
Pram hanya bisa tersenyum mendengar kata-kata yang tertulis di dalam secarik kertas itu, dia berharap bahwa Nana memang tidak akan mencarinya lagi setelah menikah dengan Ed.
Selama ini dia merasa sesak dengan semua penderitaan akibat terlalu jauh dengan mudah yang dicintainya.
Perasaan yang sungguh menyiksa, membuat seorang Pram harus menyembunyikan perasaan sebenarnya.
Dia tidak mau merusak kebahagiaan orang yang pernah ia cintai.
"Aku akan membiarkan dia menikah, untuk apa mencegah. Aku yakin dia bahagia," batin sang pria.
Pram memilih untuk memejamkan matanya sambil bersender di tembok dingin penjara.
.
.
.
Pagi harinya ...
Pukul 07.30 ...
Saat Pram membuka mata, ada sang ibu yang terlihat marah menatap anak tercinta berada di dalam sel penjara.
Seorang anggota kepolisian, membuka kunci sel.
Pram sudah diperbolehkan untuk pulang.
"Silakan nyonya, bawa anak anda pulang."
"Baik pak."
Pram perlahan bangkit, dia keluar dari jeruji besi itu bersama sang ibu.
__ADS_1
Dari kantor polisi sampai sang pria berada di dalam mobil, ibu Pram tak mengatakan sepatah katapun.
Beliau juga hanya berkomunikasi dengan tatapan saja.
Hingga sang putra meminta maaf sambil memeluk ibu tercinta.
"Maaf ibu, aku tidak bisa bersamanya lagi. Mungkin rasa cinta ini akan hilang," ucap Pram dengan tetesan air mata.
Sang ibu masih tidak mau menanggapi, sebab pada hari ini dia hanya ingin memberikan fakta jika tidak perlu mencintai wanita yang sudah jelas-jelas menjadi mantan istri.
Apalagi sang mantan akan menikah dalam waktu dekat.
Ini sangat memalukan.
"Ibu tidak mau mendengar namanya lagi, kita memiliki satu kesempatan lain, kau bisa menikah dengan gadis manapun yang kau suka, tenanglah."
Pada akhirnya sang ibu mau berbicara, dia tidak marah-marah seperti biasanya karena rasa sakit yang dirasakan oleh Pram memang sangat dalam.
.
.
.
Mobil itu melaju dengan perlahan, mengingat Pram yang menyetir.
Dia ingin menebus kesalahan di masa lalu karena melakukan pernikahan kontrak.
Cintanya sangat dalam terhadap Nana, dia anggap sebagai hal yang tidak bisa di benahi lagi.
Semuanya untuk Nana dan hanya Nana.
Mata Pram memerah, dia sungguh kesal, kenapa dulu tidak memberikan satu hal yang pasti.
__ADS_1
Dia tidak mau berusaha dan berjuang merupakan satu hal yang tidak bisa di maafkan.
Cinta macam apa ini?
Pram tidak paham.
Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit!
Pram menghentikan mobil secara mendadak, membuat sang ibu terkejut.
"Ada apa nak? kenapa kau?"
Pram membenturkan kepalanya di stir mobil, pria itu tidak bisa menahan rasa sedihnya.
"Ibu, aku tidak bisa. Aku cinta dengan Nana."
Kata-kata itu terdengar jelas dari mulut Pram, dia menangis.
Sang ibu lalu memeluk tubuh Pram.
"Relakan dia, dia adalah milik orang lain."
"Aku tidak bisa, setidaknya beri aku kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal padanya ibu."
"Jangan mengatakan hal yang tidak mungkin, kau akan membuatnya goyah. Ed pasti akan menyalahkanmu. Bahkan kau bisa dihajar olehnya. Kau mau babak belur lagi?"
"Jika aku akan tiada, biarkan aku meminta maaf. Aku akan tenang dalam kedamaian. Selama menikah dengannya, aku tidak memberikan satu hal yang membahagiakan, aku selaly menyakiti hatinya."
Sang ibu sangat iba dengan penderitaan sang putra, dia tidak menyangka jika putra tercinta tidak pernah bisa melupakan mantan istrinya.
"Oke, aku akan berbicara dengan Nana, kau harus tepati janjimu."
"Baik ibu, aku hanya akan mengucapkan selamat tinggal."
__ADS_1
Ibu Pram mencoba menelepon Nana, dia ingin mengajak wanita itu bertemu.
*****