Segi Tiga (Driehoek)

Segi Tiga (Driehoek)
Pengejaran di Hutan


__ADS_3

Tak terasa sudah sekitar satu kilometer jauhnya Aris bersama Mang Asep dan rekan-rekannya mencari keberadaan Novi. Pencarian ini mereka lakukan dengan cara mengikuti jejak dari semak yang rebah terinjak, cara yang sangat efektif sejauh ini. Terbukti tak lama kemudian mereka menemukan kembali sebelah sendal Novi.


"Sepertinya jumlah penculik bukan satu orang. Karena tidak mungkin bagi satu orang untuk dapat membawa Novi hingga sejauh ini, "ujar Aris pada Mang Asep.


Mang Asep mengangguk membenarkan.


Perasaan tak menentu yang sedari tadi berkecamuk di dalam diri Aris kini menjadi sedikit berkurang. Dia menjadi lebih bersemangat karena semakin terlihat harapan untuk menemukan gadis itu. Dia pun meminta mereka yang bersamanya untuk mempercepat pengejaran.


"Bertahanlah adikku, kami akan segera menemukanmu, "ucapnya di dalam hati.


Mang Asep segera memerintahkan dua temannya yang hafal wilayah disini untuk berjalan cepat di depan, mereka bertugas mencari jejak sekaligus memantau keberadaan Novi. Sedangkan dua lagi mendampingi dia dan Aris berjalan normal. Itu untuk menghemat tenaga karena mereka belum tahu apa yang bakal mereka hadapi. Bisa saja mereka memerlukan tenaga bila terjadi perkelahian antara mereka dengan para penculik.


Tak terasa mereka pun berjalan sekitar 2 kilometer lagi, hingga kini memasuki pinggiran hutan. Pepohonan mulai lebat menggantikan semak belukar. Sedangkan sinar sang surya sudah semakin redup karena posisinya yang sudah jauh condong ke barat, cahaya panasnya pun mulai berkurang menerpa di kulit tim pencari ini.


Selain sebelah sendal Novi yang mereka temukan sebelumnya, hingga sejauh ini rombongan pencari hanya menemukan jejak pada ilalang, onak, dan duri yang rebah terinjak, sedangkan Novi dan para penculiknya belum juga kelihatan.


Namun tak berapa lama dari kejauhan terdengar suara suitan, itu isyarat Mang Asep dan teman-temannya untuk berkomunikasi jarak jauh. Aris dan yang lainnya segera menghampiri dengan tergesa-gesa, karena suitan tersebut menandakan ada sesuatu yang ditemukan oleh mereka yang berjalan di depan.


Dan benar saja terlihat dua teman mang Asep itu berhenti di dekat kerimbunan beberapa pohon sedang mengamati sesuatu.


"Ada temuan apa mang? "tanya Aris penasaran.


Kedua orang tersebut menyingkir memberi jalan kepada Aris.


Terlihat sesuatu tersangkut di ranting pohon, yaitu kain berwarna hitam. Jantung Aris serasa berhenti begitu dia mengenali itu adalah rok yang dipakai Novi tadi pagi. Diraihnya rok tersebut dan memeriksanya, tidak ada bekas sobek, seolah dilepas dan disangkutkan disitu.


Wajah Aris memerah karena geram, rahangnya mengeras dan giginya bergemeratak beradu. Harapan yang tadinya sempat muncul kini kandas kembali oleh temuan terakhir mereka.


"Kalau ini murni penculikan seharusnya para penculik sudah menelpon atau meninggalkan pesan untuk meminta tebusan. Kecuali ada hal lain yang mereka inginkan..Novi begitu cantik, apa itu yang membuatnya diculik, kalau iya seperti itu dan melihat keadaan rok yang terlepas ini berarti yang diinginkan para penculiknya.. "Aris tak sanggup membayangkan kemungkinan yang menimpa Novi.


Berbagai kenangan yang dia dan Novi pernah lalui bersama melintas berkali-kali di benaknya. Lalu ingatannya kembali pada pesan chat Novi kepadanya, "Novi sayang kakak, om, dan Bunda, kalianlah keluarga Novi. "Nyuuut.. mendadak terasa perih sekali di hatinya.

__ADS_1


"Siapa yang tega melakukan ini pada keluarga kami," "batinnya lagi, mengingat sejauh ini mereka tidak lah memiliki musuh sehingga harus mengalami hal seperti ini.


Walau dengan tangan gemetar dia tetap merekam dengan ponsel rok panjang yang mereka temukan tersampir di ranting pohon itu, dia juga merekam lokasi sekeliling. Itu kelak untuk bahan laporan kepada pihak kepolisian, agar mempermudah kerja para polisi.


"Siapapun yang melakukan ini akan kupastikan mendapat balasan yang setimpal, "desis Aris.


Mang Asep paham kemarahan Aris, karena dia juga merasa marah, karena bagaimanapun dia telah mengenal dan akrab dengan Novi semenjak gadis itu masih bayi. Sedangkan petunjuk berupa rok yang tertinggal ini, menurut perkiraannya bisa saja Novi dibawa kesini lalu diperkosa dan nantinya mungkin dibunuh. Tanpa berkata apa-apa, dengan perasaan sangat sedih dan marah ditepuknya bahu kekar Aris. Lalu dia memberi isyarat pada ke empat temannya untuk terus berjalan.


Aris mendekap rok Novi di dadanya, siapapun yang berani melakukan hal buruk ini pada Novi akan kubuat mereka menyesal terlahir ke dunia ini, tekadnya.


Dia segera mengikuti Mang Asep yang berjalan di depan.


"Sudah hampir maghrib den, "ujar Mang Asep begitu Aris berada disampingnya.


Aris diam tak menjawab, sepertinya dunia ini terasa runtuh baginya. Segalanya jadi terasa gelap, yang ada hanya bayangan wajah Novi yang terus membayangi. Novi yang saat ini mungkin sedang dalam ketakutan, dan putus asa, menunggunya datang untuk menolong.


"Sungai di depan kang Asep, "ujar salah seorang dari teman Mang Asep yang bernama Rano, pria tinggi langsing berumur sekitar empat puluhan. Pria ini adalah salah seorang yang mengenal wilayah ini.


"Airnya dalam? "Tanya Mang Asep.


"Sepertinya penculik neng Novi menyeberangi sungai, "jawab teman Rano yang bernama Karta, saat itu dia membungkuk mengamati rerumputan dipinggir sungai.


"Bagaimana den? "Tanya Mang Asep kepada Aris.


"Den? "ulang Mang Asep.


Aris tersadar dari lamunan.


Buru-buru dia mengeluarkan ponsel dan melihat jam di layarnya. Pukul 18.20, sudah waktunya sholat Maghrib.


"Aku mau sholat dulu disini mang, "jawab Aris pelan.

__ADS_1


"Sehabis Maghrib baru kita menyebrang, "sambungnya.


Mang Asep mengangguk.


Tak lama kemudian..


Selepas Maghrib mereka kembali mencari dengan berbekal lampu senter ponsel yang dibawa Aris dan Mang Asep.


"Begitu gelap keadaan disini, kalian yakin mereka lewat sini? "tanya Mang Asep pada Rano dan Karta.


"Memang aneh kang kalau neng Novi dibawa kesini, tapi barusan kan kita lihat sama-sama setelah menyebrangi sungai jejak yang sama terlihat lagi di sini, "jawabnya.


Iya memang aneh batin Aris, seolah para penculik ini tidak memerlukan cahaya untuk berjalan di tempat segelap ini. Karena sedari tadi mereka tidak ada melihat sedikit pun cahaya dari orang-orang yang sedang mereka ikuti. Padahal sedikit cahaya saja di tempat seperti ini bisa terlihat sampai jauh.


Mereka berjalan lebih pelan dari sebelumnya, dan anehnya sudah begitu jauh mencari mengikuti jejak yang tertinggal tapi belum ada juga ada tanda-tanda dari para penculik.


"Drrt..drrt.."


Ponsel Aris bergetar.


Dia melihat pesan di chat, Doni. Segera ia membacanya.


"Terbongkar, "begitu isi pesan dari Doni.


Aris menatap ponsel dengan bingung. Apanya yang terbongkar? batinnya.


"BERHENTI!!! "


Tiba-tiba saja dua orang rekan Mang Asep yang ditugaskan untuk berjalan di depan terdengar secara bersamaan membentak.


Aris melihat orang-orang yang berjalan bersamanya segera menghunus senjata yang memang mereka bawa sedari awal. Dia buru-buru bergerak maju dan mengarahkan cahaya senter dari ponsel ke depan.

__ADS_1


Cahaya senter nya menerangi sesosok manusia. Sosok bertubuh langsing itu berdiri membelakangi mereka, rambutnya yang panjang berkibar-kibar karena angin yang mendadak bertiup disekitar.


Angin ini bertiup cukup kencang sehingga menerbangkan dedaunan dan rerumputan melayang berputar-putar.


__ADS_2