
Kedua orang tua Alfin sudah tiba dikediaman utama. Mereka masih tidak menyangka jika anak dan menantunya akan pergi secepat ini.
Tepat pukul 16:15 WIB kedua jenazah dimakamkan. Kedua jenazah dimakamkan di makam kelauarga atau lebih tepatnya makam pribadi.Keluarga Wijaya sudah ikhlas menerima kepergian anak dan menantunya. Alfin mengajak kedua orang tuanya untuk pulang ke rumah.
Kediaman Wijaya masih nampak ramai, banyak karangan bunga berdatangan dari berbagai pihak. Ada beberapa rekan bisnis tuan Wijaya yang datang setelah magrib.
Banyak orang yang berdatangan untuk mendo'akan Aditya dan Banati. Alfin juga mengundang beberapa panti asuhan untuk ikut mendo'akan Almarhum selama 7 hari.
Rasya pun turut hadir dalam acara tahlilan Adiya dan Banati selama 7 hari. Ia juga membantu Elina dalam acara tersebut.
" Ra, makasih ya. Sudah mau membantu Mama." Ucap Elina pada Rasya.
" Nggak perlu makasih, Ma. Rara senang kok bisa bantu Mama menyiapkan acara tahlilan ini."
" Aditya dan Banati beruntung punya temen kayak kamu. Udah baik, pintar, sopan dan nggak sombong."
" Aku nggak sebaik itu kok, Ma."
" Alfin pasti bahagia kalo menikah sama kamu."
" Ah, Mama bisa aja. Yang ada aku yang beruntung bisa menikah dengan Mas Alfin, Ma."
" Ya, kalian sama sama beruntung. Mama mau antar teh ini dulu ke ruang kerja Papa."
" Iya, Ma."
Elina meninggalkan Rasya didapur sendirian. Tak berapa lama Bi Surti datang membawa nampan berisi gelas kotor.
" Biar saya aja yang nyuci,Bik. Bibi beres beres depan aja ya." Ucap Rasya sambil mengambil nampan yang dibawa Bi Surti.
" Nggak usah, Non. Bibi nggak enak sama Nyonya." Tolak Bi Surti.
" Dibikin enak aja, Bik. Biar nanti aku yang ngomong kalau Bibi kena marah." Ucap Rasya meyakinkan Bi Surti.
" Ya sudah kalau itu keinginan Non. Bibi nggak bisa maksa, Bibi tinggal kedepan dulu ya, Non." Ucap Bi Surti pada Akhirnya.
" Iya, Bik."
Rasya langsung meletakkan nampan berisi gelas kotor di wastafel. Ia mencuci gelas itu dan beberapa perabot yang kotor.
*****************
__ADS_1
Seorang pria tengah duduk dikursi kebesarannya. Tak berapa lama seorang pria dengan setelan kemeja lengkap dengan jasnya masuk ke ruangan itu.
" Bagaimana hasilnya? Apa kita mempunyai sekutu yang sama saat ini?" Tanya seorang pria yang duduk dikursi.
" Menurut orang kita, yang melakukan rencana pembunuhan itu adalah Reno Putra Madewa, tuan. Dan menurut informan kita bahwa dia juga memiliki dendam kepada Alfin Wijaya." Ucap pria yang baru saja masuk ke ruangan itu.
" Bagus, Rik. Kita bisa bekerja sama dengannya untuk menghancurkan keluarga Wijaya. Aku tak perlu repot repot menghabisi keluarga itu dengan tanganku. Gimana dengan rencana adu domba kita pada keluarga wijaya dan keluarga Adinegara."
" Sepertinya Adinegara sudah menyelidiki kebenaran itu, Tuan. Kita bisa menggunakan Reno sebagai pion untuk menghancurkan keduanya. Kita juga nggak perlu khawatir, karena perusahaan Adinegara hanyalah perusahaan kecil."
" Ajukan kerja sama dengan perusahaan Madewa dan ajak dia berkomplot dengan kita untuk menghancurkan keluarga Wijaya dan Adinegara."
" Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu,Tuan."
" Ya, Silahkan."
Pria yang bernama Riki itu keluar dari ruangan itu. Ketika akan masuk lift dia berpapasan dengan wanita yang dikencani sang Bos.
" Gimana kabarmu,Rik?" Tanya wanita itu.
" Kabar saya baik, Nona." Ucap Riki.
" Tuan Albert ada didalam ruangannya, Nona." Jawab Riki.
" Oke, aku kesana dulu ya dan sampai jumpa lagi , Rik."
" Iya, Nona."
Wanita itu langsung menuju ke Ruangan Albert. Ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
" Honey.."
" Sayang... kamu kesini kok nggak kasih kabar dulu, sih." Ucap Albert pada wanita itu.
" Emang nggak boleh ya kalo aku langsung kesini." Ucap wanita itu sambil berjalan ke arah Albert.
" Boleh dong. Siapa yang melarang kamu untuk datang kesini." Ucap Albert sambil menarik wanita itu untuk duduk dipangkuannya.
" Honey...aku merindukanmu." Ucap wanita itu ditelinga Albert.
" Kau memancingku, Andine sayang." Balas Albert pada wanita bernama Andine.
__ADS_1
" Memang itu tujuanku, Honey." Lirih Andine ditelinga Albert.
Albert langsung membopong Andine ala bridestyle ke kamar pribadinya dikantor. Pasti taulah apa yang mereka perbuat.
******************
Sedangkan di perusahaan Adinegara, Seorang laki laki tengah termenung di meja kerjanya. Ia tengah memikirkan masalah yang tengah dihadapinya. Ia masih tidak menyangka bahwa ada yang mengadu domba perusahaannya dengan perusahaan Wijaya.
Reyhan Malik Adinegara, Ia adalah putra tunggal dikeluarga Adinegara. Ayahnya bernama Abraham Adinegara dan ibunya bernama Kayla Arya Maharani. Kedua orang tua Reyhan merupakan anak tunggal. Jadi ketika kedua orang tuanya meninggal dia hanya tinggal bersama sang kakek dari sang ayah.
Malik Adinegara adalah kakek Reyhan dari sang Ayah. Keluarga adalah keluarga Milyarder terkaya ke 2 setelah keluarga Adiputra. Demi menjaga keamanan sang cucu, Kakek Malik membuat rencana kebangkrutan perusahaannya. Beberapa anak cabang perusahaannya telah berubah nama, bahkan perusahaan induknya ia juga merubah namanya. Ia hanya menyisakan anak perusahaan yang ada di kota kecil.
" Assalamu'alaikum." Ucap seseorang diambang pintu.
" Wa'alaikumsalam, Kakek." Ucap Reyhan lalu menghampiri sang Kakek." Kakek kenapa kesini? Kakek kan harus istirahat dirumah." Lanjut Reyhan.
" Kakek bosan dirumah, Rey. Kakek udah sehat kok, kakek capek kalo disuruh istirahat mulu." Keluh Kakek Malik.
" Kakek itu memang keras kepala ya." Ucap Reyhan.
" Rey, Apa kamu sudah menemukan dalang penyebab kecelakan kedua orang tuamu?" Tanya Kakek Malik.
" Reyhan sudah menemukan titik terang, Kek. Kemarin Samuel sudah memberikan informasinya." Jawab Reyhan
" Terus siapa dalangnya? Apa benar keluarga Wijaya pelakunya?" Tanya Kakek Malik.
" Tidak, Kek. Pada saat kejadian itu, Semua Keluarga Wijaya berada di Bogor. Dan setau Reyhan ayah tidak pernah ada masalah dengan keluarga Wijaya." Jelas Reyhan.
" Tapi kenapa ada oknum yang mengarahkan hal ini ke keluarga Wijaya? Jadi siapa pelaku sebenarnya?" Monolog Kakek Malik.
" Menurut Samuel, Ada yang mengadu domba kita dengan Keluarga Wijaya supaya kita membalas hal ini pada keluarga itu. Dan hal ini tengah Samuel dan beberapa pengawal selidiki." Ucap Reyhan.
" Bagus kalau begitu. Kalo perlu kita sewa detektif dari FA Company." Ucap sang Kakek.
" FA Company?"
" FA Company adalah perusahaan yang melatih orang orang tertentu. Disana kita bisa menyewa pengawal, detektif dan hacker yang sangat terlatih. Perusahaan ini di bawah kendali perusahaan Adiputra Group." Jelas sang Kakek.
" Kemungkinan itu tidak perlu, Kek. Orang orang kita masih mampu untuk memecahkan masalah ini. Dan mungkin kedepannya aku juga akan mendirikan pelatihan untuk pengawal pribadi dan semacamnya." Ucap Reyhan.
" Bagus. Kakek bangga sama kamu, Semoga perusahaan ini semakin maju berada ditanganmu." Harap sang Kakek.
__ADS_1