Segi Tiga (Driehoek)

Segi Tiga (Driehoek)
Perjodohan & Bayang-bayang Kutukan


__ADS_3

Malamnya..


Sehabis sholat Maghrib. Masih dalam keadaan mengenakan sarung, Aris duduk di atas ranjang sambil melihat-lihat daftar nama di menu kontak ponselnya. Nomor papanya terlihat di antara deretan nama-nama lain di sana.


Ada penasaran menggelitik di benaknya tentang apa yang terjadi tadi siang, tentang tempat terlarang yang ternyata bukan main-main.


Masih terbayang bagaimana mereka berlari bagai orang gila meninggalkan perumahan yang terendam. Juga masih melekat dalam ingatannya saat mereka melintasi tepian lubuk dan dirinya tak sengaja melihat ikan yang sama, ikan yang menyedot darah Rudi tengah berenang santai meliuk-liuk di permukaan air. Sepertinya hanya dia yang menyadari itu, sedangkan Rudi dan Doni saking paniknya sama sekali tidak memperhatikan.


Jelas terlihat olehnya tubuh ikan yang tinggal tulang belulang itu berenang di permukaan lubuk mengiringi mereka yang berlari. Mengingat itu bulu kuduknya kembali berdiri.


Untung saja Bik Isah dan Novi sedang di kebun teh saat mereka tiba di rumah, sehingga mereka tidak harus kesulitan memberi penjelasan tentang kondisi Rudi dan tentang penjelajahan mereka ke area yang dilarang.


Sorenya disaat bibinya Aris itu kembali kerumah bersama Novi, Rudi sudah berganti pakaian dan sedang beristirahat. Sedangkan Aris dan Doni duduk di ruang tamu menenangkan diri. Mereka hanya bercerita kepada Bik Isah dan Novi kalau tangan Rudi terkena mata kail dan kini tengah beristirahat karena kecapekan.


Aris masih memandangi ponsel di tangan, berpikir, mencari kalimat yang tepat agar mendapat informasi tentang "perkampungan yang ditinggalkan" dari papanya tanpa harus menceritakan apa yang sebenarnya telah mereka alami.


"Tok.. tok.. tok.." terdengar ketukan di pintu, membuyarkan konsentrasi Aris.


"Y..ya? "Ujarnya tergagap menyahuti ketukan di pintu.


"Kak Aris, Novi masuk ya, "ujar suara yang merdu. Sebelum Aris sempat berkata apa-apa pintu sudah dibuka dan muncul wajah Novi dengan senyumnya yang manis, gadis itu memasuki ruangan dan langsung duduk di sebelah Aris.


Aris memandang Novi, saat ini Novi mengenakan jilbab biru tua dan kemeja tangan panjang berwarna biru muda dipadu dengan rok hitam, terlihat benar-benar serasi, cantik.


"Anak ini nggak berubah sedikitpun sikapnya semenjak kami kecil, suka nyelonong aja, "batin Aris.


"Kalau tahu bibi, lu bakal kena tegur karena sembarangan masuk ke kamar laki-laki."ujar Aris.


Aris menegur karena itu adalah etika, juga satu hal yang telah diingatkan bibi pada mereka. Tentunya sebagai kakak yang baik hal tersebut harus dia utarakan, walau kalau ditanya pada hatinya sebenarnya dia juga no problem, toh Novi adalah adik baginya.


Ya semenjak Novi SMU Bik Isah sudah mulai mengingatkan pada Aris dan Novi bahwa walau mereka sangat akrab tapi ada hal-hal yang tidak lagi boleh mereka lakukan bersama seperti di masa kanak-kanak dulu.


Apalagi kini usia Novi sudah 19 tahun sedangkan Aris sudah 22 tahun, sudah benar-benar dewasa.


"Laki-laki mana? Kan cuma kak Aris doang, "jawab Novi seperti biasa, lalu beralih memandang ponsel di tangan Aris.


"Mau nelpon om ya, kenapa nggak langsung ditelpon aja? "Tanya Novi begitu melihat ponsel.


"Tadinya cuma mau nanya sesuatu, tapi ku pikir biar lah papa istirahat, toh nggak terlalu penting yang hendak kusampaikan, "dalih Aris.


"Eh, sampaikan ke om jangan lupa datang kesini karena seminggu lagi Novi ulang tahun, kakak juga jangan lupa ya, "ujarnya riang.

__ADS_1


"Ya nggak mungkin kakak lupa dong, lagi pula kan kakak masih disini saat lu ulang tahun, tapi nanti kakak sampaikan juga ke papa soal itu, siapa tahu dia lupa, "jawab Aris.


"O yaudah, makasih kakakku yang ca'em dan baik, by the way makan malam sudah siap, ajak teman-teman kakak untuk ikut makan bareng, "ujar Novi lalu berdiri dan menowel hidung Aris sebelum berlalu.


Setelah Novi meninggalkan ruangan, Aris bangkit lalu mengenakan celana panjang. Setelah itu dia mengetuk pintu kamar Doni juga Rudi untuk mengajak kedua temannya itu ikut keruang makan agar mereka dapat bersantap bersama.


Kondisi Rudi saat ini sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, saat ini dia mengenakan kaus biru berkerah. Rambut gondrongnya diikat kebelakang, ketat, sehingga di bagian depan terlihat klimis. Tampak perban putih dengan sedikit bercak merah pada telapak tangan. Tadi sore sesampainya di rumah luka itu sudah mereka bersihkan dan di beri antiseptic.


Setibanya ketiga sekawan di ruang makan, terlihat bik Isah sudah duduk menghadap meja makan. Dengan senyum ramah dia mengajak Aris dan kedua temannya untuk duduk di kursi yang di sediakan, berhadapan dengan duduknya si bibi.


Ukuran meja makan di rumah ini lumayan besar, terbuat dari kayu jati berkilat, kaki-kaki dan tepiannya berukir. Meja yang memanjang ini dikelilingi 8 buah kursi juga terbuat dari kayu jati berukir.


Novi terlihat membantu bik Mirah yaitu pembantu di rumah ini menghidangkan makanan dan juga peralatan makan. Selain cantik gadis ini juga sangat cekatan dan selalu bisa diandalkan, itu juga yang membuatnya menjadi kesayangan di keluarga kecil ini. Sambil lewat dia tersenyum kepada Aris, Aris membalas dengan anggukkan kepala.


"Tuh kak, udah Novi masakkan buat kakak atas saran kak Doni, "ujar Novi sambil menyodorkan sebuah piring kecil ke hadapan Rudi.


Rudi yang sedang mengisi nasi ke piringnya menatap apa yang disodorkan Novi dan terheran, sedang Doni terkikik geli. Aris melihat di dalam piring itu lalu nyengir, karena di dalam piring kecil yang disodorkan Novi hanya ada satu ekor ikan sepat kecil, ikan yang berhasil di kail Rudi di spot awal dan seharian tadi dikantongi Doni.


Novi menatap ketiga pemuda bergantian dengan tatapan bingung, tapi melihat ekspresi Doni dan Aris dia jadi ikut tersenyum.


Setelah semua makanan terhidang di meja, mereka pun mulai makan dengan santai. Bik Isah sambil makan bercerita tentang keseharian di kebun.


Setelah berbincang sebentar dengan Novi menanyakan beberapa hal lalu Bik Isah mengalihkan pandangan kepada Rudi.


"Sudah mendingan Bu, "jawab Rudi. Saat ini dia makan dengan menggunakan sendok, mengingat tangan kanannya yang terluka pasti perih bila digunakan menyuap makanan.


Sedangkan Doni, lebih suka tidak menggunakan sendok karena menurutnya ukuran sendok kekecilan, jadi kesannya seperti makan tapi nggak sungguh-sungguh begitu dia selalu beralasan.


Rudi melanjutkan makan dengan diam.


"Kak Rudi aslinya pendiam ya, nggak kayak di medsos? "Tanya Novi.


Rudi terbatuk lalu melirik sekeliling.


"Lha emang kalian berteman di medsos? "Tanya Aris.


Novi hendak menjawab tapi Rudi mendahului.


"I..iya, semenjak kemarin, saat kita tiba disini, "ujar Rudi nyengir. Aris menatap Novi dengan pandangan bertanya, tapi Novi tidak menyadari pandangan Aris dan melanjutkan makannya.


Akhirnya Aris menatap bibinya, "Bi, ada yang mau kutanya, soal batas wilayah tanah kakek, "ujar Aris kepada Bik Isah. Dia penasaran dengan perkampungan yang mereka temukan tadi siang dan kini berharap dapat mengorek keterangan tentang tempat tersebut.

__ADS_1


Doni dan Rudi diam-diam mendengarkan. Walau takut tapi mereka juga penasaran tentang tempat tersebut, dan kepingin tahu apa sebenarnya yang telah mereka hadapi.


"Hhmm.. kalo soal itu ada tertera di surat tanah, besok pagi dapat bibi tunjukkan padamu, "ujar Bik Isah.


Perempuan separuh baya itu meneguk air di gelas lalu menatap Aris dan tersenyum senang, "kamu udah dewasa, tahun depan sudah wisuda kan? "Tanya nya memastikan.


Aris dan Doni mengangguk mengiyakan.


"Memang sudah waktunya kamu mulai memikirkan apa yang menjadi warisan  juga tanggung jawab mu sebagai lelaki dewasa, "ujar Bik Isah. Aris jadi keder mendengar ucapan bibinya, lha kok pembicaraan jadi serius pikirnya. Padahal dia hanya penasaran dengan perkampungan yang mereka temukan tadi siang.


"Kamu juga harus pikirkan masa depanmu, dan masa depan Novi, "sambung bik Isah. Kini Novi dan Aris bertatapan sambil melongo.


Novi beralih menatap bik Isah sambil tersenyum geli, "maksudnya apa bunda? "Dia berpikir kalau Bik Isah pasti bercanda.


"Lha kalian kan pewaris kami yang tersisa, kesayangan kami, aku dan Papamu sudah membicarakan ini, "ujar Bik Isah sambil melirik Rudi sekilas.


Mata Novi yang indah membelalak kaget. Awalnya mulutnya terbuka menyiratkan tawa, tapi dia segera menyadari apa yang dimaksud Bik Isah. Begitu paham, dia buru-buru menundukkan wajahnya yang jadi memerah.


Aris berkeringat dingin, duh kok pembahasan jadi makin melebar, trus kenapa jadi ke Novi dan aku, ada rencana apalagi ini, pikirnya.


"Uhuk..uhuk, "Rudi terbatuk beberapa kali.


"Air nya diminum kak, "ujar Novi, kebetulan pikirnya, batuk-batuk Rudi dapat mengalihkan pembicaraan yang terlalu serius ini. Rudi mengangguk lalu mengambil gelas berisi air yang terletak di hadapannya.


Setelah perbincangan singkat barusan, mereka melanjutkan makan tanpa banyak berbicara. Apa yang diucapkan Bik Isah tadi jelas mengagetkan dan mengganggu pikiran Aris dan Novi. Novi bahkan tidak berani lagi menatap Aris sepanjang makan malam.


Sementara itu di tempat lain..


Beberapa kilometer ke arah gunung ciremai.


Di perkampungan yang terendam, bulan separuh hari ke delapan menerangi tempat ini. Menampilkan siluet suram bangunan-bangunan ke atas air yang bergerak-gerak mengikuti riak. Suasana terlihat begitu tenang, sepi, juga menyeramkan. Beberapa ikan lele terlihat melenggak-lenggok di dekat permukaan menambah jumlah riak kecil berkilau-kilau.


Terlihat ikan lele besar dengan tubuhnya yang hanya tinggal tulang belulang berenang berputar-putar di tempat terbuka. Setelah berenang berputar-putar sesaat, ikan itu bergerak ke arah rumah besar melintasi pagar beton yang sudah ambruk disana sini.


Di depan rumah besar ikan itu berhenti lalu tubuhnya bergetar, buih bermunculan disekitarnya bagai air yang menggelegak. Perlahan tubuh ikan itu menjadi lumer bagai plastik terkena api lalu berbaur dengan air disekitarnya. Bersamaan dengan menghilangnya tubuh ikan, asap putih muncul di atas air dimana tubuh ikan itu tadi berada.


Asap putih tersebut melayang lalu berkumpul dan membentuk gumpalan tebal di atas kanopi rumah besar yang hanya tersisa batangan betonnya. Disitu asap tersebut perlahan membentuk sosok perempuan berpakaian putih kusam dengan rambut awut-awutan, perempuan yang ditemui Doni di dalam mimpinya.


Sosok itu diam tak bergerak, bagai menunggu sesuatu. Lalu tak lama ada bayangan berukuran kecil terlihat bergerak lincah diantara bangunan. Sosok kecil itu bergerak cepat mendatangi si perempuan dan berhenti disampingnya. Sosok tersebut ternyata adalah kera yang tadi siang mengambil joran milik Rudi. Kedua sosok itu berdiri tak bergerak dalam temaram cahaya bulan.


Setelah beberapa saat, samar-samar terdengar suara perempuan berbisik dalam bahasa Belanda.

__ADS_1


"Na twintig jaar zullen bloemen bloeien. Driehoeken worden losgemaakt en vrienden worden vijanden."


"Na twintig jaar zullen bloemen bloeien. Driehoeken worden losgemaakt en vrienden worden vijanden."


__ADS_2