Sebatas Pernikahan Kontrak

Sebatas Pernikahan Kontrak
Pesan terakhir Anjana


__ADS_3

Di saat orang-orang sudah pergi dari kantor polisi, Pram dan Ed terlihat berada di dalam sel.


Keduanya berada di sel yang sama.


Ed kembali membuat keributan.


"Kau adalah orang yang sudah membuat kehidupanku menjadi hancur. Kehadiran makhluk sepertimu akan membuat Nana rapuh. Kenapa kau tidak mati saja!"


Sang pria benar-benar membuat kemarahan Pram berada di ubun-ubun, tapi pria itu mampu mengendalikan diri.


Dia tidak mau berlama-lama berada di dalam tahanan.


"Ed, aku bukan pria pengecut seperti yang kau pikirkan. Namun, kau harus tahu satu hal! Nana mencintaimu. Aku tahu."


"Kau adalah pria paling tidak waras di seluruh dunia, kau paham kan?"


"Kau cintai saja Nana, jangan pedulikan aku."


"Mana bisa seperti itu, sedangkan hubungan kami tidak ada harganya. Saat bersamaku, dia selalu memikirkanmu. Dia hanya ingin kau saja, kapan aku akan menjadi satu-satunya!"


"Itu masalahmu, bukan masalahku. Kenapa kau begitu takut? Nana hanya butuh waktu. Berikan waktu untuknya menerima hatimu apa adanya."


Bukannya introspeksi diri, Ed justru kembali menghajar saingannya.


Terjadi lagi sebuah perkelahian yang tidak terelakan.


Anggota kepolisian langsung mengamankan dua orang itu.


Mereka memisahkan dua orang yang sangat senang berkelahi itu.


.

__ADS_1


.


.


Dua jam berlalu ...


Ada hal yang tidak adil di kantor polisi, Ed tiba-tiba saja bisa keluar dari sel dengan jaminan, namun untuk Pram tidak mendapatkan keringanan yang sama.


Pram tidak ambil pusing, dia merasa betah di sana.


"Kau adalah penjahat yang sebenarnya, sedangkan aku adalah pahlawan, kau sial sekali jadi orang, Hahaha. Makanya, jadi orang yang baik. Kau tidak ada di dalam sel dengan jeda waktu yang lama."


"Aku tidak memikirkannya."


"Cih, orang sok tegar."


Ed dan seorang anggota keluarga pergi dari kantor polisi, tetapi sebelumnya memberikan sebuah surat kepada polisi yang ditujukan pada Pram.


Beberapa menit kemudian ...


Seorang anggota kepolisian memanggil namanya kemudian dia menoleh, posisinya berada di ujung ruangan sel yang kebetulan hanya ada Pram di dalamnya.


"Kau mendapatkan surat dari pria itu."


"Oh, dia suka padaku?"


"Haha, entahlah, aku juga berpikir jika dia adalah orang aneh, tapi kenapa aku harus banyak bicara denganmu? kau baca saja, besok akan ada orang yang menyelamatkanmu."


"Kau tahu darimana?"


"Ada seseorang yang tadi menelponku, dia mengatakan sebagai ibumu dan akan melepaskan kau dari jeruji besi."

__ADS_1


"Ibu?"


"Iya, dia."


Pram merasa bahwa sang Ibu sangat kecewa padanya tetapi masih memiliki sedikit rasa sayang karena dia adalah anaknya.


Pak polisi menyarankan kepada Pram akan beristirahat karena masih esok hari berada di dalam sel, aparat keamanan itu mengatakan bahwa masalah tentang perkelahian ini sudah menemui titik terang dan tidak akan berlarut lagi.


.


.


.


Beberapa menit berlalu ...


Pram membuka surat yang diberikan padanya.


Ia perlahan membaca tiap kalimat yang ada di secarik kertas itu, nyatanya Pram merasa aneh dengan kata-kata yang ada di dalamnya.


*Dear, Pram.


Mungkin ini adalah hal yang kekanak-kanakan, tapi aku mohon jangan menggangguku lagi. Kau hanyalah masa lalu, jika ini semua terjadi, atau aku merasa kau dalam bahaya, aku akan merasa sedih.


Hadapi hidup ini dengan bahagia, jangan kau nodai hidup ini dengan sebuah tindakan yang akan membuatmu dalam kesengsaraan.


Pram, dengarkan aku!


Carilah wanita lain, aku akan menikah.


Jaga dirimu.

__ADS_1


Love Anjana*.


*****


__ADS_2