
Tak pedulikan kedua temannya, Rudi segera memanjat pohon randu tempat si kera bertengger. Tubuh kurusnya dengan lincah menaiki pohon yang berduri kecil-kecil tersebut. Sepertinya tidak sia-sia olahraga panjat tebing yang selama ini dia lakoni, tak perlu waktu lama dia pun sudah tiba di dekat si kera nakal. Hanya saja kera itu belum mau menyerah, malah memanjat semakin tinggi.
"Hati-hati Rud, "ujar Aris khawatir, soalnya ini adalah pohon, bukan lah tebing. Bisa saja ada dahan yang licin atau lapuk. Tapi Rudi tidak menjawab dan terus memanjat. Dia kesal bukan main oleh ulah kera kecil ini.
Awalnya sewaktu di sungai tadi, dia hendak melepaskan tali pancing yang menyangkut di sela batu karena di bawa oleh ikan yang dipancingnya. Tapi setelah dia berhasil membebaskan tali pancing yang tersangkut dan melepaskan ikan dari mata kail, tiba-tiba ada yang menarik jorannya. Saat dia melihat ternyata seekor kera kecil yang ukurannya sedikit lebih besar dari seekor kucing menarik jorannya dan membawanya lari. Yang bikin dia makin kesal karena saat itu dia menggenggam mata kail, dan karena joran di tarik maka mata kail itu pun menggores telapak tangannya hingga berdarah.
Kini Rudi sudah memanjat hingga hampir ke puncak pohon, Doni dan Aris menahan napas karena kalau sampai jatuh sudah pasti teman mereka itu bakal masuk ICU.
Untungnya si kera segera melepaskan joran di tangannya, mungkin dia sedang ada keperluan lain sehingga mengharuskannya untuk segera pergi. Kera itu pun melompat ke ujung dahan tempatnya duduk, lalu dari situ dia melompat lagi ke pohon terdekat.
Joran yang dilepaskan pun melayang jatuh tepat di hadapan Aris di tempatnya berdiri.
"Buset, kera sialan!! "Umpat Rudi.
Doni dan Aris tertawa melihat itu, walau masih belum benar-benar lega karena Rudi belum turun dengan selamat ke bumi.
Selesai menyumpah serapah Rudi terlihat hendak turun, tapi tiba-tiba dia menoleh ke arah gunung Ciremai yang berada di sebelah Utara mereka.
"Ada apa Rud? "Tanya Aris.
Rudi tidak menjawab dan tetap memperhatikan kearah itu. Setelah beberapa saat mengamati baru dia turun dengan hati-hati.
Setelah turun dari pohon dia menghampiri kedua temannya dengan napas masih ngos-ngosan akibat memanjat.
"Kok aku melihat ada perkampungan disana, "tunjuk Rudi ke arah yang tadi dilihatnya dari atas pohon.
Aris mengernyitkan kening, menatap Rudi dengan tatapan heran, "setahuku tidak ada pemukiman lain di dekat sini selain perkampungan yang berada di seputaran rumah kakekku, "jawabnya.
Doni menatap kedua temannya bergantian, tapi tentunya dia lebih percaya pada ucapan Aris yang sudah lama tinggal disini. Lalu dia pun bergerak ke hadapan Rudi dan meletakkan punggung tangannya ke jidat sahabatnya itu.
"Apaan sih dodol, "ujar Rudi menepiskan tangan Doni, Doni menghindar mundur sambil terkekeh.
"Iya serius lho, "ujar Rudi.
"Gaes, ada baiknya aku ceritakan sedikit tentang wilayah ini, sebelum kalian berpikir untuk memeriksa perkampungan yang dilihat Rudi, "ujar Aris lalu menatap berkeliling, seolah memastikan bahwa hanya mereka bertiga disitu. Dia berpikir lebih baik dia menceritakan keadaan disini sebelum timbul ide teman-temannya untuk menjelajah.
"Tempat ini kalau menurut papaku masih termasuk tanah kakekku, hanya saja tempat ini adalah areal terlarang, "ujar Aris.
"Jangan tanya terlarang bagaimana, karena aku juga cuma diberi tahu seperti itu, dan aku yakin kalau ditanya papaku jawabnya juga pasti sama, bahwa dia diberi tahu kakekku dan kakekku pasti dari buyutku, dan seperti itu seterusnya. "
__ADS_1
Doni berpikir, jangan-jangan keterlarangan tempat ini ada hubungannya dengan mimpinya tadi. Dia hendak buka suara tapi keduluan oleh Rudi.
"Terlarang bagaimana, sejauh ini yang mengganggu kita kan cuma kera sialan tadi, "jawab Rudi. Bersamaan dengan berakhirnya ucapan Rudi terdengar suara, "nguk, nguk, kakakak, "ternyata si kera belum berada jauh dari mereka dan menyahut begitu namanya disebutkan.
Rudi mengambil ranting di tangan Aris lalu melemparkan ke arah suara si kera berasal. "Gusrak, srak, srak, "terdengar suara sesemakan di tabrak, sepertinya si kera berlari menjauh karena lemparan Rudi.
"Jadi bagaimana? Kita balik kan? "Ujar Doni.
"Aku lapar ni, "sambungnya dengan nada mengeluh.
"Njir ini anak, bukannya lu udah makan tadi? "Ujar Rudi.
"Lha itu kan tadi pagi, sarapan. Lu pikir ngikutin lu kesini nggak perlu tenaga? "Balas Doni pasang tampang lemas.
Aris cuma memperhatikan kedua temannya, ini yang dia suka dari kedua orang ini, kalo ada mereka ngumpul-ngumpul jadi rame.
"Yuk ah, "ujar Rudi lalu berjalan menuju apa yang disangkanya sebagai sebuah perkampungan tadi.
"Lha yang mau kesana siapa? "Protes Doni.
"Enak aja si Rudi belum ada yang setuju udah mau gerak aja, nggak dipikirkannya kalo aku lapar apa, "batin Doni.
"Lha, lu kan udah dengar cerita Aris tadi, kalo kisah tentang tempat ini itu cuma katanya, katanya, "ujar Rudi berbalik menatap kedua temannya sambil nyengir.
Ya pada poin ini Rudi ada benarnya, tidak ada bukti otentik tentang apa yang membuat daerah sekitar sini terlarang, pikir Aris. Lagipula apa berbahayanya cuma berjalan melihat-lihat. Lain cerita kalau yang hendak di jelajahi adalah lubuk, itu sesuatu yang sangat tidak layak untuk didekati karena bahayanya nyata, pikirnya lagi.
Aris mengeluarkan ponsel android dari saku, tertera di layar ponsel waktu menunjukkan pukul 12.25, masih jauh waktu sebelum senja tiba. Maka Aris pun berjalan menyusul Rudi. Sedangkan Doni masih menatap Aris meminta dukungan, tapi karena Aris nya jalan saja tanpa menoleh, mau tak mau dia pun mengikuti dengan tampang cemberut.
Singkat cerita, setelah sekitar 1 kilometer lagi berjalan menerabas semak belukar yang tingginya melebihi tinggi orang dewasa, akhirnya mereka tiba di tepi dataran rendah yang tergenang air.
Tempat ini terbuka dan tidak banyak pepohonan, terlihat belasan rumah yang sebagian besar sudah hancur parah. Dari bentuknya sepertinya rumah-rumah ini adalah rumah peninggalan zaman kolonial. Tapi ada satu rumah yang masih terlihat utuh, yaitu sebuah rumah besar di tengah perkampungan, mungkin karena rumah ini sepenuhnya terbuat dari beton, kecuali pada atap yang terlihat hanya menyisakan lubang menganga.
Aris menatap dengan bingung.
"Menilik bahwa perkampungan ini sudah begitu lama disini, kenapa aku tidak pernah sekalipun mendengar cerita tentang tempat ini? "Ujar Aris pelan.
Mereka berjalan menuruni lereng pemisah antara dataran yang lebih tinggi dengan perumahan yang terendam.
"Kalau melihat dari lumut dan keadaan dinding bangunan, sepertinya tadinya tempat ini terendam sepenuhnya. Dan sepertinya itu yang membuat perkampungan ini tidak terlihat juga tak terdengar selama ini, "ujar Rudi.
__ADS_1
Aris dan Doni berpikir sejenak lalu mengangguk setuju dengan pengamatan Rudi. Sepertinya cuma itu penjelasan yang masuk akal menilik keadaan bangunan-bangunan disini.
"Tapi apa ya yang kira-kira jadi penyebab perkampungan yang selama ini terbenam kini mendadak muncul? "Gumam Aris seolah bertanya pada diri sendiri.
"Ah ngapain dipikirin bray, "ujar Rudi lalu mengeluarkan ponsel android dan segera berselfi ria, Doni nggak mau ketinggalan segera berdiri di samping Rudi.
"Yaah, lu ngapain ikut berfoto, nggak muat layarnya, "ujar Rudi bercanda.
Dan tak lama mereka bertiga pun berpose bergantian berfoto dengan riang.
"Njir, ternyata nggak ada sinyal disini, "ujar Rudi kesal karena disaat hendak memposting foto-foto mereka ke medsos ternyata tidak bisa karena tidak satu titik pun sinyal yang muncul di layar ponsel. Aris dan Doni juga melihat ponsel mereka, memang benar yang dikatakan Rudi, tidak ada sinyal sama sekali disini. Sepertinya tempat ini memang terisolir dari peradaban.
Aris kembali memperhatikan rumah-rumah dan pemandangan sekitar.
"Kalau Novi kuajak kesini pasti dia senang, "ujar Aris. Dia berencana mengajak gadis itu untuk kesini. Ya, semenjak kecil Novi memang senang menjelajah hutan dan begitu menyukai alam liar. Sejak kecil juga mereka sering bertualang dan menjelajah bersama di tanah kakek ini.
"Ris Novi itu sepupu lu kan? "Tanya Rudi mendengar ucapan Aris barusan.
"Yo,i bro, "ujar Aris.
"Lu naksir ya? "Ujar Doni sembari menyikut lengan Rudi.
"Sejak pertama datang lirik-lirik dia terus, hayo ngaku, "goda Doni.
"Apaan sih lu rese amat, ni ada kakaknya disini dodol, "ujar Rudi, dia jadi segan pada Aris bila ketahuan dia suka ngelihat Novi. Padahal itu suatu hal wajar, laki-laki mana yang tidak akan suka dengan Novi yang cantik jelita.
"Novi itu sebenarnya keponakan almarhum suami bibiku, "ujar Aris.
"Secara silsilah kami tersangkut paut, tapi secara garis darah kami tidak berhubungan, "Aris menjelaskan.
"Lha berarti lu bisa dong pacaran sama Novi, "ujar Doni spontan. Karena menurutnya Aris yang tampan dengan wajah indo-belanda, sangat cocok bila disandingkan dengan Novi yang cantik khas Sunda. Apalagi postur mereka juga sangat serasi, Aris tinggi besar dengan tinggi sekitar 180 cm, sedangkan Novi 170 cm, cukup tinggi untuk ukuran cewe. Dibandingkan apabila Novi didampingkan dengan Rudi, temannya itu tingginya kurang lebih sama dengan Novi, jadi kurang match.
Atau setidaknya Rudi harus mengenakan sepatu dan Novi harus nyeker baru kelihatan cocok bila mereka berjalan berdua, pikir Doni geli sendiri.
"Njir gile lu Don, sejak balita kami sudah saling akrab, mana ada perasaan seperti itu, "ujar Aris spontan. Ada perasaan nggak nyaman di dirinya yang tiba-tiba muncul begitu membahas Novi seperti itu, gadis yang sudah dianggapnya adik sendiri.
Rudi mengalihkan pandangan ke arah rumah-rumah yang terendam, padahal dia menyembunyikan senyum senang mendengar pembicaraan Aris dan Doni, asyik berarti Novi single dong, pikirnya.
"Hei gaes, lihat!! "Ujar Rudi menunjuk ke air yang tergenang, ucapan Rudi menghentikan pembicaraan Aris dan Doni, mereka berdua pun segera menatap ke arah yang ditunjuk Rudi.
__ADS_1