Segi Tiga (Driehoek)

Segi Tiga (Driehoek)
Pertarungan di Dalam Gua


__ADS_3

Setelah menyadari penyihir ini kembali menggunakan ilusi untuk menipu dirinya dan Doni, Aris pun tidak lagi memperdulikan sosok menyeramkan Anna dan segera menatap sekeliling untuk mencari keberadaan sosok aslinya. Dia tidak ingin terperdaya dan mengulangi kesalahan sama seperti saat bermeditasi di pinggir sungai.


Dan keputusan Aris benar, sosok mengerikan Anna yang mengikutinya perlahan memudar lalu menghilang begitu tidak lagi di pedulikan.


Begitu pun sosok asli Anna tidak juga terlihat berada di sekitar mereka walau beberapa saat lamanya dia mencari-cari dengan pandangan.


Hal lain yang didapatinya adalah tempat ini gelap, tapi bukan berarti saat ini sudah malam. Menilik sekeliling, sepertinya mereka sedang berada di dalam gua yang tidak tersentuh cahaya matahari. Di bagian bawah terserak hamparan bebatuan besar dan kecil. Suara bergemericik terus menerus yang masuk hingga ke mimpinya tadi ternyata berasal dari air yang mengalir di sekitar tempat dimana Doni tadi tersadar.


Selain itu beberapa meter di arah samping Doni yang saat itu masih terduduk, kelihatannya air semakin dalam. Sepertinya dari sanalah tadi mereka berdua terbawa air hingga menyembul dan terdampar disini.


Aris memperhatikan dalam samar dibeberapa tempat ada akar-akar dari pohon bambu yang menjulur keluar dari tanah. Menurut pemikirannya mereka saat ini berada di bawah tanah. Gua ini berukuran sekitar sepuluh meter lebarnya, di sebelah depan tempatnya berdiri terlihat lorong memanjang, gelap.


"Sial, aku tidak membawa ponsel, "batinnya, dia mengingat bahwa sebelum terjun ke sungai untuk menyelamatkan Doni dia meletakkan ponsel dan bajunya di tempatnya bermeditasi sebelumnya.


"Padahal saat ini senter dari ponsel akan sangat berguna, "keluhnya dalam hati.


Karena tidak ada terlihat siapa-siapa lagi disini, selain dirinya dan Doni. Aris segera menghampiri Doni yang sedang duduk menatap sekeliling.


"Dimana kita ini men? "Tanya Doni.


"Entah lah, jawab Aris.


Doni mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mengeluh.


"Duh ponselku, basah, "ujarnya.


Aris nyengir, dia teringat bagaimana Doni dengan gagah berani mencoba menolongnya, dan barusan juga Doni yang kembali menjaganya.


"Nanti aku belikan ponsel baru, "ujar Aris menenangkan, dipegangnya tangan temannya itu mengajaknya berdiri.


Dengan susah payah Doni berdiri.


"Sepertinya kita di dalam gua atau terowongan Ris, "ujar Doni.


Aris mengangguk, sambil menatap ke depan ke arah hamparan gelap yang sepertinya lorong memanjang, tidak tahu menuju kemana.


"Jadi bagaimana sekarang? "Tanya Doni.


Aris tidak menjawab, dia berjalan beberapa meter ke arah samping Doni, disitu airnya cukup dalam. Dia jejak-jejakkan kakinya ke dalam air.


"Sepertinya kita terhanyut lalu keluar dari tempat ini tadi Don, "ujar Aris.


"Aku yakin air disini kalau kita selami dapat membawa kita kembali ke lubuk, "sambungnya.


"Heel goed.. "

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan dari kegelapan diiringi tepukan tangan pelan.


"Ini si iblis betina, "batin Aris lalu menoleh ke arah kanannya.


Dan benar sosok tubuh Anna yang sebenarnya yaitu yang berwujud perempuan cantik dengan ekspresi buas kini keluar dari tempat yang sangat gelap tadi. Anna muncul diiringi satu sosok kecil di sampingnya. Siapa lagi kalau bukan kera jadi-jadian jelmaan si raja begal.


Doni buru-buru meraih batu sekepalan tangan yang berada di dekat kakinya.


Aris juga mengikuti mengambil batu, dan tanpa basa-basi dia langsung melemparkannya ke sosok Anna dan kera kecil berkali-kali.


"Bugh..bugh..pletak!! Berkali-kali batu mengenai tubuh Anna yang ternyata tidak pintar mengelak. Namun berbeda dengan Anna, si monyet kecil dapat menghindar dengan lincah meloncat kesana kemari.


Anna menggeram marah, tidak ada satupun lemparan itu yang dapat melukainya tapi sepertinya itu cukup membuatnya kesal.


Aris melihat lawan kewalahan dan tidak mau memberi kesempatan. Dia mengambil dua buah batu, di genggamnya dengan kedua tangan, setelah itu dia melompat maju dan hantamkan batu di tangan sekuat tenaga ke kepala Anna.


"Bruagh!!!! "


Anna terhuyung mundur.


"Godverdomme!! "Desisnya geram.


Melihat lawan terhuyung, Aris menyusul memberikan tendangan ke dada lawan sehingga Anna terpental mundur dan jatuh terduduk.


Anna kembali menggeram lalu dalam keadaan masih terduduk komat-kamit merapal mantera. Udara terasa menjadi semakin dingin, apalagi saat itu pakaian yang dikenakan Aris dan Doni memang sudah basah. Air di sekitar mereka terlihat bergolak seperti menggelegak, dan mulai terlihat ikan-ikan lele bermunculan disana sini, sungut atau kumis mereka terlihat mencuat keluar dari air.


Aris pun tidak mau memberi kesempatan untuk Anna mengeluarkan sihirnya dan segera menerjang kembali.


Saat mengejar itulah dia melihat beberapa meter di sebelah kirinya, sebuah keris dengan bentuk persis dengan keris yang di lihatnya di dalam mimpi barusan. Benda itu tergeletak setengah tersandar di dinding gua yang gelap. Dia jadi teringat kembali bagaimana Anna yang mengaku sebagai Nora dalam mimpinya begitu takut pada keris tersebut. Dan dia jadi teringat saat sebelumnya bergulat di dalam lubuk, sepertinya benda bercahaya yang menghampirinya dan menghalau Anna di dalam lubuk juga adalah keris ini.


Tapi begitu Aris melihat kembali ke arah Anna yang masih komat-kamit merapal mantera dan air yang bergolak makin keras. "Sepertinya ini yang harus didahulukan, "batinnya memutuskan dan diapun meneruskan niat awalnya menerjang ke arah Anna yang berada beberapa meter di hadapannya.


Tapi sebelum serangan Aris sampai untuk menyerang Anna tiba-tiba..


"Nguk..nguk!! "Kera jadi-jadian mencakar lengannya membuat perhatiannya teralihkan. Aris melompat mundur sambil menepiskan kera kecil yang berhasil membuat lengannya tergurat bekas cakaran cukup dalam. Tepisan kaget Aris tersebut ternyata berhasil membuat si kera terpental lalu menghantam dinding.


Doni tidak mau tinggal diam, disambutnya tubuh kera yang setelah menghantam dinding kini terpental ke arahnya dengan tendangan rendah.


"Bletak!! Nguk!! "Si kera terkena tendangan telak di tubuhnya lalu terpental dan hanyut di air.


"Sial, "batin Aris. Karena begitu dia melihat ke arah Anna, ternyata si penyihir ini telah selesai merapal manteranya. Kini terlihat sekelompok lalat bagai gumpalan awan hitam terbang mengelilingi sekujur tubuhnya, buzzz.. buzzz.. suara dengungan makhluk-makhluk kecil bersayap tersebut. Hitamnya kumpulan lalat begitu kontras dengan pakaian Anna yang putih.


"Sepertinya inilah kemampuan Anna yang diceritakan Nyi Sari dulu, "batin Aris.


Anna sesaat menoleh ke arah kera jelmaan kekasihnya dan menggeram. Lalu dengan ekspresi terlihat sangat marah di dorongkan kedua tangannya ke depan, kumpulan lalat bergerak pesat menerjang tubuh Aris. Tapi Aris meliukkan tubuh dan berhasil mengelak menyamping. Serangan Anna pun menghantam dinding gua di belakang Aris.

__ADS_1


"Bruak!! "Tanah bagian dinding gua yang terhantam berterbangan kesana kemari.


"Sepertinya pukulan penyihir ini tidak terlalu kuat, aku juga sanggup kalau cuma membuat dinding gua yang terbuat dari tanah ini pecah berkeping-keping dengan tendangan ataupun pukulan, "batin Aris.


Begitu pun Aris menyadari seandainya pukulan tersebut mengenainya pasti rasanya cukup menyakitkan. Belum lagi kemungkinan besar serangan itu memiliki kekuatan racun atau sesuatu yang mistis dan berbahaya. Berdasarkan kesimpulan itu maka dia tidak berani meremehkan serangan Anna dan berusaha mengelak setiap datangnya serangan.


Sambil mengelakkan serangan Anna dia berkelit kesana-kemari lalu mengambil batu yang banyak berserak di bawah kakinya dan membalas melemparkan ke arah Anna.


Berkali-kali tubuh Anna pun terkena lemparan batu, tapi sama seperti sebelumnya tetap saja tidak ada luka yang dia dapatkan.


Anna menyerang Aris bertubi-tubi dan pertarungan sengit pun terjadi di dalam gua dengan saling melemparkan serangan. Pada satu ketika Aris tergelincir karena batu yang dipijaknya bergulir. Saat itu di dalam lorong di tempatnya berdiri air sudah setinggi pertengahan betisnya, menyulitkan pergerakan. Pada saat bersamaan serangan Anna menghantam hampir mengenai kepalanya seandainya saja tidak ditangkis dengan lengan.


Tubuh Aris terdorong mundur karena saat itu posisi kuda-kudanya sedang goyah. Ternyata pukulan Anna yang ditangkisnya dengan lengan mengakibatkan sakit luar biasa, Aris meringis kesakitan karena tangannya seperti di pukul bara panas.


Doni sampai berteriak karena takut temannya kenapa-napa.


Belum lagi pulih, Anna mencecarnya kembali dengan dua serangan berturut-turut. Aris melompat mundur sambil memeriksa tangannya. Ada bekas melepuh, syukurnya hanya di bagian kulit saja yang melepuh. Buru-buru Aris menciduk air dibawahnya dan mengoleskan ke tangan, terasa dinginnya air sedikit mengurangi rasa sakit.


Anna tertawa cekikikan, menyeramkan. Kini posisi Aris berada di tepi air yang dalam, sedangkan Doni berada diantara Anna dan Aris di tempat yang masih kering, terabaikan.


"Je bent dood!! "Bentak Anna lalu terlihat tangannya menghitam, kali ini bentuk awan lalat lebih besar dari sebelumnya berkumpul hingga ke sikunya. Tangannya segera di dorongkan ke depan ke arah Aris yang terpojok di tepi air yang dalam.


"Sial, "batin Aris.


Doni yang merasa mendapat kesempatan karena tidak dipedulikan bergerak secepat yang dia bisa, sambil berlari dia merogoh kantongnya. Dia teringat lubang di tengkuk Anna sebelumnya, dan kini dia mengambil beberapa keping uang logam yang ada di sakunya.


Beruntung Anna tidak menyadari gerakan Doni karena terfokus kepada Aris. Doni menggenggam uang logam di tangan kanan lalu secepat mungkin masukkan koin-koin tersebut ke lubang di tengkuk Anna.


"ARGH!!!! "Anna segera meraih tengkuknya, kesakitan. Sekitar empat buah koin berhasil dimasukkan Doni kelubang di tengkuknya. Sedangkan Doni begitu berhasil memasukkan koin segera melompat mundur sejauh mungkin.


Anna meraung-raung berusaha mengeluarkan koin di tengkuknya dengan susah payah. Tubuhnya terhuyung mundur karena kesakitan, sedangkan bercak darah terlihat di jemarinya yang berusaha merogoh lubang di tengkuk. Sepertinya tindakan Doni berhasil melukai penyihir ini.


Aris terperangah kagum dan heran pada sahabatnya karena melakukan hal yang tidak diduganya dan tindakannya membuahkan hasil.


Dengan cepat dia berlari ke arah keris yang tergeletak di belakang Anna. Tangan kanan Anna berusaha menghalangi, menggapai-gapai ke arahnya tapi dengan mudah di elakkan. Aris melakukan sliding di atas hamparan kerikil basah, menjatuhkan tubuh dan meluncur hingga tubuhnya mencapai tempat dimana keris berada.


Mata Anna melotot karena kaget dan geram melihat keris kini sudah di tangan Aris. Terlihat jelas ekspresi perempuan ini ketakutan. Begitupun dia tetap menyerang dengan mendorong kan telapak tangan kirinya berkali-kali mengirimkan lalat yang mengelilinginya untuk menghantam, sementara tangan kanannya masih sibuk memegangi tengkuk.


"BLARR!! "


"BLARR!! "


Dinding tanah berguguran terkena pukulan membabi buta dari Anna. Entah pada pukulan yang ke berapa kalinya dinding tanah yang berjarak sekitar satu meter di kanan Aris akhirnya berlubang tembus sehingga cahaya matahari masuk dari situ.


Bukan cuma sedikit tanah yang amblas karena dinding yang jebol, bahkan sebatang pohon bambu turut terjun memasuki gua. Aris buru-buru melompat menjauh menghindari runtuhan.

__ADS_1


Disaat Aris melompat menjauh dari runtuhan itu, dengan cepat Anna melompat mundur lalu terjun ke dalam air, dengan cepat pula terlihat tubuhnya berubah menjadi lele besar dengan tubuh yang cuma terdiri dari tulang belulang, lalu lele jadi-jadian itu pun menghilang ke air yang dalam.


__ADS_2