
"Huft, " Rudi meletakkan tas sandang berisi peralatan memancing yang dibawanya sedari tadi.
"Njir, jauh amat sungainya, "batinnya.
Setelah meletakkan tas di atas rerumputan dia pun meregangkan tubuh dengan nikmat, rasanya urat dan otot yang tadi tertarik ketat kini melonggar kembali. Lumayan juga capeknya setelah berjalan lebih kurang dua kilometer tanpa berhenti. Demi mengikuti Aris dan Mang Asep yang hendak menunjukkan spot memancing yang katanya "keren".
"Masih jauh ni? "Tanya Rudi.
"Dikit lagi, "ujar Mang Asep sambil melirik Aris yang tersenyum-senyum geli, ini udah entah yang ke berapa kalinya Rudi dan Doni menanyakan hal yang sama.
Untuk memberikan waktu bernapas bagi teman-teman Aris, Mang Asep mengeluarkan bungkus rokok kretek dari sakunya. Di tariknya sebatang rokok lalu selipkan dibibir dan menyalakannya. Asap pun berkepul pelan keluar dari mulutnya.
Setelah menikmati beberapa sedotan asap hingga menyentuh paru-paru, Mang Asep menyodorkan bungkus rokok ke arah Doni yang berada paling dekat dengannya. Doni menolak dengan memberi isyarat melambaikan tangan. Doni yang gemuk saat itu sedang membungkuk dengan bertopangkan tangan ke ke lutut. Ekspresinya memelas, kecapekan, mungkin dalam dua atau tiga tahun ini dirinya belum pernah berjalan sejauh ini.
Rudi dan Aris tidak bisa menahan geli melihat keadaan temannya itu, wajah Doni terlihat memerah sedangkan mulutnya terbuka bagaikan ikan yang kekurangan oksigen, megap-megap dengan napas tersengal-sengal.
Kini Mang Asep menyodorkan bungkus rokok ke arah Rudi, tapi yang disodori cuma nyengir, "jangankan untuk ngerokok, bernapas aja susah, "batinnya.
Sedangkan pada Aris, Mang Asep tidak menyodorkan rokok, karena dia tahu cucu majikannya ini gemar berolahraga dan tidak merokok.
__ADS_1
Sekitar 10 menit mereka berdiri, mengamati dan menikmati hamparan hijau terdiri dari rumput dan semak yang diselingi berbagai pohon. Dari sini mereka dapat melihat kebun singkong, dan kebun teh yang sangat luas milik almarhum kakeknya Aris.
Mang Asep membuang puntung rokok lalu menginjaknya agar tidak beresiko membakar ilalang ataupun rumput kering di sekitar. "Yuk, "ujarnya lalu tanpa menoleh berjalan kembali menerabas semak belukar setinggi lutut.
Tidak terlihat ada tanda-tanda keletihan pada Mang Asep setelah berjalan sejauh itu, langkahnya tetap stabil dan gerakannya masih lincah, padahal usianya sudah setengah abad. Terlihat dari belakang tubuhnya yang terbungkus baju tanpa lengan, kecil tapi kekar. Ini dikarenakan kerasnya hidup berladang, menempa dan membentuk tubuhnya. Satu hal yang nyata menandakan penuaan pada Mang Asep adalah pada rambut gondrongnya, yaitu lebih banyak rambut yang putih daripada yang hitam.
Mang Asep sama seperti kakek Aris adalah penduduk lama disini, bisa dikatakan penduduk asli, walaupun kakek Aris adalah blasteran Indo - Belanda. Mang Asep ini sudah puluhan tahun bekerja pada keluarga Aris semenjak dia masih berusia belasan.
Aris memperhatikan kedua temannya tanpa berkata-kata. Keduanya terlihat sudah agak segar. Berbeda dengan kedua temannya ini, walau sama-sama lahir dan besar di kota tapi Aris sering menemani papanya kesini, untuk melihat ladang, memantau para pekerja atau mengunjungi adik kesayangan papanya yaitu bik Isah dan ponakannya Novi. Jadi dengan kata lain Aris sudah terbiasa dengan medan disini, juga dengan kehidupan di desa yang banyak menggunakan fisik dalam beraktifitas.
Setelah bertukar pandangan sesaat, dengan malas Rudi dan Doni mulai melangkah perlahan mengikuti Mang Asep yang sudah sekitar sepuluh meter berjalan di depan. Sedangkan Aris sengaja menunggu teman-temannya bergerak lalu mengikuti dari belakang sambil menggendong ransel berisi bekal mereka.
Biasanya mereka berempat kesini, dengan Mang Asep, papanya, dan Novi. Tapi kali ini Aris membawa Rudi dan Doni, teman sekampusnya karena kebetulan kampus mereka sedang liburan semester. Dan kini, disinilah mereka, Rudi dan Doni, berjalan terseok-seok sambil menggerutu mengikuti Mang Asep, berjalan di kaki gunung Ciremai yang sejuk.
Tetapi penderitaan segera berakhir dan terlupakan begitu mereka tiba di lokasi. "Wah, pemandangannya benar-benar keren, "ujar Rudi kagum, dia berdiri berkacak pinggang di tepi sungai, ikatan pada rambutnya dilepas sehingga rambut gondrong lebatnya berkibar-kibar di terpa angin.
Mereka berdiri dalam diam, mengamati dan mengagumi keindahan alam. Sungai ini lebarnya sekitar 20 meter, dihiasi batu koral berbagai ukuran yang menghampar dari tepi hingga ke tengah. Semakin ke tengah bebatuannya semakin besar, beberapa ada yang lebarnya hingga berdiameter 3 meter. Batu-batu besar di tengah sungai itu basah dan berwarna kehijauan karena lumut, menjulang kokoh membelah air yang melintasinya.
Air sungainya begitu jernih dan tidak terlalu dalam, hanya sekitar 50 cm. Mereka dari tepian sini bahkan dapat melihat dasar sungai. Air di sungai bergemericik menyenandungkan lagu alam yang indah, menenangkan. Airnya terlihat hijau akibat pantulan dari hijaunya pepohonan dan padang ilalang sekitar.
__ADS_1
Mereka menuruni tebing sungai dengan riang. Doni bahkan hampir terpleset dan terguling karena semangatnya untuk melihat sungai dari dekat.
Benar yang diceritakan Aris sebelumnya pada mereka, di sana sini di dalam air terlihat banyak ikan berkelebat berenang kesana kemari.
Aris dan Rudi segera menyiapkan peralatan memancing. Mang Asep hanya memperhatikan, karena sejak awal dia cuma berniat menemani Aris dan teman-temannya. Sedangkan Doni, dia lebih tertarik dengan bekal yang mereka bawa. Berjalan sejauh ini benar-benar membuatnya lapar. Apalagi tadi dia melihat sewaktu Bik Isah menyiapkan bekal mereka, sebagai anak kost yang biasanya harus ngirit dalam hal makan, kini melihat lauk pauk yang di masukkan Bik Isah ke dalam Tupperware membuat cacing di dalam perutnya berdemo.
"Oi, enak banget sambelnya, "ujar Doni sambil mengunyah. Aris dan yang lain hanya menatap tanpa berkata apa-apa, mereka melanjutkan menyiapkan joran dan umpan.
Setelah menyiapkan peralatan memancing, Aris bergerak mengambil posisi menuju rumpun bambu sekitar dua puluh meter menuju hilir. Ada tempat dengan air yang tenang disitu, biasanya banyak ikannya. Sedangkan Rudi setelah membuka sepatu, berjalan ke tengah sungai dia berniat duduk memancing di atas sebuah batu besar yang berada disana.
"Den Aris, dan Den Rudi memancingnya di dekat-dekat sini saja, jangan ke arah hulu, "ujar Mang Asep, Aris dan Rudi menatap lalu mengangguk.
Setelah mengingatkan, Mang Asep beranjak menuju kumpulan pohon nangka tak jauh dari situ. Di keluarkannya beberapa karung plastik yang disimpannya di dalam tas sandang lalu dia hamparkan satu karung di atas rumput sebagai alas dan dia pun segera berbaring.
Tak lama, Doni dalam keadaan kekenyangan segera menyusul mang Asep berbaring tak jauh darinya. Angin semilir dan cuaca yang sejuk segera menghantarkan Doni ke alam mimpi. Tak tahu dia berapa lama tertidur, tiba-tiba dia merasa sebuah tangan yang lembut dengan jari-jari yang mungil mencolek bahunya. Beberapa kali jemari lentik itu mencolek-colek. Walau dalam keadaan tertidur tapi Doni merasa melihat kulit halus dan jemari yang mencoleknya tersebut, hanya saja dia merasa matanya terlalu berat untuk terjaga.
Karena Doni tidak juga terjaga, kini tangan itu mengguncang-guncang pundaknya. Doni pun segera terjaga dengan kaget, napasnya terengah-engah. Sejenak dia mengucek-ngucek mata, "mimpikah, aku? "Batinnya.
Dia melihat ke kanan dan ke kiri, mencari-cari tapi tidak ada seseorang atau sesuatu yang mencurigakan. Di dekatnya dia dapat melihat Mang Asep terkapar sambil mendengkur riuh rendah. Dia pun beralih melihat ke arah Aris tapi temannya itu cukup jauh darinya sedang berjongkok memegang kail, sebelah tangannya memegang daun pisang yang entah diambilnya dari mana, digunakan sebagai penutup kepala. Rudi juga sedang asyik memancing, bajunya dibuka dan disarungkan ke kepala seperti ninja, kulit kuning langsatnya memamerkan tulang rusuk yang menonjol.
__ADS_1