
Sang ibu benar-benar menghubungi mantan istri sang putra.
Dia memang memiliki nomor ponsel Nana, beliau memintanya saat berada di kantor polisi.
"Na, kau ada waktu?" tanya sang ibu.
"Iya, kenapa bu?" jawab Nana.
"Anakku ingin bertemu denganmu, setidaknya dia akan mengatakan selamat untuk pernikahanmu," jelas sang ibu.
Pram mencoba untuk biasa saja saat sang ibu memintanya memberhentikan mobil, sebab harus menjawab telepon dari Nana.
"Apa harus sekarang bu?"
"Kau jelaskan saja semuanya, ikhlaskan dia."
Mobil berhenti.
Sang pria pasrah dengan kenyataan yang ada.
Dia menerima ponsel yang di sodorkan oleh sang ibu.
Tangannya tidak kuasa menerima.
Namun, Pram akhirnya harus menyapa terlebih dahulu, sebelum benar-benar mengungkapkan perasaannya.
"Halo? apa kabar?"
Sang pria sangat gugup, entah mengapa perasaan ada yang seperti ini.
Satu hal yang tidak dimengerti oleh Pram.
"Ya, aku baik. Ada yang ingin kau sampaikan padaku?"
__ADS_1
"Iya. Sebelumnya aku meminta maaf karena tidak sempat memberikan hal yang terbaik selama kita menikah. Aku sangat bersalah kepadamu. Aku memohon kepada Tuhan agar kau mendapatkan kebahagiaan."
"Terima kasih atas apa yang kau berikan kepadaku, aku tidak merasa kau melakukan kesalahan terhadapku, aku hanya merasa bahwa apa yang kau katakan adalah hal yang berlebihan. Pernikahanku beberapa hari lagi. Jika ingin datang, datang saja. Aku tidak melarangmu."
"Oke, aku akan mengusahakan, hanya itu yang bisa aku sampaikan kepadamu. Semoga kau memahami akan posisiku ini."
Panggilan telepon langsung mati, sang pria bisa bernafas lega.
"Kau datang dengan Erina, dia pasti mau."
"Aku tidak mau datang."
"Tidak bisa, kau adalah orang yang selama ini selalu berada di pihak yang bersalah sebab memintanya menikah denganmu. Namun, kau juga harus memahami bahwa ada hal lain yang akan mereka lakukan padamu, sebuah balas dendam karena telah memasukkanmu ke penjara!"
Sang ibu mencoba untuk memberikan pengaruh buruk kepada anaknya, tapi Pram tidak terpengaruh apapun.
Justru dia lebih fokus dengan kehidupan pribadinya, meskipun dia sadar bahwa Nana tidak pernah tergantikan oleh siapapun.
.
.
.
Sang ibu masih saja ngomel karena putranya sangat sulit untuk diberitahu.
"Kau masih mencintainya atau apa? Pram!"
Ibu Pram memang sangat luar biasa dalam memberikan tekanan.
Dia tidak segan-segan membuat sang putra menjadi marah dengan semua yang ia sampaikan.
Namun, Pram tidak menggubris apapun yang keluar dari mulut ibunya.
__ADS_1
Dia lebih memilih untuk fokus menyetir saja.
Sang ibu tak mendapatkan jawaban yang pasti mengenai status hati Pram.
Beliau menahan amarah itu.
.
.
.
Sesampainya di rumah ...
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, keduanya telah sampai di depan rumah.
Sang putra langsung memasukkan mobil di garasi, sedangkan sang ibu hanya diam saja.
Dia mengikuti Pram.
"Kenapa kok diam dari tadi? bukannya setengah jalan tadi marah-marah?" tanya Pram dengan senyumannya.
"Hm, aku malas bicara denganmu."
Sang ibu langsung turun dari mobil, Pram justru tertawa dan merasa geli dengan apa yang ada di hadapannya.
"Dasar orang tua seperti anak kecil," batin Pram.
Untuk sejenak, dia bisa melupakan Nana, hanya saja tidak mudah.
Pram hanya bisa berusaha saja.
Dia mencoba untuk menjadi diri sendiri saat mendapatkan cobaan ini.
__ADS_1
*****