Sebening Kristal

Sebening Kristal
part 29


__ADS_3

Jika Rasya sibuk menggantikan kakaknya di kantor. Beda hal dengan Alfin yang santai di rumah. Ia mengerjakan pekerjaan kantornya dari rumah. Sebab tidak ada jadwal meeting atau bertemu klien, jadi Alfin bekerja dirumah.


Pagi itu dirumah Alfin tampak sepi. Kedua orang tuanya sedang ke luar Kota, jadi dirumah hanya ada Alfin dan beberapa pekerja rumah. Ia berjalan menuju meja makan, disana sudah terhidang beberapa makanan. Alfin pun duduk dimeja makan sendirian.


Tak berapa lama Bi Surti datang membawakan segelas susu putih. Bi Surti meletakkan susu putih itu di samping Alfin.


" Den Alfin mau sarapan apa?" Tanya Bi Surti.


" Nanti aku ambil sendiri aja,Bik. Bibik lanjutin aja kerjaan dibelakang." Ucap Alfin pada Bi Surti.


" Baik kalo gitu, Den. Bibik permisi ke belakang dulu." Ucap Bi Surti.


" Silahkan,Bik."


Bi Surti langsung kembali ke belakang. Sedangkan Alfin langsung mengambil beberapa lembar roti dan diolesi selai. Alfin menyantap sarapannya dengan nikmat.


Setelah selesai sarapan, Alfin pun langsung pergi ke Ruang kerjanya dan mengambil laptop. Ia membawa beberapa berkas yang harus ia periska dan pelajari.


Saat sedang fokus membaca berkas, Bi Surti datang membawakan cemilan dan minuman.


" Bibik kok repot repot segala, buatin Alfin minum sama bawain cemilan." Ucap Alfin.


" Nggak repot kok, Den." Ucap Bi Surti sambil meletakkan segelas Kopi dan beberapa makanan ringan dihadapan Alfin.


" Oh iya, Den. Kemarin Tuan telpon, beliau bilang kalo pulangnya ditunda." Ucap Bi Surti lagi.


" Terus Mama sama Papa pulangnya kapan,Bi?" Tanya Alfin.


" Kalo nggak salah lusa,Den. Soalnya urusan kantor cabang belum selesai gitu." 


" oh gitu, makasih ya , Bi." 


" Iya,Den. Sama sama, kalo gitu Bibik permisi ke dalam dulu ya."


" Ya silahkan,Bi."


Alfin pun langsung melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Saat membaca sebuah berkas pengajuan kerja sama dari perusahaan Saputra's corp ada yang janggal. Ia langsung menelpon Iman untuk datang ke rumah.


Tak berapa lama Iman datang sambil membawa beberapa berkas yang harus aku tanda tangani.


" Assalamu'alaikum, Pak Bos." Ucap Iman.


" Wa'alaikumsalam,Man. Kamu sudah sampai, sini ada yang mau aku tanyain ke kamu." Ucap Alfin.


" Mau tanya apa, Pak?" 


" Apa kamu sudah membaca berkas pengajuan kerjasama dari Saputra's Corp?" 

__ADS_1


" Owh itu, saya sudah membacanya,pak. Dan memang ada beberapa poin yang merugikan pihak kita. Jika lebih dicermati lagi keuntungan kerjasama ini akan masuk ke perusahaan mereka."


" Terus kenapa berkasnya masih ada dimeja saya, bahkan berkas ini saya ambil dari ruang kerja dirumah."


" Maaf sebelumnya,pak. Tapi kemarin setelah saya membaca berkasnya dan menelitinya saya langsung pergi ke perusahaan Saputra's Corp untuk membatalkannya."


" Begitu. Aku akan tanya Bik Surti dulu."


Alfin pun langsung memanggil Bik Surti melalui tombol di Gazebo. Tombol yang secara otomatis memanggil asisten rumah tangga atau yang lainnya.


Tak berapa lama Bi Surti datang menghampiri Alfin dan Iman di Gazebo belakang rumah.


" Ada yang bisa saya bantu,Den?"


" Begini,Bi. Aku mau tanya, apakah kemaren ada orang yang mengantarkan map ini ke rumah?" Ucap Alfin sambil menunjukkan map berwarna hijau pada Bi Surti.


" Ada,Den. Kemarin ada seorang laki laki tinggi, kulitnya putih dan memakai baju kantoran datang menyerahkan map itu. Katanya itu berkas penting dan saya harus meletakkanya di Ruang kerja aden."


" Kalo gitu makasih ya, Bi. Bibik boleh kembali ke dalam."


Bi Surti pun kembali ke dalam, sesangkan Alfin dan Iman tengah membahas permasalahan kerjasama tersebut. Namun saat tengah serius membahas berkas itu, handphone Alfin berdering. Tertera nomor yang tidak dikenalnya.


+6285634****** is calling....


" Hallo, Assalamu'alaikum." Ucap Alfin mengawali pembicaraan.


" Iya, Wa'alaikumsalam." Ucap seorang perempuan diseberang sana.


" Maaf, apa benar ini keluarga dari saudara Aditya Wijaya dan istrinya Banati Sofifah?" Bukan jawaban melainkan pertanyaan yang Alfin dapat.


" Iya Benar."


" Kami dari Rumah sakit Medika Husada, mau mengabarkan bahwa saudara Aditya Wijaya mengalami kecelakaan dan saat ini tengah berada di Rumah sakit."


" Innalillahi... terima kasih atas informasinya."


" kalau gitu saya tutup dulu ya, pak."


" Baik, suster." 


Tak berapa lama setelah menerima kabar itu, Alfin langsung meluncur ke Rumah Sakit Medika Husada bersama dengan Iman. Alfin berdoa disepenjang jalan menuju ke Rumah Sakit. Ia berharap  tidak terjadi hal hal buruk pada Adik dan iparnya.


Setelah sampai di Rumah Sakit, Alfin langsung menuju ke resepsionist untuk menanyakan keberadaan sang adik.


" Maaf,Sus. Mau tanya, pasien korban kecelakaan di mana ya." Tanya Alfin pada Suster.


" Ada di UGD, pak. Nanti bapak lurus aja terus bapak belok kanan." Ucap Suster tersebut.

__ADS_1


" Terima kasih banyak, Suster." Ucap Alfin.


Alfin langsung berlari ke arah yang ditunjukkan oleh suster tadi. Sedangkan Iman langsung menyusul sahabatnya. Iman melihat Alfin yang sedang berdiri di depan sebuah ruangan. Yang ia ketahui ruangan itu adalah UGD.


" gimana keadaan mereka, Fin?" Tanya Iman pada Alfin.


" Dokternya belum keluar. Aku khawatir dengan keadaan mereka,Man." Ucap Alfin dengan nada khawatir.


" Kita do'akan saja. Semoga mereka baik baik saja." Ucap Iman menenangkan hati sahabatnya.


Tak berapa lama seorang Dokter laki laki paruh baya keluar dari dalam ruangan.


" Keluarga saudara Aditya dan istri." Ucap Dokter itu.


" saya kakaknya,Dok. Gimana keadaan mereka? Mereka bisa selamatkan,Dok?" Tanya Alfin beruntun.


" Kondisi keduanya cukup memperkhatinkan. Untuk sang istri harus segera dilakukan operasi caesar untuk menyelamatkan nyawa sang bayi. Sedangkan kondisi sang suami cukup parah dan kami pihak medis sudah berusaha semampu kami. Tapi Allah berkehendak lain, saudara Aditya tidak bisa kami selamatkan." Jelas sang Dokter.


" Innalillahi wa inna ilahi roji'un....ya Allah. Adit kenapa kamu pergi secepat ini...huhuhu."


" Dok segera lakukan operasinya...selamatkan istri adik saya dan keponakan saya, Dok." Ucap Alfin sambil tergugu.


" Baik. Kami akan segera melakukan tindakan operasi. Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap sang Dokter.


Alfin pun diminta untuk menandatangi surat tindakan di bagian Administrasi. Dengan ditemani Iman, Alfin pun pergi ke bagian Administrasi. 


Setelah mengurus berkas di bagian Administrasi, Alfin langsung menunggu sang adik ipar yang tengah operasi. Ia berencana memakamkan  adiknya setelah sang anak adiknya lahir.


***********


 Sedangkan di sebuah rumah mewah seorang laki laki tengah tertawa puas. Ia telah berhasil membalas sakit hatinya kepada keluarga Wijaya. Ia adalah Reno Putra Madewa. 


Reno Putra Madewa adalah sosok lelaki yang pendendam, ambisius, sombong dan dia seorang player. Ia meliki dendam kepada keluarga Wijaya, atau lebih tepatnya kepada Alfin Wijaya. Ia merasa iri atas keberhasilan Alfin dalam meraih kesuksesan. Dan ia semakin membenci Alfin ketika ia kalah saing dalam memperebutkan tender milyaran rupiah pada beberapa bulan yang lalu.


" Nikmati saja keberhasilanmu Alfin, tapi secara perlahan aku akan melenyapkan satu per satu keluargamu....hahahahaha." Monolognya.


Tiba tiba ada seorang perempuan cantik masuk ke dalam rumah. Perempuan itu langsung duduk di samping Reno. 


" Sayang...kamu kok jarang main ke Apartemen aku lagi sih. Aku kangen sama belaianmu." Ucap perempuan itu.


" Maaf, sayang. Beberapa hari ini aku sibuk dikantor... Kamu rindu sentuhanku sayang." Bisik Reno ditelinga perempuan itu.


" Iya, sayang." Bisik perempuan itu pada Reno.


Mereka pun melanjutkan kegiatan yang mereka inginkan.


...****************...

__ADS_1


Maaf ya baru bisa update sekarang🙏soalnya handphone author mati jadi data bab nya harus nulis ulang


Insyaallah update lagi besok😊


__ADS_2