
Ibu penjaga kantin tersenyum sumringah saat Aris membayar sarapan mereka, sedangkan Aris senyum kecut karena Doni makannya sampai dua piring dengan berbagai lauk. Setelah membayar makan, Aris dan Doni keluar dari kantin dan berjalan menuju lobi.
Untuk mencapai lobi di depan, mereka harus berjalan melewati taman kecil di tengah Rumah Sakit yang disediakan sebagai tempat bersantai bagi para pembesuk dan juga pasien.
Terlihat beberapa pasien sedang duduk disana di temani keluarganya, yang membedakan pasien dengan pembesuk adalah pakaian yang mereka kenakan. Ada juga terlihat seorang pasien perempuan tua sedang duduk di kursi roda sedang berbicara dengan seorang perawat yang menjaganya, lalu ada beberapa pembesuk sedang duduk-duduk dibangku-bangku plastik berwarna hitam yang disediakan berbaris seperti di halte, beberapa diantara mereka sedang mengobrol sementara yang lainnya sedang memainkan ponsel.
Setelah melewati taman, Aris dan Doni tiba di koridor yang mengarah ke lobi. Mereka harus menemui perawat yang berjaga di disana untuk meminta izin jenguk.
Perawat cantik yang sehari lalu mereka temui sepertinya sedang tidak bertugas, kali ini yang berada di belakang meja resepsionis adalah perawat yang juga cantik namun jauh lebih muda. Menilik dari raut dan perawakannya sepertinya baru selesai kuliah. Doni melet-melet di belakang Aris, "bening banget men, "bisiknya. Njir aroma petai menyembur hangat ke arah wajah Aris.
"Ada perlu apa pak? "Tanya si perawat dengan sikap formil begitu Aris dan Doni tiba di depan mejanya.
"Mmm.. kami sebenarnya hendak menjenguk teman, tapi teman saya ini terlebih dahulu kepingin berkenalan, "ujar Aris tersenyum lebar menyampaikan aspirasi Doni.
Eh Doni yang tadinya berdiri di belakang langsung maju ke depan dan buru-buru julurkan tangan hendak menyalami si perawat. Aris menatap Doni kaget, belum pernah ni bocah seagresif ini. "Apa ini yang disebut cinta pada pandangan pertama, "batinnya.
"Saya sudah punya dua anak bang, "ujar si perawat ramah. Dia tidak menyambut salam Doni tapi memberi isyarat dengan menunjuk kamera CCTV di pojok atas ruangan.
Aris buru-buru menunduk pura-pura memperbaiki tali sepatunya, padahal dari bawah yang dihalangi meja resepsionis sehingga tidak terlihat oleh si perawat dia menertawakan Doni. "Sepertinya ini yang disebut cinta bertepuk sebelah tangan, "batin Aris terkikik pelan.
"Asem, udah punya dua anak, "batin Doni garuk-garuk kepala.
"Oh nggak apa mbak, hitung-hitung silaturahmi, siapa tau mbak punya adik, atau tetangga yang juga cantik, "ujar Doni nggak mau kalah. Pada badge nama di dada Doni dapat melihat nama si perawat Anita.
"Adik saya ada dua, keduanya cowok, "jawab si perawat tertawa ditahan.
Aris sudah selesai "mengikat tali sepatu," lalu menyikut Doni memberi isyarat, "udahan main-mainnya. "
"Hmm.. Kami hendak menjenguk teman kami, namanya Rudi Mahesa bu, "ujar Aris masih tersenyum.
"Sebentar pak, "ujar si perawat. Sesaat terlihat dia mengetik di keyboard komputer, memeriksa file pasien.
"Teman bapak sepertinya sudah keluar tadi malam, "ujarnya tanpa melepaskan pandangan dari layar komputer.
Doni dan Aris saling berpandangan dengan heran, lha kok bisa?
__ADS_1
"Coba kutelpon, "ujar Doni lalu berjalan sedikit menjauh dan segera menelpon Rudi.
Aris segera menyelesaikan urusan administrasi. Saat mengucapkan terima kasih dan hendak pergi si perawat memberinya secarik kertas, Aris memperhatikan kertas berisi nomor telpon tersebut dan tersenyum.
Setelah itu dia menghampiri Doni yang berdiri tak jauh darinya.
"Gimana men? "Tanya Aris.
"Nggak Aktif, "jawab Doni.
"Lu yakin ponselnya lu bawa sewaktu mengantarnya kesini? "Tanya Aris lagi.
"Kok gua? "Tanya Doni bingung.
"Lha ya elu dong yang bisa bawa kalo memang tuh hape dibawa, Rudi kan waktu itu sedang pingsan, "jelas Aris.
"Oh, "ujar Doni.
"Oh apa? "desak Aris.
"Dih ni anak, "batin Aris.
Aris pun berinisiatif untuk kembali mendatangi Anita si perawat yang sedang piket. Dia menjelaskan kalau teman mereka Rudi yang tadi malam keluar dari Rumah Sakit bukanlah penduduk lokal, dan dia khawatir kalau sampai temannya itu nyasar kemana-mana.
Aris memberikan nomor ponsel Doni kepada Anita untuk dihubungi bila saja nanti Rudi kembali atau ada info lain tentang teman mereka itu.
Setelah itu dia kembali mendatangi Doni dan memberikan secarik kertas berisi nomor telpon Anita.
"Lha kok bisa? "Tanya Doni heran, dia melirik Anita yang juga sedang menatapnya. Dengan grogi diangkatnya kertas yang diterimanya dari Aris, menunjukkannya pada Anita. Anita mengangguk dan tersenyum.
"Jangan buru-buru seneng dulu Don, catat nomornya di dalam ponselmu. Nanti si Anita itu akan menghubungimu kalau dia punya info soal Rudi, "jelas Aris.
"Trus kita sekarang kemana? "Tanya Doni sambil mencatat nomor Anita ke ponselnya.
"Pulang, siapa tau Rudi udah pulang dan tadi berselisih jalan dengan kita, "jawab Aris. Doni berjalan terburu-buru mengikuti Aris sambil tak lupa melambaikan tangan pada Anita.
__ADS_1
Lalu mereka berjalan kembali ke parkiran. Mereka berdiam sebentar di dalam mobil, mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Aris menyalakan mesin dan menghidupkan AC agar tidak terasa pengap dan gerah.
"Apa mungkin dia ngerjain kita? "Tanya Doni, karena dia tahu Rudi itu suka iseng. Bisa saja dia membalas kelakuan Doni yang meminta Novi memasakkan ikan sepat mini tempo hari.
"Masak hal seperti ini dibikin bercanda, "ujar Aris dengan ekspresi berpikir sambil mengetuk-ngetukkan jari di setir.
"Kenapa kita nggak telpon Novi aja? "Tanya Doni lagi.
"Kita kan belum tahu kejadian sebenarnya, mengingat apa yang terjadi belakangan ini ntar mereka malah panik, "jawab Aris.
"Trus kalo mereka terlanjur panik eh tau-tau Rudinya nongol gimana? "Tanya Aris.
Doni mengangguk-angguk.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Dan mobil pun keluar dari parkiran berjalan menuju ke arah rumah.
Sementara itu di rumah..
Barusan Novi mengangkat pakaian kotor Aris dan kedua temannya yang masing-masing mereka letakkan di keranjang plastik di kamar mereka.
Saat hendak memasukkan pakaian-pakaian kotor ke mesin cuci, dia menemukan pakaian Rudi yang dikenakannya sewaktu darahnya disedot lele jadi-jadian.
Novi tertegun sambil memperhatikan baju Rudi yang saat ini dibentangkannya. Baju itu penuh lumpur dan darah kering.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kok kelihatannya parah sekali? "Batin Novi kaget juga heran.
"Apa yang sebenarnya disembunyikan kak Aris dan kedua temannya? "
"Dan lagi terasa begitu banyak hal aneh bergantian datang susul menyusul, apa ini semua saling berhubungan? "
Tiba-tiba dari sudut matanya Novi merasa melihat ada gerakan di pintu samping, tapi begitu dia menoleh tidak ada apapun disana.
"Bunda? "Tanya Novi sambil berjalan mendekati pintu samping rumah yang mengarah ke pepohonan salak. Dia benar-benar yakin tadi melihat suatu bayangan disana.
Novi bergerak membuka lebar pintu yang tadinya hanya terbuka separuh, dan dia terlihat kaget.
__ADS_1