Segi Tiga (Driehoek)

Segi Tiga (Driehoek)
Lagi-lagi Mereka Menghilang


__ADS_3

Seorang teman Mang Asep yang bernama Nanang terpental mundur. Tubuhnya terbungkuk karena menahan sakit pada dadanya yang telak terkena pukulan Rudi.


Begitu berhasil memukul Nanang, Rudi segera memutar tubuh dengan cepat dan menyerang ke arah teman Mang Asep satunya yaitu Surya. Surya Refleks menangkis serangan Rudi dengan menyabetkan golok.


Aris terperangah kaget dan hampir berteriak, karena bagaimanapun Rudi adalah temannya dan sabetan itu dapat menimbulkan cedera sangat parah.


"Bugh, "terdengar suara golok beradu dengan tinju Rudi. Ajaib, tidak ada terlihat luka di tangan Rudi, justru golok dan tangan pemegangnya terpental mundur karena bagai menghantam sesuatu yang sangat keras. Aris jadi berkeringat dingin menonton perkelahian tersebut.


"Gila lu men!! "Teriak Aris, dia masih belum terima bahwa mereka harus bertarung melawan Rudi, salah seorang teman baiknya. Bukan ini perkelahian yang dia bayangkan sebelumnya.


"Sudah.. Sudahlah .. Jangan diteruskan!!"ujar Aris.


Dia masih berniat untuk melerai.


Tapi teman-teman Mang Asep tidak mengenal Rudi, misi mereka adalah menyelamatkan Novi. Dan mereka barusan melihat Rudi sama sekali tidak berniat menyerahkan Novi, malah justru balik menyerang, maka perkelahian pun pecah tanpa dapat dibendung.


Sebuah golok menebas tubuh Rudi dari atas kebawah, Rano yang melakukan, namun berhasil di tangkis Rudi dengan lengan. Terlihat kemeja lengan panjang yang di kenakan Rudi sobek, tapi lengannya tidak apa-apa.


Serangan yang di tangkis, segera disusul tusukan klewang dari depan oleh Nanang yang sudah pulih dari serangan sebelumnya. Serangan Nanang mengenai telak perut Rudi. Kalau orang normal yang ditusuk seperti ini alamat bakal tembus lalu keluar isi perutnya. Tapi sama seperti sebelumnya hanya suara "Bugh!!" yang terdengar tapi tidak ada luka sama sekali yang ditinggalkan.


Menurut pengamatan Aris Rudi tidak terlihat pintar berkelahi, berkali-kali serangan mengenai tubuhnya tanpa bisa dia elakkan. Dia juga tidak mahir dalam menyerang, tapi dirinya sangat kuat, cepat, dan sejauh ini kebal terhadap senjata tajam.


Hingga sejauh ini Aris belum mau terlibat, dirinya masih di landa keragu-raguan. Mang Asep yang melihat Aris tidak menyerang, ikut memilih diam. Dia juga kenal Rudi walaupun hanya untuk beberapa hari, ada perasaan tidak enak dihatinya untuk ikut menyerang pemuda ini.


Setelah berhasil menangkis sabetan golok dan menampung tusukan dengan perut, kini sebuah tendangan yang terlihat sangat kuat dilontarkan Karta dari samping mengenai rusuk Rudi. Tapi justru si penendang yang terpental, sedangkan Rudi tetap dalam posisinya tak bergeming.


Rudi mengejar Karta yang tersurut mundur beberapa langkah ke dekat Aris.


Karta menusukkan klewang di tangan tapi karena keadaan tubuh yang limbung Rudi berhasil mengelak sehingga klewang meleset beberapa inci dari samping rusuknya. Dengan cepat Rudi maju lalu mengempit lengan yang memegang klewang. Karta tak berdaya, kini tangan Rudi yang terbebas mencekik lehernya dan mengangkatnya dengan enteng seolah mengangkat boneka.


"Bugh, buagh, buagh !!!bertubi-tubi teman-teman Mang Asep menghujani tubuh Rudi dengan tusukan dan sabetan untuk membebaskan Karta.


"Ini tidak dapat dibiarkan, harus dihentikan sebelum ada yang cedera atau terbunuh, "batin Aris.


"BERHENTI!! BERHENTI!! "Teriak Aris lalu melompat kedepan.

__ADS_1


Refleks, Rudi yang sedang dikeroyok melemparkan tubuh Karta ke samping dan ganti meninju ke arah Aris yang mendatanginya.


Aris kaget karena angin serangan Rudi terasa deras menyambar kearahnya, begitu lama dia menekuni olahraga bela diri, dan telah menjalani ratusan sparing belum pernah dia merasakan pukulan yang menimbulkan angin seperti ini.


Dengan cepat dia angkat kaki kanan hingga lututnya sama rata dengan dada saat pukulan Rudi hendak masuk.


Pukulan Rudi jadi melenceng ke atas disodok lutut dari bawah, pukulan yang melenceng di tangkis Aris dengan lengan. Tubuhnya dicondongkan kedepan dan kaki kirinya dijadikan tumpuan. Dia sengaja mencondongkan diri ke depan agar berat tubuhnya yang difokuskan ke tangan, di tabrak oleh tinju Rudi.


"Buagh!! "Terdengar benturan keras, Aris tidak terdorong mundur karena posisi berdirinya kuat, tapi tangan dan lutut yang di gunakan menangkis terasa kesemutan.


"BERHENTI!! "Teriak Aris lagi


Rudi begitu menyadari yang dipukulnya barusan adalah Aris segera terdiam mematung. Terlihat ada perasaan bersalah dimatanya.


Dan semua yang berada disitu terdiam mendengar teriakan Aris kali ini.


"Drrt..drrrt.."


Sial, siapa juga yang menelpon saat sedang genting seperti ini batin Aris lalu melihat ponsel yang memang sedang di genggamnya.


"Bik maaf, situasi sedang genting.."ujar Aris memelas.


"Kami sedang bertarung.."sambungnya.


"Dengan Rudi kan? "Ujar Bik Isah.


"Memang dasar anak itu!! "Omel Bik Isah.


Rudi terdiam, pendengarannya sangat tajam sehingga tanpa diaktifkan speaker di ponsel Aris dia sudah dapat mendengar ucapan Bik Isah. Dan entah kenapa dia merasa jadi merasa sangat tidak enak mendengar ucapan perempuan tersebut.


"Aktifkan speaker bro, "menyusul suara Doni di seberang.


Walau bingung Aris mengaktifkan speaker. Mudah-mudahan masalah ini dapat diselesaikan tanpa perkelahian pikirnya setelah mengamati ekspresi Rudi yang berdiri mematung menatapnya.


"Udah, "ujar Aris ke Doni begitu speaker sudah diaktifkan.

__ADS_1


"Oi Rudi dodol, muke gile lu ya!! "Teriak Doni.


Rudi terkaget mendengar suara Doni. Aris apalagi, karena dia yang paling dekat dengan ponselnya.


"Kami kesusahan gegara lu, lu malah terus bikin masalah, nggak tahu balas budi lu!! "Teriak Doni lagi, dia memang sungguh-sungguh kesal pada Rudi.


Saat itu Nyi Sari sudah tiba di rumah bersama mereka dan perempuan itu juga yang memberi tahu kalau dia melihat Aris dan yang lain sedang bertarung dengan pria yang setelah dia sebutkan ciri-cirinya menggambarkan Rudi.


Itu yang membuat Bik Isah berinisiatif untuk menelpon. Dia punya feeling, seburuk apapun Rudi tentunya masih menghargai persahabatannya selama bertahun-tahun dengan Aris dan Doni.


Bibir Rudi bergerak pelan, tapi entah apa yang diucapkannya saking pelan suaranya.


Aris berusaha mendengarkan dengan seksama.


Rudi mengulangi ucapannya.


"Ma..maafkan aku.."ujarnya lirih, terlihat kembali ada sekilas rasa malu di dirinya.


"Bawa aku dari sini, "pintanya pelan, entah pada siapa.


Lalu dia mengangkat kedua telapak tangan, dihadapkan kewajahnya. Setelah itu tangannya itu digerakkannya satu naik satunya lagi turun.


Dan tiba-tiba kabut putih turun menyelimuti tempat di sekitarnya.


Alamat bakal nggak jelas, batin Aris melihat ini.


"JAGA NOVI!! "Teriaknya.


Mang Asep dan rekan-rekannya bingung, bagaimana menjaga Novi yang berada di atas pohon. Mereka pun berinisiatif bergerak mendekati pohon tersebut.


Sebelum kabut pekat menutupi sepenuhnya, Aris melompat ke depan berusaha menerkam Rudi tapi hanya mengenai tempat kosong karena ternyata Rudi keburu melompat tinggi.


Kabut pun bergumpal-gumpal menutupi sekitar mereka. Begitu tebalnya kabut sehingga untuk melihat jari tangan sendiri saja sulit.


"NOVI!!! "Teriak Aris.

__ADS_1


"RUDI!!! "


__ADS_2