Sebening Kristal

Sebening Kristal
part 42


__ADS_3

Setelah kepergian Alfin dan Rasya, Pak Budi sibuk mempersiapkan acara lamaran yang akan dilaksanakan pada siang nanti. Pak Budi menelpon manager restoran untuk membuatkan beberapa makanan. Pak Budi juga menyuruh semua para pekerja di rumahnya untuk membantu mempersiapkan segala sesuatunya.


Karena kebetulan hari kamis, pak Budi mengajak Laela untuk nyekar ke makam sang Mama. Pak Budi menyerahkan persiapan lamaran itu pada Bi Imah. Setelah berbicara dengan Bi Imah, Pak Budi langsung bersiap.


Setelah bersiap, Laela dan sang papa langsung pergi menuju ke makam sang mama. Pak Budi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak berapa lama, mobil Grand Livina warna hitam itu sudah sampai di TPU terdekat.


Laela pun langsung keluar dari mobil setelah sang papa mematikan mesin mobilnya. Ia menunggu sang papa yang masih di dalam mobil. Sebelum masuk ke makam Laela dan pak Budi mampir ke sebuah toko bunga.


Laela dan sang papa berjalan menyusuri pemakaman umum itu. Mereka sudah sampai di sebuah makam bertuliskan' Ratnasari'. Laela dan Pak Budi berjongkok disamping makam orang yang berarti dalam hidup mereka. Mereka berdua mengirimkan do'a untuk Ratnasari.


Setelah berdo'a Laela dan Pak Budi menaburi makam dengan bunga dan air Mawar yang mereka beli tadi.


'Ma, Ela mau minta do'a sama mama. Ela mau menikah besok pagi. Maaf, mungkin apa yang Ela katakan terlalu tiba tiba. Ela hanya ingin pernikahan Ela bisa langgeng sampai maut memisahkan. Ela berharap lelaki yang akan menjadi suami Ela seperti papa, yang bisa setia meski sang kekasih hati sudah tidak bersama. Ela akan selalu mendo'akan mama, agar mama selalu bahagia disisiNya. Nanti akan Ela kenalkan mama dengan suami Ela. Meski Ela tidak pernah mendapat kasih sayang dari seorang mama, tapi Ela tetap menyayangi mama sampai kapan pun. Ela pamit ya,ma.' Ucapan Ela dalam hati.


'Assalamu'alaikum,sayang. Aku datang lagi dengan anak perempuan kita. Sayang, tak terasa anak kita sudah dewasa. Anak yang dulu kamu lahirkan dengan mengorbankan nyawamu kini akan menginjak ke jenjang pernikahan. Anak yang dulu aku timang timang kini sudah memantapkan hatinya untuk menjalani maghligai rumah tangga. Anak yang dulu aku ajarkan berjalan kini akan berdampingan dengan lelaki pujaannya. Sayang, aku berharap lelaki yang akan menjadi pendamping gadis kita adalah lelaki yang bertanggung jawab. Lelaki yang bisa membimbing anak kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Kau pasti tahu dari atas sana, kalau pernikahan anak kita karena sebuah kecelakaan. Aku berharap anak kita akan bahagia selamanya dan menyanyangi satu sama lain. Sayang, aku dan anak kita pamit dulu, ya. Aku harus mempersiapkan acara lamaran anak kita nanti siang. Aku pamit ya, Assalamu'alaikum.' Ucapan pak Budi dalam hati.


Laela dan pak Budi langsung beranjak meninggalkan makam. Pak Budi mengajak putri tercintanya mampir ke sebuah toko.


"Nak, kita mampir ke Butik temen mama mu sebentar,ya." Ucap Pak Budi pada Laela.


"Iya, Pa." Ucap Laela.


Pak Budi segera melajukan mobilnya ke sebuah Butik milik teman almarhum istrinya. Pak Budi ingin memberikan hal yang terbaik untuk putri tercintanya. Ia akan membelikan kebaya untuk lamaran putri tercintanya.


Tak berapa lama, mobil yang ditumpangi Laela dan Pak Budi berhenti disebuah Butik Aisvhel. Butik yang tidak terlalu besar tapi sangat bagus kualitas pakaiannya. Laela dan Pak Budi turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam Butik.


"Ada yang bisa saya bantu,Tuan?" Tanya seorang karyawati pada pak Budi.


"Saya ingin bertemu dengan Marissa, pemilik Butik ini." Ucap Pak Budi pada karyawati itu.


"Owh sebentar ya,pak." Ucap karyawati itu lalu menelpon seseorang." Silahkan bapak ke lantai atas, Nyonya Marissa ada disana." Ucap karyawati itu sesaat setelah menlepon.


"Owh iya, terima kasih." Ucap Pak Budi pada karyawati itu.


Pak Budi dan Laela langsung menuju ke lantai 2 dimana Bu Marissa berada. Pak Budi langsung mengetuk pintu yang bertuliskan Mrs. Marissa Nasution.


Tokkk....tokkkk

__ADS_1


"Silahkan masuk." Terdengar jawaban dari dalam.


Laela dan Pak Budi yang mendengar suara itu langsung mendorong pintu dan masuk kedalam ruangan.


"Selamat pagi, Marissa."


Wanita yang sedang berkutat dengan kertas kertas itu langsung mendongak saat seseorang memanggil namanya.


"Astaga,Dika. Apa kabar?" Ucap Marissa saat melihat suami sahabatnya itu.


"Aku baik,Rissa. Gimana kabar kamu?" Tanya Budi or Dika pada Marissa.


"Aku juga baik,Dik. Oh ya, ada apa kamu datang ke butik ku ini?" Tanya Marissa pada Dika.


"Aku mau beli kebaya untuk putriku." Ucap Dika.


"Buat acara apa?" Tanya Marissa.


"Buat acara pernikahan." Ucap Dika.


"Wah...kau akan mendapat menantu ternyata, kapan acaranya dilaksanakan." Tanya Marissa.


"Kenapa mendadak sekali?" Ucap Marissa kaget saat mendengar ucapan Dika.


"Jadi begini......" Pak Budi or Dika menceritakan kejadian yang dialami putrinya.


"Semoga pernikahan ini menjadi jalan jodoh yang sudah Tuhan gariskan pada putrimu." Ucap Marissa.


"Aamiin. Apa ada gaun untuk putriku,rissa." Ucap Dika.


"Owh iya, kayaknya ada deh. Soalnya kemaren ada yang pesen gaun akad tapi tidak jadi diambil. Kayaknya ukurannya sama dengan tubuh putrimu. Ayo aku tunjukkan." Ucap Marissa lalu bangkit dari kursi kebesarannya.


Pak Budi dan Laela mengikuti kemana Bu Marissa pergi. Mereka tiba di sebuah ruangan yang terdapat banyak gaun cantik. Laela yang melihat itu merasa takjub.


"Nah..ini koleksi gaun dibutikku." Ucap Marissa.


"Gaunnya cantik cantik ya,Tan." Ucap Laela.

__ADS_1


"Kamu pilih yang mana kamu suka, tante akan memberikan secara percuma sama kamu." Ucap Tante Marissa.


Laela pun melihat lihat gaun yang ada disana. Begitu banyak gaun yang cantik dan indah. Laela sampai bingung mau memilih gaun yang mana.


"Makasih, rissa. Kamu baik banget sama putriku." Ucap Dika or Budi.


"Putrimu sudah aku anggap seperti putriku sendiri. Kamu kan tau aku hanya memiliki 2 putra. Dan keduanya sudah hidup sendiri sendiri." Ucap Marissa sendu.


"Namanya juga anak sudah dewasa, pasti mereka ingin belajar hidup mandiri apalagi mereka laki laki. Mereka akan punya tanggung jawab yang besar untuk keluarga mereka kelak." Ucap Dika or Budi.


Marissa Aurrellina adalah sahabat dari Ratna sari. Mereka berteman sejak duduk dibangku kelas 5 sd sampai mereka kuliah. Meski berbeda keyakinan, Ratna dan Rissa tidak membedakan. Bagi mereka berteman tidak memandang agama maupun kasta. Mereka masih sering bertukar kabar saat mereka sudah menikah. Bahkan mereka sering merencanakan double date dengan pasangan mereka diakhir pekan.


Setelah melihat lihat, Laela menjatuhkan pilihannya pada gaun sederhana berwarna putih. Laela membawa Gaun itu untuk diperlihatkan pada Papanya dan Tante Marissa.


"Pa, aku pilih gaun yang ini, cantik tidak?" Ucap Laela meminta pendapat sang Papa.


"Cantik, kamu mau pilih itu saja atau ada yang ingin kamu beli lagi. Mungkin baju gamis atau jilbab?" Tanya Pak Budi pada Laela.


"Tidak,Pa. Ela mau ambil ini saja, lagian dirumah gamis Ela masih banyak yang bagus bagus kok." Ucap Laela menolak secara halus.


"Kamu mau ambil guan ini,sayang?" Tanya tante Marissa.


"Iya,Tante." Ucap Laela.


"Kamu bawa saja, nggak usah bayar. Tante kasih gaun ini sebagai hadiah buat pernikahan kamu." Ucap Tante Marissa.


"Makasih banyak,Tan. Jadi ngrepotin tante akunya." Ucap Laela.


"Kalau gitu aku dan putriku pamit pulang dulu,Rissa. Kami perlu mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara nanti siang." Ucap Dika pada Marissa.


"Iya hati hati." Ucap Marissa.


Setelah berpamitan dan membungkus gaun yang dipilih Ela, Pak Budi dan Laela langsung pergi meninggalkan butik.


...****************...


Di bab ini sama bab selanjutnya author khususkan buat cerita kisah Iman dan Ela.

__ADS_1


Makasih para pembaca novel sebening kristal😊 terus ikuti cerita dari author.


__ADS_2