Segi Tiga (Driehoek)

Segi Tiga (Driehoek)
Suatu Ketika Entah Dimana


__ADS_3

Di suatu tempat, entah dimana..


Seorang pria terjaga dari tidurnya.


Layaknya orang yang baru terbangun dari tidur, pria tersebut pun mengerjap-ngerjapkan mata sesaat lalu bangkit dari rebahnya dan duduk di atas ranjang.


Ditatapnya sekeliling dengan ekspresi bingung.


Saat ini dia mendapati ruangan dimana dirinya berada adalah sebuah kamar berukuran sekitar lima kali lima meter dengan dinding sepenuhnya terbuat dari kayu berwarna merah kecoklatan.


Dalam pengamatan sesaatnya barusan, juga dia dapati penerangan ruangan hanyalah sebatang lilin berdiameter sekitar dua ibu jari.


Lilin tersebut diletakkan di atas sebuah piring kaleng berwarna kuning muda yang pada beberapa bagian catnya sudah retak dan mengelupas. Kerak lilin yang mengeras terlihat memenuhi dasar piring kaleng tersebut. Piring berisi lilin itu di letakkan di meja kecil di samping kiri ranjang.


Masih di dinding sebelah kiri ranjang, disana terdapat sebuah jendela yang memiliki dua daun jendela berada dalam keadaan tertutup.


Pria tersebut beringsut lalu duduk di tepi ranjang terdiam, terlihat berpikir keras.


"Huaahm, "tanpa sadar dia menguap.


Dikucek-kucek matanya kembali dan memandang berkeliling, diperhatikannya tubuhnya yang saat ini bertelanjang dada, hanya mengenakan celana panjang berwarna hitam. Dia mengangkat kedua tangan membolak-balikkannya di depan wajah, memperhatikan.


"Dimana aku.. "batinnya.


Alisnya mengernyit. Hal yang membuat dia terlihat bingung adalah karena dia tidak dapat mengingat kenapa dia tertidur disini. Bahkan tidak ada satupun yang di ingatnya tentang hal-hal sebelum dia terjaga barusan, termasuk namanya sendiri dia lupa.


"Siapa kah aku? Dan dimana aku berada? "Tanyanya di dalam hati.


"Apa yang terjadi padaku sehingga aku tidak dapat mengingat apa-apa? "Batinnya makin bingung.


Dia berpikir kemungkinan ini hanya lah mimpi. Dicubitnya lengannya untuk memastikan. Aneh, cubitan ini memang tidak terasa sakit.


Berarti ini memang mimpi, pikirnya.


"Apakah aku harus tertidur lalu kembali terjaga? "


"Atau apakah seharusnya dicubit itu memang tidak sakit? "Batinnya lagi.


Dia meragukan pikirannya sendiri, mengingat pada dasarnya tidak ada yang satupun yang dia ingat saat ini, seolah memori di kepalanya terhapus begitu saja.


Di rabanya kepalanya, wajahnya, siapa tahu ada benjol atau luka disana, tapi setelah meraba-raba sesaat dia dapat memastikan tidak ada sesuatu yang aneh di bagian tersebut.


Akhirnya dia memutuskan hal terbaik yang dapat dia lakukan saat ini adalah keluar kamar lalu mencari jawaban.


Saat hendak berdiri dia merasa celananya lengket, mungkin karena basah. Tapi saat dia menoleh ke ranjang, di kasur tipis berselimut seprai putih, tidak ada bekas rembesan air disana. Hanya ada bekas kerutan dan lekukan di tempatnya tadi berbaring. Agar lebih pasti dia meraba celananya, dan memang terasa basah di jemarinya saat menyentuh celana walaupun kemudian setelah dia amati tidak ada setetes air pun di tangannya.


"Benar-benar aneh, "batinnya makin bingung.


Dia hendak melanjutkan niat awalnya menuju pintu keluar, saat sudut matanya melihat sesuatu yang sebelumnya luput dari perhatian.

__ADS_1


Disamping ranjang sebelah kanan, terlihat berdiri sebuah meja kecil sama persis bentuknya dengan meja di sebelah kiri tempat meletakkan lilin.


Yang menarik perhatiannya adalah karena diatas meja ini tergeletak sebilah keris tanpa sarung. Keris ini memiliki panjang sekitar 20 cm, berbentuk sangat sederhana. Tidak ada lekukan sama sekali di batang keris, bentuk gagangnya pun cuma kayu kusam berwarna gelap tanpa ukiran.


"Keris? Milik siapa ini? Apakah milikku? "Batinnya bertanya lagi.


Setelah memegang dan memperhatikan keris di tangannya sesaat, entah kenapa ada dorongan di dalam diri si pria untuk tidak jauh-jauh dari senjata ini. Dan lagi cuma dia sendiri di kamar ini, sehingga dia menyimpulkan senjata ini adalah miliknya, maka di selipkannya keris tak bersarung ini ke ikat pinggangnya.


Dia pun melangkah ke arah pintu.


"krit..krit.. "Terdengar suara lantai yang berderik pelan, dia menatap lantai yang ternyata keseluruhannya juga terbuat dari kayu. Si pria kembali mengernyit bingung, pertanyaan sebelumnya tentang dimana dia berada muncul kembali di benaknya.


Tapi tidak akan ada kesimpulan yang akurat tanpa petunjuk lebih lanjut, maka dia pun melanjutkan berjalan hingga tiba di depan pintu.


Ternyata pintu kayu ini dibuat demikian sederhana, penguncinya hanya berupa sepotong kayu kecil yang di pakukan ke dinding dan dapat di putar ke kanan atau ke kiri.


Di putarnya potongan kayu agar pintu dapat dibuka "krieeet.." suara derit dari pintu kayu saat dibuka.


Sesaat setelah pintu berderit, terdengar suara merdu seorang perempuan dari luar kamar.


"Johan sayang, kau kah itu? "Begitu ujar suara merdu tersebut.


"Johan? "Si pria mengernyit lalu mengulangi mengucapkan nama tersebut pelan.


"Apakah namaku Johan? "Batinnya.


"Paling tidak ada yang mengenalku, tapi sebagaimana layaknya orang yang saling kenal kenapa aku tidak merasa suara perempuan ini akrab ditelinga ku? "


Ternyata pintu kamar ini mengarah ke sebuah lorong. Sama dengan kamar dimana sebelumnya dia berada, lorong ini juga terbuat dari kayu keseluruhannya, baik dinding maupun lantainya. Terlihat beberapa batang kayu berukuran cukup besar sebagai penyangga kerangka bangunan. Dalam samar terlihat dua buah jendela di lorong ini dengan semua daun jendelanya dalam keadaan tertutup.


"Dimana sebenarnya aku ini? "Tanyanya lagi entah yang keberapa kali di dalam hati. Bangunan ini begitu unik menurutnya, dinding, lantai, semua terbuat dari kayu. Seolah dia sedang di dalam rumah panggung.


Dia juga menyadari hal terabaikan sedari awal yaitu samar-samar dia mendengar kecipak air, dan suara itu seolah-olah berada dimana-mana. Di liriknya ke arah bawah, mencoba mencari celah di antara lantai untuk memastikan adakah gemericik air berasal dari sana, tapi tidak ada yang terlihat karena gelap.


Tapi rasa keingintahuannya dia kesampingkan dulu, karena begitu menoleh ke arah kiri lorong tempat dari mana suara perempuan tadi berasal, terlihat berdiri seorang perempuan Eropa yang cantik.


Perempuan ini berambut kecoklatan, memiliki manik mata juga berwarna coklat terang, indah.


Mata coklat itu terlihat takut-takut menatapnya. Bukan, bukan takut menatapnya, kalau diperhatikan betul-betul pandangan itu mengarah ke bagian bawah, ke pinggangnya.


Kita sebut saja nama pria ini Johan, dan Johan dengan cepat menutupi keris di pinggangnya dengan tangan.


Ekspresi si perempuan terlihat sedikit lega setelah keris di pinggang Johan tidak lagi terlihat olehnya. Begitupun si perempuan belum mau mendekat.


Johan mendekat bergerak maju selangkah, tapi perempuan cantik tersebut bergerak selangkah menjauh, menjaga jarak mereka tetap pada jarak sekitar empat meter.


Johan menatap dengan ekspresi bingung, lalu dia mencoba mendekat selangkah lagi dengan lebih pelan. Perempuan ini juga melangkah mundur selangkah.


"Hentikan main-mainnya, ada apa ini? Siapa sebenarnya dirimu? "Tanya Johan mulai kesal.

__ADS_1


"Aku takut berbicara dengan orang yang memegang senjata, "jawab si perempuan takut.


"Senjata ini? "Balas Johan sambil melirik keris di pinggang.


"Aku merasa aman senjata ini di pinggangku, terutama disaat aku tidak tahu sedang berada dimana, "sambung Johan.


Ada yang mencurigakan dari perempuan ini, menurut feeling Johan. Hanya saja dia belum bisa menyimpulkan apa yang mencurigakan itu, sehingga dia merasa harus berhati-hati.


"Baiklah aku tidak akan lebih mendekat lagi, tapi tolong jelaskan padaku apa sebenarnya yang terjadi? "Tanya Johan.


"Apa yang terjadi bagaimana maksudmu? "Tanya si perempuan dengan ekspresi bingung.


Johan menatap kesal dan berpikir untuk mencari kata-kata yang tepat, karena pembicaraan ini sepertinya tidak akan membawanya kemana-mana.


"Siapakah dirimu? Ehhmm.. bukan..bukan, kita coba pertanyaan yang lebih sederhana, maksudku siapa namamu? "Tanya Johan, dia berusaha tersenyum untuk mencairkan suasana.


"Nora, "jawab perempuan tersebut.


Johan menatap dengan ekspresi bertanya, menaikkan bahu dan mengangkat kedua tangan menengadah, gitu doang?


"Nora Visser, "jawab si perempuan menyebutkan nama lengkapnya.


"Ok, baiklah Nora Visser, apakah kamu mengenalku? "Tanya Johan lagi.


"Bagaimana mungkin aku tidak mengenalmu, aku tunanganmu, "ujar Nora pelan.


Deg.. Johan kaget, benarkah ini? Batinnya.


Mereka berdua terdiam sebentar, dalam diamnya Johan mencoba memanggil ingatannya tentang Nora Visser ini. Tapi sekeras apapun mencoba, dirinya tetap tidak dapat mengingat apa-apa, benar-benar blank.


"Baiklah Nora, bagaimana aku biasa memanggilmu? "Tanya Johan.


"Nora, "jawab si perempuan singkat.


"Oh ok, baik lah Nora, ingatanku hilang saat aku terjaga barusan, "ujar Johan sambil menunjuk ke arah kamar.


"Apakah kau tahu apa yang sebenarnya menimpaku? "Tanya Johan. Dia berharap ada petunjuk yang didapatkannya kali ini.


"I..itu, "ujar Nora sambil menunjuk dengan takut-takut keris di pinggang Johan.


"Keris ini? Ada apa dengan keris ini? "Tanya Johan lagi.


"Dirimu mengamuk karena memegang keris itu, dirimu yang biasanya begitu baik padaku seolah-olah berubah menjadi sesuatu yang lain setelah memegang keris itu, "ujar Nora.


"Setelah mengamuk kau pingsan, dan temanku yang.."


Ucapan Nora terputus karena di sambung suara pria.


"Aku terpaksa membawamu ke kamarmu, "sambung si pria.

__ADS_1


Johan berbalik ke arah suara si pria berasal. Dalam remang cahaya lampu teplok di samping pintu kamar dia melihat sesosok pria berdiri beberapa meter di belakangnya. Pria ini entah sejak kapan dan sudah berapa lama berada disana, Johan sama sekali tidak merasakan kehadirannya sedari tadi.


Johan pun melontarkan pertanyaan, "dan kau? Siapakah dirimu? Tanyanya pada si pria yang baru muncul ini.


__ADS_2