
Hari ini adalah hari yang paling dinanti oleh Alfin dan Rasya. Tak terasa 2 minggu kini sudah berlalu. Dan hari ini mereka akan mengikrarkan janji suci pernikahan.
Pagi itu di kediaman keluarga Pratama sudah sangat ramai. Para tamu undangan sudah nampak hadir. Aditya dan Adinda nampak sibuk menerima tamu. Mereka memakai baju seragam keluarga.
Sedangkan Rasya masih di rias oleh MUA. Kedua orang tua Rasya, Rendi Pratama dan Shinta Pratama menghampiri anak sulungnya dan menantu pertama mereka. Rendi dan Shinta juga nampak ikut menyambut para tamu yang hadir.
Tak berapa lama, rombongan keluarga Wijaya datang. Dibarisan depan nampak Alfin diapit oleh kedua orang tuanya dan Omanya. Dibelakangnya diikuti beberapa sanak saudara. Dan tak lupa lupa ada ada Iman dan Ela.
Keluarga Rasya menyambut dengan suka cita. Mereka langsung menempati tempat duduk yang disediakan. Alfin langsung diduduk kan dimeja akad. Disana sudah ada penggulu dan beberapa saksi nikah.
Sebelum acara akad nikah, ada sedikit ceramah nikah. Ustadz Riza Muhammad yang diundang secara khusus oleh keluarga Pratama. Ustadz Riza menjelaskan secara singkat kehidupan rumah tangga. Apa yang menjadi hak dan kewajiban seorang istri dan seorang suami.
Setelah acara ceramah singkat itu, dilanjutkan acara akad nikah. Alfin yang duduk berhadapan dengan calon mertuanya. Alfin merasa deg deg an saat akan mengucapkan ikrar suci pernikahan.
Alfin diminta untuk menjabat tangan sang calon mertua. Dengan dampingan penghulu dan disaksikan oleh tamu undangan. Alfon akan mengucapkan ikrar suci pernikahan.
"Ananda Alfin Wijaya, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung sanya yang bernama Rasya Aulia Rahma dengan seperangkat Alat sholat,20 gram emas dan uang tunai sebesar 20.220.000 ribu rupiah dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Rasya Aulia Rahma dengan maskawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi?"
"Sah."
Ucapan takmid keluar dari bibir para orang yang menyaksikan acar ijab kabul tersebut. Lantunan Do'a terdengar setelah kata 'Sah' terucap. Setelah selesai, Mc memanggil pengantin perempuan keluar dari kamar.
Tak berapa lama tampak Rasya berjalan anggun dengan didampingi sang kakak ipar dan mamanya. Dibelakangnya para bridesmaid yang mengikuti.
Alfin pun terpana dengan penampilan Rasya. Ia melihat Rasya tanpa berkedip.
"Kedip ,Bang." Bisik sang ayah.
Alfin langsung mengalihkan pandangannya dan tersenyum malu. Sang ayah yang melihat tingkah putra sulungnya itu hanya tertawa. Rasya sudah duduk disamping Alfin.
"Silahkan pengantin perempuan menyalami tangan pengantin laki laki." Ucap pak penghulu.
Rasya pun mengikuti perkataan pak penghulu itu. Ia mengambil tangan Alfin yang sudah sah menjadi suaminya itu. Ia mengecup punggung tangan itu dengan khusuk.
"Silahkan pengantin laki laki mengecup dahi pengantin perempuan." Instruksi penghulu itu lagi.
Alfin langsung memegang kepala Rasya dan mengecup nya dengan sayang. Setelah itu mereka berdua menandatangani buku nikah.
Acara demi acara telah dilewati dengan khidmah. Kini kedua pengantin di dudukkan disinggasana nya. Para tamu undangan pun menikmati makanan yang disediakan.
Kedua pengantin kini tengah berfoto untuk dijadikan album kenangan. Mulai dari keluarga,kerabat, sahabat dan lainnya.
Setelah itu para tamu undangan memberikan ucapan selamat dengan sang pengantin. Antrian panjang pun tidak terelakkan. Alfin dan Rasya dengan sabar menyalami satu persatu para tamu.
Akhirnya acara itupun berjalan dengan lancar. Rasya pun pamit ke kamar terlebih dahulu karena merasa lelah. Sedangkan Alfin masih berbincang santai dengan Putra dan Iman.
"Fin, Gimana kabar keponakanmu?" Tanya Putra.
"Alhamdulillah sehat,Kak. Tapi kami tidak mengajaknya kesini, soalnya kasian masih kecil. Kata oma belum boleh dibawa pergi pergi. Jadi, Balqis dirumah sama adek sepupuku yang sedang hamil besar." Jelas Alfin.
"Owh gitu. Iya, anak kalo masih bayi belum boleh dibawa pergi. Apalagi ke tempat ramai." Ucap Putra.
"Nanti kamu mau berangkat jam berapa?" Tanya Putra.
"Kalau aku mungkin pukul 4 sore,Kak. Soalnya mau ke rumah dulu lihat Balqis." Ucap Alfin.
"Owh..nanti kakak nyusul aja sama mama dan papa." Ucap Putra.
"Man, kapan kamu mau nyusul sahabatmu ini?" Tanya Putra pada Iman.
"Nantilah,Bang. Kalau sudah nemu yang pas." Ucap Imqn.
"Lha yang tadi datang bareng rombongan itu. Kayaknya dia cocok sama kamu." Ucap Putra.
"Owh si Ela. Entahlah, aku belum mikirin hal itu. Aku masih mau belajar mengurus perusahaan dulu." Ucap Iman.
Pembicaraan itu terus berlanjut. Alfin pamit ke kamar terlebih dahulu, ia ingin mengganti pakaiannya. Sedangkan Iman pamit pulang terlebih dahulu.
Iman pun pulang mengendarai mobilnya. Mobil merk Honda Civic itu melaju membelah jalanan. Iman melajukan dengan kecepatan sedang. Ditengah perjalanan ia seorang pemuda tengah diamuk oleh beberapa orang. Iman yang merasa kasihan langsung menghentikan laju mobilnya. Ia menghampiri kerumunan itu.
"Maaf,pak. Ada masalah apa?" Tanya Iman pada salah satu dari orang yang ada disitu.
__ADS_1
"Itu, mas. Seorang pemuda itu mencuri makanan di warung itu." Ucap seorang laki laki yang berumur setengah abad mungkin.
Melihat keadaan pemuda itu, Iman merasa kasihan. Ia akan membantu pemuda itu.
"Kalau boleh saya tahu,berapa jumlah makanan yang diambil pemuda itu." Tanya Iman pada pemilik warung.
"20 ribu." Ucap seorang ibu paruh baya pemilik warung tersebut.
Iman pun langsung mengeluarkan dompetnya. Ia mengambil selembar uang berwarna merah dan memberikannya pada pemilik warung itu.
"Ini,Bu. Kembaliannya ambil ibu saja." Ucap Iman pada pemilik warung itu.
Setelah menyodorkan uang pada pemilik warung itu, Iman langsung mengajak pemuda itu untuk naik ke mobilnya.
Iman mengantar pemuda itu ke klinik terdekat guna mengobati luka. Setelah mengobati luka pemuda itu, Iman mengantarnya ke rumah pemuda itu.
"Makasih,Kak. Sudah menolong saya." Ucap pemuda itu.
"Kenapa kamu mencuri, kamu tau nggak mencuri itu perbuatan yang tercela?" Ucap Iman.
"Saya nggak berniat mencuri,Kak. Saya tadinya mau beli tapi uangnya tidak cukup. Terus saya mau ngutang tapi si ibu malah menuduh saya mau mencuri." Jawab pemuda itu.
"Nama kamu siapa? Dan berapa umurmu?" Tanya Iman.
"Nama saya Albi Wahyu Rizky kalau umur saya 23 tahun, Kak." Ucap pemuda bernama Albi itu.
"Owh..ini arah rumahmu yang mana?" Ucap Iman.
"Belok kiri,Kak. Nanti ada rumah cat ungu itu berhenti." Ucap Albi
"Owh, Oke."
Iman pun langsung mengikuti kata pemuda itu. Ia beehenti tepat di depan rumah bercat warna ungu seperti yang dibilang oleh pemuda bernama Albi itu.
"Rumah kamu bagus." Ucap Iman saat turun dari mobil.
"Itu bukan rumahku, Kak. Rumahku ada dibelakang rumah ini. Mobil nggak bisa kesana." Ucap Albi saat sudah turun dari mobil.
"Owh, kirain ini rumah kamu." Ucap Iman.
Iman pun langsung mengikuti langkah pemuda itu. Berjalan lewat sebelah rumah bercat ungu itu. Dan tibalah Iman dan pemuda itu disebuah rumah yang nggak bisa dikatakan bagus.
"Ini rumahku,Kak." Ucap Albi pada Iman."Maaf ya,Kak. Rumahku kotor dan jelek." Ucap Albi.
"Nggak papa. Owh iya, Kamu disini tinggal sama siapa?" Tanya Iman.
"Aku tinggal sama ibu dan adikku,Kak." Ucap Albi."Ayo masuk,Kak." Ucap Albi sambil membuka pintu rumahnya.
"Ayah kamu kemana?" Ucap Iman saat masuk ke dalam rumah.
"Ayah ngusir aku ibu dan adik dua tahun yang lalu. Ayah mengusir kami tanpa merasa kasihan. Bahkan sebelum mengusir kami ayah membawa anak dan istri kedua tinggal disana. Setelah kejadian itu ibu ku hanya bisa diam. Ibu mengalami stroke satu bulan sebelum ayah mengusir kami. Dan aku harus berhenti kuliah karena tidak ada biaya. Aku harus mengemis dijalanan untuk bisa menyekolahkan adikku dan makan kami sehari hari." Ungkap Albi.
"Kamu pernah kuliah?" Tanya Iman.1
"Iya,Kak. Itu sebelum ayah mengusir kami. Sejak saat itu aku berhenti dan memilih bekerja." Ucap Albi dengan nada sedih.
"Rumah ini milik siapa?" Tanya Iman.
"Rumah ini aku beli dengan menjual barang barang yang aku dan ibu dapat saat hidup bersama ayah. Dan Alhamdulillah cukup untuk membayar rumah kecil ini dan makan beberapa bulan." Jelas Albi.
"Kamu dulu kuliah jurusan apa?"
"Aku kuliah dijurusan manajemen bisnis, tapi saat semester 5 aku berhenti karena nggak ada biaya."
"Sebentar aku buatin minum dulu,Kak." Ucap Albi.
Albi pun pergi ke belakang untuk membuatkan minuman. Tak berapa lama Albi datang membawa satu gelas teh.
"Nggak usah repot repot, Al." Ucap Iman.
"Nggak repot kok,Kak." Ucap Albi sambil meletakkan segelas teh itu kedepan Iman.
"Ibumu dimana,Al?"
"Ibu ada dikamar,Kak."
__ADS_1
"Al, kamu mau nggak kerja ditempat Kakak?" Tanya Iman.
"Mau, Kak. Kapan aku bisa kerja?" Ucap Albi antusias.
"Hari senin kamu datang ke perusahaan ini." Ucap Iman sambil mengulurkan sebuah kartu nama perusahaan.
"Makasih,Kak. Insyaa Allah aku akan datang." Ucap Albi dengan nada gembira.
"Ya udah, Kakak mau pamit dulu ya. Kapan kapan Kakak mampir lagi." Ucap Iman sambil berdiri dari duduknya.
"Iya,Kak. Hati hati dijalan,Kak." Ucap Albi saat Iman Keluar dari rumah.
"Iya, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Iman pun langsung melajukan mobilnya ke Apartemennya. Ia perlu istirahat untuk merilekskan tubuhnya sebelum menghadiri acara resepsi sahabatnya.
***************
Disebuah kamar sepasang lelaki dan peerempuan nampak masih bertukar peluh. Mereka adalah Reno dan kekasihnya, Nathalie.
"Yang, kamu jadi menerima tawaran kerja sama dari perusahaan R&A Company?" Tanya Natahalie yang masih berbaring diranjang dengan Reno.
"Iya, aku menerima tawaran kerja sama itu. Aku rasa itu sangat menguntungkan bagi perusahaanku. Kenapa kamu bertanya hal itu,hemm." Ucap Reno.
"Enggak, aku cuma heran aja. Kenapa perusahaan Terbesar di Belanda itu tiba tiba mau bekerja sama dengan perusahaan kamu, pasti ada alasan khusus yang mendorong perusahaan itu bekerja sama dengan mu." Ungkap Nathalie.
"Kamu memang benar,honey. Mereka mau bekerja sama dengan perusahaanku karena ada alasan. Alasannya adalah musuh kami itu adalah orang yang sama." Ucap Reno.
"Maksud kamu, keluarga Wijaya." Ucap Nathalie dengan nada teekejut.
"Iya, mereka sangat membenci keluarga itu sama seperti aku." Ucap Reno.
"Kalau boleh tahu, kenapa kamu membenci keluarga Wijaya itu,Sayang."
Reno pun kembali mengingat kejadia beberapa tahun silam. Dimana dirinya masih duduk dibangku kuliah.
Flasback*
Pagi yang cerah seperti cerahnya semangat para Mahasiswa yang berkuliah di Harvard University ini. Mereka tampak berbondong bondong masuk ke ruang kelas. Mahasiswa dari dalam Negeri maupun Luar Negeri nampak bersemangat mengikuti pembelajaran pada hari ini.
Seperti halnya di kelas Managemen Bisnis ini. Mereka sangat khidmat mengikuti pembelajaran. Seperti halnya kehidupan umumnya. Sebagai seorang yang sudah remaja bahkan beranjak dewasa, mereka mempunyai rasa ketertarikan antara lawan jenis. Itulah yang dialami oleh Margaretha Antonio.
Wanita berdarah inggris ini begitu mencintai teman sekelasnya,Alfin Wijaya. Ia sangat sangat jatuh hati pada pesona Alfin. Sampai sampai ia nekat mengungkapkan perasaannya secara langsung dihadapan Alfin.
Sedangkan Alfin sendiri tidak pernah menanggapi hal tersebut. Ia hanya fokus belajar untuk meraih nilai yang memuaskan.
Sedangkan disisi lain, seseorang tengah merasakan cemburu. Namun ia sadar bahwa cinta itu tidak harus dipaksakan. Ia akan bahagia jika orang yang ia cintai bahagia.
Reno Putra Madewa begitu mencintai seorang Margaretha Antonio. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama saat masuk ke kampus ini. Reno yang notabene pria berdarah Inggris dan Malaysia.
Pada saat hari wisuda tiba, Semua nampak bahagia akan prestasi yang mereka raih. Keluarga Alfin pun sangat bangga dengan hasil yang diperoleh anak sulung mereka.
Sama seperti Reno Putra Madewa, meski kedua orang tuanya tidak hadir tapi ia tetap bahagia. Karena bisa melihat orang yang dicintai bahagia bersama keluarganya. Reno menghampiri keluarga Margaretha.
Keluarga Margaretha bukanlah keluarga yang kaya raya. Mereka hanya memiliki beberapa usaha toko kue di London. Reno dengan keluarga Antonio cukup dekat.
"Apa kabar tante dan om?" Tanya Reno saat menghampiri orang tua Margaretha itu.
"Puji tuhan,nak. Kami sehat sampai sekarang. Gimana kabar kamu?" Tanya Anton. Ayah dari Margaretha.
"Saya juga sehat,om." Ucap Reno.
"Syukurlah kalau begitu. Habis ini kamu mau langsung pulang kampung atau disini dulu?" Tanya tante Viona. Mama dari Margaretha.
"Kayaknya Reno masih disini beberapa minggu ini, tante. Habis itu pulang ke Inggris ikut papa sama mama." Ucap Reno.
"Papa sama mama kamu mau pindah ke Inggris." Tanya Om Anton.
"Mungkin hanya beberapa bulan di Inggris,Om." Ucap Reno.
"Owh gitu."
"Kalau gitu saya permisi dulu,Om. Mau menelpon papa sama mama dulu." Ucap Reno.
__ADS_1
"Ya silahkan."
Reno pun langsung pulang ke Apartemennya. Ia sudah tidak sabar memberi kabar pada kedua orang tuanya.