Sebatas Pernikahan Kontrak

Sebatas Pernikahan Kontrak
Terpaksa merestui


__ADS_3

Pram menjadi seorang casanova tengil yang sangat dibenci oleh ibunya karena perbuatan yang tidak senonoh.


Anjana sangat sial ketika harus menjadi suami dari Pram.


Si pria menyebalkan yang selalu membuatnya dalam masalah.


Hidupnya dahulu memang banyak masalah, tetapi setidaknya bisa diatasi dengan baik, jika menikah dengan Pram, menjadikan kehidupannya dalam masalah tiap hari.


Apalagi satu hal yang akan dia dapatkan, cemoohan dari banyak pihak.


Namun, ini yang harus di tempuh dan tidak ada jalan lain.


"Baik, aku akan memberikan restu meskipun ini terpaksa. Jadi kau menikahlah dengan segera. Biarkan aku yang mengatur acara pernikahanmu."


Ibu Pram pasrah dengan apa yang akan terjadi, dia akan membiayai semua.


Meski mengaku pusing, ibu Pram mengatakan lebih baik pusing di awal daripada di akhir cerita.


.


.


.


Sejak hari itu, ibu Pram sangat serius mempersiapkan apa yang harus dilakukan ketika menjadi seorang besan keluarga artis kontroversial.


Dia harus siap dengan segala resiko, dan kini adalah satu hal yang harus segera di akhiri, yaitu kebencian kepada Anjana dan keluarganya.


Rumah Pram ....


"Menikah di rumah saja, ibu sudah menyiapkan semuanya dengan sangat baik, jadi tolong kau serius."

__ADS_1


Ibunya begitu frustasi ketika mendapati kenyataan bahwa seorang Pram yang gila wanita harus menikahi Anjana.


"Aku tidak mau, semua orang sudah sangat heboh membicarakan kami, apakah ini pantas ibu? aku adalah pria dengan banyak orang, deretan mantanku pasti akan datang, ini sangat menyenangkan bagiku."


Sang pria memang sangat aneh, dia menjadi orang yang sangat sibuk hanya karena pernikahan tidak penting ini.


Rasanya sama saja dengan semua orang yang selama ini berada dalam satu kehidupan dengannya.


Semua hal yang tidak bisa diganggu gugat oleh sang ibu.


"Dasar anak menyebalkan, kau yang melakukan kesalahan. Kenapa ibu yang harus repot?"


"Kau adalah ibuku, kau harus repot memang."


"Dasar kurang ajar kau ini."


Sang ibu menjewer telinga Pram. Ini adalah hal yang tidak mungkin, Pram selalu mengatakan bahwa dia akan serius.


Pram justru menjadikan ibunya korban dari otak tidak warasnya.


"Aku sudah pusing, terserah kau saja."


"Deal ya bu? jangan sampai kau kesal karena aku melakukan banyak hal yang sesuai keinginanku."


"Iya, terserah kau saja."


Pram menelfon Anjana, tetapi tidak dijawab.


Hingga gadis itu mengirim pesan singkat.


Aku sedang berada di rumah teman, aku audah setuju menikah denganmu, lalu apa lagi

__ADS_1


Pram tidak suka membalas pesan itu, dia lebih suka berbicara lewat panggilan telepon saja.


"Sayang, apa kau merasa baik-baik saja?" ledek Pram.


"Apa urusanmu, katakan saja. Aku tidak suka pria yang banyak omong."


Pram menjelaskan dengan rinci rencananya dan meminta Anjana menemuinya di taman kota.


Di sana dia akan membuat sebuah perjanjian tambahan.


"Aku tidak suka kau banyak bicara. Katakan saja."


"Aku tunggu di taman kota, aku pakai baju warna hijau, aku duduk di dekat air mancur. Cepat ya?"


"Ya."


.


.


.


Sang pria terlihat bersiap-siap menuju taman kota. Sang ibu yang sedari awal tidak suka dengan rencana Pram, sangat kesal saat tahu anaknya tidak pamit saat ingin pergi.


"Dasar anak itu, apakah bisa menikah dan menjaga anak orang?"


Sang ibu meragukan Pram.


Pria yang selama ini menjadi anaknya tapi tidak seperti anaknya saja, padahal dulu Pram adalah anak yang patuh.


*****

__ADS_1


__ADS_2