
Ternyata Novi menyusul ke Rumah Sakit karena Aris tidak kunjung pulang untuk mengambil bekal yang sudah disediakannya. Novi datang sendirian dengan mengendarai Jeep, sedangkan Bik Isah tidak ikut karena perempuan itu sedang ada kesibukan.
"Maaf Nov, kakak lupa, "ujar Aris jadi segan.
"Gak apa kak, "ujar Novi, di balik masker dia tersenyum. Sebenarnya dia hanya pura-pura kesal, walaupun kalau dipikir-pikir emang ngeselin. Ihh..udah susah payah dimasakin gak jadi dimakan, okelah gak jadi dimakan karena ada insiden, tapi setelah itu masakannya dibikin jadi bekal, eh malah lupa nggak dibawa.
Begitupun Novi tetap memperlihatkan ketenangan dan keanggunan khas perawan.
"Tadinya Novi mau nelpon, tapi karena kakak terlihat kebingungan Novi kuatir nantinya mengganggu, "sambung Novi.
Di belakang Novi, Doni memonyong-monyongkan bibir sambil memainkan mata melirik-lirik ke arah Novi, menggoda Aris, lalu buru-buru menunduk pura-pura memeriksa rantang begitu Novi menoleh.
"Makasih atas pengertiannya adikku, "ujar Aris senyum.
Novi mengangguk, tapi sebersit perasaan kurang nyaman entah kenapa muncul mendengar kalimat "adikku" yang diucapkan Aris.
Padahal biasanya dia senang sekali mendengar kalimat itu keluar dari mulut Aris.
Siapa juga yang nggak bangga jadi adiknya Aris, selain tampan dan atletis juga begitu care kepadanya, hanya kepadanya. Kenapa Novi bisa bilang hanya kepadanya? Karena selama ini Aris memang selalu cerita soal apapun kepada Novi. Termasuk cerita soal cewe-cewe yang menaksir diri Aris namun tak pernah ditanggapinya. Begitu juga Novi selalu cerita apa-apa kepada Aris, dan Aris akan selalu ada untuk membantu atau sekedar mendengarkan. Kecuali soal Rudi, Novi nggak enak cerita ke Aris karena Aris dan Rudi berteman.
Tapi pokoknya intinya adalah hanya Novi cewe yang selama ini diperhatikan Aris. Tapi kalimat "adikku" itu.."Ah.. mungkin cuma perasaanku saja, "batin Novi.
Setelah berbincang sebentar menanyakan keadaan Rudi, Novi pamit dengan membawa Mang Asep untuk pulang, karena ada beberapa urusan yang mengharuskan kehadiran pria itu. Aris pun mengantarkan mereka menuju tempat parkir dimana Novi memarkirkan mobil.
Begitu mobil sudah berhasil dimundurkan dan sedang berjalan keluar dari parkiran. Aris pun berjalan untuk menyusul Doni ke kantin.
"Drrt.. drrt.. "Ponselnya terasa bergetar, Aris mengeluarkan dari sakunya, terlihat pesan di layarnya dari Novi, isinya bergambar tiga buah tinju πππ.
"Dih nih anak sempat-sempatnya, "ujar Aris nyengir lalu berbalik menatap mobil Jeep yang baru saja keluar dari parkiran.
Sesampai di kantin, Aris dan Doni memesan teh manis hangat dan meminjam piring kosong. Lalu mereka pun duduk menikmati bekal yang dibawa Novi. Aris dan Doni ngobrol sambil menikmati sarapan sekaligus makan siang di pojokan kantin yang kebetulan saat itu sedang sunyi. Atau lebih tepatnya Doni yang sarapan, sementara Aris cuma memandangi sambil menikmati teh manis hangat.
__ADS_1
"Jadi kita hanya harus meminumkan air yang diberikan Nyi Sari itu ke Rudi, gitu? "Tanya Doni.
Aris mengangguk.
"Berarti nggak sulit dong, "ujar Doni lagi.
"Iya, kuharap dengan begitu Rudi jadi sembuh dan masalah selesai tanpa menimbulkan banyak pertanyaan, "jawab Aris.
"Kan memang udah baikan keadaannya sekarang, "ujar Doni.
"Bekas membiru di lengannya, udah mulai pupus, "sambungnya.
"Oh begitu toh? "Berita yang mengagetkan dan juga melegakan bagi Aris. Berarti selesai sudah urusan dengan isteri muda buyutnya, benar-benar melegakan.
"Lha lu kok nggak bilang? "Protes Aris.
"Mm.. awalnya aku kurang yakin sih, namanya keadaan lapar, "jawab Doni dengan enteng.
Awalnya Aris cuma memperhatikan Doni makan, tapi sekarang selera makannya pun jadi muncul karena sudah merasa lega. Dia pun mengisi piring kosong yang mereka pinjam dari penjaga kantin.
Aris tidak memperdulikan ucapan Doni, melanjutkan menyuapkan makanan ke mulut.
"Beneran deh, Novi itu bakal jadi isteri yang luar biasa, cantik, bisa masak, ngurus rumah, dan.. "Sambung Doni, tidak cukup dengan ucapan kini kedua tangannya di liukkan di depannya seperti menggambar gitar.
"Njir ni bocah, "batin Aris, dia tau Doni menyindirnya, pasti gara-gara ucapan Bik Isah tadi malam.
"Emang lu nggak tau soal perjodohan lu sampai tadi malam? "Tanya Doni.
"Nah kan jadi makin panjang, "batin Aris lagi. Di sentilnya air kobokan hingga beberapa butiran kecil air menyiprat ke Doni. Tapi ni anak malah ketawa panjang.
"Udahan eh, "ujar Aris, dia melirik penjaga kantin, kuatir tuh ibu marah ngelihat tingkah mereka berdua. Udah cuma pesen teh manis hangat, minjem piring, bikin ribut pula.
__ADS_1
Tapi Doni nggak berhenti tertawa sampai terbatuk-batuk.
"Syukurin lu, "ujar Aris kini gantian tertawa.
Selesai menghabiskan sarapan sambil bercanda-canda, mereka berdua segera bergegas menuju kamar dimana Rudi dirawat.
Mereka memasuki kamar yang hanya berisikan satu ranjang. Itu atas dasar permintaan Aris kepada Doni tadi sebelum berangkat, agar tidak ada pasien lain yang melihat keadaan Rudi.
Aris memperhatikan lengan Rudi yang masih tertidur pulas, tidak tampak ada bekas membiru seperti sebelumnya.
"Aneh, bekas membiru itu langsung hilang, "ujar Aris berbisik.
"Lha iya, aku juga heran, sepanjang perjalanan kami menuju kesini tadi tanda biru yang seperti akar itu memang berangsur pupus, tapi kini malah sudah tidak ada sama sekali, "jawab Doni juga berbisik.
Aris berpikir sepertinya air di dalam botol minyak angin tidak diperlukan lagi untuk mengobati Rudi. Lagian hal-hal seperti ini menurut Aris biasanya memang hanya seperti sugesti ataupun plasebo. Kalau pasien yakin sembuh ya sembuh.
"Yuk ah kita keluar, biar Rudi beristirahat, "ujar Aris berinisiatif, toh Rudi sudah terlihat normal dan tak perlu diganggu istirahatnya pikirnya.
Doni mengangguk setuju. Lalu dengan perlahan agar tidak mengganggu Rudi yang masih terlelap mereka pun keluar ruangan.
"Cklik, "pintu ditutup dari luar oleh Aris. Sesaat setelah bunyi "cklik, "bibir Rudi yang tadi terlihat terbaring lelap tiba-tiba menyeringai.
Karena tidak ada lagi yang harus dilakukan di Rumah Sakit, dan jam besuk juga sudah habis maka setelah menyelesaikan berbagai urusan administrasi Aris dan Doni segera ke parkiran, untuk berboncengan dengan mengendarai trail. Rencananya malam nanti selepas Maghrib mereka akan kembali menjenguk Rudi.
Di parkiran..
"Njir, kurang angin kayaknya ni ban motor, "ujar Aris melihat-lihat ke bawah ke arah ban bagian muka dan belakang lalu menggoyang-goyang motor.
"Udahan jalan, lu ngebales ni kan? "Gerutu Doni di boncengan.
"Berat gua cuma 40 kilo itu pun sesudah ditambah makan tadi, "sambungnya.
__ADS_1
Aris tertawa lalu menjalankan motor sampai ban depan sedikit terangkat.
"Set lu ah, "ujar Doni sambil buru-buru berpegangan, mereka berdua pun tertawa dan segera meninggalkan rumah sakit.