Segi Tiga (Driehoek)

Segi Tiga (Driehoek)
Racun pun Menyebar


__ADS_3

Pagi nya..


Aris memanggil dari luar kamar untuk mengajak kedua temannya sarapan.


Mendengar kata "sarapan, "langsung terdengar gerakan dari kamar doni, dan tak lama wajah bulatnya menyembul dari balik pintu, sumringah.


Tapi berbeda dengan Doni, tidak ada tanda-tanda pergerakan dari kamar Rudi. Padahal kamar mereka bertiga berjajar berdekatan, seharusnya Rudi juga dapat mendengar panggilan Aris.


Karena tidak ada sambutan, Doni dan Aris lantas mendatangi kamar Rudi, dan mereka mendapati pintu kamar tersebut dalam keadaan tidak terkunci.


Mereka pun memasuki kamar dan melihat Rudi terbaring di lantai, hanya bercelana pendek.


"Hoi bangun lu Rud, udah siang ni, "ujar Doni tertawa lalu membungkuk dan menggoyang-goyang betis Rudi. Setelah ditunggu sesaat namun tidak ada reaksi dari Rudi, Doni menatap Aris dengan pandangan heran. Aris yang ditatap cuma menanggapi dengan mengangkat bahu.


Karena di guncang-guncang tak terjaga lalu Doni pun menarik-narik kaki Rudi untuk membangunkannya.


Tapi berkali-kali Doni menarik dan mengguncang-guncang kaki Rudi, Rudi tidak juga merespon.


Keadaan di kamar tidak terlalu gelap, karena cahaya yang masuk dari sela tirai jendela, hanya saja diamnya Rudi membuat Aris curiga dan menghidupkan lampu. Diapun kaget, karena setelah lampu dinyalakan terlihat pada lengan kanan Rudi banyak urat-urat yang membiru, bagaikan akar pohon. Urat-urat yang membiru itu bermula dari telapak tangan yang kemarin terluka lalu memanjang naik hingga ke bahu.


Doni tersentak dan berkeringat dingin melihat ini.


"Bagaimana ni Ris? "Tanyanya dengan suara bergetar.


Aris terlihat berpikir sebelum menjawab. Dia segera berjongkok dan memeriksa denyut nadi Rudi. Sedikit melegakan menilik dari apa yang terlihat, karena  jantung temannya itu masih berdetak. Hanya saja terasa detak jantungnya sangat kencang, dan suhu tubuhnya begitu tinggi.


"Masih hidup Ris? "Tanya Doni lugu.


"Sepertinya Rudi pingsan, mungkin karena infeksi. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit Don, "ujar Aris.


"Asem dah, padahal aku nggak mau bikin orang-orang di rumah ini panik, "batin Aris.


"Tungguin Rudi bentar Don, "pinta Aris, lalu segera keluar dari kamar.


Tak lama Aris datang bersama Bik Isah dan Novi, dan mereka berkumpul di kamar yang di tempati Rudi.


Aris dan Doni segera mengangkat Rudi lalu meletakkan tubuhnya di atas pembaringan.


Berkali-kali Aris menepuk-nepuk pipi dan mengguncang-guncang bahu Rudi, namun tidak ada reaksi yang melegakan, Rudi masih terdiam. Lalu Aris keluarkan balsem yang tadi dibawanya saat masuk ke dalam ruangan. Di oleskannya sedikit balsem ke telunjuk dan ciumkan ke hidung Rudi hingga beberapa detik, namun tetap tidak ada reaksi.


Novi memperhatikan dengan pandangan khawatir. Bagaimanapun dia sudah lama berteman dengan Rudi, walau hanya di dunia maya. Semenjak Rudi stalking dia dari akun medsosnya Aris. Bahkan tadi malam Rudi masih sempat ngechat dirinya, itu sebelum Novi saling berkirim pesan dengan Aris.


Novi melirik ponsel Rudi yang tergeletak di samping bantal.

__ADS_1


"Nov, coba ambil air dingin untuk mengompres, "pinta Aris, karena bisa jadi keadaan Rudi pingsan seperti ini karena demamnya.


Ucapan Aris membuyarkan lamunan Novi, gadis itu mengangguk lalu segera keluar kamar.


"Duh, sebenarnya telapak tangannya kemarin kenapa, kok bisa jadi seperti ini? "Tanya Bik Isah kuatir. Dengan hati-hati perempuan berusia empat puluhan ini membuka perban yang membalut tangan Rudi.


"Setahuku terkena mata kail Bi, tapi mungkin lukanya infeksi, "jawab Aris singkat, walaupun dia sendiri tidak yakin dengan ucapannya.


Setelah perban terbuka, terlihat luka di telapak tangan Rudi. Luka itu tidak terlalu besar, hanya goresan sepanjang 5 senti dan kelihatannya juga tidak terlalu dalam. Tapi memang sepertinya dari situ warna biru di lengannya berasal, karena semakin mendekat ke bekas luka semakin kelam warna biru tersebut.


Doni menowel paha Aris yg berdiri di sebelahnya. Tanpa perlu diucapkan, Aris sudah paham maksud Doni, kemungkinan besar apa yang terjadi pada Rudi saat ini ada hubungannya dengan lele jadi-jadian kemarin. Sepertinya lele tersebut selain menyedot darah Rudi juga mengeluarkan racun. Tapi Aris belum mau buka mulut soal itu.


Alasannya karena pasti sulit menjelaskan apa yang mereka alami kepada bibinya juga kepada Novi. Dan lagi menurutnya yang terbaik bagi Rudi saat ini adalah perawatan medis, baru setelah kondisinya agak baikan mereka dapat membawanya untuk pengobatan "alternatif".


Tak lama Novi memasuki kamar, dengan handuk kecil disampirkan di bahu dan sebaskom kecil air, terlihat beberapa keping pecahan es mengambang di air.


Novi mengambil air dingin di dalam baskom, lalu menggunakan handuk kecil yang dibasahi untuk mengompres kening Rudi.


Sedangkan Bik Isah menelpon ambulans dari klinik terdekat untuk segera mengevakuasi Rudi.


Sekitar 10 menit kemudian ambulans tiba di halaman. Karena Rudi belum sadar juga, Aris dan Doni memapah teman mereka itu ke atas tandu untuk dinaikkan ke mobil dengan dibantu seorang tenaga medis yang tiba bersama ambulans.


Sebelum ambulans berangkat Aris meminta Doni untuk ikut di dalam ambulans, tapi sebelumnya dia membisiki sesuatu pada Doni. Doni mengangguk dan ikut naik di dalam ambulans, dia duduk di bagian belakang, menjagai Rudi.


"Bentar lagi aku nyusul Bik, aku mau menjumpai Mang Asep, membatalkan janji kami kemarin padanya untuk pergi mancing lagi hari ini, "jawab Aris berpura-pura tenang. Dia tidak ingin kegelisahannya membuat bibinya dan Novi curiga.


"Kak Aris nanti sebelum menyusul ke rumah sakit, pulang kesini dulu kan? "Tanya Novi.


"Biar sarapan kalian Novi siapkan untuk jadi bekal, "sambungnya.


Aris mengangguk dan tersenyum grogi.


Novi masih hendak bicara, tapi Aris sudah berlalu. Novi memandangi punggung kekar Aris yang berjalan ke arah samping rumah. Lalu memandangi ponsel ditangan, terlihat di daftar kontak nama "Dian" putri sulung Mang Asep. Padahal dia baru mau bilang ke Aris untuk menelpon Dian, memastikan Mang Asep berada di mana sebelum Aris mencari ke rumahnya.


"Kak Aris pasti sedang kalut, "bisiknya di dalam hati.


Dengan ponsel di tangan, Novi juga jadi teringat kembali bagaimana tadi malam melalui chat dia sempat bersitegang dengan Rudi.


Selama mereka berkenalan sudah dua kali Rudi nembak dirinya tapi selalu ditolaknya secara halus. Puncaknya tadi malam, Rudi ngechat dia, curhat tentang perasaannya setelah mendengar pembicaraan Bik Isah di saat mereka makan malam. Pemuda itu cemburu, dan merasa sangat galau.


Novi menjawab baik-baik, tapi Rudi justru makin kesal. Apapun yang di sampaikan Novi tidak diterima olehnya. Hingga akhirnya Novi menjawab kalau dia memilih untuk bersama Aris, pria yang sudah dikenalnya semenjak dia kecil.


Dan sebenarnya tanpa diketahui siapapun, Novi memang sudah sejak lama mencintai Aris. Novi merasa sangat nyaman karena sudah sejak kecil mengenal sifat dan kelakuan Aris.

__ADS_1


"Semoga keputusanku tepat, dan kak Aris juga memiliki perasaan yang sama denganku, "keluh Novi di dalam hati.


Akhirnya dia berjalan masuk ke dalam rumah, untuk menyiapkan bekal bagi kakak tersayangnya.


Aris bergegas menuju garasi yang terbuka di samping rumah. Ada satu unit motor matic, satu unit motor trail dan satu unit mobil Jeep disana.


Aris mengeluarkan motor trail, karena yang ditujunya adalah rumah Mang Asep, dan cara tercepat mencapai tempat itu adalah melewati jalanan yang tidak mulus.


Sekitar 5 menit berkendara, Aris pun tiba di rumah Mang Asep. Tapi saat itu yang ada dirumah hanya anaknya, Dian. Mang Asep dan putra bungsunya tidak terlihat, mungkin si bungsu sedang mengantar ibunya ke pasar. Sedangkan Mang Asep menurut Dian sudah sejak setengah jam lalu berangkat ke kebun teh.


Aris mengeluarkan ponsel dari saku dan menatap jam di layar, pukul 08.30. Dia menepuk jidat, "kenapa nggak sedari tadi terpikir olehku, ini kan jam kerja. Sudah tentu Mang Asep tidak di rumah. "


Dian tersenyum melihat tingkah Aris, "emang ada apa kak, kok kayak orang bingung? "Tanya Dian.


Aris cuma nyengir, karena tak tahu harus bilang apa.


Setelah mengucapkan terima kasih Aris pun memacu motornya untuk menyusul Mang Asep.


Sekitar 5 menit kemudian Aris tiba di kebun teh, setelah bertanya pada beberapa ibu yang sedang memetik daun teh, akhirnya Aris menemukan Mang Asep sedang sibuk ikut membersihkan rumput di sela tanaman teh bersama 3 orang temannya.


Melihat Aris yang datang pria tersebut menghentikan pekerjaannya dan menghampiri.


"Ada apa den? "Tanya mang Asep, dia melihat ada sesuatu yang lain pada gerak-gerik Aris.


Aris pun dengan terpaksa menceritakan apa yang telah mereka alami hingga apa yang terjadi pada Rudi pagi ini. Dia juga meminta Mang Asep untuk tidak menceritakan kejadian sebenarnya pada Bik Isah dan Novi.


Mendengar cerita Aris wajah Mang Asep berubah pucat, terlihat keringat membasahi wajahnya.


"Den Aris bisa menggonceng saya? "Tanyanya dengan suara gemetar.


Aris mengangguk.


Setelah memberi pengarahan secukupnya kepada dua pekerja yang bersamanya, Mang Asep naik ke boncengan motor.


Mang Asep meminta agar Aris membawa mereka kembali ke arah perkampungan, dan tanpa banyak pertanyaan Aris pun membawa Mang Asep ke arah yang di maksud.


Mereka berkendara melewati perkampungan yang sama yang ditempati Bik Isah dan Novi, hanya saja Mang Asep meminta agar mereka pergi lebih jauh ke arah timur.


Mereka terus berkendara hingga memasuki wilayah perkampungan sebelah.


Sekitar 10 menit berkendara dari titik awal di kebun teh, mereka akhirnya tiba di depan sebuah rumah panggung.


Halaman rumah ini cukup luas, berbagai tanaman terlihat menghiasi sudut-sudutnya, sangat asri. Beberapa bocah terlihat sedang bermain di halaman.

__ADS_1


Setelah memarkir motor, mereka bergegas berjalan menuju pintu depan, tapi sebelum mereka tiba di depan pintu terlihat seorang perempuan tua muncul dari pintu, "ayo sini buruan masuk, aku sudah menunggu kalian, "ujarnya.


__ADS_2