
Satu tahun kemudian ...
Setelah melewati masa-masa sulit, akhirnya Nana bisa hidup dengan bebas.
Tanpa adanya Ed dan Pram, dia memutuskan untuk tidak bersama keduanya.
Rasanya sangat sakit karena berada dalam dua cinta, pria yang mencintainya.
Dia tidak pernah merasa tenang seperti sekarang ini, perasaan yang seharusnya tidak ia alami.
.
.
.
Nana pindah negera untuk melupakan semua masa lalunya, semua rasa kesal keluarganya dan keluarga Ed akibat keputusan sepihak yang ia ucapkan.
Kini Nana berada dalam sebuah kebebasan yang nyata, dia berada di antara awan yang indah.
Kegiatan sehari-hari yang menyenangkan, meski terkadang membosankan dan sangat melelahkan.
Hari ini adalah jadwalnya Nana jalan-jalan, dia memilih untuk pergi ke sebuah tempat yang sangat tenang, pegunungan hijau.
Di sana terdapat sebuah tempat makan istimewa yang sangat enak.
Nana berusaha keras untuk masuk ke tempat itu, sebab hanya beberapa orang saja yang bisa masuk kelas VVIP.
Jika sudah masuk kelas itu, Nana bisa makan gratis di haris sabtu dan minggu, meskipun di hari biasa masih dengan harga normal.
Nana telah berada di tempat parkir pegunungan hijau, meski jalannya cukup terjal, tapi masih bisa dilalui oleh kendaraan.
.
.
.
Setelah memarkirkan mobilnya, dia turun dari kijang besinya lalu jalan kaki menaiki tangga yang cukup panjang sejauh lima meter.
"Aku sudah terbiasa berada di tempat ini, dengan anak tangga, pemandangan yang sangat indah. Aku tahu segalanya."
Nana begitu menikmati semua anugerah alam yang ada di matanya, menembus hati paling dalam.
Hingga satu kesempatan, dia menabrak seorang pria yang berusia lebih tua darinya.
__ADS_1
Dia memanggilnya om.
"Maaf om, saya tidak sengaja."
"Oke, no problem."
Sang gadis tidak berani melihat wajah si om karena pada dasarnya pria itu tidak Nana kenal, saat si om akan pergi, ada seorang pria yang mirip dengan Pram, ini membuatnya takut dan meminta tolong om-om tadi untuk menutupi tubuhnya.
"Maaf om, tutupi tubuh saya, ada orang jahat sedang mengintai."
"Dimana?"
"Maaf, om diam dulu, tutupi saja tubuhku dengan tubuh om."
"Oke."
Si om hanya bisa mengikuti apa yang di katakan oleh Nana.
.
.
.
"Kenapa kau?"
"Ada orang jahat om, sebelumnya terima kasih ya? om sudah membantuku."
"Ya, tidak seberapa bantuanku ini, oh ya, siapa namamu?"
"Anjana om, panggil saja Nana. Kalau om?"
"Haha, jangan panggil aku om, usiaku tidak terlalu jauh dari ayahmu, panggil nama saja, Roger."
"Oh, tidak mungkin jika hanya memanggil nama, aku harus memanggil dengan sebutan tuan."
"Ya, terserah kau saja. Aku pergi dulu, ini kartu namaku, jika butuh bantuan, tidak perlu sungkan untuk meminta bantuan."
"Oke, baiklah, terima kasih atas semua kebaikan tuan."
"Sama-sama."
Nana lalu berjalan menuju tempat dimana biasanya dia menyantap makanan lezat, meja nomor 25.
Sebuah meja yang menghadap istana di atas awan, semuanya sangat luar biasa.
__ADS_1
"Aku sering datang kemari, tetapi rasanya sangat aneh, aku tidak bisa lepas dari semua perasaan sedih ini. Aku sebenarnya di sini untuk apa? melupakan Pram, atau semua sakit hati itu?"
Nana sering merasakan rasa ini, sebuah perasaan yang tidak biasa dari dirinya sendiri.
Perpisahan satu tahun lalu dengan semua hubungan cinta, coba ia minimalisir sakit hati itu.
Dia memang berada di negara yang berbeda, tetapi tidak bisa serta merta menghapus ingatan masa lalunya, semua terlihat sangat jelas dalam otaknya.
"Tuhan, hapuskan tentang semuanya, aku ingin menjadi orang baru dengan kenangan yang baru, sebab masa lalu sangat menyakitkan."
Ini doa yang coba dipanjatkan tiap harinya.
Namun, entah mengapa rasanya sangat sulit untuk move on.
.
.
.
Di tempat lain ...
Apartemen mewah kota X ...
Ayah dan anak sedang melakukan panggilan telepon.
"Ayah, kau darimana saja?" tanya sang anak.
"Ayah baru saja ke sebuah tempat yang sangat indah."
"Makanya lama menjawab panggilan telepon dariku."
"Iya, apalagi tadi ada seorang gadis yang namanya mirip dengan mantan istri Pram, Anjana."
"Benarkah?"
"Iya, coba kau telepon Pram, mungkin dia senang dengan kabar ini."
"Baik ayah."
Panggilan telepon usai, sang pria terlihat sangat senang bisa bertemu dengan Anjana, seorang gadis yang cantik dan sopan.
"Jika sudah menjadi mantan istri Pram, bolehlah gadis itu aku jodohkan dengan anakku saja."
*****
__ADS_1