Sebening Kristal

Sebening Kristal
Lamaran


__ADS_3

Seminggu setelah keputusan itu keluarga Alfin berencana akan melamar Rasya. Semua persiapan sudah siap 100%, Semua keluarga Alfin sudah berkumpul di kediaman Wijaya.


Sore itu Alfin pulang kerja lebih awal. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, ia telah sampai di rumah. Ia langsung masuk ke dalam kamar karena ingin istirahat sebentar.


Alfin duduk di sisi ranjang, ia mengambil sebuah foto di laci meja. Foto dirinya dan Sasa sahabat kecilnya.


Maafin Kakak ya, sa. Mungkin ini takdir kita untuk tidak saling bersama. Maafin Kakak sudah mengingkari janji kakak padamu. Kakak selalu berharap kamu bisa menerima kenyataan ini suatu saat nanti. Kakak selalu berdoa semoga kamu mendapatkan jodoh yang lebih baik dari kakak. Batin Alfin.


Setelah puas memandangi foto dirinya dan Sasa, Ia langsung ke kamar mandi. Setelah selesai ia langsung menjalankan shalat magrib.


Tok...tok..tok..


Ceklek


" Fin, Kamu sudah selesai shalatnya?" Tanya sang Mama.


" Sudah,ma. Mama ada apa datang ke kamar Alfin?" Ucap Alfin.


"Mama cuma mau ngobrol sebentar sama kamu."


" Mama mau ngomong apa?"


"Apa kamu sudah yakin dengan keputusan kamu, Bukan maksud mama untuk meragukanmu. Tapi mama ini seorang ibu yang mengandung dan melahirkanmu, jadi mama tau apa yang kamu rasakan saat ini."


Hufffttt...


" Mama tidak usah memikirkan perasaan Alfin. Alfin sudah ikhlas dengan takdir yang Allah pilih untuk Alfin,ma. Mungkin aku dan Sasa memang tidak ditakdirkan untuk berjodoh. Bahkan waktu 1 Tahun yang aku minta untuk menemukannya pun tidal membuahkan hasil. Dan ini jalan takdir kami."


" Mama lega jika kau menerimanya dengan ikhlas. Mama harap meski nanti belum ada cinta diantara kalian cobalah saling terbuka dan saling menghormati. Sayangi dia sebagai teman jika kau belum bisa memberikan cinta."


" Iya, ma. Alfin akan berusaha untuk menjadikannya teman."


" Ya sudah. Sekarang kita ke bawah ya, kita akan berangkat setelah ini."


"Baik,ma. Setelah ini Alfin akan turun kebawah."

__ADS_1


Sang mama akhirnya pergi meninggalkan kamar sang putra. Tak berapa lama Alfin pun menyusul sang mama ke bawah.


*********


Sedangkan disebuah rumah mewah. Duduk seorang lelaki yang sedang menatap foto keluarganya.


" Ayah, aku janji akan membalas kematian bunda dan rasa sakit ayah. Aku akan membawa mereka ke neraka.batin laki laki tersebut.


Kemudian laki laki tersebut mengambil ponselnya untuk menghubungi nomer seseorang.


" Hallo, gimana? Apa ada titik terang tentang kecelakaan yang menimpa kedua orang tuaku."


"Saya sudah menemukan titi terang. Dari yang saya selidiki disini ada unsur kesengajaan dan dari penyelidikan saya bahwa keluarga wijaya dan keluarga pratama tidak ada sangkut pautnya dengan kecelakaan ini. Bahkan saat kedua orang tua anda mengalami kecelakaan kedua keluarga tersebut berada di bandung. Kemungkinan ada seseorang yang ingin menghancurkan anda dengan menggunakan kedua keluarga tersebut." Jelas sang detektif.


" Baiklah kita ikuti rencana mereka. Aku ingin lihat sampai mana ia bisa menghasutku. Jangan lupa berikan pengawalan kepada kedua keluarga tersebut secara sembunyi sembunyi, aku tidak ingin sahabatku sampai terluka."


" Baik tuan, saya akan laksanakan perintah tuan."


Sambungan telpon terputus.


*********


Sedangkan dirumah Rasya tengah sibuk mempersiapkan untuk acara lamaran putrinya. Rasya kini duduk dikamarnya, Ia tengah merenung menatap sebuah foto.


Kak, maafin Sasa. Sasa nggak bisa nepati janji sasa ke kakak. Sasa nggak bisa menolak peejodohan ini, Sasa nggak mau kalo durhaka.


Jika suatu saat Kakak kembali, Sasa harap kakak bisa menerima keputusan Sasa.batin Rasya.


Tok....tok...tok..


Ceklek


"Sya, apa kamu sudah selesai bersiapnya." Ucap sang mama.


" Rasya sudah selesai kok, ma. Mama ada apa datang ke kamar Rasya?" Ucap Rasya sambil menyimpan foto itu.

__ADS_1


"Nggak papa. Mama cuma mau melihat putri mama saja." Ucap sang mama." Kalo sudah selesai, ayo kita turun." Ucap sang mama lagi sambil menggandeng tangan Rasya.


Rasya dan sang mama pun turun kebawah untuk menemui calon suaminya. Kini mereka tengah duduk diruang tamu.


" karena semua sudah berkumpul. Saya selaku orang tua Alfin Wijaya ingin menyamaikan makaud kedatangan saya beserta keluarga saya.


Maksud kedangan kami yang pertama ingin bersilaturahmi kepada keluarga pratama dan yang kedua, kami ingin melamar putri keluarga pratama untuk putra saya Alfin Wijaya." Ucap Rendy.


" Saya sebagai orang tua hanya bisa mendukung apa yang jadi keputusan anak saya. Gimana Ra, apa kamu menerima nak Alfin jadi calon suamimu." Tanya sang ayah.


Huuffffttt


"Bismillah saya menerima perjodohan ini dan saya meberima saudara Alfin sebagai calon suami saya." Ucap Rasya.


" Alhamdulillah.." Ucap semua orang.


Setelah acara lamaran selesai mereka kini tengah menikmati makanan yang sudah disediakan.


Sedangkan Alfin dan Rasya tengah duduk ditaman belakang rumah Rasya. Mereka sama sama diam, belum ada yang membuka suara hingga Alfin pun memulai obrolan.


" Ra, aku boleh jujur nggak sama kamu?" Ucap Alfin sambil terus menatap lurus ke depan.


" Kak Alfin mau jujur soal apa?" Tanya Rasya sambil terus menatap ke depan juga.


" Jujur... Kakak belum bisa melupakan cinta pertama Kakak. Meski pernah Kakak pacaran sama wanita lain, Tapi Kakak nggak bisa ngilangin rasa cinta Kakak pada cinta pertama Kakak. Meski pada akhirnya Kakak harus merasakan sakit hati atas pengkhianatan wanita yang pernah Kakak sayangi setelah cinta pertama Kakak. Sangat ini Kakak belum sepenuhnya percaya sama wanita, meski kakak tau ada banyak wanita yang jauh lebih baik dari mantan Kakak.


Kakak berbicara seperti ini hanya ingin kamu mengetahui perasaan Kakak saat ini. Mungkin Kakak belum bisa mencintai kamu tapi kita masih bisa berteman. Kakak menerima perjodohan ini bukan menjadikanmu sebagai pelarian atas sakit hati Kakak pada mantan kekasih kakak, Tapi kakak menerima perjodohan ini dengan ikhlas. Maaf jika kejujuranku membuatmu sakit hati, Tapi itulah kenyataan yang aku rasakan saat ini. Kamu bisa menunggu sampai aku bisa mwncintaimu sebagai seorang istri. Apakah kamu mau menungguku hingga aki bisa mencintaimu tanpa alasan?"


"Kak, sebenarnya aku juga begitu. Sampai saat ini aku masih mencintai cinta pertamaku. Meski pernah satu kali aku jatuh cinta pada seorang cowok hingga akhirnya cowok itu menikah dengan perempuan lain. Kak, aku siap berteman dengan kakak sampai kakak bisa mencintaiku dan kakak juga harus siap menunggu untuk aku bisa membalas rasa cinta kakak." Ucap Rasya.


Malam itu menjadi saksi dua insan yang saling berjanji untuk ikhals menerima apa yang menjadi takdir mereka.


Menerima apa yang sudah Allah tetapkan merupakan Kebahagiaan yang indah untuk dikenang.


Ingat!!! Rencana Tuhan jauh lebih indah daripada rencana makhlukNya.

__ADS_1


__ADS_2