Sebening Kristal

Sebening Kristal
part 38


__ADS_3

Pagi hari yang cerah ini digemparkan dengan berita yang baru saja viral. Berita yang diunggah oleh seorang yang tidak dikenal. Berita yang yang berjudul


Asisten pribadi perusahaan Wijaya terciduk tengah membawa seorang perempuan berhijab ke Hotel, Diduga bahwa Asisten tersebut seorang lelaki hidung belang.


 Berita itu disertai foto Iman yang tengah membopong seorang wanita berhijab. Tapi wajah wanita itu tidak terlihat dengan jelas.


Faizin dan Ida langsung menelpon sang putra. Namun panggilan selalu berada diluar jangkauan. Faizin dan Ida cemas dengan keadaan sang putra. Ia berharap berita ini tidaklah benar. Mereka sangat tahu bahwa putra mereka tidak akan melakaukan hal sebejat itu.


Sedangkan dikamar 248, seorang perempuan masih terlelap di atas ranjang. Ia adalah Laela Puspitasari, sekertaris dari Alfin Wijaya. 


Ela yang terlelap itu terganggu dengan silau cahaya yang menerobos masuk melalui celah jendela. Ela pun mengerjapkan matanya saat sinar itu menerpa wajahnya. Ia bangun dari tidur nyenyaknya.


Ela menatap sekelilingnya, ruangan bernuansa grey dipadukan dengan abu tua.


"Dimana aku." Monolog Ela." Ini bukan kamarku."


Ela pun mengingat apa yang dialami tadi malam. Ela pun langsung teringat kalau dia datang ke acara pernikahan sahabatnya dan dia ingat kalau ada seseorang yang membawa paksa dirinya. Ia juga ingat jika orang itu membekapnya dengan sapu tangan yang diberi obat bius lalu ia kehilangan kesadarannya.


Seketika itu Ela langsung memeriksa pakaiannya. Ela bersyukur kalau dia masih memakai pakaian yang tadi malam ia pakai. Ia pun melihat sekitar kamar itu, tidak ada seorang pun disana. 


Ela langsung turun dari ranjang dan keluar dari kamar. Saat menutup pintu kamar ia melihat seorang lelaki tengah berbaring disofa. Karena merasa takut, Ela kembali masuk ke dalam kamar lagi dan menguncinya.


Ela mengambil ponselnya yang ada didalam tas selempangnya. Ia melihat ada notifikasi di layar ponselnya. Ia mengekliknya dan membaca. Dan alangkah terkejutnya dengan apa yang dia baca.


Asisten pribadi perusahaan Wijaya terciduk tengah membawa seorang perempuan berhijab ke Hotel, Diduga bahwa Asisten tersebut seorang lelaki hidung belang.


Disana Ela melihat foto wajah Iman yang sedang membopong seorang wanita. Ela masih berfikir, apa benar berita ini. Rasanya tidak mungkin jika Iman bermain wanita. Dan dilihat dari wanitanya yang berhijab,rasa rasanya sangat mustahil.


Ela memperhatikan foto itu. Namun tunggu, ada yang sama dengan foto itu. Ela langsung kaget saat memperhatikan pakaian yang dipakai wanita yang ada didalam foto itu.


"Kenapa bajunya bisa sama." Monolog Ela.


Ela langsung membuka pintu kamarnya dan melihat siapa lelaki yang tidur disofa itu. Ela secara perlahan mendekati lelaki itu, tiba tiba lelaki itu berbalik menghadap ke arah Ela.


Degģ


Iman.batin Ela


Berarti yang ada didalam foto itu...


Astagfirullah.


Batin Ela lagi.


Tiba tiba ponsel Ela berdering. Karena hanya getaran jadi tidak menimbulkan suara. Ela langsung kembali ke kamarnya. Dilihat Id penelpon itu.


Rasya is calling...


Ela langsung menggeser tombol hijau guna menerima telepon itu.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum." Ucapku


"Wa'alaikumsalam, Ela. Kamu udah lihat berita yang lagi viral nggak?" Tanya Rasya to the point.


"Iya, aku udah lihat berita itu. Kenapa?" Ucap Ela tenang.


"Wanita didalam foto itu bukan kamu kan." Ucap Rasya to the point lagi.


"Kenapa kamu tanya begitu?" Tanya Ela.


"Enggak, soalnya baju yang dipakai perempuan dalam foto itu sama persis dengan yang kamu pakai tadi malam bahkan tas selempangnya pun sama. Apa itu memang kamu?" Tanya Rasya.


"Hufftt...Iya itu memang benar aku. Tapi kami nggak seperti yang ada diberita ko,suer deh." Ucap Ela.


"Kenapa bisa sampai ada berita kayak gitu?" Tanya Rasya.


"Aku juga nggak tahu kejadiannya. Nanti aku tanya Iman saja." Ucap Ela.


"Kamu sekarang sama Iman?" Tanya Rasya.


"Iya, dia lagi tidur. Kasihan kelihatannya di capek banget." Ucap Ela.


"Kamu bangunkan Iman,La. Kami menunggu penjelasan kalian." Ucap Rasya.


"Kami?" 


"Baiklah. Kau akan segera ke sana bersama Iman." Ucap Ela.


"Ya udah. Aku tutup dulu telponnya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Ela langsung membuka pintu dan keluar. Ia menghampiri Iman yang masih terlelap itu. Ia mendekati Iman yang berbaring di sofa depan kamar.


"Man..Iman. bangun, Man." Ucap Ela sambil menggoyangkan lengan Iman.


Iman yang merasa terganggu dalam tidurnya langsung membuka matanya. Ia menyesuikan cahaya yang ada diruangan itu. Ia melihat Ela berdiri di samping kanannya.


"Ada apa,La?" Ucap Iman saat sudah mengumpulkan kesadarannya.


"Kita harus ke bawah sekarang?" Ucap Ela.


"Emang ada apa? Terus kenapa kamu pagi pagi udah di rumahku?" Tanya Iman.


"Kita nggak dirumahmu,Man. Kita ada di Hotel tempat acara Rasya diadakan." Ucap Ela.


Iman tampak mengingat apa yang terjadi padanya dan Ela. 


"Ah iya. Aku ingat, kalau kita ada di Hotel." Ucap Iman saat mengingat kejadian tadi malam.

__ADS_1


"Kita harus segera turun. Karena Rasya, Kak Alfin,Kak Putra, Kak Adinda dan kedua orang tua kamu udah nunggu dibawah." Ucap Ela.


"Ngapain mereka nungguin kita?" Tanya Iman.


"Kita sekarang lagi di cari oleh para wartawan,Kak." Ucap Ela.


"Whatt!! Wartawan?" Ucap Iman kaget.


"Iya, ada seseorang yang membuat berita yang tidak baik tentang kita, atau lebih tepatnya Kakak sendiri." Ucap Ela.


"Berita apa?" Tanya Iman penasaran.


"Ini." Ucap Ela sambil menunjukkan layar ponselnya.


Iman pun membaca tulisan yang ada dilayar ponsel Ela.


Asisten pribadi perusahaan Wijaya terciduk tengah membawa seorang perempuan berhijab ke Hotel, Diduga bahwa Asisten tersebut seorang lelaki hidung belang.


Iman yang membaca itu langsung kaget. Ia tidak menyangka jika kejadian menyelamatkan Ela malah berakhir dengan berita yang tidak baik.


"Sekarang kita harus ke bawah menemui semuanya dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya." Ucap Ela.


"Baiklah. Aku akan cuci muka terlebih dahulu." Ucap Iman sambil berlalu meninggalkan Ela yang tengah berdiri di samping sofa.


Iman pun pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya dan menggosok gigi. Ia harus siap menghadapi para wartawan yang mencari kebenaran berita itu. 


Setelah selesai, Iman dan Ela langsung keluar kamar dan menuju lift. Namun sebelum masuk Lift Ela dan Iman memakai masker dan Topi. Mereka hanya berjaga jaga jika ada wartawan yang berpapasan. 


                              ************


Setelah membaca berita itu, mereka langsung menghubungi sang putra. Namun nihil, semua panggilan mereka tidak dihiraukan oleh putranya. Faizin dan Ida langsung gelisah menunggu kepulangan sang putra. 


Sampai tengah malam mereka menunggu, tapi sang putra juga belum pulang. Faizin yang ingin menelpon sahabat putranya dicegah oleh sang istri.


"Mas, jangan menelpon Alfin." Ucap Ida pada Faizin.


"Kenapa?" ucap Faizin.


"Mas tidak ingat? Mereka pengantin baru, pasti mereka lelah karena acara tadi." Ucap Ela.


"Astagfirullah, maaf. Mas beneran lupa." Ucap Faizin."Terus gimana,dong? Iman juga belum pulang jam segini." Ucap Faizin dengan nada khawatir.


"Lebih baik kita istirahat dulu, besok pagi habis subuh kita pergi ke Hotel menemui Alfin." Usul Ida.


"Itu lebih baik. Ya udah sekarang kita istirahat dulu." Ucap Faizin.


Faizin dan Ida langsung pergi ke kamar untuk beristirahat. Mereka akan menanyakan kebenaran berita itu esok hari.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2