
Walaupun tangan Probo berlumuran darah yang mereka yakini adalah darah Anna, tapi sarung keris yang selama ini di gunakan Probo sebagai senjata pengganti semenjak kerisnya hilang tak ada di sekitar mayatnya, padahal kemungkinan besar sarung keris pusaka tersebutlah yang digunakan untuk melukai Anna.
Sama keadaannya seperti sarung keris begitu juga tubuh Anna, tidak terlihat sama sekali di sekitar. Satu-satunya yang dapat dijadikan petunjuk hanya ceceran darah yang mengukir jejak di tanah menuju ke arah air.
Setelah berunding sesaat, lalu orang-orang suruhan Wulan itu menunjuk satu orang dari mereka agar mengajak warga untuk membantu membawa jenazah Probo. Sementara yang lain berkeliling lokasi desa terendam untuk memeriksa.
Karena tidak dapat menemukan apapun di daratan lalu dua dari mereka menyelam untuk memastikan keberadaan Anna. Namun hingga tengah hari mencari tidak ada hasil yang memuaskan, tidak ada yang mereka temukan selain ikan-ikan lele yang berenang-renang di air tergenang, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut.
Seminggu kemudian tanpa diduga Sobri tiba di kampungnya. Sobri yang mendengar kejadian tersebut benar-benar terpukul, karena kehilangan sahabat sekaligus isteri mudanya. Dengan sedih, di depan makam Probo, Sobri berjanji untuk mengurus putra satu-satunya Probo dan isterinya yang saat itu tengah hamil muda.
Nyi Sari menatap Aris dan Mang Asep, menarik napas panjang lalu tersenyum.
Aris hanya balas menatap tanpa tahu harus berkata apa.
"Itu kejadian sudah lama terjadi, bahkan jauh sebelum aku lahir, jadi simpan iba kalian, "ujar Nyi Sari menatap Aris dan Mang Asep bergantian.
"Baiklah Nyi, sedikit banyak aku jadi paham apa yang terjadi, berarti ikan yang meracuni temanku itu adalah penjelmaan Anna? "Tanya Aris.
"Kemungkinan besar seperti itu, siapa lagi yang punya kemampuan menampilkan diri sebagai ikan jadi-jadian, "ujar Nyi Sari sambil mengangkat gelas untuk meminum isinya. Sejenak dia termangu menatap gelas yang ternyata sudah kosong.
Mang Asep buru-buru berdiri berniat mengambilkan air minum tambahan bagi Nyi Sari di dapur, tapi Nyi Sari mengangkat tangannya mencegah.
"Sepertinya perempuan itu dulu terluka oleh kakekku, mungkin sangat parah sehingga ratusan tahun berlalu tanpa dapat berbuat apa-apa, "sambung Nyi Sari sambil meletakkan gelas kosongnya kembali ke atas meja.
"Lantas kenapa kini dia mulai muncul kembali dan mengganggu? "Kembali Aris bertanya.
"Bisa jadi saat ini kekuatannya mulai pulih, dan melihat kesempatan dengan munculnya kalian di pemancingan, "
Aris mengangguk paham, tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Bagaimana dengan pita merah di sekeliling desa yang ditinggalkan itu Nyi, siapa yang memasangnya? "Tanya Aris penasaran.
"Yang memasangnya ki Sastro yaitu kakekmu bersama bapakku, "jawab Nyi Sari.
"Alasannya, karena tidak bisa dipastikan apa yang terjadi kepada Anna. Sehingga kakekmu kuatir bila kelak orang yang tidak tahu apa-apa tertarik untuk menyelidiki keunikan tempat tersebut dan di ganggunya, "sambungnya.
"Orang-orang seperti kami, "desah Aris. Bulu kuduknya meremang kembali mengingat kejadian tempo hari disana.
Nyi Sari tersenyum bijak sebelum berkata :
"Yang terpenting saat ini adalah mengantisipasi racun dari lele jadi-jadian itu, masalah kutukan yang menimpa wilayah perkampungan tempat Anna dulu tinggal bisa kita kesampingkan."
Aris menarik napas lega, karena walaupun kisah yang dia dengar begitu fantastis tapi sepertinya intinya sangat lah sederhana, yaitu dengan mengobati Rudi dan menghindari perkampungan yang terendam maka selesailah masalah.
Mendadak ponselnya terasa bergetar, dikeluarkannya dari kantung celana dan melihat di layar, ada pesan masuk dari Doni.
"Kami sudah tiba di rumah sakit, dan Rudi sedang di tangani dokter, "isi pesan dari Doni.
Aris menarik napas lega, "mudah-mudahan Rudi segera dapat disembuhkan, sehingga kami tidak perlu larut dalam urusan Anna dan kutukannya, "batinnya.
__ADS_1
Nyi Sari menatap Aris, "nih, minumkan ke temanmu, "ujarnya, dari saku dasternya dia mengeluarkan sebuah botol minyak angin yang berisi cairan di dalamnya.
"Hmm..ini kan Minyak Angin Nyi? "Ujar Aris ragu rada geli, karena melihat di botol berwarna hijau itu tulisan "Minyak Angin".
Nyi Sari tertawa karena keluguan Aris, "itu memang botol minyak angin, "ujarnya.
"Trus isinya?.."tanya Aris, dia masih blank karena masih setengah larut dalam kisah yang di dengarnya barusan.
"Air, "jawab Nyi Sari lalu mengekeh.
Aris nyengir lagi.
"Dih, "batinnya.
"Ups.. Ntar dia bisa membaca pikiranku, "Aris buru-buru menepiskan ide aneh dari benaknya dan segera menyambuti botol minyak angin dari tangan Nyi Sari.
"Pokoknya minumkan saja ke temanmu, bukankah untuk itu kalian datang kesini? Mudah-mudahan yang Maha Kuasa menjadikan air ini sebagai perantara penyembuhan bagi temanmu, "jelas Nyi Sari.
Aris mengangguk-angguk.
"Udah sana buruan, temanmu membutuhkanmu, "ujar Nyi Sari lagi.
Aris buru-buru hendak menyalami Nyi Sari, tapi Nyi Sari mengepalkan tangan sebagai pengganti salam.
"Oh iya, ingat prokes, "ujar Aris tertawa.
Setelah Mang Asep duduk di boncengan, Aris segera memacu motornya ke arah yang diperkirakannya sebagai jalan menuju Rumah Sakit.
Sekitar lima menit berkendara hingga Mang Asep buka bicara.
"Den Rumah Sakit yang kita tuju apa namanya? "Ujar mang Asep setengah berteriak untuk mengatasi suara angin yang menderu di sekitar mereka.
"Gak tau Mang, entar sampai di jalan raya aku telpon Doni untuk menanyakan arah, "Jawab Aris.
"Bukan apa-apa den, tapi ini jalan menuju gunung, "ujar Mang Asep.
Ciiit..
Spontan Aris menghentikan motornya karena kaget, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Lha kirain arah kita udah bener, "ucapnya.
"Yawdah Mang Asep dah yang bawa ni motor, aku yang digonceng, "ujar Aris.
Aris memarkir motor lalu turun, kali ini dia meminta Doni untuk menshare lokasi, agar tidak salah jalan lagi.
Mereka pun berkendara lagi, kini dengan Mang Asep sebagai pengemudi, syukurnya kendaraan ini memang rutin digunakan Mang Asep untuk meninjau kebun sehingga dia sama sekali tidak gamang mengendarainya.
Tak lama berkendara mereka kembali melewati rumah Nyi Sari. Saat itu Nyi Sari sudah berdiri di halaman di dekat beberapa anak kecil yang tengah bermain, sambil memegang sapu lidi.
__ADS_1
Mang Asep memelankan laju kendaraan lalu mengangguk pada Nyi Sari, sedangkan Aris senyum grogi, malu karena sudah bolak-balik wajah mereka saja yang terlihat melintas disitu, Nyi Sari hanya mengangguk dan tersenyum.
Sekitar 10 menit kemudian dengan panduan arah yang diberikan Doni mereka pun tiba di rumah sakit.
Setelah bertanya pada suster cantik di meja resepsionis dan diberikan masker, Aris dan Mang Asep bergegas menaiki lift menuju lantai 5. Sekeluar dari lift, Doni yang sebelumnya di chat oleh Aris sudah menunggu mereka.
"Gimana Don? "Tanya Aris. Mereka berbincang di koridor di depan lift.
"Sudah tidak ada apa-apa, tadi Rudi sempat sadar, dan kini tertidur kembali setelah diberi suntikan, "jawab Doni.
"Apa kata dokter? "Tanya Aris kembali.
"Kemungkinan besar alergi, "jawab Doni.
Doni menarik Aris sedikit menjauh dari pintu lift.
"Bagaimana penelusuranmu? "tanyanya berbisik, karena kuatir kedengaran Mang Asep.
"Gak apa, Mang Asep juga udah tau kok ceritanya, "jawab Aris sembari melirik Mang Asep.
Lalu Aris pun menceritakan secara singkat apa yang mereka alami tadi, juga tentang botol minyak angin yang dia bawa pada Doni.
Walau mengangguk-angguk mendengar cerita Aris tapi Doni terlihat tidak fokus, seperti ada yang janggal dari gerak-geriknya.
Lalu Aris nyadar dan menyeringai.
"Oh iya Don, lu belum sempat sarapan ya, "ujarnya. Kasihan amat ni anak, padahal udah hampir pukul sebelas saat ini, pikirnya.
Doni cuma mesam-mesem mendengar ucapan Aris.
"Sori men aku rada panik dan gugup karena masalah yang menimpa Rudi, padahal tadi Novi udah siapin bekal, cuma aku lupa untuk menjemputnya di rumah, "ujar Aris lagi.
"Yaudah kita ke kantin aja yuk, "ajaknya.
Walau tidak berkata apa-apa tapi mata Doni langsung terlihat berbinar.
Merekapun berdiri di depan pintu lift menunggu lift tiba.
"Ding Ding, "suara pemberitahuan bahwa lift sudah tiba di lantai 5.
Pintu lift terbuka, terlihat beberapa orang di dalam lift segera bergegas ke luar. Ada seorang pria berseragam biru muda membawa ember dan peralatan untuk mengepel. Hampir bersamaan dengan si pria yang sepertinya cleaning service itu keluar dari lift, seorang ibu menggendong anak perempuannya yang imut juga keluar, setelah kedua orang itu keluar lalu terlihat di belakang mereka ada seorang gadis berbaju oranye, berjilbab hitam dan mengenakan masker putih menatap dengan pandangan kesal pada Aris.
Sesaat Aris balas menatap si gadis dengan bingung lalu kemudian nyengir.
"Lha Novi udah nyampe sini? "Batinnya. Walau gadis itu pakai masker tapi Aris segera dapat mengenali itu adalah Novi. Terlihat Novi mengerutkan alis dan menatap tajam padanya, Aris menyeringai.
"Nih, "ujar Novi sambil mengangkat tangannya menunjukkan rantang plastik. Doni menatap Aris dan gadis di dalam lift bergantian, mulutnya membentuk huruf O begitu menyadari gadis itu adalah Novi dan dengan cepat dia menyambut rantang.
"Alhamdulillah, doaku terkabul, "ujarnya senang.
__ADS_1