Sebening Kristal

Sebening Kristal
Bab 28


__ADS_3

"saya sanggup menikahi Dinda sekarang, om." ucap seorang pria dari ambang pintu.


" Mas Adit.." batin Adinda.


" kamu siapa? Apa kamu kenal dengan anak saya?" Tanya pak Deni pada Adit.


Ya, pemuda yang ada di ambang pintu adalah Aditya Putra Pratama. Dia mendengar percakapan antara ayah dan anak itu.


" kenalkan, saya Aditya Putra teman nya Adinda. Maaf sebelumnya, saya tadi mendengar pembicaraan om dan Dinda. Dan maaf juga jika saya lancang, sejujurnya saya sudah menyukai Dinda sejak pertama kali bertemu. Awalnya saya akan meminta izin diwaktu yang tepat. Tapi, setelah mendengar ucapan om, saya memberanikan diri meminta izin pada om untuk menikahi Dinda." ucap Adit panjang lebar.


" Apa kamu benar- benar mencintai anak saya? " ucap Pak Deni menatap Adit.


" saya sangat mencintai putri, om. Maka izinkan saya untuk menjaga, melindungi dan membahagiakan putri, om." ucap Adit mantap.


" Baiklah, saya merestui kamu untuk membahagiakan putri saya satu-satunya. " ucap pak Deni.


" Terima kasih, om. Saya akan mempersiapkan semuanya. Saya izin untuk mencari ustadz dan penghulu." ucap Adit lalu keluar dari ruang UGD.


" bapak mau tanya sama kamu, Din? " ucap pak Deni.


" bapak jangan banyak bicara dulu, bapak harus sembuh untuk melihat Dinda menikah." ucap Dinda sambil terisak disambing brankar sang ayah.


" Apa kamu mencintainya, nak? Jika kamu tidak mencintainya bapak akan bilang untuk menjagamu saja tidak perlu sampai menikahimu.


Uhukkkk... Uhukkk


Bapak tidak ingin kamu menderita dengan pernikahanmu, nak." ucap pak Deni.


" sebenarnya... Dinda juga menyukai mas Adit, pak. Tapi Dinda ingin bapak sembuh dulu." ucap Dinda pada sang ayah.


" Alhamdulilah, bapak lega dengernya, nak. Bapak sudah tidak kuat, bapak ingin saat bapak pergi kamu ada yang jagain."


Dinda hanya bisa terisak mendengar keinginan sang ayah.


Tak berapa lama Aditya datang bersama seorang ustadz dan penghulu dari KUA terdekat. Dan diikuti beberapa dokter dan perawat sebagai saksi.


Dinda diminta untuk membasuh wajahnya dan berganti pakaian. Seorang perawat menemani Dinda pergi ke kamar mandi. Dia menerima paperbag dari Adit, ia membawanya. Sampai dikamar mandi Dinda langsung membasuh wajahnya dan berganti pakaian yang sudah dibelikan oleh Adit.


__ADS_1



Ini gambaran baju yang dibelikan oleh Adit untuk Dinda ya.


Dinda langsung keluar dari toilet, ia menghampiri perawat yang menemaninya. Mereka langsung menuju ke Ruang UGD. Disana semua sudah siap ada penghulu, ustadz, pakdhe Ridho dan beberapa dokter dan perawat.


Aku langsung disuruh duduk disamping Mas Adit. Aku menjadi gugup dan deg-deg an.


" Apa sudah siap?" tany pak penghulu.


" sudah pak." jawab mas Adit.


" Baiklah, mas Adit. Jabat tangan saya, ya." ucap penghulu itu sambil mengulurkan tangan dan disambut oleh tangannya Mas Adit.


" Saudara Aditya Putra Pratama, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan ananda Adinda Salsabila binti Deni Cahyono dengan maskawin seperangkat alat sholat dan sepuluh gram emas batangan dibayar tunai."


" Saya terima nikah dan kawinnya Adinda Salsabila binti Deni Cahyono dengan maskawin tersebut dibayar tunai."


Taklama terdengar suara' Sah' dari semua orang. Disambung dengan bacaan Do'a dari seorang ustadz.


Setelah selesai aku langsung mencium tangan mas Adit dan dibalas dengan dia mencium keningku.


" nak, tolong jaga putri bapak ya. Sayangi dia dan jangan kamu sakiti dia. Bapak percaya dengan kamu, kamu mampu membahagiakan putri bapak satu-satunya." ucap pak Deni lalu mengucap dua kalimah syahadat diiringi dengan bunyi monitor jantung yang panjang.


" innalillahi wa inna illaihi roji'un." ucap semua orang yang ada disana.


" Bapak." ucap Dinda menangis memeluk tubuh kaku ang ayah.


" Dinda, sabar ya. Ikhlaskan kepergian bapak." ucap Adit menenangkan Adinda.


" kamu yang sabar ya, Din. Pakdhe turut bersedih, kamu harus ikhlas dan kuat. Sekarang kita harus segera mengubur jenazah bapakmu." ucap Pakdhe Ridho pada Adinda.


Adinda pun menguatkan hatinya untuk mengurus jenazah sang bapak. Aku ditemani sang suami untuk mengurus kepulangan jenazah ayah dan ibuku. Aku pun menghampiri Pakdhe yang masih berada di depan ruangan bapak.


" Pakdhe, kami sudah selesai mengurus jenazah bapak dan ibu untuk dibawa pulang. Aku pulangnya bareng mas Adit. Apakah Pakdhe mau pulang bersamaku atau bersama ambulance?" tanya Adinda.


" Pakdhe kesini bawa motor, kamu sekarang pulang aja duluan. Pakdhe nanti mau bersama rombongan jenazah bapak sama ibumu pulangnya. Dan nak Adit tolong jaga Dinda ya, meski saya cuma suami dari Budhenya Dinda tapi saya sangat menyayangi Dinda seperti putriku sendiri. Nanti kalau sudah dirumah tolong hindari dulu Budhenya. Karna dia belum tau pernikahan kalian." ucap Pakdhe Ridho.


" iya, Pakdhe. Saya akan menjaga Dinda sepenuh hati saya." ucap Adit dengan yakin.

__ADS_1


Akhirnya Dinda dan Adit pamit pulang lebih dulu. Sedangkan sang Pakdhe masih menunggu di rumah sakit. Sesampainya dirumah, sudah ada banyak para tetangga yang melayat. Dinda langsung masuk ke kamar dan membersihkan diri, sedangkan Adit duduk bersama para bapak bapak pelayat.


Tak berapa lama, jenazah kedua orang tua Adinda sudah sampai di rumah duka. Adinda langsung menangis lagi saat mrlihat kedua orang tuanya sudah terbujur kaku. Dinda membacakan yasin untuk kedua orangtuanya dengan berderai air mata.


Setelah segala proses mengurus jenazah dilakukan dari memandikan jenazah, memakaikan kain kafan dan disholati. Dan tinggal memakamkan keduanya.


Adinda mengantarkan kedua orang tuanya ke peristirahatan terakhir. Adinda tak kuasa menahan tangisnya saat menyaksikan kedua orang tuanya dimakamkan. Setelah selesai memakamkan dan berdoa, seluruh orang yang mengantarkan jenazah kedua orang tuanya pun langsung meninggalkan pemakaman tersebut kecuali Adinda dan Adit.


" pak, buk. Istirahat yang tenang ya. Dinda disini akan berusaha ikhlas dan terima kasih atas kasih sayang yang telah kalian berikan untuk Dinda. Maaf, mungkin selama ini Dinda belum bisa menjadi anak yang membanggakan untuk kalian. Dinda janji akan menjadi istri yang baik untuk Mas Adit."


" pak, buk. Saya sebagai menantu berjanji akan menjaga Dinda sekuat hati saya. Saya akan menjaga amanah bapak ibu untuk selalu menjaganya. Saya akan selalu berusaha menggantikan kasih sayang dan kebahagiaan yang selalu kalian berikan padanya." ucap Adit pada makam kedua orang tua Dinda.


" Kita pulang ya, Din." ucap Adit langsung diangguki oleh Dinda.


" pak, buk. Dinda sama Mas Adit pamit pulang dulu."


Adinda dan Aditya pun langsung pergi meninggalkan pemakaman.


*************


Sedangkan Rasya yang menggantikan sang kakak memimpin rapat. Meski hanya memeriksa laporan dari para staff devisi, namun cukup menguras energi. Akhirnya setelah dengan beberapa argumen dan pendapat, rapat itu selesai. Rasya dan sekertarisnya keluar dari ruang rapat.


" Mbak Airin, saya minta tolong boleh?" tanya Rasya pada sang sekretaris.


" Mau minta tolong apa, bu?" ucap Airin sang sekertaris.


" Bisa tolong pesankan saya kado?"


" Ibu, mau kado yang seperti apa?"


" Untuk kado pernikahan, mbak."


" Owh baik, nanti akan saya carikan. Apa ada yang lain lagi, bu?"


" Enggak ada, mbak."


" Kalo bagitu saya balik ke ruangan dulu, bu."


" Iya, mbak."

__ADS_1


Airin langsung menuju ke ruangannya. Ia akan membereskan pekerjaannya dulu sebelum mencarikan kado buat Rasya.


__ADS_2