Sebatas Pernikahan Kontrak

Sebatas Pernikahan Kontrak
Salting parah


__ADS_3

Sejak kejadian di dalam kamar itu, sang istri begitu salah tingkah, melihat Pram saja kabur.


Namun, saat ini Nana tidak bisa lepas.


"Na, apa kau tahu apa tugasmu?" tanya Pram.


"Aku tidak tahu, eh. Bagaimana itu ya, aduh. Aku ini siapa?"


Sang istri menjadi semakin aneh karena tingkahnya tak seperti biasanya.


"Haha, apa kau sudah tidak waras?"


"Aku masuk ke kamar saja ya?"


"Ikut aku."


Pram menarik lengan sang istri kemudian membawanya ke sebuah taman yang ada di rumah itu.


Taman yang ada di samping rumah.


Pram memaksa istrinya untuk duduk di sana.


"Heh! apa yang kau lakukan ketika aku tidur?"


"Aku, aku tidak melakukan apapun."

__ADS_1


"Aku tidak percaya dengan apa yang kau katakan, aku hanya ingat kau berada di pelukan untuk kemudian apa ya? kau memperlakukanku seperti suaminya?"


"Astaga pria ini, memang aku ingin diperlakukan seperti apa? aku sudah lelah dengan semua sikapmu, Pram? apakah kau ingin segera bercerai denganku?"


"Aku memiliki perjanjian 6 bulan denganmu. Kau ingin melanggar janji atau bagaimana?"


Sang suami, sebenarnya ingin mengetes bagaimana keseriusan seorang Nana yang selama ini mau mengikuti apapun yang ada di surat perjanjian, tapi apa yang dikatakan tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam perjanjian itu sendiri.


"Haha, kau adalah orang yang sangat jahat, aku ingin segera bercerai denganmu tetapi kau tidak mau."


"Heh! apakah kau lupa dengan surat perjanjian nomor 15? jika kau yang memutuskan perjanjian ini aku akan menjadi pelayanmu seumur hidup! apa kau kira aku ini bod*h?"


"Kwkwkwkwkwk, sangat luar biasa. Aku tidak pernah menyangka kau sangat cerdas seperti ini."


Namun, Pram, selalu saja selangkah lebih depan darinya.


"Kalau kau ingin kabur dariku, aku tidak ingin akur dengan ayah."


Seketika itu juga, Nana tidak beranjak dari tempat duduknya justru tetap di sana dengan senyum yang manis.


"Aku tidak mempermasalahkan kau memelukku tadi, tapi aku menginginkan dirimu akrab dengan ayahmu. Kau tahu kan ibumu sangat sedih?"


"Aku tidak pernah memikirkan apapun, selain ibu."


Nana merasa bahwa semua hal yang ada di hadapannya, sangat membahagiakan.

__ADS_1


Pria yang selama ini membuatnya kesal, justru berkata dengan nada yang sangat manis.


"Oh, jadi kau bisa mengatakan hal itu juga."


"Tentu saja, jangan pernah berpikir aku ini adalah orang yang jahat. Selama ini, ibuku tahu jika aku memang sangat sedih ketika gadis itu meninggalkanku. Jadi, dia membiarkanku seperti ini. Apa yang aku lakukan adalah suatu hal yang tidak perlu diperdebatkan lagi, ayah memang memang sangat membenciku. Dia selalu mendapat apapun yang aku lakukan dan apapun yang aku katakan."


Nana, merasa pembicaraan ini menuju ke ranah yang serius sehingga dia diam saja.


"Kau tidak ingin berkomentar tentang hal ini? sekarang kau bagian dari keluarga kami, tidak masalah untuk menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya. Jika kau adalah orang yang suka marah, atau lebih suka diam, lakukan saja sesuai dengan keinginanmu."


Nana, dia justru terpaku dengan apa yang dikatakan oleh Pram mengenai seorang gadis yang pergi meninggalkannya.


Ini adalah hal yang ceritakan oleh ibu mertuanya mengenai seorang Pram.


"Pram, bolehkah aku bertanya kepadamu?"


"Tanya saja."


"Gadis itu, apakah kekasihmu?"


Pram diam, lalu memilih untuk duduk di samping Nana.


"Aku ingin bercerita kepadamu tetapi kau jangan bersedih ya?"


*****

__ADS_1


__ADS_2