
Aris dan Doni tiba di rumah sekitar pukul 11.00 dan masih terfokus pada menghilangnya Rudi.
Mereka memasuki rumah, namun tidak menemukan sesiapapun disana. Jangankan Rudi, Bik Isah, Novi dan Bik Mirah (pelayan rumah), juga tidak kelihatan.
Mereka sempat melongok kamar Rudi yang sudah dirapikan Novi. Ponselnya yang sebelumnya di letakkan di atas pembaringan sudah di pindah ke meja di samping ranjang dan di sambungkan ke charger, pastinya itu Novi yang melakukan. Aris melihat ponsel lalu menatap Doni. Ditatap seperti itu Doni hanya bisa nyengir malu.
"Sepi men, sepertinya Bik Isah dan Novi sedang di ladang, "ujar Aris ke Doni.
"Sedangkan Bik Mirah, nggak biasa-biasanya beliau tidak dirumah pada jam segini, "sambungnya.
"Mungkin sedang sakit, "jawab Doni sekenanya.
"Bisa jadi, "ujar Aris lalu bergerak meninggalkan kamar Rudi. Doni pun berjalan mengikuti Aris meninggalkan kamar.
"Jadi bagaimana Ris? "tanya Doni saat mereka di beranda.
"Bagaimana apanya? "tanya Aris.
"Bagaimana kalau gangguan tadi malam hingga kita mengalami kecelakaan itu cuma untuk mengalihkan agar tidak datang ke rumah sakit menjenguk Rudi? "Tanya Doni.
"Aku juga sempat berpikir seperti itu, tapi ada fakta yang tidak bisa kita abaikan, "Jawab Aris.
"Kalau lah gangguan itu bertujuan untuk mengalihkan kita, toh Rudi juga tidak hilang begitu saja, melainkan keluar dari Rumah Sakit dengan cara normal, "sambungnya.
"Bagaimana kalau kita tanya pendapat Nyi Sari? "ujar Doni.
"Buat apa? Bisa jadi dia juga nggak tau dan nggak bisa membantu. Kan tadi malam beliau udah nelpon, dan nggak ada bilang apa-apa tentang Rudi. Malah aku kuatir nanti dia cerita yang membuat pemikiran kita melenceng dari fakta yang terjadi. Lagian terus terang men, selama ini aku tidak ambil pusing dengan hal-hal berbau mistis seperti ini, aku cuma menganggap hal seperti ini ada sebagai bagian dari ciptaan Tuhan, gitu aja, "tegas Aris.
"Iya juga sih, "ujar Doni manggut-manggut.
Mereka pun kembali bersepakat untuk bersikap biasa-biasa saja seandainya nanti Bik Isah atau Novi tiba-tiba pulang dan menanyakan kabar Rudi, dan akan mengatakan kalau Rudi baik-baik saja.
Doni paham selama tiga hari ini Aris belum mau bercerita pada Bik Isah tentang hal-hal yang sebenarnya menimpa mereka, alasannya karena Aris sendiri belum paham apa yang sebenarnya terjadi. Kejadian mereka memasuki wilayah angker setelah mengejar kera iseng, lalu ikan lele jadi-jadian hingga Rudi keracunan di rasanya hanya harus disikapi tanpa perlu diceritakan kepada siapapun. Lalu cerita Nyi Sari baginya hanyalah kisah lampau tentang intrik di keluarganya. Sedangkan gangguan ghaib yang mereka alami tadi malam dia tidak yakin itu ada hubungannya dengan menghilangnya Rudi.
Aris kembali masuk ke dalam rumah berganti pakaian lalu tak lama keluar sambil membawa ember dan sabun deterjen. Dihidupkannya keran air dan menampungnya di ember, setelah itu memasukkan sedikit deterjen ke dalamnya. Dengan menggunakan selang dia menyemprot mobil yang belepotan lumpur kering terutama pada bagian bawah dan bodi sebelah kiri.Â
Sedangkan Doni, tanpa diminta segera berinisiatif mengechat Anita untuk menanyakan kabar Rudi.
"Mbak ini saya Doni yang tadi pagi ke Rumah Sakit bersama teman saya Aris, "pesan Doni.
"Yang mana ya bang? "tanya Anita.
"Itu lho kami yang tadinya hendak membesuk temen kami, ternyata kata mbak temen kami udah keluar tadi malam, "
__ADS_1
Tidak ada balasan selama beberapa menit, hanya ada centang dua menandakan pesan terkirim. Mungkin Anita sibuk, pikir Doni. Dia pun beranjak hendak masuk ke rumah mengambil minum.
"Cling.., "terdengar pesan masuk. Doni meraih ponsel, ternyata pesan dari Anita.
"Oh itu, iya saya ingat pak, "balas chat Anita.
Doni mengernyitkan kening, "Pak? "Batinnya.
"Oh jadi teman bapak namanya Aris ya? "Chat Anita lagi.
"Lha gua yang nanya kok Aris yang dia bicarakan? "Doni mengirim emoticon berbentuk wajah dengan gambar keringat di kepala 😅 kepada Anita.
Anita malah mengirim emoticon dengan gambar tertawa sambil menutup mulut ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤.
"Teman bapak belum ada khabarnya, ntar kalau sudah ada kabar saya beritahu, "tulis Anita.
"Jangan panggil bapak dong, aku masih 22 tahun lho, "balas chat Doni.
"Lha, kirain omnya Aris, "balas Anita.
"Nyebelin banget si Anita ini men, "ujar Doni pada Aris.
Aris cuma menoleh sebentar lalu kembali menyemprot mobil karena suara Doni tertelan suara derasnya air yang keluar dari selang.
Sekitar pukul 12.00 bik Isah pulang dengan mengendarai motor matic.
Aris dan Doni belum juga curiga tentang ketidak beradaan Novi hingga bik Isah bertanya pada mereka.
"Novi kemana ya? "
"Lha kirain dia bersama bibi, "jawab Aris menoleh sebentar lalu melanjutkan kegiatannya yang saat itu sedang mengelap bodi mobil.
Dia berdiri berkacak pinggang mengamati hasil kerjanya, setelah di cuci dan dilap seperti ini mobil tidak terlihat baru saja mengalami kecelakaan, kinclong.
"Dia tadi bilang mau nyuci, karena Bik Mirah sedang kurang enak badan. Setelah itu katanya mau menyusul ku ke gudang untuk membantu menyelesaikan administrasi, "ujar bik Isah lalu bergegas masuk ke rumah.
"Nggak ada di belakang bik, sedari pukul 11 tadi kami dirumah tidak ada siapa-siapa, "jelas Aris.
Bik Isah yang hendak melangkah masuk ke dalam rumah berhenti dan berbalik menatap Aris.
"Lha jadi kemana tuh anak, nggak biasa-biasanya dia ngilang begini, "ujar bik Isah heran.
Aris berjalan ke beranda lalu meraih ponselnya yang diletakkan di meja. Doni yang kini sudah kembali dari mengambil minum duduk santai di samping meja bermain ponselnya sendiri tanpa perdulikan apapun.
__ADS_1
Aris mengangkat ponselnya lalu menelpon Novi.
"Ponselnya berdering tapi tidak diangkat bik, "ujar Aris pada bik Isah.
Bik Isah menatap Aris sesaat lalu memberi isyarat dengan tangannya menyuruh diam, Aris pun diam menjauhkan ponsel dari telinga.
Lamat-lamat terdengar suara dering ponsel di dalam rumah. Bik Isah berjalan masuk ke dalam rumah mencari arah suara ponsel.
Dia menemukan ponsel Novi yang di letakkan begitu saja diatas mesin cuci.
Diambilnya ponsel tersebut, di tatapnya dengan heran lalu mengantonginya. Yang membuat dia heran karena seingat dia belakangan ini Novi tidak pernah meletakkan ponselnya jauh dari dirinya. Itu berawal semenjak chat Novi dengan Rudi di baca Bik Isah.
"Apaan ni anak gadis, "ujar Bik Isah pelan makin heran karena melihat pakaian-pakaian yang tergeletak di lantai di depan mesin cuci, belum ada satu pun yang dicuci. Lalu matanya menatap sebuah baju yang sangat kucel. Pakaian tersebut terbentang di tempat paling atas menutupi sebagian pakaian yang diletakkan di atas lantai. Karena penasaran dengan tampilannya, diangkatnya pakaian tersebut untuk melihat lebih jelas.
"Ini bukan pakaian yang kucel karena tua, tapi kotor karena penuh lumpur dan darah kering yang terlihat menghitam, "batinnya.
"Ris, coba kamu kemari sebentar, "ujar Bik Isah setengah berteriak. Aris buru-buru mendatangi bibinya.
"Aneh, kenapa baju ini penuh lumpur dan darah kering, baju siapa ini? "Tanya bik Isah.
"Glek, Aris menelan ludah, "tapi belum sempat dia menjawab bik Isah kembali bicara.
"Kita kesampingkan saja dulu hal itu, "lalu Bik Isah mengeluarkan ponselnya, ponsel biasa bukan android atau iPhone. Terdengar dia menelpon seseorang.
"Yan Novi ada di rumahmu? "Tanya bik Isah. Dia mulai curiga bahwa ada sesuatu yang tidak beres namun dia tidak yakin apa itu.
Bik Isah terlihat menutup panggilan, "Novi tidak ada di rumah mang Asep, "ujarnya tanpa di tanya. Ternyata dia barusan menelpon Dian, anak Mang Asep.
Aris hanya diam memperhatikan tanpa tahu harus berbuat apa, pakaian Rudi yang dipakainya sewaktu bertemu lele jadi-jadian sudah terungkap, kini dia sedang mencari-cari alasan untuk menjelaskan apa yang terjadi dengan pakaian Rudi tersebut. Terasa angin semilir menyentuh tubuhnya, angin itu berasal dari pintu samping yang terbuka. Dia berjalan ke arah pintu tersebut sambil masih berpikir mencari ide selagi Bik Isah masih sibuk, lalu dia melihat keluar dari pintu.
Setelah itu dia berjalan beberapa meter ke kumpulan pohon salak masih berpikir tentang ketidak adaannya Novi dan baju Rudi, juga diri Rudi yang masih menghilang. Dia menatap berkeliling, walau tidak pasti apa sebenarnya yang dia cari. Lalu hendak kembali ke dalam rumah saat matanya melihat ke tanah. Terlihat sebelah sendal jepit, sendal yang biasa di pakai Novi kalau sedang keluar rumah. Aris berjongkok untuk mengamati lebih jelas karena selain sebelah sendal jepit yang tertinggal juga ada beberapa jejak kaki disitu.
"Bik!!"teriak Aris memanggil bibinya. Teriakannya begitu keras, dia sendiri kaget karena tanpa sadar mengeluarkan suara sekeras itu.
Bik Isah berjalan mendatangi di susul Doni yang berjalan dari depan memutari garasi.
"Oi hati-hati melangkah lu, "tegur Aris ke Doni yang melangkah seenaknya.
Doni berhenti melangkah dengan tatapan bingung, lalu dia mengikuti arah pandangan Aris menatap sendal dan jejak di tanah.
Aris mengeluarkan ponselnya lalu memvideokan temuan ini disaksikan Bik Isah dan Doni.
"Apa sebenarnya yang terjadi, "ujar Bik Isah cemas. Dia benar-benar takut untuk membayangkan apa yang terjadi pada gadis kesayangannya.
__ADS_1
Aris melangkah hati-hati lalu berjalan mengikuti jejak kaki di tanah, sayangnya setelah beberapa meter tidak ada lagi jejak yang terlihat karena disitu sudah banyak rumputnya.