
Tepian sungai di sekitar lubuk bagaikan dilanda hujan deras. Air yang tiba-tiba menyembur tinggi keluar dari kedalaman sungai membasahi daratan dalam radius 5 meter di sekelilingnya.
"Byuur!!! "Semua yang hadir refleks mengangkat tangan untuk menangkis air yang turun.
Setelah air menyembur tinggi selama beberapa detik, lalu samar-samar terlihat sesosok tubuh yang sedang di kerumuni ikan lele terlontar keluar dari air.
"Blek, "suara jatuhnya tubuh tersebut, Bik Isah dan Anita yang berada paling dekat dengan sosok yang jatuh di tanah segera bergerak mundur karena khawatir itu adalah sebuah serangan. Sambil bergerak mundur mereka berusaha memperhatikan dengan seksama dibawah terpaan air yang belum reda.
"Doni!! "Teriak mereka dengan senang hampir bersamaan, begitu mengetahui orang yang dihantarkan air itu adalah Doni.
Terlihat tubuh "gempal" Doni basah kuyup dengan mengenakan kaus yang sobek, tengah bersusah payah membalikkan tubuhnya yang jatuh tertelungkup.
Setelah beberapa saat air yang terlontar keluar dari dasar sungai reda, menyisakan genangan air disana sini di daratan sekitar sungai. Ikan-ikan lele berbagai ukuran yang tadi mengerumuni Doni kini sebagian melompat-lompat, sedang sebagian lagi menggeliat-geliat untuk berlomba kembali ke sungai.
Pemandangan yang menggiurkan, dua dari teman Mang Asep yang berada paling dekat dengan mereka kesenangan melihat hal tersebut dan iseng mulai menangkapi ikan yang hendak melarikan diri, tapi sayangnya Nyi Sari melarang.
"Jangan, biarkan saja mereka pergi!! "Tegur Nyi Sari.
Walau heran mendengar ucapan Nyi Sari tapi kedua teman Mang Asep tersebut pun surut dan batalkan niat mereka, beberapa ikan yang sudah sempat di tangkap dengan berat hati mereka lepaskan.
Nyi Sari melarang bukan tanpa alasan, walau dia tidak pasti akan wujud aslinya tapi ia melihat makhluk-makhluk itu sebagai sesuatu yang lain. Dalam penglihatannya yang dianggap ikan oleh orang lain baginya hanyalah gumpalan cahaya berwarna merah bergerak-gerak, yang pasti bukan lah ikan lele.
Doni terbatuk-batuk dan duduk di tanah yang becek dengan tatapan nanar. Anita langsung berjongkok di sampingnya memperhatikan, sedang Bik Isah menghampiri dan berdiri di sebelahnya, dia hendak menanyakan dimana Aris, tapi melihat Doni yang masih megap-megap dia merasa perlu memberi waktu sebentar sebelum melontarkan pertanyaan.
Tapi tiba-tiba..
"Hoooooi...!!!Terdengar teriakan dari seberang, menyusul terdengar ranting-ranting yang patah terinjak juga suara daun berkeresekan karena tertabrak dan terinjak sesuatu yang sedang bergerak cepat. Nanang dan Karta yang berada di tepian sungai di seberang sana terlihat segera berdiri dan mencabut golok di pinggang mereka, bersiaga.
Beberapa detik kemudian terlihat seseorang berlari menerabas semak belukar.
"Aris.."ujar Bik Isah dengan suara bergetar, kaget campur senang. Betapa lega begitu menyaksikan ternyata keponakannya masih hidup dan sehat tak kurang suatu apapun.
Terlihat Aris saking terburu-burunya berlari hampir terjerumus dari tebing sungai. Untungnya dia segera menghentikan lari dan menyeimbangkan diri begitu mencapai bibir tebing. Tanah dan kerikil dimana Aris hampir terjerumus, berjatuhan dari tebing sungai ke bagian tepian sungai yang lebih rendah yaitu yang berjarak sekitar 4 meter dibawahnya.
__ADS_1
Karta dan Nanang yang tadinya bersiaga kembali menyarungkan kembali golok ke pinggang mereka dengan ekspresi lega.
"Hati-hati den Aris, "teriak Karta melihat Aris yang terlihat berusaha menuruni dinding tebing.
Tapi kekhawatiran mereka tidak beralasan, karena Aris dengan cekatan dapat menuruni lereng menuju bagian yang lebih rendah dengan sangat cepat.
Setelah berada di tepian sungai yang rendah, terlihat oleh mereka yang berada disisi sebelah sini Aris berbincang sebentar dengan Nanang dan Karta yang menunjuk-nunjuk ke seberang. Setelah itu Aris dan kedua teman Mang Asep itu berenang menyebrangi sungai untuk berkumpul dengan rombongan Bik Isah dan Nyi Sari.
Begitu tiba di tepi sungai Bik Isah tak kuasa menahan haru dan memeluk keponakan laki-laki satu-satunya itu. Bik Isah membisikkan beberapa kata sambil mengelus-elus kepala keponakannya yang sempat dipikirnya hilang dibawa oleh Anna atau mungkin tewas tenggelam di lubuk, Aris terlihat mengangguk-angguk khidmat mendengarkan ucapan bibinya. Aris lalu menunjukkan ke rombongan, keris temuannya yang menjadi tujuan mereka kesitu, dia juga menceritakan secara ringkas apa yang mereka alami sebelumnya.
Setelah itu Aris menghampiri Doni yang sudah bisa nyengir. "Dodol lu ah, gua sampai berlari seperti dikejar setan untuk menyusul lu, "ujar Aris meninju pelan bahu sahabatnya.
Tapi tiba-tiba cengiran Doni berubah dengan ekspresi menegang. "Ada apa men? "Tanya Aris khawatir. Melihat ekspresi Doni dia dan seluruh rombongan kembali bersiaga.
Doni tidak menjawab, tapi buru-buru berdiri dari selonjorannya, setelah berdiri dia mengguncang-guncang celananya. Ternyata barusan dia merasa ada yang bergerak-gerak di dalam celananya.
Di guncang-guncang seperti itu terlihat seekor ikan lele dengan santainya bergerak keluar dari bagian bawah celana Doni. Aris nyengir dan mengangkat ikan nakal tersebut lalu melemparkannya ke tengah sungai.
"Ada lagi Don? "Tanya Aris sedikit geli, karena dilihatnya Doni masih mengguncang-guncang celana. Doni merasa masih ada sesuatu yang mengganjal di dalam celananya, tapi kali ini bukan sesuatu yang lunak seperti ikan tadi.
Semua yang memang sedang mengerumuni Doni melihat benda tersebut.
Benda yang lebih tepat untuk disebut sebagai senjata itu berbentuk lidah api berukuran sekitar 25 cm, dibuat dari logam berkilat bergagang besi.
"Kujang pusaka, "desis Nyi Sari (untuk jelasnya seperti apa bentuk kujang silahkan tanya Mbah Google). Semua orang kini menatap Nyi Sari karena ucapannya tersebut. Kedua teman Mang Asep yang tadi hendak menangkapi lele segera menyadari mengapa Nyi Sari melarang tindakan mereka.
"Ternyata ikan-ikan tadi yang menyelipkan benda ini ke dalam celanamu, "ujar Nyi Sari.
"Sudah kuduga mereka bukan ikan sebenarnya, hanya saja aku tidak bisa memastikan apa mereka itu dan kenapa mereka membantu kalian, "sambung perempuan tua itu.
Doni baru sadar, memang seingatnya disaat dia tertarik air dan terbenam tadi, ikan-ikan lele tersebut mengerumuninya, hampir di sekujur tubuh. Dan sebagian ikan itu malah meniupkan udara ke hidungnya. Tanpa bantuan udara yang di berikan ikan-ikan tersebut niscaya dirinya mati tenggelam sebelum tiba disini.
"Aneh kalau mereka membantu, bukankah mereka adalah bagian dari kesaktian Anna? "Tanya Aris bingung.
__ADS_1
"Atau mereka justru adalah korban-korban Anna dan kekasihnya, "ujar Doni getir.
Mereka yang hadir merinding mendengar ucapan Doni membayangkan jika benar ikan-ikan tersebut adalah jelmaan dari korban Anna dan kekasihnya.
Kedua teman Mang Asep yang tadi hendak menangkapi ikan lele, kini saling sikut.
Karena semua mata menatapnya, dengan grogi Doni menceritakan kejadian yang dia alami sebelumnya.
Beberapa saat sebelumnya di lorong bawah tanah..
Setelah berjuang sesaat perlahan kesadaran Doni mulai sirna, dia hanya merasakan dinginnya air dan suara berkecipak di sekeliling, semua menjadi gelap. Terasa ikan-ikan mengerumuninya tanpa sanggup dia usir karena sudah tak kuasa menggerakkan tubuh sama sekali. Lalu..
"Doni.., "terdengar suara perempuan, suara itu terdengar begitu dekat dengannya. Doni mencoba membuka mata tapi buru-buru menutupkannya kembali karena keadaan di sekitar ternyata begitu terang.
"Dimana aku, "batinnya lalu mengerjap-ngerjapkan matanya agar terbiasa.
Perlahan matanya terbiasa dan dia melihat siluet dari sekumpulan orang yang sedang berdiri dihadapannya. Dia kembali mengerjap-ngerjapkan mata untuk menajamkan pandangan. Sayangnya dia tetap tidak dapat melihat dengan jelas wajah orang-orang ini karena mereka berdiri membelakangi cahaya.
"Siapa kalian? "Tanya Doni.
"Apa mau kalian? "Tanyanya lagi.
"Tolong.."Ujar suara si perempuan, suara itu begitu jelas dan jernih terdengar walau Doni tidak bisa menebak siapa diantara orang-orang tersebut yang bersuara.
Tapi sebelum pertanyaannya terjawab dia merasakan pandangannya kembali pudar, tubuhnya bagai tersedot dan perlahan kesadarannya pulih, begitupun samar-samar dia dapat mendengar suara orang memanggil-manggil. Ada juga suara lain yang meminta tolong dan ada juga suara-suara sedu sedan, suara-suara itu bercampur baur antara suara laki-laki dan perempuan.
"Tolong.."
"Bantu.. kami.."
"Bebaskan.."
Doni mengakhiri kisahnya dan menatap sekeliling, hening..Tidak ada seorang pun diantara rombongan yang angkat bicara, mereka hanya menatapnya dengan tatapan serius, menyimak.
__ADS_1
Setelah mendapat arahan sebentar dari Nyi Sari rombongan segera bergerak meninggalkan tepian sungai karena merasa tidak ada hal lain yang hendak mereka lakukan, mereka bergerak menuju ke rumah Bik Isah. Untuk beristirahat dan mengatur strategi. Hasil dari misi mereka di hari ini sangat lah baik, tinggal merembukkan bagaimana cara untuk mengalahkan si penyihir di perkampungan yang terbenam.