
Pram yang tidak sopan itu, langsung masuk ke dalam mobil. Lalu segera melakukan hal yang biasa ia lakukan, yaitu pergi menemui kekasihnya di apartemennya.
Pram segera menelfon gadis itu sebab sebentar lagi akan sampai di tempat gadis itu berada.
"Kau sedang apa sayang?" tanya Pram dengan rasa cemas sebab ayahnya sedang marah karenanya.
"Aku sedang menunggumu datang, aku mengenakan baju tipis yang sudah kau beli bulan lalu," jawab sang kekasih.
"Oh ya?"
"Iya. Kau datanglah."
"Oke."
Panggilan telefon usai, kini berganti dengan telefon yang berasal dari rumah.
"Pram, kau pulanglah. Ayah dan ibumu sedang bertengkar hebat, apakah kau akan membiarkan ini terjadi?"
"Ya, aku tidak peduli."
Pram memang sangat egois, dia tidak mau membiarkan kedua orang tuanya tetap akur meski dalam waktu satu detik saja.
Panggilan telefon itu berakhir, kini dia lebih mementingkan hatinya, kepuasannya.
Apartemen sang gadis ....
Mobil Pram sudah sampai di apartemen miliknya yang ditempati oleh sang gadis.
Setelah parkir mobil, Pram lalu keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam apartemen.
Dia harus naik lift dua kali, baru bisa sampai di kamar yang di tuju.
__ADS_1
Pram menekan bel, lalu datanglah seorang gadis yang sangat cantik membuka pintu.
"Kau sudah datang?" tanya sang gadis.
"Tentu saja, aku datang. Maaf aku baru datang karena ada masalah di rumah."
"Ya, tak masalah. Aku sudah menyiapkan segalanya untukmu dan nikmatilah malam ini dengan bahagia."
Pram tersenyum pada gadis itu, keduanya masuk ke dalam.
Tanpa basa-basi, Pram yang langsung to the poin kepada intinya.
Mereka menghabiskan masalah bersama.
Dua jam mereka bergelut dalam cinta yang sangat luar biasa.
Hingga mereka berdua tertidur dalam cinta kasih.
Pram melupakan segala statusnya yakin sudah menjadi suami dari Nana.
Pagi harinya ....
"Kau sudah bangun?" tanya gadis bernama Livian itu.
"Iya, maafkan aku karena harus segera pulang, aku tidak bisa di sini terlalu lama sebab ayah dan ibuku pasti akan mencariku dan memberikan hukuman."
"Cih, kau memang seorang pria yang penakut."
Livian, berangkat dari tempat tidurnya kemudian mendekati kekasihnya.
Dia mengajak sang kekasih untuk kembali bermain dalam arena panas.
__ADS_1
Awalnya, Pram menolak, tapi pada akhirnya, dia tidak bisa melepaskan pesona Livian ya sudah bersamanya saja 5 tahun terakhir.
Keduanya kembali dalam satu cinta yang utuh.
Rumah Pram ....
Nana, hampir tidak bisa keluar kamar karena merasa canggung, bagaimana tidak?
Pram menjadi penyebab keributan di rumah itu, jika dia keluar kamar pasti akan ada perdebatan yang lebih keras lagi.
"Pram, angkat teleponnya dan beritahu aku harus bagaimana setelah ini!" ucap Nana.
Dia mondar-mandir tidak karuan karena merasa panik.
Nana, berkali-kali menelpon suaminya tetapi tidak mendapatkan jawaban.
Beberapa menit berlalu, panggilan telepon dari Pram, membuat senyum di bibir istrinya mengembang.
"Huft, akhirnya kau menelfonku juga!"
"Ada apa?"
"Ada banyak hal yang terjadi, kau harus pulang dan selesaikan semuanya!"
"Aku sedang bersenang-senang dan kekasihku kenapa kau mengganggu!"
"Apa? bisa-bisanya aku bersenang-senang hati saat seperti ini."
Nana merasa kesal karena suaminya tidak memikirkan bagaimana perasaan kedua orang tuanya yang selama ini mendidik, memberikan kebahagiaan bagi putra mereka.
Balasan dari Pram ternyata sebuah penghianatan, sebab Pram lari dari masalah dan bersenang-senang seperti orang tidak memiliki.
__ADS_1
*****