
Doni berusaha mendongakkan wajah agar air tidak memasuki hidungnya. Sebelumnya sudah beberapa teguk air sungai yang terpaksa dia telan sejauh ini. Sebagian bahkan tak terhindarkan memasuki saluran pernapasan sehingga membuatnya terbatuk.
Dengan panik tangannya mencoba menggapai apapun yang ada disekitar untuk mendapatkan pegangan agar dirinya tidak segera terbenam secara keseluruhan. Tapi cengkeraman kedua tangan Anna begitu kuat pada pergelangan kakinya, dan tarikannya memaksa tubuh Doni terus turun ke dalam air.
Kini air sudah merendamnya hingga ke bawah hidung. Doni mengatupkan mulut rapat-rapat untuk mencegah lebih banyak air yang masuk dan tertelan.
"Penyihir sialan, kalau begini terus aku bakal mati kehabisan napas, "batinnya geram.
Belum mau menyerah, Doni menarik napas dalam-dalam lalu justru benamkan diri. Setelah itu di dalam air dengan tangan kiri dia menjambak rambut Anna dan menariknya sekuat tenaga. Mungkin dengan begini dia dapat meloloskan diri dari cengkeraman Anna, pikirnya.
Dan pergulatan sengit pun terjadi di dalam air, sebelah tangan Doni memegangi rambut sedang tangan kanan membacok dan menusukkan golok sekenanya ke tubuh Anna.
Tapi dengan kedua tangan yang tidak lagi berusaha mencari pegangan disekitar, membuat Anna justru lebih mudah menariknya ke dalam sungai.
Pergumulan pun berlanjut dengan sengit, mereka berputar-putar di dalam air, bergerak semakin dalam. Gelembung-gelembung udara bermunculan disekitar tubuh mereka lalu mencapai permukaan.
Anita yang sedari tadi memperhatikan dengan cemas kini berdiri dari duduknya, melongok ke arah air yang bergolak karena banyaknya buih. Kedua tangannya saling menggenggam erat. "Doni.. "Ujarnya lirih.
Mang Asep dan teman-temannya saling menatap. Mereka saling menunggu aba-aba yang tidak juga dilontarkan oleh Nyi Sari. Serba salah rasanya, ingin membantu tapi ragu jangan-jangan nanti mereka hanya bakal jadi korban tambahan seperti halnya Doni.
Di dalam air..
Doni merasa paru-parunya seakan meledak karena kuatnya tekanan air. Setelah beberapa kali membacok tanpa hasil karena ternyata keseluruhan tubuh Anna kebal. Kini goloknya justru terlepas dalam pergulatan dan jatuh tak tahu dimana. Dengan sisa-sisa tenaga dia pun berusaha mencekik Anna.
Anna menyeringai buas menatap Doni yang berusaha mencekiknya. Wajah cantiknya seolah menampilkan ekspresi mengejek, membuat Doni makin geram.
__ADS_1
Sulit sekali rasanya menggenggam leher Anna. Walau posturnya terlihat normal dan cantik, tapi tubuh perempuan ini keras dan liat seperti karet. Tangan Doni sangat besar pun tidak sanggup meremas leher Anna.
Lalu tanpa sengaja Doni menemukan di bagian belakang, di bawah leher Anna ada lubang. Heran tapi juga panik karena paru-paru yang terasa mau pecah, Doni mencoba masukkan jempol ke lubang seukuran satu jarinya tersebut.
Tubuh Anna tersentak, matanya mendelik. Sepertinya apa yang barusan dilakukan Doni berhasil mengalihkannya. Doni pun melihat kesempatan, ditekannya dinding bagian dalam lubang tersebut dengan kuat. Dalam samar di dalam air dia melihat wajah Anna yang kesakitan.
Anna segera melepaskan cengkeramannya di pergelangan kaki, lalu dengan sangat kuat segera menepiskan kedua tangan Doni dengan kedua tangannya. Benar-benar sangat kuat tepisan tersebut, Doni sampai merasakan lengannya jadi ngilu.
"Berhasil, "pegangan Anna ditubuh Doni jadi terlepas saat Anna menepis kedua tangannya.
Doni segera berenang ke permukaan dan berhasil menyembulkan wajahnya ke luar air. Ditariknya napas sepanjang mungkin lalu berusaha mencapai tepian.
Anita menatap wajah Doni yang menyembul di permukaan air dengan girang.
Tapi baru saja mereka menarik napas lega, tubuh Doni terlihat tertarik kembali ke dalam air.
"DONI!!! "teriak Anita panik, tanpa sadar air mata keluar setitik disetiap sudut matanya.
Anna yang sudah kembali pulih ternyata segera menarik kaki Doni dan hendak menyeretnya ke dalam air. Geram, Doni hendak mengulangi hal sebelumnya, memasukkan jemarinya ke leher di tengkuk Anna. Dia pun membungkuk untuk melakukan niatnya. Tapi Anna menarik kaki Doni dengan kuat sehingga Doni tidak berhasil mencapai tengkuknya.
Setelah berhasil mencengkeram kaki Doni, Anna menghempaskan tubuh Doni ke dalam air, sehingga kini posisi Anna berada di atas Doni. Dengan kedua tangan memegang masing-masing pergelangan kaki dia memaksa menyilangkan kaki Doni lalu menekuknya ke belakang, mengunci.
Kedua tangan Doni mencoba meraih ke belakang dengan putus asa, tapi tidak ada yang bisa dicapainya. Anna dalam posisi menelikung kedua kakinya kini dari belakang mendorong tubuh Doni menyurukkannya masuk semakin dalam ke lubuk.
Dan pertarungan sudah dapat dianggap selesai. Kaki Doni terkunci, pergulatan mati-matian yang barusan menggunakan tenaga besar dan juga kedalaman lubuk ini membuat oksigen di dalam paru-paru Doni makin cepat terkuras.
__ADS_1
"Gluk.. "seteguk air kembali tertelan oleh Doni tanpa dapat ditahan.
"Sepertinya ajalku hanya sampai disini, "batinnya.
"Padahal aku belum menikah, "batinnya lagi sedih.
Doni tidak dapat melakukan apa-apa lagi selain berpasrah diri, dia membaca berbagai doa yang diingatnya di dalam hati. Wajah Anita, wajah Aris dan orang-orang yang dekat dengannya melintas di dalam pikirannya.
"Seperti ini kah rasanya mati? "Tanyanya di dalam hati.
Disaat Doni pasrah dan hampir kehilangan kesadaran, tiba-tiba "Byur, "terdengar suara sesuatu masuk ke dalam air. Lalu sebuah tangan yang kekar terasa menyentak menarik tubuhnya.
Dalam samar antara hilang kesadaran dan pandangan yang dibatasi air dia merasa kuncian di kakinya terlepas.
Dia memutar tubuh yang kini terbebas dan melihat wajah Anna yang menyeringai dihadapannya, ekspresi penyihir ini begitu senang melihat si penolong yang baru tiba.
Akal Doni masih dapat bekerja, paling tidak dia bisa perkirakan apa yang bakal terjadi.
"Aris, duh, "sesal Doni. Dia tahu Aris lah target Anna sebenarnya sejak awal, bukan dia, Rudi, atau Novi. Dan bisa diperkirakannya Aris lah yang saat ini sedang berusaha menolongnya, itu pasti yang membuat Anna menyeringai senang karena mangsa utamanya muncul.
Memahami itu dengan cepat Doni mendekap tubuh Anna. Dia berharap berat tubuhnya dapat menenggelamkan Anna, setidaknya hingga Aris berhasil lolos.
Anna meronta-ronta dalam dekapannya, tapi Doni mengunci kedua tangannya sekuat tenaga. Dia berharap seandainya pun dia mati, dekapannya pada Anna tidak dapat dilepas, demi sohibnya. Lalu perlahan Doni pun kehilangan kesadarannya, pertarungan ini benar-benar menguras seluruh tenaganya.
Dan segalanya menjadi gelap..
__ADS_1