
Rumah panggung ini memiliki penyangga terbuat dari beton setinggi satu meter, lantainya juga terbuat dari beton yang dicor. Sedangkan dindingnya sepenuhnya terbuat dari kayu yang dicat berwarna kuning.
Aris mengikuti Mang Asep menaiki tangga rumah panggung, melewati beranda berisi kursi panjang hingga mereka tiba di ruang tamu berukuran sekitar lima kali lima.
Ruang tamu ini terlihat tertata dengan baik, lantainya hanya semen tapi bersih. Sebuah lemari kayu berukir terlihat menyandar ke dinding menghadap ke pintu masuk dan sebuah televisi berukuran 24" flat screen yang dalam keadaan tidak dinyalakan terletak di atas meja yang juga merapat ke dinding, disisi sebelah kiri ruangan. Di tengah ruangan ada meja kayu kecil setinggi dua puluh senti, beralaskan karpet berwarna biru yang ukurannya lebih besar dari meja, di peruntukkan bagi yang duduk di ruang tamu. Hanya ada satu orang di ruangan ini, yaitu seorang nenek yang sedang duduk di atas karpet, di belakang meja.
Di atas meja ada tiga gelas berisi teh yang masih mengepulkan uap. Jumlah gelas berisi teh panas mempertegas ucapan si nenek sebelumnya, bahwa dia memang sedang menanti mereka.
Perempuan itu mempersilahkan Aris dan Mang Asep untuk duduk. Mereka berdua pun duduk bersebelahan menghadap si nenek di seberang meja.
Mang Asep memperkenalkan perempuan itu kepada Aris sebagai Nyi Sari, salah seorang teman kakeknya Aris.
Aris mengangguk dan tersenyum. Menurut perkiraannya, Nyi Sari berusia sekitar 60-an tahun, berkulit kuning langsat. Walau banyak keriput di wajah tua itu tapi masih terlihat bekas-bekas kecantikan pada dirinya. Saat ini Nyi Sari mengenakan daster kuning lengan panjang berbunga-bunga, kepalanya dihiasi kerudung hitam yang ujungnya sebelah bawah dililitkan ke leher.
"Usiaku sudah 85 tahun lho, "ujar si nenek membuka pembicaraan.
Aris kaget dan juga heran, seolah Nyi Sari mengetahui apa yang dipikirkannya. Tapi dia menutupi rasa kagetnya dengan mengangguk dan coba tersenyum.
Nyi Sari mempersilahkan mereka untuk minum. Setelah masing-masing mengambil gelas di meja dan meminum sedikit isinya, mereka terdiam sejenak saling pandang.
Aris menatap Nyi Sari hendak menyampaikan maksud kedatangannya, tapi Nyi Sari terlebih dahulu buka bicara.
"Aku bisa perkirakan apa yang ada di dalam pikiranmu, bagaimana aku bisa tahu dan mengenalimu. Mungkin kau tidak ingat lagi, tapi dulu aku pernah sekali bertemu denganmu di saat usiamu 2 atau 3 tahun. Selain itu aku juga mengenal kedua orang tuamu, juga kakekmu, "ujar Nyi Sari.
Aris jadi nyengir, dan garuk-garuk kepala, karena tebakan Nyi Sari kali ini salah. Padahal yang hendak di tanyakannya adalah perihal sahabatnya Rudi.
Melihat tingkah dan ekspresi Aris, Nyi Sari terkekeh menampilkan giginya yang masih utuh dan rapi.
"Aku bercanda, karena kulihat kau begitu tegang. Baiklah sebenarnya kau ingin tahu apa yang menimpa sahabatmu kan? "Sambungnya.
Aris jadi kaget lagi, satu kali tebakan yang tepat itu mungkin kebetulan, tapi ini sudah dua kali berturut-turut. Dan lagi dari mana Nyi Sari tahu perihal Rudi. Aris pun buru-buru mengangguk, sedangkan Mang Asep hanya duduk diam memperhatikan. Terlihat pria ini begitu segan pada Nyi Sari.
__ADS_1
"Sebelum aku mulai ceritaku, perlu kalian ketahui aku bukan orang sakti, maupun peramal. Hanya saja aku mengetahui apa yang tengah berlaku, "ujarnya tertawa.
"Satu lagi, sebelum kita sampai kebahagian apa yang terjadi pada temanmu dan cara menyikapinya, ada baiknya aku menceritakan sebuah kisah tentang awal mula kutukan ini, agar kalian berdua juga paham apa yang sedang terjadi, "ujarnya sambil kini menoleh ke Mang Asep.
"Kok kutukan, kutukan apa? "Batin Aris bingung, dia menoleh ke samping, tapi Mang Asep yang di tatap tidak balas menatapnya.
Begitupun karena keingintahuan dan keinginan agar temannya dapat segera disembuhkan, Aris berusaha untuk tidak memotong pembicaraan Nyi Sari.
Dan kisah pun bergulir, dikisahkan oleh Nyi Sari di hadapan Aris dan Mang Asep. Ekspresi ramah dan riang yang ditampilkan Nyi Sari sebelumnya berganti dengan ekspresi serius di wajah tuanya.
Lebih seabad lalu, tahun 1861..
Edward Jaager tiba di Jawa Barat sebagai penampung hasil bumi untuk dijual ke berbagai belahan dunia.
Wajahnya yang tampan dan sikapnya yang baik, berkharisma, membuatnya populer dan disukai penduduk lokal, sehingga usahanya pun berkembang pesat.
Diusia 30 tahun, yaitu setelah sepuluh tahun berbisnis di tanah Sunda dia jatuh cinta dan menikah dengan seorang gadis Sunda berusia 18 tahun bernama Wulan, lalu Edward mengganti namanya menjadi Sobri.
"Biarkan Nyi Sari meneruskan ceritanya den, aku juga pernah dengar kisah ini, tapi cuma sepotong-sepotong, "ujar Mang Asep.
Nyi Sari menatap kedua tamunya bergantian, "baiklah, silahkan di lanjutkan Nyi, "ujar Aris lirih. Tadi segudang pertanyaan mendadak timbul di benaknya mendengar nama kedua buyutnya disebutkan. Tapi sepertinya lebih baik dia mendengarkan dulu, mudah-mudah2an semua pertanyaannya nanti dapat terjawab dengan cerita Nyi Sari.
Nyi Sari pun melanjutkan ceritanya.
Hidup Sobri dan Wulan mapan dan bahagia pada awalnya. Hanya saja kebahagiaan itu memiliki sedikit cela, yaitu dikarenakan buah hati yang mereka nantikan sebagai penerus tidak kunjung hadir. Bertahun-tahun mereka berusaha untuk berobat kemana-mana, namun tetap tiada hasil. Hingga tak terasa pernikahan pun menginjak tahun ke 25.
Sobri sendiri tidak pernah mempermasalahkan tidak hadirnya jabang bayi diantara mereka, karena dia benar-benar mencintai isterinya. Dan lagi mereka sudah mengasuh dua keponakan Wulan yaitu Wira dan Ratna semenjak usia pernikahan mereka menginjak tahun ke 5.
Tapi Wulan masih merasa tidak puas, karena merasa belum memberi yang terbaik bagi suaminya yang begitu mencintainya. Beberapa kali Wulan meminta Sobri untuk menikah lagi, agar suaminya bahagia, apalagi mengingat saat itu Wulan sudah berusia lebih empat puluh tahun, tentunya sudah sulit baginya untuk memiliki keturunan.
Di zaman itu poligami bukan lah hal luar biasa. Tapi Sobri keukeuh untuk tidak menambah isteri. Dia selalu mengatakan kalau mengasuh dua keponakan Wulan hingga mereka dewasa, sudah cukup baginya untuk merasakan menjadi seorang ayah.
__ADS_1
Di usia ke 26 tahun pernikahan, pada satu kesempatan Sobri bertemu seorang perempuan Belanda bernama Anna di sebuah pelabuhan. Saat itu Sobri sedang memeriksa barang yang hendak dikirim ke Delhi. Sedangkan Anna baru tiba dari Nederland untuk bertugas sebagai staf baru di Onderneming (maskapai perkebunan) Belanda.
Di awali perkenalan, mereka pun menjadi akrab. Hingga akhirnya Sobri sering mengundang Anna untuk berkunjung ke rumahnya.
Saat itu Sobri sudah berusia 66 tahun, sedangkan Anna masih berusia jelang 30. Sobri lebih menganggap Anna sebagai keponakan. Hanya saja tanpa diketahui Sobri ternyata setelah sering bertemu, Anna menyimpan perasaan kepadanya. Karena bagaimanapun Sobri adalah juragan yang hidupnya mapan, kharismatik, penampilannya selalu necis dan wajahnya juga masih terlihat tampan di usia setua itu.
Waktu pun bergulir dan gayung pun bersambut, beberapa bulan kemudian setelah berunding berdua dengan Anna, Wulan mendesak agar suaminya menikahi Anna. Toh Wulan dan Anna dapat mengakrabkan diri, dan lagi Anna adalah teman seperantauan Sobri, juga tidak memiliki siapa-siapa disini, itu alasan Wulan untuk meyakinkannya. Dan begitulah setelah melalui beberapa perdebatan Sobri pun menurut untuk menikahi Anna.
Walau awalnya semua terlihat baik, tapi setelah beberapa bulan menikah Anna berubah. Sikap baiknya hilang, berganti dengan sifat pencemburu, dan ingin menguasai. Yang paling parah adalah perlakuan Anna kepada ras pribumi, dia selalu memandang rendah pada mereka, tak terkecuali pada Wulan dan keluarganya. Dia bahkan tidak segan-segan memperlakukan para pribumi yang bekerja pada Sobri dengan makian dan perlakuan kasar.
Tapi selain hal tidak mengenakkan itu, ada hal menggembirakan bagi Sobri dan Wulan. Beberapa bulan sesudah menikahi Anna, Wulan justru hamil.
Anna justeru jadi depresi dengan kehamilan Wulan. Dia takut hal tersebut semakin menggeser posisinya di mata Sobri. Kegilaannya menjadi-jadi, tiada hari tanpa pertengkaran yang di alami Sobri. Padahal Sobri dan Wulan sudah berkali-kali mencoba meyakinkan bahwa mereka tetap akan bersikap baik pada Anna seperti yang selama ini mereka lakukan.
Tapi Anna tidak pedulikan penjelasan Sobri dan madunya. Puncaknya Anna meminta agar di bangunkan rumah untuknya sendiri.
Tidak ada pilihan lain bagi Sobri selain mengabulkan keinginan Anna, maka dibangunkan lah rumah untuk Anna di perkampungan sekitar 5 kilometer dari perkampungan dimana mereka tinggal, di pedalaman. Di tempat yang lebih damai dan tenang alasan Sobri.
Tak lama Wulan pun melahirkan, bagi Sobri dan Wulan, kehadiran buah hati mereka adalah anugerah tak terkira. Mereka memberi nama putra mereka Sastro Waluyo.
"Kakekku, "batin Aris mendengar nama itu disebut. Dia baru pertama kali ini mendengar kisah lengkap dari awal buyutnya tiba disini, dari mulut Nyi Sari ini. Sebelumnya dia hanya mendengar sepotong-sepotong kisah ini langsung dari kakeknya dulu sewaktu dia masih SD, di saat kakeknya masih hidup.
Lain dengan yang di rasakan oleh Wulan dan Sobri, lain pula yang di rasakan oleh Anna. Dia merasa dibuang di tengah perkampungan pribumi. Padahal itu adalah kebijakan dari Sobri membangunkan rumah bagi Anna di tengah perkampungan pribumi, agar isteri mudanya itu dapat membaur, pandai membawa diri, dan juga memiliki empati terhadap penduduk lokal.
Awalnya sebagai suami Sobri masih sering mengunjungi Anna, namun setiap dia datang kesana yang dia dapati selalu pertengkaran. Sehingga frekwensi kunjungannya ke rumah Anna pun menjadi semakin jarang, hingga akhirnya berbulan-bulan Sobri tidak lagi berkunjung. Begitupun, Sobri masih menanggung biaya hidup Anna termasuk gaji para pelayannya.
Tapi beberapa saat kemudian terdengar selentingan kabar kalau Anna dekat dengan seorang pribumi. Sobri tidak cemburu, bahkan seandainya saja Anna mau berterus terang untuk meminta cerai padanya agar dapat menikah lagi tentu dia akan merestuinya, karena dia menyadari Anna tidak bahagia menjadi isteri keduanya, apalagi dia merasa dirinya juga sudah terlalu tua untuk menghadapi pertengkaran terus menerus.
Hanya saja yang sangat disayangkan yang menjadi kekasih Anna itu adalah pemimpin kelompok begal ganas yang sering meneror perkampungan di sekitar gunung Ciremai.
Berbeda dengan para pejuang yang melawan Onderneming, para begal ini adalah kelompok orang yang mengambil keuntungan dari situasi yang terjadi di sekitar, mereka berpihak kepada siapapun yang mampu membayar jasa mereka. Dan yang paling sering mereka justeru kedapatan melakukan pekerjaan kotor para penguasa Belanda di masa itu.
__ADS_1