Sebatas Pernikahan Kontrak

Sebatas Pernikahan Kontrak
Pohon kejujuran


__ADS_3

Sampai di danau, duduk di bawah pohon kejujuran.


Setelah sampai di tempat yang dimaksud, keduanya duduk do bahwa pohon yang konon bisa memberikan pencerahan di kala galau melanda.


"Na, kau tahu tidak, selama kita bersama dalam hubungan rumah tangga, aku pernah berpikir jika kita akan menjadi pasangan yang bahagia karena selama pernikahan, tidak ada yang menghalangi hidup kita."


Pram mencoba membuka lembaran masa lalu yang selama ini tidak pernah dibahas.


Keduanya menjalani kehidupan aneh yang sekiranya tidak pernah dipikirkan meski hanya di angan-angan saja.


Seumpama keduanya bisa saling bersentuhan, pasti sudah memiliki seorang anak, namun mereka bisa menahan hasrat.


"Iya, aku juga menjadi orang memiliki pemikiran yang sama denganmu, hanya saja kesempatan itu telah berakhir, kita tidak akan bisa menjadi orang si masa lalu."


"Iya, apa yang kau katakan ada benarnya. Kau selalu berpikir logis, sebab kau adalah pria dengan posisi bagus di masyarakat. Jika otakmu kosong, kau pasti akan mendapatkan cemoohan."


"Haha, kau ada di bawah pohon kejujuran, kau mengatakan dengan jujur?"


"Iya, aku jujur. Aku selama ini ingin menculikmu sebab kau pasti masih ingin bersamaku."


Kata-kata Pram membuat goyah seorang Nana, selama ini, apa yang ia katakan, tidak menjadi satu kebenaran, hanya saja saat menjadi orang lain, perlu memikirkan satu hal, yaitu sebuah keputusan pasti.


Nana diam untuk sejenak, dia tak akan menjawab sesuatu yang menjadikan hubungan antara Ed dengannya hancur.


Cup!

__ADS_1


Sang pria sangat pandai mengambil kesempatan.


Nana yang refleks, langsung menampar Pram. Dia merasa mantan suami sangat pandai membuatnya merasa bersalah.


"Na, kau sangat cantik,bibirmu juga manis. Selama ini aku tidak menyadari jika kau begitu berharga. Katakan satu hal, kau mau bersamaku tidak?" tanya Pram.


Posisi Nana yang membelakangi Pram, tak bisa berpikir.


Sentuhan bibir Pram begitu berkesan baginya.


Dia merasa bahwa ada satu hal yang perlu dia pikirkan, mengenai perasaan yang sebenarnya.


"Na?"


Nana berbalik, sambil menangis dia berkata.


Kata-kata ini di sambut dengan pelukan hangat sang mantan.


Nana melakukan satu kesalahan dengan menyentuh bibir Pram, keduanya melakukannya di bawah pohon itu.


Sebuah kejujuran yang nyata.


Meski hanya saling mengecup, ini begitu terlarang.


"Na, aku mencintaimu."

__ADS_1


"Pram, maaf. Aku tidak berani jujur. Aku akan mempercepat pernikahanku."


"Berikan satu malam yang indah, baru aku mengizinkanmu menikah. Semua orang mengatakan kita sudah menghabiskan malam bersama, tapi nyatanya bersentuhan saja tidak bisa."


"Pram ini salah."


"Aku akan menunggumu di hotel bintang lima dekat danau, jika kau mau, datanglah. Ini kuncinya."


Pram pergi meninggalkan Nana begitu saja, lalu ada pesan masuk di ponsel Nana.


Saat ia membuka pesan itu, ada hal yang aneh.


"Temani aku, atau kau akan melihatmu hancur di acara pernikahan. Kau dan aku saling mencintai, hanya saja terjebak dengan permasalahan. Aku mohon, berikan cinta itu meski hanya satu malam."


Nana makin galau.


Dia merasa apa yang dikatakan oleh Pram ada benarnya, dia juga sayang Pram.


Jika hanya satu malam tidak akan terjadi masalah.


Nana nekat.


"Aku akan bersamamu selama satu malam. Pram."


Keputusan sudah bulat, dia menghampiri Pram yang berjalan menuju hotel.

__ADS_1


Pram sendiri tidak tahu jika Nana setuju atas keputusan gilanya.


****


__ADS_2