Segi Tiga (Driehoek)

Segi Tiga (Driehoek)
Gangguan Susulan


__ADS_3

Hening selama beberapa detik, hanya terdengar deru pelan mesin yang masih menyala dan suara penghapus kaca yang bergerak ke kanan ke kiri. Suara rintik hujan sudah tidak terdengar sama sekali, karena hujan memang sudah berhenti sedari beberapa menit lalu.


Terdengar gerakan dari dalam mobil, dan bodi mobil sedikit bergoyang.


"Lu nggak kenapa-napa Don? "Tanya Aris.


Sambil bertanya dihidupkannya lampu interior. Tidak terlihat ada kerusakan di bagian dalam mobil, tapi yang terpenting adalah sohibnya.


Doni terdiam sebentar, dicobanya merasakan setiap jengkal bagian tubuhnya.


"Fine bro, "jawabnya. Lalu dengan susah payah melepas seat belt setelah itu berusaha membebaskan kakinya dan menaikkannya ke tempat duduk.


Aris menarik napas lega, sama seperti keadaan Doni, dia pun tidak merasa ada bagian tubuhnya yang cedera. Hanya saja posisi mobil yang sedikit miring ke kiri menyulitkan untuk bergerak.


Aris membuka pintu disampingnya lalu dengan sedikit memanjat bergerak keluar.


"Cpyuk."


"Air, " batin Aris. Terasa dingin air sehabis hujan, dalamnya hingga sebetis membasahi celana jeans yang dia kenakan.


"Gimana Ris? "Tanya Doni.


Aris menurunkan sebelah lagi kakinya, sepertinya mereka sedang berada di dalam parit, pikirnya. Dia menatap berkeliling, tapi kabut memang cukup tebal, pandangannya terbatas sehingga hanya melihat samar-samar di sekeliling.


"Coba ambilkan senter di laci dashboard Don, "pinta Aris.


Doni buru-buru membuka laci dan memeriksanya, diambilnya sebuah senter kecil berwarna hitam dan serahkan ke Aris.


"Kabutnya tebal amat, "ujar Aris lalu menyenter ke bawah setelah itu kesekeliling, ternyata mereka memang berada di dalam parit.


Dari pengamatan Aris, parit ini lebarnya sekitar hampir dua meter, sedangkan dalam airnya sebetis, sedangkan tinggi tebingnya sepinggang.


"Cpyuk, cpyuk, "aris berjalan kearah depan mobil, dengan bantuan cahaya lampu mobil yang mesinnya masih hidup dia memastikan tidak ada bekas benturan atau penyok disana, berarti tidak ada sesuatu yang ditabraknya.


Bemper besi bulat di bagian depan mobil sebelah kiri terlihat tersuruk masuk ketanah tebing parit.


"Kita di dalam parit Don, "ujar Aris. Lalu dia menaiki tebing parit dan berdiri di tepi jalan. Terlihat hanya ban belakang sebelah kanan mobil yang masih berada di tepi parit. Syukurnya dia tadi tidak terlalu kencang berkendara sehingga mobil tidak sampai terbalik.


Terlihat juga bekas ban mobil yang terseret di tanah dan di aspal. Diikutinya jejak tersebut untuk memastikan memang benar tidak ada korban tabrakan.


"Cpyuk..cpyuk, "terdengar kembali suara air, sepertinya Doni ikut turun dari mobil. Aris berbalik mengarah ke Doni lalu membantu temannya tersebut keluar dari parit.


Berdua mereka menyusuri jejak ban yang terseret, jaraknya cuma tujuh meter dari lokasi awal kecelakaan hingga ke parit.


Tidak ada bekas darah atau apapun disitu, Aris menarik napas lega.


"Lu tadi lihat kan ada yang melintas? "Tanya Aris bingung. Okelah tidak ada yang ditabraknya dan dia bersyukur untuk itu, lantas kemana perginya orang yang tadi dia lihat melintas itu?


"Yo'i, bapak-bapak berpakaian hitam, juga mengenakan kain yang diikatkan mengelilingi kepala, "jawab Doni.


Aris mengangguk, berarti apa yang dilihatnya sama dengan yang dilihat Doni.


Dia menyenter keliling berkali-kali, mencari-cari pria yang tadi dilihatnya melintas.

__ADS_1


"Pak.. pak.. "Panggil Doni. Tapi tidak ada jawaban apapun.


"Oi pak, dimana lu!! "Kini Doni berteriak karena nggak sabar.


"Njir ni bocah, "batin Aris nyengir.


Tiba-tiba nalurinya yang terlatih menyiratkan sesuatu datang dari arah belakang. Dari cepatnya gerakan sudah jelas ini adalah serangan, dan serangan itu terfokus pada tubuhnya, jadi ini bukan gerakan dari orang yang sedang berlari atau berjalan.


Aris berkelit ke samping sambil palangkan kaki kanan, untuk menjegal siapapun itu yang datang dengan cepat kearahnya.


"Wush.. "Terasa kabut tersibak, dan benar ada bayangan orang berkelebat lewat di samping Aris.


"Apa itu Ris? "Tanya Doni. Jaraknya hanya semeter dari Aris, sehingga dia dapat melihat kelebatan bayangan hitam yang seperti hendak menabrak Aris lalu melintas pergi dengan sangat cepat.


Aris meletakkan telunjuknya di depan mulut. Tangan kirinya diletakkan di depan dada sambil mengarahkan senter ke depan sedangkan gestur tubuhnya memasang kuda-kuda.


Doni yang sudah cukup lama mengenal Aris tahu kalau Aris adalah praktisi Mix Martial Art (Seni Bela Diri Campuran) yang saat ini sedang populer, itu juga yang membikin bentuk tubuhnya penuh otot seperti ini. Dan barusan dia melihat langsung hasil latihan Aris selama bertahun-tahun. Sesuatu yang hendak menabrak Aris hanya mengenai ruang kosong lalu bergerak menjauh.


Hening, tidak ada suara sama sekali, Aris menajamkan segenap inderanya untuk memperkirakan serangan berikut.


Suasana terasa tegang dan waktu jadi terasa berjalan begitu lama.


Aris berjalan mundur perlahan-lahan ke arah mobil sambil memberi isyarat pada Doni untuk mengikutinya mundur.


Doni hanya mengikuti apa yang diminta Aris, karena pada saat seperti ini dia yakin dengan perhitungan temannya ini.


Mereka mundur perlahan-lahan hingga tiba di tepi parit, tidak bisa mundur lagi.


Doni mengangguk cepat, lalu tanpa menunggu disuruh dua kali dia berjongkok untuk memastikan letak tepi parit dan bergerak turun secepat yang dia bisa.


"Pintu mobil nggak perlu dikunci, "ujar Aris menegaskan.


Doni mengangguk dan menggapai sampai menemukan kunci mobil dan mencabutnya. Setelah itu diputarnya kenop lampu di sebelah kanan setir, lampu mobil pun mati sehingga keadaan semakin gelap.


Dengan susah payah Doni menaiki tepi parit.


"Udah men, "ucapnya dengan suara bergetar.


"Nih pegang senter, ayo kita berjalan ke arah rumah, "ujar Aris.


"Lha? "Walau bingung tapi Doni menurut saja, karena sudah pasti Aris memiliki alasan untuk melakukan itu.


Mereka pun berjalan ke arah rumah, sesekali Doni menyenter ke arah belakang mereka untuk memastikan tidak ada yang mencoba mengusik, walau dia kurang yakin apa sebenarnya yang terjadi.


Sekitar 300 meter mereka berjalan, samar-samar terdengar suara pria tertawa di di tempat mereka meninggalkan mobil.


Doni hendak bertanya, tapi Aris hanya berjalan tanpa perduli kan apapun. Sehingga mau tak mau Doni mengikutinya berjalan dalam diam.


Tak terasa berjalan selama sekitar 25 menit mereka pun tiba di depan halaman rumah.


Aris melihat jam di ponselnya, baru pukul 8.48. Di liriknya Doni yang kecapekan, gak tega sebenarnya dia memaksa temannya ini untuk terus berjalan seperti itu, tapi mau apalagi. Bertahan disana juga nggak mungkin, mobil sudah masuk ke parit, harus menunggu hingga matahari terbit baru bisa di keluarkan. Sedangkan gangguan yang muncul tadi dia tidak paham itu apa. Dan menurut hematnya menghindar jauh lebih baik daripada melawan musuh yang dia tidak tahu kemampuannya di lokasi yang tidak menguntungkan.


Mereka berhenti di taman depan pekarangan rumah yang dihiasi beberapa pohon bunga kertas. Doni duduk di batu yang dicat warna warni sebagai pagar pembatas taman.

__ADS_1


Mereka duduk berdampingan menghilangkan penat karena baru saja berjalan sekitar 3 km.


"Lu tau nggak kenapa aku memaksa agar kita segera meninggalkan mobil? "Aris buka suara.


Doni menggeleng.


"Aku memalangkan kaki ku kepada yang ku sangka manusia tadi yang mencoba menabrak ku, "ujar Aris.


"Trus? "Tanya Doni bingung.


"Aku memastikan bahwa itu.. "Aris terdiam sejenak mencari-cari kata yang tepat.


"Aku memastikan dari gerakannya apapun yang mencoba menyerang ku itu bentuknya adalah manusia, mungkin itu adalah bapak-bapak yang sama-sama kita lihat tadi melintas, "ujar Aris.


"Dan kakiku yang ku palangkan harusnya tepat mengenai tulang keringnya, tapi anehnya aku melihat bagaimana kaki dia itu bergerak menembus kakiku, "sambung Aris.


Doni jadi kaget, "lha..jangan..jangan? "Ujarnya pelan.


"Iya mungkin saja hantu atau sebangsanya yang menampakkan diri seperti wujud manusia, "ujar Aris.


Doni menatap Aris dengan pandangan kaget.


"Kok jadi makin sering kita berhadapan dengan hal semacam itu selama disini ya? "Keluhnya.


"Aku juga heran, "desah Aris.


Dia menarik napas, baru kali ini selama tinggal disini mengalami kejadian-kejadian seperti ini. Seolah ada chemistry yang kebetulan bertemu lalu memicu semua ini sehingga berbagai kejadian aneh dan menyeramkan bermunculan susul menyusul.


Drt..drt.. Terasa ponselnya bergetar, Aris merogoh kantung jeansnya yang kini basahnya sudah merambat naik hingga ke paha, menjadikannya terasa lengket dan rada gatal di kulit.


Di angkatnya ponsel, terlihat panggilan suara dari penelpon tak di kenal muncul di layar ponselnya.


"Ya? "tanya Aris.


Terdengar suara perempuan yang tak asing di seberang sana.


"Kalian tidak apa-apa kan? "tanya perempuan itu.


Tidak apa-apa? Aris mengernyitkan alis, dia coba mengingat suara siapa ini, lalu melihat kembali foto pemanggil, lha?


"Ini Nyi Sari? "tanya Aris kaget.


"Ya iya, memangnya siapa lagi? "jawaban suara dari seberang.


Aris nyengir karena nggak nyangka Nyi Sari punya ponsel, malah nelponnya via WA. Kirain tuh perempuan tua berkomunikasi melalui telepati atau apalah yang mistis-mistis gitu pikir Aris geli.


"Kamu pikir aku tinggal di zaman batu nggak punya ponsel dan nggak bersosmed? Aku mengikuti perkembangan zaman lho, "ujar Nyi Sari lalu terkekeh.


Aris garuk-garuk kepala mendengar ucapan Nyi Sari. Doni menatap serius ke Aris yang sedang menerima panggilan suara. Aris mengarahkan ponsel ke Doni, menunjukkan foto si pemanggil.


"Nyi, mohon izinnya aku aktifkan speaker, biar temanku ikut dengar ya, "pinta Aris.


"Iya, "jawab Nyi Sari.

__ADS_1


__ADS_2