
Aris bersama dengan beberapa pria yang dibawa Mang Asep menerabas semak belukar untuk mencari jejak yang dapat mengarahkan mereka pada keberadaan Novi.
Sedangkan Doni atas permintaan Aris menemani Bik Isah, sekalian menunggu seandainya ada kabar dari Rudi atau bila tiba-tiba temannya itu pulang. Mereka belum tahu hingga saat ini kalau sebenarnya Rudi lah yang menculik Novi.
Waktu bergulir hingga pukul 17.00. Doni bersama Dian, puteri Mang Asep, dan Bik Isah duduk di teras menunggu dengan cemas. Hanya hening sedari tadi, tidak ada yang bersuara, hening beraroma resah begitu terasa mengisi seluruh ruang di tempat mereka duduk. Duh, batin Doni. Sedari tadi cuma menunggu tanpa berbuat apa-apa benar-benar terasa menyiksanya.
Bik Isah terdiam, larut dalam pemikirannya sendiri. Sebelumnya dirinya mengemukakan bahwa dia hendak membuat laporan polisi, tapi Aris menahannya untuk membuat laporan dengan alasan agar jangan menimbulkan kegaduhan yang belum tentu perlu.
Kata Aris untuk sementara ini biar dia dan para pekerja saja dulu yang mencari, toh mereka punya banyak karyawan dan teman di desa ini yang siap membantu. Bik Isah pun mengalah dan menunda rencananya hingga besok pagi seandainya Novi belum juga diketemukan.
"Cling..cling.."Suara pesan masuk di ponsel Doni, dia pun segera mengeluarkan ponsel dari sakunya.
Doni mendengus, karena pemberitahuan dilayar mengatakan pesan dari Anita yang masuk. Rasa kesalnya karena merasa di permainkan Anita tadi pagi belum hilang. Dengan malas dibukanya pengunci layar.
"Nah kan, "batinnya setelah membaca chat dari Anita.
Na twintig jaar zullen bloemen bloeien.
Driehoeken worden losgemaakt en vrienden worden vijanden.
Itu isi pesannya.
"Udah gitu aja? "Tanya Doni di dalam hati menatap ponsel di tangan. Karena isi pesannya cuma kalimat itu tanpa ada keterangan lain. Dia menunggu sesaat siapa tahu ada pesan tambahan yang menerangkan pesan dalam bahasa yang tidak dia mengerti itu. Namun setelah ditunggu tidak ada tanda di bagian atas layar chat yang biasanya terlihat kalau seseorang sedang menulis pesan.
Karena masih kesal Doni menggunakan fitur bersihkan chat.
"Paling juga ni cewe salah kirim, "batinnya lagi.
"Siapa Don? "Tanya Bik Isah, dia berharap itu adalah pesan dari Aris mengatakan Novi sudah ketemu dan dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
"Teman bik, "jawab Doni lalu menggenggam ponsel dan letakkan diatas pahanya.
Bik Isah sendiri sebenarnya sudah bisa perkirakan kalau itu bukan kabar tentang Novi, karena kalau itu tentang Novi sudah pasti siapapun yang mengirim pesan pasti mengirimkan kepadanya bukan kepada Doni. Tapi apa salahnya untuk berharap, batinnya, karena bagaimanapun Novi telah di rawatnya seperti anak sendiri semenjak gadis itu masih bayi merah sehingga ada ikatan kasih sayang sangat kuat pada dia dan pada Novi bagai ibu dan anak kandung.
Bik Isah menarik napas dengan gundah. Dian yang sedari tadi duduk manis kini berdiri.
"Bik, Dian mau menyiapkan makan malam dulu, "ujarnya.
Bik Isah tersadar dari lamunannya dan mengangguk, dia buru-buru ikut berdiri lalu mengajak Dian masuk ke dalam rumah untuk menunjukkan apa-apa yang perlu dimasak.
"Cling..cling.." masuk lagi pesan baru ke ponsel Doni. Dia kembali mengangkat ponsel.
"Lha, apaan sih ini anak, "batin Doni begitu melihat pesan masuk ternyata lagi-lagi dari Anita.
"Itu tulisan yang ditinggalkan bang Rudi di buku resepsionis pak, "
"Rudi itu teman bapak kan? "Bunyi pesan dari Anita.
"Tapi eh, waduh!!"
Doni buru-buru membalas chat Anita, karena Anita selalu memanggilnya "pak, "dia pun membalas dengan memanggilnya nak.
"Maaf nak Anita, bapak kira tadi nak Anita salah kirim jadi pesan sebelumnya bapak hapus."
"Bisa nak Anita kirim ulang pesan sebelumnya? "Balas chat Doni.
Anita membalas pesan Doni, tapi bukan balasan pesan yang diminta Doni yang dikirimnya kembali melainkan emoticon gambar tertawa πππ.
Doni merengut membacanya.
__ADS_1
"Udah gitu aja? "Batin Doni lagi, karena setelah mengirim emoticon barusan tidak ada pesan tambahan. Padahal apa sih susahnya mengirim ulang pesan yang sudah terkirim sebelumnya?
"Ngobrol sama ni cewe bisa bikin stroke, "batinnya.
Hingga sepuluh menit tidak ada balasan pesan dari Anita. Dan Doni sudah menganggap yang aneh-aneh aja soal Anita. Mungkin dia disibukkan dengan dua anaknya, walau setelah dipikir-pikir kayaknya nggak mungkin juga cewe semuda itu udah punya dua anak seperti pengakuannya sebelumnya. Atau mungkin yang paling pas ni cewe sedang berkendara, trus karena membalas pesan jadi kecelakaan dan meninggal, batin Doni terkekeh.
"Kok lama ya belum ada kabar, "ujar Bik Isah mengagetkan Doni, perempuan itu terlihat berdiri di ambang pintu menatap dengan pandangan letih ke kejauhan.
Doni menatap Bik Isah dengan iba. Perempuan paruh baya ini tentunya sangat lah tangguh, walau terlihat resah tapi dia bisa menghandle perasaannya, tidak lantas begitu saja panik. Mungkin karena dia sudah kerap bergulat dengan masalah, ditinggal mati oleh suaminya, juga melanjutkan sekaligus memimpin usaha-usaha bapaknya.
Menurut cerita yang dia dengar dari Aris, Bik Isah ini lah yang mengurus warisan almarhum bapaknya sebagai pengelola aset yang begitu banyak. Mereka berbagi tugas dengan papanya Aris yang bertindak sebagai pencari pasar dan mengatur penjualan, kakak beradik yang sangat kompak.
"Sabar ya bi.."Ujar Doni berusaha menghibur, hanya itu yang terpikir untuk dia ucapkan saat ini.
"Mudah-mudahan Novi segera diketemukan, "sambungnya.
Terdengar di kejauhan suara motor mengarah kesini lalu tak lama disusul sebuah motor bebek berjalan perlahan memasuki pekarangan.
Seorang cewe cantik mengenakan jilbab pink dan pakaian pink di padu blue jeans turun dan memarkirkan motor.
Doni menatap lama, siapa juga pria lajang yang tidak tertarik melihat perempuan secantik ini. Tapi setelah beberapa saat memperhatikan dia jadi terbelalak.
"Lha Anita? "Batinnya kaget.
Perempuan yang baru turun dan memarkirkan motor itu memang Anita. Dan Anita langsung melemparkan senyum sangat manis.. kepada Bik Isah, bukan kepada Doni, yee.
"Oh Anita, "ujar Bik Isah lalu menghampiri ke halaman. Anita menghampiri Bik Isah dan mencium tangannya.
Sehabis mencium tangan Bik Isah, Anita menoleh ke Doni dan menjulurkan sedikit lidahnya.
__ADS_1
"Kamu kebetulan lewat atau memang ada keperluan khusus nak? "Tanya Bik Isah, terdengar oleh Doni.
"Lha? "Batin Doni heran melihat keakraban kedua perempuan ini.