
Pram berjalan mengekor sang ibu yang masuk ke dalam rumah.
Setelah itu, dia tidak menghampiri sang ibu, tapi masuk ke dalam kamarnya.
Sebenarnya ada misi yang akan dia lakukan, setidaknya perlu berkata langsung tanpa perlu banyak hal.
Pram dengan berani menelepon sang mantan istri, dia mencoba menghubungi nomor lama Nana.
Awalnya dia pesimis, tetapi nyatanya nomor itu masih aktif.
"Halo, ada apa kau menelepon?"
"Kau masih menyimpan nomor ponselku?"
"Tentu saja, memangnya aku pendendam?"
"Cih, kau masih sama seperti dulu."
"Tidak, aku sudah berbeda, kau jangan banyak berharap denganku."
"Siapa yang begitu berharap? aku babak belur seperti ini memangnya karena perbuatan siapa. Ed, kau tahu kan pria itu. Dia terlalu cemburu denganku, aneh sekali."
"Dia sedang bersamaku, kau jangan banyak bicara."
"Haha, kau yang berulah. Aku minta maaf atas semua ini, mungkin kesalahanku karena pernah menikah denganmu."
"Tidak, semuanya bukan salahmu. Kau hanya orang yang ada di dalam masa laluku, tidak mungkin bagiku menghapusnya. Apalagi kita sudah berada dalam satu ikatan pernikahan sebelumnya."
"Kau belum melupakanku?"
"Haha, aku tidak akan lupa sebab jika aku lupa dan membencimu, sama saja aku masih cinta kau. Aku mengundangmu secara khusus. Datang ke pernikahanku."
Sang pria mencoba sebisa mungkin untuk memberikan yang terbaik. Dia merasa selama ini tidak pernah melakukannya, jadi hanya akan memilih merelakan meski belum ikhlas.
"Oke, aku juga sama. Aku tidak baper, aku akan datang dengan kekasihku."
"Ya, bagus. Sory, aku ada pekerjaan, nanti bisa kau telepon aku."
"Sebentar Na, bisa kah kita bertemu dan mengobrol?"
"Boleh, dimana?"
"Di Cafe yang ada di sekitar taman."
"Oke, nanti siang, jam 14.00."
"Siap."
Panggilan telepon akhirnya usai.
Sang pria merasa senang karena mantan istri mau bertemu dengannya, dia tidak menunggu sampai jam 14.00, akan tetapi langsung mandi, ganti baju dan on the way.
.
.
.
Persiapan untuk bertemu mantan istri telah usai, dia berusaha keras untuk menjadi dirinya sendiri.
Entah apa yang ada di dalam benaknya sebab Nana, akan segera menikah, tapi dia dengan percaya diri ingin bertemu.
Semua harapannya hanya sang mantan, mau mendengarkan segala kata-katanya.
Lalu menghabiskan waktu makan sambil mengobrol.
Semuanya sudah terencana dengan sangat baik.
__ADS_1
Pram keluar dari kamar, akan tetapi kebahagiaannya berkurang drastis saat sang ibu mencegah kepergiaannya.
"Heh, mau kemana?"
"Kepo!"
"Dih, sama ibu berani ya?"
"Bu, aku mau cari angin."
"Hidupkan kipas angin, jangan cari angin di luar."
"Haha, bisa meriang kalau angin dari kipas. Sudah ya, aku pergi dulu. Nanto jam 17.00 aku pasti pulang."
"Memangnya kau mau kemana?"
"Aku ada perlu dengan temanku, sudah lama tidak bertemu."
"Seorang teman atau Nana?"
"Haha, omong kosong apa ini. Ayo ibu ikut denganku, kita lihat dengan siapa aku bertemu."
"Malas, sana pergi. Ibu tidak mau berdebat denganmu."
Sang anak, terlihat gembira mendengar berita ini, rasanya seperti mendapatkan durian runtuh.
Langsung saja Pram keluar dari rumah.
.
.
.
Setelah sampai di depan rumah, pria itu segera berjalan menuju garasi.
Pram lalu masuk ke dalam mobil.
Dia duduk di kursi kemudi.
"Aku akan datang padamu, Nana."
Segera saja Pram menghidupkan mesin mobil dan tancap gas.
...
Sepanjang perjalanan menuju tempat yang dimaksud, dia sangat senang, karena dalam ingatannya hanya Nana dan Nana.
Kebetulan dia sangat senang berada di dalam situasi ini, sebuah situasi yang sangat menantang.
"Aku merasa menjadi pria yang tak tahu diri, tapi aku bahagia, bagaimana tidak, rasanya tak terkira memang. Aku akan bertemu dengan Nana, seorang wanita yang kemarin menjadi alasanku untuk berkelahi. Jika dia akan menikah, aku tidak peduli. Aku hanya ingin melihatnya saja."
Pram bersikap seolah tak ada orang lain yang akan menyertai kehadiran Nana, tapi dia salah.
Ada kejutan untuknya setelah ini.
.
.
.
Rumah Nana ...
Sang wanita sangat gelisah, dia merasa membohongi sang calon suami.
"Kau mau kemana?" tanya Ed yang sedari pagi ada di rumah Nana untuk membahas tentang acara pernikahan.
__ADS_1
"Aku ingin bertemu seseorang," jawab Nana canggung.
"Kau ingin bertemu Pram? aku ikut, dia adalah pria tidak tahu diri. Bisa saja orang itu merebutmu dariku."
Sang calon suami sebenarnya tidak terlalu memperhatikan hal ini, hanya saja merasa ada yang aneh.
Sejak beberapa menit lalu, Nana hanya mondar-mandir seperti orang kebingungan.
"Aku ingin bertemu teman. Kau di rumah saja. Ibu dan ayah pasti akan mencarimu nanti. Kau adalah calon menantu kesayangannya," cetus Nana.
Dia akan mengatakan hal itu sebab dalam kehidupan ini, seorang Ed pasti akan berada di dalam kondisi yang sangat menyenangkan.
Ed selalu mendapatkan pembelaan dari ibunya.
Bahkan ayah yang terkesan pendiam juga memberikan dukungan padanya. Rasanya sangat tidak menyenangkan.
"Kau akan bertemu dengan Pram. Aku tahu, kita temui bersama. Aku ingin mengetahui, apa yang sebenarnya ini dia lakukan padamu. Mantan suamimu adalah orang yang sangat pandai bertahan, pasti lumayan jika masuk kantor polisi kembali," jawab Ed dengan posisi duduk yang langsung berubah.
Pria itu seharusnya duduk di sofa, tapi kenyataanya berpindah duduk di kursi kayu yang dekat dengan sang istri yang sedari tadi hanya berdiri saja.
"Kau mau apa?"
"Ikut bertemu Pram."
"Aku tidak bertemu Pram, apakah kau tidak setuju dengan pendapatku? aku ingin bersamamu."
"Ed, percaya padaku. Kita akan menikah, kau hanya perlu percaya."
Nana mencoba untuk membujuk Ed agar tetap berada di rumah saja. Namun sayangnya, semua itu telah sirna.
Ed sangat keukeuh dengan semua hal, dia masih saja berulah.
Calon suami Nana beranjak dari kursi dan berpamitan dengan sang ibu dan ayah mertua karena ingin mengantar Nana jalan-jalan.
Tanpa basa-basi, sang pria langsung mendapatkan izin.
Nana tidak bisa berbuat apapun.
.
.
.
Ed langsung mengandeng lengan sang istri, dia membawa Nana menuju depan rumah, sebab mobilnya berada di sana.
"Masuk sayang, kau harus tersenyum saat bersama denganku," ungkap Ed.
Pria itu membuka pintu mobil dengan sangat percaya diri, sedangkan Nana, berada dalam kondisi yang tidak bisa.
"Sialan, kenapa dia ikut. Aku harus bagaimana ya?" batin Nana bergejolak.
Perasaannya tidak kunjung mereda, sebuah perasaan kesal yang mendalam.
Dia tidak pernah menyangka akan bersama dengan Ed menemui Pram.
"Kau siap? kita on the way kemana?" tanya Ed dengan sumringah.
"Taman yang sangat bagus, kau tahu tempat itu kan?"
"Iya, baiklah kita kesana."
Ed menghidupkan mesin mobilnya, Nana merasa cemas, dia hanya bisa diam-diam mengirimkan pesan singkat kepada Pram jika suaminya ikut bersamanya.
"Pram, kau jangan datang dulu, suamiku mengantarku."
Ini adalah isi pesan dari Nana untuk Pram.
__ADS_1
*****