Sebatas Pernikahan Kontrak

Sebatas Pernikahan Kontrak
Bisakah menikah?


__ADS_3

Nana dan Pram, benar-benar telah di mabuk asmara, awalnya hanya sekedar satu malam, tapi mereka terus saja bertemu sampai malam kelima.


Padahal hari H pernikahan akan di selenggarakan satu minggu lagi, kalau tidak ada halangan.


Di ruang tamu tempat keduanya sedang menonton televisi, terlihat sangat bahagia sambil menonton televisi.


"Haha, aku rasa kartun ini akan awet sepanjang masa," ujar Nana.


Dia berada di pangkuan Pram, bersama dengan satu toples kripik.


Mulut mereka tak berhenti mengunyah sejak tadi.


"Iya, apa yang kau katakan memang benar adanya, kenapa begitu cepat rasanya dunia berlalu, sedangkan kita belum merasakan cinta yang baru ini."


Drrt ... drrt ... drrt ...


Panggilan telepon dari Ed, membuat keduanya cukup segan untuk saling berpangku badan.


Nana berpindah posisi di atas sofa, karena posisi awal mereka duduk lantai dengan karpet.


"Halo? ada apa sayang?" tanya Nana tanpa rasa bersalah.


Dia adalah wanita paling bebas, jadi tak terlalu mempedulikan apa yang terjadi.


Sejak keduanya berhubungan kembali, meski terlarang, dia tak akan bisa lepas.


Apalagi rasa cinta Pram lebih dalam dan terasa kuat daripada Ed.

__ADS_1


"Aku merasa kau sudah berubah, apa itu hanya perasaanku saja?"


Kata-kata Ed menyiratkan jika pria itu sedang dalam kelelahan yang sangat.


"Tidak, aku masih sama Ed, kau yang lelah sepertinya."


"Oh, apakah benar begitu ya?"


"Iya."


"Oh, baiklah, aku akan berusaha untuk menjadi orang yang tidak curiga terhadapmu. Namun, dua hari lalu, karyawanku mengatakan jika kau bersama pria lain di bar. Apakah benar?"


"Tidak, aku di rumah. Coba tanya ibuku."


"Iya, ibumu juga bilang kau ada di rumah, tapi perasaanku tidak yakin. Maaf ya sayang, bukannya aku meragukan kau, hanya saja, perasaan cinta yang aku berikan ini semakin lama seperti memudar. Kau telah menjadi wanita yang berbeda. Kau ada dimana?"


"Iya, datang ya? rasanya sangat sesak. Aku butuh kau."


"Oke. Kau ada dimana?"


"Bar tempat kau minum bersama pria itu."


"Dimana?"


"Cih, masa kau lupa?"


"Loh, katanya percaya padaku?"

__ADS_1


"Iya, tapi aku ragu. Sudahlah!"


Tut ... Tut ... Tut ...


Panggilan telepon usai, Pram mencoba memberikan saran agar dia saja yang mengecek, apakah Ed memang ada di bar yang aslinya ada di dekat apartemen si pria.


Pram telah bertanya, posisi Ed tidak ada di sana.


"Astaga pria itu, bisa jadi ada di tempat yang setidaknya aman. Kau bisa membantuku, Pram."


Raut wajah Nana begitu sedih, Pram iba.


Pria itu mengerahkan beberapa anak buah untuk mencari keberadaan Ed, setelah mendapatkan informasi mengenai tempat-tempat biasa Ed berada.


Ia mendapatkan informasi ini dari Nana.


"Na, kau tenanglah, dia akan aman."


"Iya, tapi, bisakah kita menikah saja Pram, kita telah berada di dalam kesalahan yang mendalam. Ini waktu yang tepat untuk kita kabur. Kau paham tentang semua ini kan?"


Nana, awalnya merasa ragu mengatakan ini lebih cepat pada Ed, tapi tidak ada waktu lagi.


"Kau ingin jujur dengan Ed? lalu menghancurkan keluarga kita? jangan, kau menikahlah dengannya, setelah itu, aku tidak akan mencarimu lagi."


Kata-kata Pram sungguh menyakitkan, membuat seorang Nana merasa sedih.


"Oke, setelah semua ini, kita akan berpisah. Aku paham."

__ADS_1


*****


__ADS_2