Segi Tiga (Driehoek)

Segi Tiga (Driehoek)
Novi Turut Menghilang


__ADS_3

..."Kalau saja kalian tahu seperti apa aku ini, apa yang telah aku jalani selama ini. "...


..."Semenjak awal usia aku sudah tahu apa itu tragedi, apa itu kesedihan, dan seperti apa wajah dunia yang penuh kebohongan dan kekejaman. "...


..."Masih membayang awal bermasalahnya hidupku, dimulai dengan rutinitas pertengkaran antara papa dan mamaku."...


..."Setiap hari adalah neraka bagiku, penuh ketakutan melihat mereka saling berteriak dan melemparkan barang untuk mempertahankan ego masing-masing."...


..."Mungkin mereka tidak sadar di usia itu yang masih empat tahun aku sudah mengingat apa-apa yang ku alami. "...


..."Setelah pertengkaran harian yang memuakkan untuk ku tonton akhirnya mereka berdua pergi juga. Mereka pergi dengan berpegang teguh pada egonya masing-masing, seolah-olah ego mereka lah yang jadi tujuan hidup mereka, bukannya aku buah hati yang mereka tinggalkan. "...


..."Sungguh aku benar-benar membenci mereka. Namun hampir setiap orang yang ku temui selalu mencoba menyabarkan diriku. Satu hal yang aneh ada pula yang merasa seolah-olah aku senang membenci kedua orang tuaku. Padahal seandainya mereka tahu. Betapa aku inginkan hidup normal seperti yang dimiliki orang-orang lain."...


..."Normal, kalimat sederhana yang terdengar begitu indah walau aku tidak tahu apa itu kehidupan normal..."...


..."Setelah neraka pertengkaran aku masih harus melanjutkan menghabiskan masa kecilku hingga beranjak dewasa dengan mengharap belas kasihan dari siapa saja yang mau menampung dan membantuku. "...


..."Aku adalah barang rusak yang tidak terpakai, dan aku masih ingat tak lama setelah kepergian kedua orang tuaku yang menghilang begitu saja melupakan tanggung jawabnya. Saat itu terlihat dengan malas beberapa anggota keluarga besar kami, hanya beberapa, berkumpul untuk membahas nasibku."...


..."Keluarga dari kedua belah pihak saling menolak ku dengan berbagai alasan. Aku menangis  melihat itu, saat itu. Tapi aku menangis bukan karena kedua orang tuaku pergi meninggalkanku, atau karena mereka keluargaku menolakku. Aku menangis karena aku benar-benar tidak punya kuasa atas hidupku sendiri....


..."Sejak hari itu aku belajar bagaimana harus menjalani hidup dan aku mulai pintar bersandiwara. Aku harus berpura-pura tertawa saat yang lain tertawa. Atau harus pura-pura menangis untuk mengambil hati."...


..."Aku juga berusaha terlihat ikhlas saat aku melihat teman-temanku diberi hadiah ulang tahun dan dirayakan bersama papa mamanya disaat aku harus berjualan kue dimalam hari agar dapat membeli buku sekolah. "...

__ADS_1


..."Sedangkan paman yang bersedia menampungku, aku berterima kasih pada mereka, aku tidak bisa menuntut lebih. Toh mereka bukan orang tua kandungku."...


..."Sudah syukur ada yang mau menampungmu, "itu yang selalu diucapkan paman dan bibi kepadaku bila mereka tidak suka dengan yang kulakukan, dan hal yang mereka tidak sukai itu sangat banyak, mungkin 99% yang kulakukan tidak mereka sukai. "...


..."Pernah aku melindungi anak mereka, yaitu sepupuku yang mengambil mainan temannya dan sebagai akibatnya aku dipukuli oleh kakak dari teman sepupuku itu. Sesampai di rumah karena pakaianku kotor dan wajahku lebam-lebam aku masih harus menanggung makian dan hinaan, begitupun aku berusaha ikhlas dan aku masih harus memohon-mohon agar tidak diusir dari rumah. Dalam pada itu sepupuku yang kutolong hanya diam memperhatikan."...


Rudi menarik napas dan menelan ludah yang terasa sangat pahit mengingat hal-hal tersebut. Dia menatap wajah Novi yang begitu tenang, saat ini Novi sedang pingsan karena tadi dia keluarkan sedikit kemampuannya untuk melumpuhkan.


Mengingat kemampuannya dia tersenyum, pada keadaan normal tidak lah mungkin berlari begitu cepat dan ringan sambil membopong seorang gadis yang ukuran tubuhnya kurang lebih sama dengan dirinya, tubuhnya saat ini jadi jauh lebih kuat dari sebelumnya.


Itu terjadi semenjak kekuatan asing merasukinya setelah dirinya "diracuni" lele siluman. "Diracuni" Rudi menyeringai mengingat pasti itu kata yang dipikirkan oleh Aris dan Doni pada kejadian yang menimpa dirinya.


Dia memang tidak sadar dan tidak dapat melakukan apa-apa sebelumnya, tapi dia dapat merasakan dan mendengarkan apa yang terjadi di sekitarnya. Bahkan sejak dia pingsan inderanya serasa 10 kali lebih tajam dari sebelumnya.


Jakunnya turun naik merasakan kedua tangannya membopong Novi dalam keadaan tak berdaya seperti itu.


Awalnya Rudi mengenal gadis ini saat melihat dia mentag foto Aris di medsosnya dengan caption "kakak kebanggaan ku. "


Setelah itu dia kirim permintaan pertemanan, dan di terima. Waktu pun berjalan dan laki-laki mana yang akhirnya tidak tertarik melihat kecantikan Novi dan tingkahnya yang santun.


Apalagi Novi segera dapat mengakrabkan diri dengan Rudi begitu tahu Rudi adalah teman karib dari orang yang dianggapnya kakak kandung sendiri.


"Walaupun hidup Novi begitu indah dan disayangi banyak orang, tapi secara garis besar kami adalah orang yang sama-sama tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua kandung. "


"Aku dapat merasakan kerinduannya terhadap kedua orang tuanya dari cerita-cerita kami selama ini. "Itu pendapat Rudi tentang Novi.

__ADS_1


Hubungannya dengan Novi selama ini begitu baik walau Novi selalu menolak untuk dijadikan kekasihnya. Alasan Novi sederhana, "selesaikan saja kuliah kakak, baru nanti kita bicarakan urusan itu."


Begitupun Rudi sangat senang saat mereka pertama kali tiba di sini. Disaat makan malam Novi menurut untuk memakai baju biru yang dibelikan dan dihadiahkannya diam-diam melalui pengiriman online. Dia dan Novi waktu itu mengenakan pakaian couple berwarna biru dan tidak ada yang menyadari itu.


Lalu tiba-tiba ucapan Bik Isah di saat makan malam bagaikan terjangan ombak yang menghempaskan segala impian dan harapan Rudi yang begitu indah. Kembali dia merasakan pahitnya keadaan dimana dirinya dan perasaannya tidak ada artinya.


Malam itu sebelum dia bertemu dengan Anna, Rudi selain tersiksa oleh demam karena perubahan pada tubuhnya, juga tersiksa karena berbagai bisikan di dalam dan diluar diri. Berbagai kejadian yang selama ini dia alami yang lukanya masih membekas kini terasa berdarah kembali. Disaat dia merasakan penderitaannya selama ini akan terobati dengan seseorang yang hadir di dalam hidupnya, disaat itu pula dia dihempaskan fakta bahwa ternyata tidak ada yang menerima dirinya.


Masih diingatnya chat terakhir Novi kepadanya, "Novi kenal kak Aris semenjak kami bayi, tidak ada yang lebih perduli pada diri Novi dari pada dia dan keluarganya. Novi akan melakukan apapun demi menyenangkan mereka."


Membaca itu hampir saja ponsel ditangan dia banting saat itu kalau saja dia tidak mengingat itu adalah hasil jerih payahnya selama kerja beberapa bulan.


Tapi kini.. Rudi menatap gadis cantik yang didekapnya erat dengan kedua tangannya.


"Maafkan aku men.."batinnya mengingat persahabatannya dengan Aris dan kebaikan temannya itu kepadanya selama ini.


"Hanya perempuan ini lah yang kuyakini mampu membuatku bahagia, dan aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya, "batin Rudi


"Sedangkan dirimu, pria setampan dan sebaik dirimu akan dengan mudahnya mendapatkan sepuluh orang gadis seperti Novi, "batin Rudi lagi.


"Dan dunia, silahkan saja kalian mau bilang apa, tapi saat ini aku adalah makhluk super, "bisik Rudi.


"Aku belum pernah merasa sebebas dan seberkuasa ini pada diriku sendiri, "batinnya.


"Dan aku juga akan melindungimu sayangku, lebih daripada Aris akan melindungi dan menyayangimu, "bisiknya pada Novi.

__ADS_1


__ADS_2