Sebening Kristal

Sebening Kristal
Part 39


__ADS_3

Dirga yang melihat berita itu langsung tersenyum senang. Ia akan menambahkan beberapa kebohongan untuk membuat berita semakin panas dikolom komentar.


Di lobby Hotel para wartawan tengah menanti Asisten Pribadi keluarga Wijaya. Para wartawan itu sangat antusias saat melihat Dirga keluar dari Lift.


"Tuan Dirga,apa benar tentang kabar yang anda sampaikan dalam komentar berita itu?" Tanya seorang wartawan pada Dirga.


"Iya, saya melihat sendiri Asisten Iman membawa seorang wanita masuk ke dalam sebuah kamar." Ucap Dirga membual.


"Apakah anda tau, siapa wanita yang bersama dengan Asisten Iman?" Ucap salah satu wartawan.


"Saya tahu, kalau tidak salah wanita itu adalah sekertaris perusahaan Wijaya. Laela Puspitasari namanya." Ucap Iman.


"Apakah Benar kalau wanita itu sekertaris perusahaan Wijaya?" Ucap wartawan lainnya.


"Iya, saya sangat yakin kalau wanita itu sekertaris perusahaan Wijaya." Ucap Dirga dengan sangat yakin.


"Apakah mereka punya hubungan khusus?atau mereka sudah menikah?" Ucap Wartawan tadi.


"Maaf saya buru buru,permisi." Ucap Dirga sambil berlalu pergi dari hadapan para wartawan itu.


Setelah berhasil lolos dari kerumunan para Wartawan itu, Dirga langsung pergi meninggalkan Hotel itu.


"Sial, kenapa mereka malah bertanya macam macam sih." Ucap Dirga dengan kesal."Tapi setidaknya aku sudah membuat citra Asisten Iman menjadi jelek. Itu akibatnya mencampuri urusanku." Ucap Dirga lagi dengan senyum kemenangan.


           


                            *************


Alfin  yang menyaksikan tayangan live itu menjadi geram. Ia sangat yakin jika ada orang yang ingin menjelekkan Citra Iman dalam dunia bisnis.


Sedangkan kedua orang tua Iman, merasa sangat sedih dengan kabar ini. Mereka memikirkan nasib sang putra tercinta. Faizin menerawang jauh tentang perjalanan Rumah tangganya.


Bagi mereka Iman adalah harta yang paling berharga. Faizin dan Ida sudah bertahun tahun menantikan hadirnya buah hati. Namun sepertinya Allah belum mengizinkan mereka untuk mendapatkan momongan. 


Ketika mendapatkan kabar bahagia tentang kehamilan pertama setelah 6 tahun menikah, mereka sangat bahagia. Namun kebahagiaan itu sirna saat Ida berusaha melahirkan buah cinta mereka. Anak yang mereka nantikan sekian lama harus kembali ke pangkuan sang Illahi. 


Mereka berusaha ikhlas dan sabar menghadapi takdir Allah. Faizin dan Ida hanya selalu berdo'a untuk diberikan ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi segala cobaan.

__ADS_1


Bauh dari kesabaran mereka, Allah hadirkan lagi janin dalam perut Ida. Mereka selalu bersyukur atas nikmat Allah yang diberikan. Hingga bayi itu lahir dengan selamat dan kini sudah dewasa. Mereka memberi bayi itu nama Nur Iman. Karena bagi mereka Iman adalah sebuah cahaya yang diberikan Allah dalam Rumah tangga Faizin dan Ida. 


Beberapa tahun setelah kehadiran Iman, Ida harus menjalani operasi pengangkatan rahim. Karena ada tumor yang tumbuh di rahim Ida. 


Lamunan Faizin itu buyar saat ada orang yang membuka pintu ruangan  itu. Masuklah dua orang yang memakai masker dan topi. Orang itu duduk dikursi kosong disamping Faizin. Dua orang itu membuka topi dan maskernya. 


Dan mereka semua tau bahwa dua orang itu adalah Iman dan Ela. Rasanya mereka ingin tertawa kepada dua orang didepannya itu.


"Kenapa kalian memakai topi dan masker segala?" Tanya Rasya pada Iman dan Ela.


"Kami ini sedang menghindari para wartawan yang ada di berbagai tempat dihotel ini. Bahkan tadi kami sempat bersandiwara saat berpapasan dengan wartawan di lift." Ungkap Ela dengan nada kesal.


"Emang kalian bersandiwara gimana?" Tanya Ida pada Putranya dan Ela.


Iman dan Ela hanya diam setelah mendengar pertanyaan itu. Mereka kembali mengingat kejadian di lift tadi.


Iman dan Ela berjalan melewati lorong dilantai 24. Saat dirasa aman mereka langsung menuju ke lift. Mereka bernafas lega karena tidak ada wartawan yang berpapasan dengan mereka. 


Namun keberuntungan itu harus sirna saat lift berhenti dilantai 15. Ada 4 orang wartawan yang masuk ke dalam lift. Ela yang berdiri agak jauh dari Iman pun langsung mendekat ke arah Iman. 


Ela langsung memeluk lengan Iman dengan manja. Iman yang melihat hal itu hanya tersenyum dalam hati. 


Iman yang mengerti arti kedipan mata Ela langsung mengikuti sandiwara yang Ela ciptakan.


"Iya, besok kita honeymoon ke korea ,ya? Kamu mau?" Tanya Iman pada Ela.


"Iya, aku mau mas?" Ucap Ela.


Ke empat wartawan itu hanya melirik sekilas ke arah mereka. Para wartawan itu tidak mencurigai mereka lagi. Para wartawan itu keluar saat dilantai 7, Iman dan Ela yang melihat itu hanya bisa bernafas lega.


Ela tidak sadar jika masih menggandeng lengan Iman sampai di lantai dasar. Saat keluar lift Ela baru menyadari kesalahannya. Ia langsung melepaskan tangannya dari lengan Iman.


"Maaf." Ucap Ela.


"Iya,nggak papa. Ayo kita ke cafe hotel,kasihan mereka sudah menunggu lama." Ucap Iman.


Iman dan Ela berhalan beriringan menuju ke cafe hotel.

__ADS_1


"Kenapa kalian malah melamun." Ucap Ida membuyarkan lamunan Ela dan Iman." Jawab pertanyaan mama,Iman!" Ucapnya lagi.


"Emmm....itu ma,bukan apa apa kok." Ucap Iman dengan gugup.


"Ela, jawab pertanyaan tante. Sandiwara apa?" Tanya Ida pada Ela.


"Itu, kami hanya bersandiwara bercakap cakap biasa. Biar mereka tidak curiga pada kami." Ucap Ela dengan nada gugup.


Faizin yang melihat ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Ia langsung meminta manager hotel untuk memberikan rekaman cctv lift. Ia akan mencari tahu sendiri jawabannya.


Tak berapa lama masuk sebuah rekaman cctv bersama dengan rekaman suaranya. Ia akan melihat rekaman itu di kamar mandi.


"Ma, papa mau ke toilet sebentar ya?" Ucap Faizin pada Ida.


"Iya,pa." Jawab Ida.


Faizin pun berlalu meninggalkan ruangan itu menuju ke toilet. Dirasa sepi, Faizin memutar rekaman itu di jalan menuju toilet. Ia memutar rekaman itu dan melihatnya secara seksama. Setelah paham ia langsung memutar rekaman suara yang dikirimkan oleh sang manager hotel.


Setelah memutar rekaman itu, Faizin pun langsung tersenyum senang. Ia sudah membuat rencana dengan bantuan rekaman itu.


Faizin pun langsung kembali ke cafe. Saat masuk ke privat room, suasana masih sama. Sang istri masih bertanya tentang sandiwara itu. Melihat situasi itu, Faizin langsung duduk disamping sang istri dan menggenggam tangannya.


Faizin kemudian tersenyum ke arah sang istri. Lalu Ia mengetikkan sesuatu di handphonenya dan memperlihatkannya pada sang istri. Ida yang membaca tulisan di handphone sang suami itu langsung tersenyum.


"Baiklah, ini demi kebaikan kalian. Maka kami memutuskan untuk menikahkan kalian besok pagi." ucap Ida tiba tiba.


"Apa? Menikah? Mama jangan becanda,deh. Masa aku harus menikah dengan Ela. Cari solusi lainnya lah." ucap Iman protes.


"Iya,Tante. Kita cari solusi lainnya saja."ucap Ela protes juga.


Alfin dan Rasya yang bisa membaca rencana orang tua Iman pun hanya bisa tersenyum.


"Iya,Man. Satu satunya solusi terbaik kalian menikah." ucap Alfin.


"Ahh....memang hanya itu solusinya. Nggak ada solusi lain,apa?" ucap Iman.


"Ya hanya itu. Kalau kita cari solusi lain, para wartawan pasti tidak akan percaya dengan kamu. Dan imbasnya akan citra perusahaan dan hotel ini." ucap Alfin bijak.

__ADS_1


"Baiklah,jika itu solusi yang paling terbaik. Aku akan terima." ucap Iman pasrah.


"Kalau kamu gimana,La?" tanya Rasya pada Ela.


__ADS_2