
Aris berbaring gelisah di atas ranjang, sudah sekitar satu jam merebahkan tubuh namun dirinya belum juga dapat terlelap. Sudah dicobanya berkali-kali berbalik ke kanan dan ke kiri tapi tak juga membantu karena alam sadarnya masih terus bekerja.
Terlalu banyak hal berat terjadi di hari ini yang mau tak mau mengajaknya untuk tetap berpikir. Yang paling mengganggu benaknya tentu saja adalah harapan bibi dan papanya pada dirinya dan Novi.
Sebenarnya sah-sah saja mereka berharap seperti itu, toh antara Novi dan Aris tidak ada hubungan darah. Hanya saja Aris sudah terbiasa dengan perasaan "Adik - Kakak". Dan itu membuatnya jadi merasa sangat tidak nyaman, juga kesal.
"Argh .. apaan sih bibi dan Papa ini, ada-ada saja, "didalam hatinya menggerutu berkali-kali. Walaupun dia yakin masih dapat merubah keinginan bibi dan papanya tapi tetap saja pembahasan ini sangat mengganggunya, bagai jerawat yang kepingin di pencet rasanya.
Tak lama ponselnya terasa bergetar, Aris meraihnya dari atas meja di samping ranjang. Setelah pengunci layar dibuka terlihat notifikasi WhatsApp muncul di ponsel, ternyata pesan dari Novi.
"Duh", batin Aris
"Gak bisa tidur kak, "bunyi pesan dari Novi.
Sudah bisa diduga gadis itu juga pastinya memikirkan hal yang sama seperti yang dipikirkan Aris.
"Sama, kakak juga nggak bisa tidur, "balas Aris, di ujung kalimat Aris menambahkan emoticon tertawa plus sweat di atas kepala 😅.
Novi membalas dengan mengirim emoticon dengan gambar kepala menunduk bingung atau mungkin ngenes kali ya 😔.
Terlihat di jendela chat tertulis "Novi Dahlia Falguni sedang mengetik..."
Aris menunggu apa lagi kira-kira yang hendak disampaikan gadis ini. Tapi hingga satu menit ditunggu tidak kunjung juga ada pesan masuk dari Novi, Aris menduga mungkin Novi bingung hendak menuliskan apa.
"Ya sudah istirahatlah adikku.."Ketik Aris bermaksud menyudahi. Toh pikirnya masih panjang waktu bagi mereka berdua untuk membahasnya. Lagi pula seandainya Novi tidak setuju dengan perjodohan mereka, dan dia yakin soal itu, tentu saja dia akan mendukungnya.
Baru saja pesannya terkirim, pesan dari Novi kembali muncul. Sepertinya gadis itu akhirnya memutuskan untuk kembali mengirim pesan pada Aris.
"Kalau Novi, nggak masalah kak, "isi pesannya.
"Lha?"
Aris membacanya dan terdiam merenung, karena kalimat Novi terhenti menggantung. Kalimat tersebut bisa berarti beberapa kemungkinan, tidak masalah dengan perjodohan mereka atau.. tidak masalah namun ada tapinya.
"Hhh, "Aris menghela napas.
"Duh jadi kepikiran lagi, "batinnya.
__ADS_1
Dia menyayangi Novi seperti menyayangi dirinya sendiri. Sejak mereka kecil dia selalu berusaha menyenangkan Novi yang baik dan imut itu. Dia akan dengan rela melakukan apa saja demi membahagiakan Novi.
Apalagi Novi adalah yatim piatu. Papa Novi meninggal karena sakit setelah tiga tahun menikah dengan mamanya, disaat mamanya Novi sedang hamil tua. Sedangkan mamanya Novi meninggal saat melahirkan Novi.
Tapi kasih sayang Aris selama ini kepada Novi murni kasih sayang sebagaimana seorang kakak pada adiknya. Saking sayangnya, Aris lebih rela bila Novi bersama orang lain asalkan gadis itu bahagia.
"Istirahatlah adikku, masih panjang waktu untuk kita membahasnya, "balas Aris lalu menambahkan emoticon tersenyum 🙂.
Setelah pesan terkirim ditandai dua centang, diletakkannya ponsel dan coba memejamkan mata, berharap dapat segera tidur.
Baru saja memejamkan mata, ponsel kembali bergetar. Dengan malas Aris meraih ponsel dan melihat ada pesan baru yang masuk. Ternyata dari Novi lagi.
"Dih nih anak, "batin Aris.
"Novi sayang kakak, Bunda, dan Om, kalian lah keluarga Novi, "demikian isinya.
Aris membacanya dan terdiam..
             🌸🌸🌸🌸
Ternyata bukan hanya Aris dan Novi yang gelisah malam ini. Dua kamar dari kamar yang ditempati Aris, Rudi duduk termenung diatas ranjang.
Rudi mencoba menghibur diri, mungkin perasaan dan pikirannya menjadi tak menentu karena kondisi tubuhnya yang sedang kurang sehat.
Perlahan dia turun dari ranjang, membuka pintu kamar dan berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum. Dia sengaja berjalan perlahan, karena memang disebabkan tubuh yang sakit, juga karena tidak ingin membangunkan penghuni rumah yang lain.
Setelah melewati ruang makan, dia tiba di dapur yang saat itu dalam keadaan gelap. Di nyalakannya lampu agar dapat melihat lebih jelas. Diambilnya gelas dari rak lalu menuangkan air di ceret yang terletak di atas meja dapur.
Diteguknya air berkali-kali dari gelas, "segar sekali,"batinnya. Dia merasakan air yang mengalir melalui kerongkongan berhasil mengurangi rasa demamnya.
Rudi sudah mematikan lampu lalu hendak berbalik ke kamar, saat telinganya mendengar sayup-sayup suara perempuan bersenandung di luar rumah. Senandung itu unik karena diucapkan dalam bahasa yang tidak dia pahami.
"Na twintig jaar zullen bloemen bloeien. Driehoeken worden losgemaakt en vrienden worden vijanden."
"Na twintig jaar zullen bloemen bloeien. Driehoeken worden losgemaakt en vrienden worden vijanden."
"Na twintig jaar zullen bloemen bloeien. Driehoeken worden losgemaakt en vrienden worden vijanden."
__ADS_1
Suara itu begitu jernih, dan merdu, tapi menyiratkan kesedihan. Walau ini janggal, entah kenapa Rudi tidak merasa takut dan justru penasaran dengan suara tersebut. Padahal kalau dipikir-pikir, saat ini telah lewat tengah malam, dan adanya perempuan bersenandung di kegelapan di luar rumah bukanlah suatu hal yang normal.
Rudi membuka gerendel dan mendorong daun jendela yang terdiri dari dua bagian hingga terbuka lebar.
Rudi memperhatikan ke arah suara berasal dan kaget karena dia melihat sekitar 10 meter di hadapan jendela dimana dia berdiri, seorang perempuan duduk meringkuk sambil bersenandung.
Perempuan itu duduk di sinari cahaya terang bak cahaya purnama, begitu eksotis. Seperti sedang berada di atas panggung lalu ada lampu dari atas yang menyorotinya. Hanya pada bagian dimana perempuan itu duduk meringkuk saja yang terang, sedangkan sekelilingnya gelap gulita.
Perempuan itu mengenakan pakaian seperti orang-orang di zaman kolonial. Baju terusan putih dengan bagian lengan baju dan rok kembang berenda.
Wajahnya tidak terlihat karena tertutup rambut yang kelihatan kotor dan basah. Pakaian putihnya juga kotor berlumpur disana sini.
Setelah Rudi menajamkan pandangan, baru dia menyadari kedua tangan perempuan itu ternyata diikat ke kakinya sehingga memaksanya duduk meringkuk seperti itu.
Dalam keadaan seperti itu perempuan itu masih saja bersenandung dalam bahasa asing seperti sebelumnya, yang entah apa artinya, tapi dari nada suaranya mengisyaratkan kepiluan.
Tiba-tiba suasana yang gelap menjadi agak terang, ada banyak obor menyala dari kegelapan dan dia mendengar banyak orang berteriak-teriak walau tidak jelas apa yang mereka teriakkan.
Hanya kumpulan obor itu yang terlihat jelas, sedang tubuh para pemegangnya hanya terlihat samar berbaur dengan kegelapan.
Lalu dari keramaian orang-orang yang mengacung-acungkan obor naik turun, terlihat seorang laki-laki Belanda muncul sambil memegang pedang yang terhunus. Pedang tersebut berkilau-kilau memantulkan cahaya diatasnya.
Orang-orang terdengar bersorak senang saat si pria Belanda mengangkat pedangnya. Lalu tanpa bisa dicegah, laki-laki itu menyabetkan pedangnya ke arah leher si perempuan yang terikat.. crash!!!
Rudi hendak berteriak, tapi kejadian itu terlalu cepat, dia hanya terbelalak kaget karena tidak menduga akan melihat hal seperti ini.
Darah muncrat dari pangkal leher si perempuan yang kini jadi terbuka menganga, sesaat tubuh itu mengejang beberapa kali lalu jatuh tak bernyawa.
Sedangkan kepala itu menggelinding ke arah jendela di mana Rudi berada. Anehnya kepala itu bagaikan bola basket yang lentur, menggelinding lalu meloncat-loncat, tiap loncatan makin tinggi. Hingga akhirnya kepala itu hinggap di atas jendela di hadapan Rudi.
Rudi berdiri tegak tak sanggup bergerak, bahkan tidak sanggup untuk memejamkan mata.
Dia melihat kepala seorang perempuan berwajah Eropa yang cantik. Saking dekatnya jarak mereka dia dapat melihat detail wajah rupawan tersebut. Hidung yang mancung, bibir merah proporsional, dan ada sedikit bintik kemerahan di sekitar hidung juga pada pipinya. Mata perempuan itu terpejam, terlihat aliran air mata disudut-sudut kedua matanya.
Ini adalah perempuan yang sama dengan yang dilihat Doni dalam mimpinya, hanya saja Rudi tidak mengetahui itu, karena Doni tidak sempat bercerita apa-apa.
Rudi terdiam kaku, tanpa bisa mengalihkan pandangan dari kepala si perempuan cantik. Terlihat darah segar mengucur dari pangkal leher si perempuan menetes di kusen jendela lalu mengalir turun melalui dinding ke washtafel.
__ADS_1
Tiba-tiba mata si perempuan terbuka, mendelik, sedangkan mulutnya menyeringai seram, dan berubah menjadi lebar. Lalu muncul dua pasang sungut di atas mulutnya, warna kulitnya pun berubah. Perlahan kepala perempuan itu berubah menjadi kepala lele siluman yang menyedot darahnya.
Rudi tak sanggup lagi berdiri dan terjatuh ke lantai dapur yang dingin.