Sebening Kristal

Sebening Kristal
Part 27


__ADS_3

Alfin dan Rasya melakukan fitting baju pengantin di butik tantenya Alfin. Mereka hanya memesan 2 gaun, yang satu dipakai saat akad nikah dan yang satu dipakai saat resepsi. Mereka sudah memutuskan hanya akan melakukan resepsi yang sederhana. Bukan tak mampu untuk membuat resepsi yang mewah tapi mereka hanya ingin pernikahan yang biasa saja.


Tak berapa lama, mereka sampai di butik Al-Fanries milik sang tante. Alfin memarkirkan mobilnya tepat di halaman butik. Ia turun dari mobil dan menunggu Rasya turun dari dalam mobil. Mereka pun beriringan masuk ke dalam butik. Alfin dan Rasya disambut dengan gembira oleh tante Vanya.


" Ehh... Kalian udah datang. Ayo kita langsung ke ruang ganti aja." ucap Tante Vanya saat melihat Alfin dan Rasya sampai dibutiknya.


" Baik, tante." ucap Alfin pada Tante Vanya.


Alfin dan Rasya langsung mengikuti langkah sang Tante. Mereka sudah banyak melihat gaun gaun yang cantik dan mempesona.


" Sya, kamu coba baju kamu di sebelah kanan,dan Alfin kamu coba baju kamu disebelah kiri." ucap Tante Vanya pada Alfin dan Rasya.


" Baiklah, Tante." ucap keduanya.


Alfin mencoba baju yang akan digunakan saat akad nikah dan resepsi. Dia akan menggunakan jas berwarna hitam dan celana berwarna senada. Bagitu juga saat resepsi, ia akan menggunakan warna hitam juga.


Sedangkan Rasya mencoba gaun yang akan digunakan saat akad nikah. Gaun berwarna putih sederhana. Ia memang tidak meminta pakai pakaian adat saat akad nikah. Ia hanya akan menggunakan gaun sederhana.



Anggap aja gaunnya seperti itu ya😊.


Sedangkan saat resepsi, ia akan menggunakan gaun berwarna grey.



Gambaran gaunnya seperti itu ya.😊


Alfin yang selesai mencoba jasnya langsung keluar terlebih dahulu. Ia melihat ruang ganti yang digunakan oleh Rasya belum terbuka.


" Wahhh.... Ganteng sekali kamu, Fin. Apa ada yang kurang dengan jasnya?" ucap Tante Vanya.


" Makasih, Tante. Udah pas kok ukurannya, nggak ada yang harus dirubah."


Rasya pun keluar dari ruang ganti. Ia menggunakan gaun berwarna grey. Alfin yang melihat Rasya keluar memakai gaun pun langsung terkagum. Ia begitu terpana akan kecantikan dan keanggunannya.


Cantik sekali, bagai bidadari turun dari kayangan. Batin Alfin.


Tante Vanya yang melihat Alfin terpana akan penampilan Rasya hanya tersenyum.


" cantik nggak, Fin?" ucap Tante Vanya.


" cantik.. Sangat cantik." ucap Alfin tanpa sadar.


Rasya yang mendengar ucapan Alfin hanya tersipu malu. Hingga pipinya bersemu merah.


Cie...... Cie..... Cie...


Ucapan Tante Vanya dan diikuti beberapa pegawai butik. Alfin yang mendengar suara tawa pun langsung tersadar. Ia berdehem untuk menetralisir perasaannya.

__ADS_1


Setelah mencoba pakaian pernikahan, mereka akan pergi toko perhiasaan. Mereka akan memilih cincin pernikahan.


Mereka langsung pergi menuju Mall terbesar dijakarta. Didalam mobil mereka hanya diam, tidak ada yang memulai pembicaraan. Alfin pun berdehem untuk menetralisir perasaannya.


"Sya, besok kamu ada acara nggak?" tanya Alfin membuka percakapan.


" Basok aku nggak ada acara. Tapi, aku harus gantiin kak Putra mimpin rapat tahunan. Emang kenapa?" jawab Rasya.


" Kalo nggak ada acara, aku mau ngajak kamu nemuin omaku di desa." ucap Alfin.


" Maaf, kak. Aku nggak bisa. Soalnya besok aku menggantikan kak Putra rapat." ucap Rasya dengan nada sedih.


" Owh gitu, ya udah nggak papa. Kan bisa lain kali." ucap Alfin menenangkan Rasya.


" Gimana kalo pas kita nikah, oma kita jemput kesini." ucap Rasya.


" Oma nggak mau kesini. Soalnya oma nggak kuat kalo dalam perjalanan, sedangkan dari sini sampai ke desa tempat oma cukup jauh." ucap Alfin.


" Owh gitu, gimana kalo habis kita nikah kita kesana aja, kak." ucap Rasya.


" Boleh juga ide kamu. Berarti habis kita nikah, kita jenguk oma di desa."


Perjalanan mereka di warnai dengan percakapan, sebagai ajang perkenalan mereka.


***********


Sedangkan di rumah Banati, Ela sedang asyik bercerita dengan Banati. Mereka bercerita tentang masa perkuliahannya.


" Aku pernah dicurhatin sekali sama Rasya. Waktu itu kita masih awal masuk kuliah. Ingat nggak waktu Rasya bilang dia jatuh hati sama seseorang." ucap Ela.


" Iya, waktu dia terlambat berangkat kuliah kan. Dia bilang kalo waktu itu dia bertemu dengan lelaki tampan." ucap Banati saat mengingat kejadian itu.


" Dia bilang sama aku kalo lelaki tampan yang dia kagumi itu satu kuliahan sama kita. Tapi setelah itu aku nggak pernah denger dia deketin cowok."


" Aku jadi penasaran sama lelaki misterius itu. Kira kira siapa ya?"


" Entahlah, Ban. Aku juga nggak ngerti, tapi waktu itu dia pernah bilang kalo dia menunggu teman masa kecilnya. Aku jadi pusing mikirin kisahnya Rasya."


" Sama aku juga, La."


Mereka melanjutkan obrolan, saking asyiknya mereka tak sadar kalau hari sudah beranjak siang.


***********


Sedangkan Adinda dan Putra sudah memasuki pelataran sebuah rumah sakit. Mereka langsung bergegas menuju resepsionis untuk menanyakan keberadaan orang tua Adinda.


" permisi, mbak. Mau tanya, Dimana ruangan korban kecelakaan atas nama pak Deni dan ibu Ina?" tanya Adinda pada resepsionis.


" pasien yang bernama pak Deni dan ibu Ina sedang berada di UGD, mbak."

__ADS_1


" Terima kasih, sus. Kami permisi dulu."


Adinda dan Putra langsung mencari ruang UGD berada. Dari kejauhan Adinda melihat Pakdhe Ridho yang duduk di bangku sebuah ruangan. Adinda pun bergegas mendekati sang Pakdhe.


" Pakdhe, gimana kondisi bapak sama ibu?" tanya Adinda saat sudah berada dihadapan sang Pakdhe.


" bapak kamu masih ditangani oleh dokter, sedangkan ibu mu...." ucap Pakdhe Ridho menggantung.


" ibu kenapa pakdhe. Ibu baik baik aja kan, ibu nggak kenapa kenapa kan? " tanya Adinda dengan nada panik.


" Ibu mu sudah meninggal saat sampai di rumah sakit. Dan sekarang masih diurus oleh pihak rumah sakit." ucap Pakdhe Ridho dengan nada sedih.


" innalillahi wa inna illaihi roji'un.... Ibu. " ucap Adinda dengan air mata yang sudah mengalir.


Tiba tiba ada seorang dokter keluar dari ruang UGD.


" Apakah ada yang bernama Adinda, pasien ingin bertemu dengannya?" ucap Dokter itu.


" Saya yang bernama Adinda, dok." jawab Adinda langsung menghampiri Dokter itu.


" Mari ikut saya, pasien ingin berbicara penting kepada anda." ucap Dokter itu.


Adinda langsung mengikuti sang dokter untuk masuk ke UGD. Ia melihat keadaan bapaknya yang memprihatinkan. Rasanya ia tak sanggup jika harus kehilangan mereka berdua. Kehilangan Bapak juga ibunya sekaligus. Ia menghamiri Bapaknya yang ada diatas brankar UGD. Banyak beberapa alat yang tertancap di tubuh sang Bapak.


" Pak, bapak harus bertahan demi Dinda. Dinda nggak sanggup kalo harus kehilangan Bapak." ucap Adinda saat menghampiri sang Bapak.


" Din, bapak udah nggak sanggup untuk bertahan. Bapak ingin segera bertemu ibu mu. Tapi sebelum bapak pergi, bapak ingin melihat kamu menikah. Supaya setelah Bapak pergi kamu ada yang menjaga. Meski ada Pakdhe Ridho, tapi kamu tau kan bagaimana sifat Budhe mu pada kita. Bapak hanya tidak ingin kamu hidup susah, bahkan rumah kita sudah digadaikan oleh Budhemu.


Uhukkkk..... Uhuuukkkk


Bahkan setelah bapak pergi, hutang itu menjadi bebanmu. Maafkan bapak dan ibu yang hanya bisa menyusahkanmu. Bapak hanya ingin melihatmu menikah sekarang, bapak nggak rela kalau kamu dinikahkan sama rentenir tua oleh Budhemu. Bapak hanya ingin melihat mu menikah, Din."


" Bapak jangan banyak bicara dulu, bapak harus banyak istirahat, agar bapak cepat sembuh. Dinda pasti akan menikah, tapi nggak sekarang. Dinda juga belum punya pasangan untuk diajak nikah. Kalau soal rumah Dinda bisa kerja di kota. Bapak sama ibu nggak nyusahin Dinda, Dinda bahagia melihat bapak sama ibu bahagia. Maafkan, Dinda yang belum bisa memenuhi keinginan bapak."


" Saya sanggup menikahi Dinda sekarang... "


**********


Kira kira siapa ya 🤔 yang mau nikahi suster Adinda.


Pasti kalian kepo ya🤗 author juga😊.


Kita nantikan episode selanjutnya ya🤗.


Jangan lupa selalu dukung karya Author. Like, komen yang banyak🤗 biar Author semangat nulisnya.


Jangan lupa mampir ke novel Author yang Lainnya.


Author: penikmat senja hari ( Fadlina)

__ADS_1




__ADS_2