Sebatas Pernikahan Kontrak

Sebatas Pernikahan Kontrak
Hampir ketahuan


__ADS_3

"Jangan katakan hal itu, aku akan sedih Pram," ucap Nana.


Gadis itu sudah menjadi orang yang sangat bahagia menjalani kehidupan bersama Pram, meski semuanya sangat sulit di terima oleh nalar manusia.


Pasangan yang dulunya suami istri, tak pernah saling menyentuh.


Saat menjadi mantan, justru berada dalam situasi yang sangat menyenangkan.


Mereka baru menyadari jika kehadiran sosok yang selama ini hilang, sungguh berarti bagi keduanya.


Namun, panggilan telepon lagi dari Ed, merubah isi hati keduanya menjadi lebih melow.


"Kau jawab saja."


"Aku tidak mau."


Sang pria menyentuh tulisan jawab di layar ponsel Nana.


Alhasil Nana harus menjawab panggilan itu mau ataupun tidak mau.


"Halo sayang? aku berubah pikiran, apa pernikahan kita di percepat saja?"


"Kau yakin dengan ide ini?"


"Iya, sangat yakin. Memangnya kau tidak mau bersama denganku. KIta telah bersama dan saling menyayangi. Ada hal yang membuatmu ragu? dia Pram?"


Deg!


Jantung sang wanita terpacu dengan cepat, dia tidak mengira jika satu hal yang sangat di inginkan oleh Ed merupakan satu keinginan yang paling ia benci.


"Aku tahu kau masih mencintai Pram, ada banyak kenangan yang kau bawa dalam hidupmu, jadi aku akan merubah semua itu."

__ADS_1


"Aku merasa kau terlalu berlebihan Ed, kita adalah orang yang berada dalam satu hubungan yang pasti. Apa kau curiga padaku?"


"Iya, karena selama ini aku menjadi orang yang terabaikan, kau sibuk dengan urusanmu, sedangkan aku begitu bersemangat untuk mendapatkan cintamu. Aku sangat ingin bersamamu setiap waktu. Kau dan Pram, adalah satu hal yang tidak ingin aku ingat saat kau pergi dari kehidupanku."


Ed meluapkan segala kegundahannya, dia tidak berpikiran jernih lagi.


Pram kesal mendengar semua ini, dia ingin merebut ponsel Nana, tapi sang kekasih tidak memperbolehkannya.


.


.


.


Percakapan berlangsung tanpa adanya Pram, sebab sang selingkuhan ngambek.


Ed masih saja cemas, membuat Nana pusing memberikan pembuktian.


"Kau selalu memahami apa yang aku inginkan, dimana kau? aku akan menjemputmu."


"Jangan, aku yang akan datang padamu."


"Kau ada dimana?"


"Kantor."


"Ok, aku on the way."


Panggilan telepon langsung di tutup. Ia segera menyusul Pram untuk meminta izin pergi.


Nana menghampiri Pram yang sedang ada di kamar tamu, dia terlihat asik bermain game.

__ADS_1


"Kau sedang apa?"


"Main lah."


"Marah?"


"Tidak."


Nana mendekat, dia meminta izin sekali lagi dengan jarak yang cukup dekat, tapi yang terjadi adalah, kedua orang itu justru saling berpelukan karena Pram menarik tubuh Nana ke dalam pelukannya.


"Hey! apa yang kau lakukan? semua ini sangat tidak masuk akal."


Nana tidak bisa berkutik saat berada di dalam pelukan seorang Pram.


Mata mereka terlihat begitu teduh, hingga akan terjadi lagi sebuah pertempuran yang maha dahsyat.


Namun, panggilan telepon dari Ed, menggagalkan segalanya.


"Astaga, kenapa dia selalu saja menganggu!"


Nana menahan tawa melihat raut kekecewaan dari wajah Pram.


"Kau ini sudah tua, tapi sangat pemarah. Tobat dong."


"Ogah tobat, aku suka seperti ini, apa adanya."


Cinta keduanya tidak pernah pudar, meski nanti menikah pun Nana akan tetap menemui Pram, dia tidak bisa lepas dari Pram.


Meski ini tingkah yang buruk, tapi mau bagaimana lagi?


*****

__ADS_1


__ADS_2