
Sobri jadi serba salah, melepas Anna untuk jadi isteri si pimpinan begal dan membiarkannya menjalani hidup yang mungkin lebih buruk dari sebelumnya, atau menindak si begal yang pasti berakibat terjadi keributan besar. Selain itu yang tak kalah penting, Anna juga pasti akan semakin membenci dirinya dan Wulan.
Bukan cuma Sobri, penduduk di sekitar tempat tinggal Anna pun mulai resah dengan hubungan gelap tersebut, namun sejauh ini mereka tidak berani buka suara mengingat kesaktian si begal.
Tak cukup sampai disitu, tak lama kemudian sejumlah penduduk desa kembali mengadu kepada Sobri karena kini para begal bukan hanya sekedar "bertandang" ke rumah Anna, tapi juga mulai mengganggu penduduk desa dimana Anna tinggal.
Hingga akhirnya pada satu titik Sobri memutuskan harus segera bertindak, karena setelah beberapa waktu dia mendapat informasi bahwa para begal sedang berencana menyerang rumahnya.
Dengan berpura-pura berlibur, Sobri membawa Wulan dan putra mereka Sastro yang saat itu sudah berusia dua tahun untuk berjalan-jalan ke Jakarta, sedangkan kedua ponakan Wulan yang saat itu sudah berkeluarga di minta untuk mengungsi ke rumah keluarga mereka di luar kabupaten.
Di Jakarta Sobri menemui beberapa orang Belanda yang menjadi rekanan bisnis dengannya. Sobri meminta solusi pada para koleganya itu untuk menjaga ketentraman di kampung yang di kuasai begal.
Lalu para koleganya pun memperkenalkannya dengan seorang jawara dari Jawa Timur bernama Probo.
Setelah mengatur siasat bersama Probo dan kolega-koleganya, Sobri membawa sekelompok pasukan gabungan terdiri dari puluhan jawara pribumi, dan beberapa prajurit Belanda kembali ke tempat dia tinggal.
Saat itu si pimpinan begal dan kelompoknya sudah berhasil menyerang rumah Sobri, dan itu sudah diperkirakan Sobri sebelum berangkat ke Jakarta.
Karena tidak menemukan Sobri maupun keluarganya, mereka para begal hanya menjarah barang-barang berharga dan segera kembali ke perkampungan dimana Anna tinggal.
Sobri beserta kelompoknya mengejar dan melakukan serangan mendadak di malam hari. Terjadilah pertempuran sengit malam itu. Belasan orang tewas dan puluhan terluka dari kedua belah pihak, korban jatuh termasuk dari penduduk desa yang memihak Sobri. Tapi dengan strategi yang sangat matang para begal yang bertempur secara serampangan segera berguguran, hingga akhirnya hanya tersisa si pemimpin begal yang bernama Dadang, yaitu kekasih gelap Anna.
Dadang tidak mau menyerah, mundur sambil melawan, hingga akhirnya terpojok di tepi sebuah lubuk sungai.
Walau sudah terpojok namun tidak ada satu senjata pun yang dapat melukai Dadang dan tidak seorangpun yang dapat menaklukkan jurus siluman keranya.
Melihat hal tersebut Probo pun maju menantangnya satu lawan satu.
Pertarungan satu lawan satu pun terjadi, benar-benar sengit karena kedua pendekar memiliki kesaktian mumpuni. Setelah hampir satu jam saling mengeluarkan kesaktian dan berbagai jurus silat, baik kujang (senjata tajam sejenis belati) pusaka milik Dadang maupun keris sakti milik Probo beradu untuk kesekian kalinya lalu terpental dan tenggelam di lubuk sungai.
Setelah bertarung tanpa senjata, Probo terlihat terdesak dan akhirnya berhasil dilemparkan oleh Dadang ke dalam sungai. Namun begitu Probo belum menyerah dan segera berenang mencapai tepian.
__ADS_1
Tak mau memberi kesempatan pada lawan, Dadang mengejar Probo yang sebagian tubuhnya masih di dalam air. Dadang tidak tahu bahwa itu adalah siasat Probo untuk jatuh ke dalam air. Tanpa diketahui Dadang, Probo adalah murid dari seorang guru yang leluhurnya dulu belajar di padepokan tempat Kebo Anabrang berlatih (Kebo Anabrang \= salah seorang kesatria Majapahit di jaman Raden Wijaya).
Di dalam air, jarang ada pendekar yang dapat mengimbangi kesaktian dan kemampuan bertarung mereka. Tangkapan dan pitingan mereka bagaikan tang yang menjepit tak bisa dilepaskan.
Lalu begitulah Dadang pun tak kuasa membebaskan diri dari cengkeraman tangan Probo. Dan riwayat Dadang berakhir dengan kehabisan napas setelah dibenamkan ke dalam air oleh Probo.
Setelah para begal ditumpas habis, Sobri sekeluarga dan penduduk kedua desa, yaitu desa tempat tinggal Sobri dan desa tempat tinggal Anna bersuka cita. Tiada lagi ancaman dari begal ganas yang selama ini kerap menyatroni kampung-kampung di sekitar gunung Ciremai.
Disini, Nyi Sari berhenti bercerita, lalu meminum teh di gelasnya.
"Atas keberhasilannya, Probo dihadiahi sebidang tanah yang cukup luas, tanah itu terletak disini, di tempat yang aku tinggali sekarang, "ujarnya tersenyum.
Aris terperangah, belum hilang kekagumannya atas kisah epik yang barusan di ceritakan Nyi Sari, kini dia bertambah takjub karena ternyata Nyi Sari adalah keturunan langsung pendekar sakti yang pernah bekerja sama dengan buyutnya.
Sedangkan Mang Asep yang sedikit banyak pernah mendengar kisah ini cuma manggut-manggut paham.
"Ya, aku adalah cucu kedua Ki Probo dari anak pertamanya, "ujar Nyi Sari sebelum Aris sempat bertanya.
"Seandainya ini di film kartun Jepang maka saat ini akan keluar keringat gede di kepalaku, " pikir Aris, karena sekali lagi dia mendapat jawaban atas pertanyaan yang belum diucapkannya.
"Sedangkan Asep mengenalku, karena dia memang sering mengunjungi rumah ini. Anak kakak tertuaku adalah temannya, "sambung Nyi Sari.
Aris kembali nyengir, tak jadi lagi bertanya, karena sudah terlebih dahulu di jawab.
Nyi Sari melanjutkan ceritanya, sebelum Aris sempat bicara karena mengira cerita sudah tamat.
Sobri berharap dengan tewasnya kekasih gelap Anna, isteri mudanya itu berubah. Dan awalnya Anna memang berubah, dia menyatakan meminta maaf dan menyatakan dirinya menyesal.
Sobri pun memaafkannya, karena bagaimana pun selain sebagai isteri, Anna juga adalah sesama perantau dari negeri dimana dia berasal. Sobri pun mulai rutin mengunjungi Anna kembali.
Waktu pun bergerak cepat, beberapa bulan kemudian terjadi pergolakan di Sumatera dan itu berpengaruh pada perdagangan.
__ADS_1
Sobri adalah pebisnis, dia tidak memusuhi siapapun, dia lebih mengutamakan kelancaran usahanya dan kenyamanan keluarga dan orang-orang disekitarnya. Tapi gejolak ini mengharuskan Sobri pergi kesana kemari untuk mengurus kelancaran dan keamanan bisnisnya, menemui para pimpinan laskar, para petinggi militer dan lain-lain.
Dua tahun lamanya Sobri harus meninggalkan keluarga demi mengurus bisnisnya. Di saat itu kembali tersiar kabar bahwa Anna ternyata belum meninggalkan ritual ilmu hitam yang sempat dia jalani beserta kekasih gelapnya dulu.
Beberapa penduduk mendapati seekor kera kecil yang mereka yakini sebagai jelmaan si raja begal Dadang, sering terlihat di rumah Anna. Selain itu beberapa penduduk yang sedang meronda juga pernah beberapa kali memergoki Anna berjalan sendirian di tengah malam di sekitar lubuk sungai, entah apa yang dilakukannya disana.
Wulan khawatir dengan keadaan Anna, lalu meminta Probo yang saat itu sudah menikah dengan gadis lokal dan sudah memiliki seorang putra (kakak dari Nyi Sari) untuk mengawasi Anna. Tapi Anna justeru salah terima dan menganggap Wulan menghasut Probo untuk memata-matai dirinya, apalagi tewasnya Dadang yang dibunuh Probo masih menyisakan sakit dihati Anna.
Keadaan makin buruk, Sobri tidak pernah terdengar kabarnya karena tidak ada kurir dari Sumatera yang dapat mencapai desa mereka. Sedangkan Anna semakin menjadi-jadi, walau tidak dapat dibuktikan secara langsung namun beberapa penduduk mulai menjadi korban, tewas dengan keadaan mengerikan. Semua yang tewas adalah pendukung Sobri dalam melawan begal.
Setelah itu wabah pun mulai merebak di desa tempat tinggal Anna, banyak penduduk yang terserang penyakit dengan kulit melepuh. Para penduduk desa menganggap itu adalah perbuatan Anna dan ketakutan mereka pun berubah menjadi kemarahan hingga akhirnya mereka menyerbu kediaman Anna.
Disaat itulah para penyerbu menyaksikan sendiri seperti apa kemampuan Anna. Perempuan itu dapat melayang lalu berdiri di atas atap rumahnya, setelah itu kabut hitam samar menyelimuti tubuhnya. Setelah merapal mantera Anna pun menghilang. Bersamaan dengan menghilangnya Anna, air menyembur di setiap sumur di perkampungan, dan tanah perkampungan berikut seluruh bangunan yang ada di dalamnya amblas hingga beberapa meter dalamnya.
Pada waktu bersamaan, pusaran air yang sangat kuat berputar deras di lubuk tempat Dadang tewas. Air itulah yang entah bagaimana caranya tersedot ke kampung tempat tinggal Anna, hingga perkampungan itu tenggelam.
Para penduduk desa tersebut pun segera melarikan diri dan mengungsikan keluarga mereka ke kampung-kampung terdekat. Beberapa orang lanjut usia dan anak-anak tewas karena banjir tersebut.
"Ternyata itu sebab tempat-tempat di arah hulu sungai terlarang, "batin Aris kaget. Dia tidak menyangka sedahsyat itu apa yang pernah terjadi disana.
Nyi Sari meneguk lagi air dari gelasnya dan meneruskan cerita.
Probo begitu mendengar hal tersebut segera mendatangi perkampungan tempat tinggal Anna. Walau dia sangat marah tapi masih tidak yakin untuk menghukum Anna, karena bagaimanapun perempuan itu masih isteri sah majikannya. Maka Probo pun hanya berniat menyegel perkampungan yang tenggelam itu dengan mantera, agar Anna dan sihirnya tidak dapat keluar dari tempat tersebut lalu menimbulkan gangguan.
Tapi ternyata Anna mengetahui itu, dan muncul kembali. Terjadilah pertarungan Anna dan Probo. Berbeda dengan melawan Dadang yang lebih banyak menggunakan kekuatan fisik, untuk melawan Anna Probo lebih banyak menggunakan kekuatan magis. Terlebih keris pusaka Probo belum juga kembali ke tangannya setelah terlempar ke lubuk saat bertarung melawan Dadang sebelumnya.
"Tidak ada yang tahu apa yang terjadi disana setelah itu, penglihatanku kabur dan tidak dapat melihat lebih jauh, "keluh Nyi Sari sedih.
"Sudah jelas, walau pun mengaku bukan lah orang sakti, tapi nenek ini memiliki kemampuan menerawang, "batin Aris.
Aris menatap Nyi Sari, bersiap-siap nyengir seandainya nenek ini menyahuti apa yang ada di pikirannya.
__ADS_1
Tapi kali ini Nyi Sari tidak melakukan itu, dan kembali melanjutkan ceritanya.
Pada pagi di hari kedua setelah Sobri berpamitan pada Wulan untuk menyegel perkampungan yang terbenam. Wulan memerintahkan beberapa orang menyusul dan membantu Probo. Hanya saja setibanya disana, orang-orang suruhan itu menemukan tubuh Probo sudah tak bernyawa tertelungkup di pinggir desa yang terendam, tubuhnya membiru dan tangannya berlumuran darah.