya ada dua pria yang menginginkan dirinya.


"Rin, apa aku seorang yang jahat? baru juga bercerai, sudah menikah lagi?" tanya Nana dengan perasaan yang bersalah.


"Bukan masalah itu, masalahnya Pram masih cinta."


"Tidak mungkin ada cinta diantara aku dan Pram. Kami hanya sebatas menikah kontrak?"


"Kau pahami saja sendiri. Lebih baik kita pulang, mereka sudah membuat keributan. Berada di sini untuk beberapa waktu, bukankah hukuman yang terbaik bagi keduanya?" ucap sang teman sambil mengajak Nana pergi.


Dia kesal pada dirinya sendiri yang terlalu gegabah ingin menikah lagi, tapi mau bagaimana? dia harus menjalani hidup.


Kebersamaan dengan Pram juga bukan hal yang bagus, dia tak bisa mengelak dari perasaan itu.


Dia tak bisa bersama Pram.

__ADS_1


*****


__ADS_2