Sebening Kristal

Sebening Kristal
part 49


__ADS_3

"Mas pernah denger dimana?" Tanya Rasya penasaran.


"Ahh iya, Mas ingat. Beberapa tahun lalu, Mas sempat menjalin kerja sama dengan perusahaan asing. Perusahaan itu sangat terkenal se Eropa. Waktu itu, Mas baru menandatangi kontrak dan setelah itu mas diajak pergi ke sebuah pembangunan panti. Saat itu pemilik perusahaan itu bercerita bahwa dia ingin membiayai dan menanggung biaya hidup anak jalanan. Makanya, si pemilik perusahaan itu membangun beberapa panti Asuhan di Indonesia. Dia bercerita bahwa sudah membangun 150 Panti Asuhan di Indonesia." Jelas Alfin.


"Wah hebat banget ya pemilik perusahaan itu. Mesti perusahaannya lebih besar dari punya kakek." Ucap Rasya.


"Kamu masih punya kakek,dek?" Tanya Alfin.


"Ada. Ayahnya mama tinggal di Eropa sama Om iwan. Karna Nenek asli orang sana, jadi setelah Nenek nggak ada. Kakek kembali ke Eropa dan menghabiskan masa tuanya disana. 3 tahun lalu, Kakek menyusul Nenek. Sekarang yang menjalankan bisnis Kakek ya Om Iwan. Tapi udah Beberapa tahun ini Om Iwan jarang balik ke Indo." Ucap Rasya.


"Owh gitu. Mungkin Om Iwan masih sibuk dengan bisnisnya dan keluarganya. Nanti tanya Mama atau Papa aja, gimana kabarnya Om Iwan?" Ucap Alfin menenangkan.


"Baiklah. Nanti aku tanya Mama aja." Ucap Rasya.


"Gimana kalau sekarang kita pergi belanja barang yang akan dibawa ke panti." Ucap Alfin.


"Boleh deh, Mas. Kita ajak Iman dan Ela aja gimana?" Ucap Rasya.


"Bentar aku hubungi Iman dulu." Ucap Alfin lalu menelpon Iman.


"Aku ke dalam dulu ya, Mas. Mau gantiin Balqis." Ucap Rasya.


"Iya. Nanti mas nyusul, sayang." Ucap Alfin.


Pipi Rasya seketika merona setelah mendengar ucapan dari Alfin. Panggilan itu belum terbiasa bagi Rasya. Alfin yang melihat sang istri merona pun langsung tersenyum.


Rasya langsung buru buru pergi meninggalkan sang suami. Ia takut kelakuan sang suami semakin menjadi.


Alfin yang melihat tingkah sang istri hanya bisa tersenyum. Alfin pun langsung menghubungi nomer Iman.


"Assalamu'alaikum,Man." Ucap Alfin membuka percakapan.


"......."


"Hari ini kamu dan Ela ada acara nggak? Kalau nggak ada acara aku dan Rasya mengajak kalian untuk mencari beberapa barang untuk dibawa ke Panti." Jelas Alfin.


"........."


"Ya udah nanti aku tunggu di Grand Mall ALSAFA." Ucap Alfin.


"....."

__ADS_1


"Aku tutup dulu ya. Mau siap siap, Assalamu'alaikum." Ucap Alfin mengakhiri percakapan itu.


"........"


Setelah menelpon Iman, Alfin segera menyusul sang istri dikamar. Saat memasuki kamar, ia melihat Rasya sudah siap dan sedang mengganti baju Balqis.


"Mas udah selesai nelpon Imannya?" Tanya Rasya saat melihat sang suami masuk ke kamar.


"Udah barusan. Aku sudah menyuruh mereka untuk ketemu di Mall saja. Kasihan jarak rumah Ela kesini kan lumayan jauh juga." Jelas Alfin.


"Owh gitu. Ya udah nggak papa. Mas buruan ganti baju sana." Ucap Rasya.


"Iya ini juga mau bersiap." Ucap Iman lalu berlalu ke kamar mandi.


"Bajunya udah aku siapin di atas ranjang ya." Ucap Rasya saat Alfin sudah menutup pintu kamar mandi.


Karena tak ada jawaban dari sang suami, Rasya pun beranjak dari ranjang. Ia keluar menuju lantai bawah sambil menggendong Balqis dan membawa tas perlengkapan Balqis. Ia menunggu Alfin di ruang tamu.


Beberapa saat, Alfin terlihat sedang berjalan menuruni tangga. Penampilannya yang santai mampu menarik perhatian Rasya.


Rasya begitu terpesona melihat Alfin memakai kaos putih dipadukan dengan celana putih dan hem jeans. Alfin begitu terlhat sangat tampan dan manis secara bersamaan.


Alfin yang melihat sang istri terpesona dengan penampilannya pun hanya tersenyum. Ia segera mengahmpiri sang istri dan langsung mencium pipi sang istri.


"Aku tau kalau aku ini tampan, Sayang." Bisik Alfin ditelinga sang istri.


Pipi Rasya pun seketika langsung merah merona. Ia segera menggendong Balqis untuk keluar Rumah. Alfin yang melihat itu hanya bisa tersenyum. Ia segera menyusul sang istri sambil membawa tas perlengkapan Balqis.


Alfin dan Rasya langsung pergi meninggalkan halaman rumah. Mereka langsung menuju ke Grand Mall AlSAFA. Mall yang didirikan oleh Alfin. Ia sengaja menamai Mall itu dengan nama cinta pertamanya. Hal itu hanya tidak diketahui oleh siapapun kecuali dirinya sendiri.


Tak berapa lama, Mereka sudah sampai di Mall. Alfin segera memarkirkan mobilnya dihalaman Mall. Disana memang disediakan Parkir khusus Mobil. Tak berapa lama disusul sebuah Mobil yang mereka kenali. Mobil itu milik Iman.


"Sudah lama sampainya,Sya?" Tanya Ela saat melihat Rasya keluar dari mobil.


"Baru aja, La." Ucap Rasya.


"Hai cantik." Ucap Ela pada Bayi gembul yang ada digendongan sang sahabat.


"Hai juga, Aunty Ela." Ucap Rasya sambil menirukan suara anak kecil.


Balqis yang mendengar itu hanya bisa tersenyum.

__ADS_1


"Ehhh lihat dia tersenyum. Masyaa allah Tabarakallah cantik." Ucap Ela sangat bahagia melihat Balqis tersenyum.


"Kita masuk, keburu siang Nanti." Ucap Alfin menyela obrolan Ela dan Rasya.


Kedua pasangan itu langsung masuk ke dalam Mall. Mereka sangat kompak dalam memilih beberapa barang yang akan mereka bawa berkunjung ke Panti.


************


Sedangkan Aditya mengajak sang istri untuk menemani dirinya berkunjung ke kantor cabang yang ada diluar Negeri. Selain perjalanan bisnis, Aditya mengajak sang istri untuk berbulan madu.


"Mas, kita akan langsung ke kantor atau kemana?" Tanya Adinda saat duduk di mobil.


"Kita istirahat dulu aja,Dek. Kemungkinan besok baru mas mau mengunjungi kantor." Ucap Aditya saat menjalankan mobil.


"Berarti kita akan ke Hotel ya?" Tanya Adinda lagi.


"Enggak,Dek. Disini papa punya rumah, dan kita akan tinggal disana selama kita disini." Jelas Aditya.


"Owh."


Aditya pun membawa kuda besinya menuju rumah sang papa. Ya, Pak Pratama memang membangun sebuah rumah yang tidak terlalu besar di deket kantir cabangnya. Hal itu bertujuan agar ketika ia atau anak anaknya yang berkunjung kesana tidak kerepotan soal tempat tinggal.


Namun tak jauh dari mobil yang dikendarai oleh Aditya terdapat 2 buah mobil yang mengikuti.


"Mas, perasaan aku kok nggak enak ya." Ucap Adinda.


"Mungkin cuma perasaanmu aja,Yang." Ucap Aditya menenangkan sang istri.


"Mungkin, iya." Ucap Adinda.


'Tapi perasaanku semakin nggak enak...seperti akan ada hal besar yang akan terjadi.' Ucap Adinda didalam hati.


Tak terasa Aditya dan Adinda sudah sampai di rumah sang papa. Ia dan Sang istri disambut oleh sepasang paruh baya. Mereka adalah Bi Tun dan Mang Uli. Mereka yang diberi kepercayaan oleh papa untuk merawat rumah ini.


"Selamat datang Den Aditya dan Non Dinda." Ucap Bi Tun menyambut kami.


"Terima kasih,Bi." Ucap Aditya.


"Biar saya bawakan barangnya,Non." Ucap Bi Tun pada Adinda.


"Nggak usah,Bi. Saya bisa bawa sendiri." Ucap Adinda

__ADS_1


Aditya mengajak sang istri untuk masuk ke kamar. Perjalanan mereka cukup melelahkan. Aditya mengajak sang istri untuk beristirahat. Karena besok pagi mereka akan mengunjungi perusahaan yang mengalami masalah.


"Kami ke kamar dulu, Bi. Bibik dan Mamang istirahat saja. Nggak usah masak makan malam karena saya dan sang istri sudah makan." Ucap Aditya pada Bi Tun.


__ADS_2