Sebatas Pernikahan Kontrak

Sebatas Pernikahan Kontrak
Cinta untuk Pram


__ADS_3

Dua puluh menit kemudian, Ed datang.


Dia segera meminta kekasihnya untuk masuk ke dalam mobil karena dia akan mengajak sang kekasih untuk pulang ke rumah.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, Ed merasa aneh dengan sang kekasih yang tiba-tiba saja menjadi pendiam.


"Kau sakit?" tanya Ed heran.


Dia merasa bahwa sang kekasih memiliki banyak pikiran yang cukup mengganggu sehingga bersikap seperti itu.


"Oh, aku merasa sedikit sakit. Namun, tak terlalu," jawab Nana.


Nana justru memikirkan pria yang tadi bersamanya, Nana merasa bersalah atas perasaan yang tidak seharusnya ini tetapi dia tidak akan mengatakan apapun.


Ed, bukan pria seperti Pram.


Dia adalah orang yang memegang prinsip sangat teguh sehingga tidak akan pernah meninggalkan kekasihnya meskipun dalam masalah.


Pram, akan meninggalkan beberapa orang yang menurutnya tidak berguna lalu membiarkannya dalam kesusahan.


Sisi ini saja, sangat berbeda dan tidak bisa dibandingkan.


"Kau ingin pergi ke rumah sakit? kau ingin membeli obat di apotek?" tanya Ed cemas.


Raut wajahnya sangat merasa bersalah karena dari tadi meninggalkan Nana di perpustakaan kota itu.

__ADS_1


"Maaf ya, aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan dan setelah itu temanku ada yang datang, aku berada di sana tak hanya menjenguk teman tetapi banyak hal yang harus aku lakukan. Kau tidak mempermasalahkan hal ini kan?" tanya Ed.


Ed merupakan seorang pebisnis dengan kesibukan tingkat tinggi tetapi tidak terlihat.


Hanya saja begitu senang dengan semua ini, dia mampu menemani sang kekasih meski dalam keadaan sibuk.


"Tidak masalah, aku sedang dalam situasi yang sangat tidak nyaman, aku pusing dan sepertinya akan menstruasi."


"Oh, oke. Aku akan menemanimu di rumah, ayahmu kan sedang tidak sehat."


"Tidak perlu, aku ingin kau berada dalam kondisi fit. Pekerjaanmu amatlah berat, fokus saja dengan semua yang kau kerjakan. Aku akan mendoakan agar selalu sehat sentosa."


Dua orang yang terlihat bahagia itu mencoba untuk menyembunyikan perasaan masing-masing.


Ed dengan kecurigaannya karena Nana, mengeluarkan air mata seperti begitu sedih hingga sembab.


Nana, tipe wanita yang akan menceritakan semuanya secara gamblang, tetapi Ed yang harus mencari tahu apa yang membuat sang kekasih bersikap demikian.


Rumah Nana ....


Mobil Ed ada di depan rumah Nana, ini merupakan pertama kalinya Nana menangis untuk Pram.


Dia tidak bisa melihat wajah mantan suaminya terlalu lama karena pasti akan goyah.


"Selamat jalan."

__ADS_1


"Ya, terima kasih. Kau telepon saja aku jika ada masalah atau apapun yang bisa aku bantu."


"Oke, terima kasih atas kepeduliannya ya."


"Haha, aku adalah kekasihmu dan wajar jika peduli. Kau ini kenapa?"


"Tidak ada, maaf ya, aku masuk dulu."


Sang kekasih mengangguk, dia segera pergi dari rumah Nana dengan kegelisahan yang sangat dalam.


Nana pun demikian, dia tak bisa menahan diri lagi.


Setelah sampai di dalam rumah, Nana langsung masuk ke kamarnya dan menangis.


Sang ayah tak digubris sama sekali.


Kamar Nana ...


"Hua, kenapa aku harus bertemu dengannya lagi jika harus melihat kesedihan di dalam matanya, aku tidak menyangka dia begitu menderita karena berpisah denganku."


Nana, meratapi dirinya yang pergi setelah 1 tahun, dia tidak pernah berharap untuk bertemu lagi dengan si mantan.


Akan tetapi Tuhan memberikan saran lain yang cukup rumit, yaitu pertemuan tak terduga.


*****

__ADS_1


__ADS_2