Segi Tiga (Driehoek)

Segi Tiga (Driehoek)
Kera Iseng


__ADS_3

"Ah sudahlah, "ujar Doni menggerutu pelan. Sikap masa bodohnya muncul dan dia pun berbaring kembali karena memang kantuknya belum terpuaskan.


Tidak tahu sudah berapa lama tertidur hingga dia pun bermimpi kembali, kali ini mimpi ini bahkan terasa lebih nyata. 


Dalam mimpinya dia mendengar suara berkresekan dari semak sekitar dua puluh meter di sebelah kirinya, lalu terlihat seorang perempuan cantik berbaju serba putih melangkah keluar dari situ. Perempuan itu berwajah Eropa, dengan rambut coklat kemerahan di gelung ke atas.


Awalnya perempuan tersebut melangkah perlahan, seperti hanya sedang melintas, berjalan dengan begitu anggunnya. Tapi kemudian dia menoleh ke arah Doni. Begitu melihat Doni dia berhenti melangkah dan menatap tanpa berkedip. Setelah menatap seperti itu beberapa saat, perempuan tersebut segera menuju Doni yang sedang berbaring dengan berjalan cepat, atau lebih tepatnya berkelebat saking cepat gerakannya.


Hanya perlu waktu sedetik bagi perempuan itu untuk tiba di tempat Doni berbaring. Lalu perempuan tersebut mendekatkan wajahnya ke wajah Doni seakan mengamati. Doni jadi gelagapan karena kini jarak antara wajah mereka hanya sejengkal. Walau Doni memperkirakan usia perempuan itu sekitar 30 an, jauh di atas usianya yang masih 22 tahun, tapi wajahnya begitu rupawan dan dalam jarak sedekat itu lelaki mana yang jantungnya tidak berdegup kencang.


Doni terkagum dengan wajah cantik itu, dan dengan grogi coba tersenyum. Hanya saja setelah dia perhatikan betul-betul dia pun segera menyadari, tatapan perempuan tersebut bukan tatapan seorang wanita yang tertarik pada pria, melainkan tatapan pemangsa yang menatap mangsanya.


Dan.. perlahan raut perempuan tersebut berubah menjadi mengerikan, alisnya yang lebat bertaut lalu mulutnya menyeringai sangat lebar, begitu lebar mulutnya hingga nyaris mencapai daun telinga. Matanya berubah menjadi berwarna merah dengan manik mata yang mengecil berwarna hitam. Kulit wajahnya pun berubah menjadi berkeriput, lalu kulit itu perlahan berubah menjadi gelap. Pakaian putihnya berubah menjadi kusam, sedangkan rambutnya yang tadinya indah tertata rapi kini berubah kusam dan awut-awutan. Perempuan itu membuka mulut menganga lebar lalu menjerit di hadapan Doni. Suaranya tidak seperti suara perempuan, bahkan bukan seperti suara manusia, melainkan bagai suara lembu yang di sembelih, serak dan berat. Darah memancar deras dari leher, mulut, dan hidung perempuan itu.


Doni terjaga dari tidurnya dalam keadaan sangat ketakutan, "Oi, bangun!!" Ujar Aris mengguncang-guncang tubuh Doni. Doni begitu membuka mata beringsut mundur sejauh-jauhnya karena masih terpengaruh mimpinya barusan. Gerakan mundurnya berhenti setelah tubuhnya menabrak pohon nangka di belakangnya.


Doni menatap Aris dengan kaget karena masih terpengaruh mimpi. Sedangkan Aris mengerutkan kening menatap Doni dengan heran, karena dia merasa cuma mengguncang tubuh temannya itu, tapi reaksinya kok seperti baru saja melihat hantu.


Doni segera beristighfar pelan beberapa kali hingga merasa tenang kembali. Dia hendak menceritakan mimpinya, tapi tidak jadi karena keduluan berbicara oleh Aris.


"Rudi nggak kelihatan, "ujar Aris.


Doni yang masih belum sepenuhnya sadar menatap ke arah dimana tadi Rudi duduk memancing.


"Oh iya, batu besar yang tadinya diduduki Rudi itu masih ada disana, hanya Rudinya saja yang tidak ada lagi. "Ujarnya pelan, setengah ngelindur.


Aris kembali mengernyitkan kening mendengar ucapan blo'on Doni, lalu berjalan ke arah batu besar tempat Rudi terakhir terlihat.


Sempoyongan Doni bangkit, dia melihat mang Asep masih tertidur pulas di tempat sebelumnya. Karena nggak tega mengganggu orang tua itu untuk meminta bantuan, dia pun segera berjalan menyusul Aris.


"Sudah berapa lama dia menghilang? "Tanya Doni sambil memperhatikan ke langit. Matahari sudah berada di atas kepala, berarti sudah tepat tengah hari.

__ADS_1


"Hampir dua jam aku ternyata tertidur, "batinnya.


"Beberapa saat lalu aku melihatnya turun dari tempatnya duduk ke sebelah sana, "ujar Aris menerangkan.


"Kupikir mungkin kailnya tersangkut sesuatu makanya dia turun, tetapi setelah beberapa lama kok dia tidak muncul kembali, "sambungnya.


Mereka turun ke dalam sungai di bawah batu dan memeriksa, tidak ada yang mencurigakan. Air disini juga tidak dalam, kedalamannya sama seperti disekitar hanya sepaha orang dewasa. Hampir bisa dikatakan mustahil bila Rudi sampai hanyut apalagi tenggelam disini.


Aris memandang berkeliling, batu yang diduduki Rudi ini adalah satu diantara banyak batu besar yang berdiri di tengah sungai. Memang dari tempat dia duduk tadi, tidak akan terlihat apabila Rudi berjalan di balik batu-batu ini.


"Oi, Rudi!!! "Terdengar teriakan Doni mengagetkan Aris.


"Asem ni anak, teriak disamping telingaku, "umpat Aris di dalam hati.


Tapi memang dengan berteriak sepertinya adalah jalan tercepat untuk menemukan Rudi, dan Aris pun ikutan berteriak memanggil-manggil.


Beberapa kali mereka berteriak-teriak sambil berjalan dan melihat-lihat di sekeliling batu besar. Lalu tiba-tiba Aris memberi isyarat pada Doni untuk diam karena dia merasa mendengar sesuatu.


Mereka mendengarkan dengan seksama dan benar saja, lamat-lamat terdengar suara Rudi di arah hulu sungai. Tidak jelas apa yang diucapkan teman mereka itu, tapi bisa mereka pastikan itu adalah suara Rudi.


Terdengar lagi suara Rudi berteriak menyahut.


"Ngapain lu disana Rud, balik sini cepetan!! "Teriak Doni.


Berdua mereka berjalan ke arah suara Rudi berteriak barusan.


Rudi kembali terdengar berteriak, kali ini suaranya jelas walau posisinya sepertinya masih cukup jauh, "Gaes kesini, cepat bantu gua, "ujar Rudi.


"Urrgggh.. dasar ni bocah, "ujar Doni kesal, dia berkali-kali terpeleset. Memang sulit berjalan diantara tumpukan batu seperti ini, karena keseringan batu yang diinjak bergulir kesana-kemari.


Doni dan Aris berjalan mengikuti arah suara Rudi yang masih menyahuti teriakan mereka, hingga tak terasa tiba di ditikungan sungai yang menuju ke hulu.

__ADS_1


Kini mereka sudah sangat jauh dari spot memancing tadi. Disini udara terasa makin dingin dan juga gelap karena pepohonan makin lebat, semak-semaknya pun makin tinggi.


"Ayo naik ke tepian, "ujar Aris kepada Doni. Aris khawatir karena dia sering mendengar cerita-cerita tentang tikungan sungai ini, dimana setelah melewati tikungan terdapat lubuk yang luas dan sangat dalam.


Kata cerita air disitu sangat tenang tapi sangat dalam, dan konon pada waktu-waktu tertentu dapat terjadi pusaran air yang sangat kuat. Menurut cerita yang dia juga pernah dengar, dahulu pernah terjadi pusaran air yang saking kuatnya hingga menelan korban jiwa.


Aris sendiri semenjak kecil tidak diizinkan papanya berjalan ke arah sini, sewaktu dia bertanya kenapa, papanya hanya bilang walaupun tanah disini masih termasuk tanah kakeknya tapi tempat ini terlarang.


Doni berjalan mengikuti Aris naik ke tepi tanpa bertanya. Mereka pun berjalan sambil menyibakkan semak dan ilalang di depan. Pohon-pohon disini besar-besar, dan kelihatannya sangat tua. Aris memungut dua potong ranting yang tergeletak di tanah, satu potong ranting diberikannya pada Doni. Mereka menggunakan ranting-ranting tersebut untuk menyibak ilalang.


Setelah sekitar lima puluh meter berjalan dengan menyusur tepian, Aris menoleh ke sungai di bawah. Terlihat olehnya air sungai di bagian ini berwarna hijau gelap dan sangat tenang. Batu-batu masih banyak terlihat di pinggirnya, tapi tidak ada sama sekali batu yang mencuat di tengah sungai. Sepertinya ini lah lubuk maut yang di maksud masyarakat sekitar.


Lubuk ini sangat luas dan panjang, begitu menurut pengamatan Aris. Dia juga melihat banyak sekali ikan-ikan berenang di permukaan air. Sepertinya ikan-ikan ini berkembang biak dengan baik disini karena tidak ada yang mengganggu.


Beberapa kali terlihat ikan yang berukuran besar muncul ke permukaan mengambil udara lalu menyelam kembali menimbulkan riak-riak di permukaan air. Dari bentuk mulut dan kumisnya, Aris bisa perkirakan itu adalah ikan lele.


"Rud, cepetan kesini, kami mau balik ni!! "Ujar Aris berharap Rudi mendengar dan menghampiri mereka.


Satu hal aneh adalah sedari tadi mereka saling bersahut-sahutan dengan Rudi, tapi hingga hampir 500 meter berjalan dan sosok temannya itu belum juga kelihatan. Seolah-olah Rudi menyahuti mereka sambil tetap berjalan.


"Oi Rudi, udahan bercandanya, kami udah capek mengikutimu!! "Teriak Doni kesal.


Terdengar lagi suara Rudi, kali ini memaki-maki, entah siapa yang dimakinya.


Dengan kesal Aris dan Doni berjalan ke arah suara Rudi barusan, terdengar lagi suara Rudi memaki, kali ini jaraknya hanya sekitar sepuluh meter di depan mereka.


Akhirnya mereka melihat Rudi sedang berdiri di depan sekumpulan pohon randu alas. Rudi menengadah ke arah salah satu pohon randu yang berukuran tidak terlalu besar tapi lumayan tinggi, sekitar lima belas meter tingginya. Dia menggenggam sebatang kayu, mengacung-ngacungkan ke udara. Sementara itu di atas sebuah dahan terlihat seekor kera duduk sambil menggenggam joran miliknya.


Melihat itu Aris dan Doni cuma nyengir sambil garuk-garuk kepala.


"Nih, pegangkan!! "Ujar Rudi memberikan ikan hasil tangkapannya kepada Doni.

__ADS_1


"Ikan apa ini? "Ujar Doni geli. Ikan itu besarnya hanya sebesar dua jari, tipis pula.


Aris memperhatikan lalu tertawa, "itu ikan sepat, kalau dimasak bisa jadi sebaskom... kuahnya, "ujarnya.


__ADS_2