Segi Tiga (Driehoek)

Segi Tiga (Driehoek)
Kesetiaan Doni


__ADS_3

"Ini kah si penyihir itu? "Batin Aris merinding.


Dia tidak mengira ada makhluk seperti ini di dunia ini, karena selama ini yang dia tahu makhluk-makhluk mengerikan dan monster adanya hanya di film dan di game.


Mata makhluk ini merah dengan manik mata kecil berwarna hitam. Mulutnya menganga lebar hingga nyaris ke pipi, memamerkan gigi-gigi yang tajam. Kulit wajahnya keriput menggumpal-gumpal disana sini bagai gumpalan karet. Selain itu rambutnya kasar seperti ijuk, sedangkan pakaiannya kusam kehitaman dan lecek.


"Kau lihat, tidak ada kecantikan dan kemuliaan bagi yang menyerahkan jiwanya pada kegelapan. Seperti itu lah rupa Anna yang sebenarnya dikarenakan ilmu hitam yang dia tekuni, "tiba-tiba terdengar suara Nyi Sari di telinga Aris.


Aris mengangguk walau heran karena tiba-tiba mendengar suara Nyi Sari yang terasa begitu jelas di telinganya.


"Jangan takut, dia tidak dapat melukaimu, tetap fokus, "ujar suara Nyi Sari lagi.


"Aku belum berpikir soal makhluk ini dapat melukaiku atau tidak Nyi, karena melihatnya saja sudah membuatku merinding. Untuk memejamkan mata juga tak mungkin, karena mataku sudah dalam keadaan terpejam, "ujar Aris di dalam hati.


Nyi Sari terkekeh mendengar ucapan Aris.


"Lha kok aku jadi dapat berkomunikasi dengan Nyi Sari tanpa berbicara, "batin Aris jadi kaget sendiri.


Sosok mengerikan jelmaan Anna menyeringai makin lebar, seolah menunjukkan keseramannya agar Aris mundur, pergi meninggalkan tempat itu. Tapi seperti kata Nyi Sari barusan dia harus fokus.


Aris pun berusaha menepiskan rasa takutnya dan kembali berkonsentrasi.


"Fokus..fokus..jangan perdulikan makhluk yang menyeringai ini, "perintah Aris didalam hati pada dirinya sendiri.


"Tapi memang seram banget, wajahnya begitu mengerikan. Tubuhku sampai terasa bergetar tidak mampu ku kendalikan, duh, "batinnya lagi.


"Fokus Ris..Fokus!! "ujar suara Nyi Sari lagi.


Aris berusaha keras untuk tetap fokus walau tubuh Anna melayang-layang dihadapannya.


"Kok tidak terlihat kakinya, "batin Aris.


"Lha pikiranku kok malah mikir yang aneh-aneh, "batinnya lagi berperang di dalam hati.


Lalu dia mencoba merubah arah yang ditatapnya. Dia melihat jauh seolah menembus tubuh makhluk penjelmaan Anna yang berada sekitar se meter di hadapannya.


Berhasil, walau usaha yang dia lakukan untuk dapat berkonsentrasi terasa sangat lambat dan menyiksa, namun perlahan-lahan dia kembali melihat benda berpendar yang ditemukannya di awal. Benda itu ternyata bergerak menjauh disaat konsentrasinya terganggu oleh Anna. Dan kini begitu Aris memfokuskan pikiran dan pandangannya, benda itu pun terlihat kembali mendekat.


"Nyi.."bisik Mang Asep dengan suara bergetar. Dia melihat gejolak air sungai makin kuat dan makin besar, seolah air disitu sedang di masak dan tengah mendidih.


Karena Nyi Sari tidak menoleh maka Mang Asep memberi isyarat kepada teman-temannya untuk bersiap.

__ADS_1


Mereka pun segera berdiri dari duduknya.


"Jangan tinggalkan lingkaran, belum saatnya!! "tegas Nyi Sari tiba-tiba.


Aneh, Nyi Sari dapat mengetahui apa yang mereka lakukan. Padahal perempuan tua itu dalam keadaan bersila membelakangi mereka.


Mendengar itu Mang Asep dan keempat temannya urung bergerak mendekati Aris. Mereka hanya menatap kuatir pada Air sungai yang semakin bergolak dan kini meninggi hingga mencapai tepian. Dengan gundah mereka kembali duduk bersila seperti sebelumnya.


Lalu "BYUAR.. SPYASH.."terdengar suara ledakan.


Air sungai yang menggelegak tinggi memuntahkan sesuatu dari dalamnya disusul suara tertawa cekikikan. Langit di sekitar sungai pun tiba-tiba menjadi gelap.


Nyi Sari tetap diam tak bergeming, tenang dalam meditasinya. Asep dan yang lain hanya dapat memperhatikan dengan rasa was-was.


Setelah langit yang menggelap kini angin menerpa deras ilalang dan pepohonan di sekitar, terlihat kaus hitam yang dikenakan Aris sampai berkibar-kibar ditiupnya.


Berbeda dengan keadaan Aris, mereka yang di dalam lingkaran tidak terdampak tiupan angin kencang, seolah ada benteng tak terlihat yang melindungi mereka dari terpaan angin.


Suara tawa cekikikan bergema sambung menyambung di sekitar mereka, lalu terlihat lah sosok mengerikan Anna dihantarkan oleh air yang setelah meledak menyembur keatas kini bagaikan tangga melandai ke arah Aris berada.


"Ka.. kau.."Doni terbata-bata begitu melihat sosok mengerikan Anna. Ini adalah perempuan menakutkan yang dia temui dalam mimpinya. Perempuan cantik yang tiba-tiba berubah menjadi menyeramkan dan hendak menerkamnya. Doni baru sadar ternyata mimpinya di awal mereka tiba disini ada hubungannya dengan semua kejadian ini.


Terlihat Anna melayang diatas tanah mendekati Aris. Tubuhnya yang hampir secara keseluruhan terbungkus kain kusam, kini kain itu memanjang dan melebar hendak menggenggam tubuh Aris.


"Sialan!! "geram Doni karena dia melihat tubuh Aris yang diam tak bergerak saat Anna hendak merengkuhnya. Doni berpikir Aris pasti tidak menyadari bahaya yang datang dan dia pun lalu maju menerjang untuk menolong. Walau merasa takut, tapi tubuhnya bergerak spontan mengikuti kesimpulannya barusan.


"Doni!!! "teriak Anita dan Bik Isah bersamaan, kejadian ini begitu cepat dan tak terduga sehingga tidak ada yang sempat menghentikan Doni.


Doni sudah meninggalkan duduknya dan berlari ke arah Aris. Walau terlihat lambat karena tubuhnya gemuk tapi Doni maju dengan gagah berani. Tangannya dipukulkan kesana kemari ke arah Anna, atau mungkin pakaian Anna, yang berusaha menyelimuti tubuh Aris.


Terdengar cekikikan tawa Anna, pukulan-pukulan Doni bagai memukul kain yang ringan. Sebelum tinju gempal Doni mencapainya tubuh atau mungkin pakaian Anna yang tadinya hendak menutupi Aris itu hanya bergerak mundur kesana kemari terkena angin pukulan.


Walau sejauh ini tinjunya hanya mengenai angin, begitupun Doni tak putus asa dan terus berusaha memukul sedapatnya.


Anita dan yang lain yang awalnya menonton dengan khawatir belakangan jadi terlihat senang. Terlihat perlahan Anna bergerak mundur meninggalkan Aris karena dihalau pukulan Doni.


"Anak muda memang sulit menahan diri, "desis Nyi Sari mengeluh.


"DONI MUNDUR!!! "bentak Nyi Sari.


Doni menoleh sesaat, tapi menurutnya tanggung, sejauh ini apa yang dilakukannya sudah berhasil. Terbukti Anna sudah berhasil di dorong mundur hingga kembali ke tepi sungai.

__ADS_1


"MUNDUR SEKARANG!!! "teriak Nyi Sari lagi. Walau masih dalam keadaan terpejam tapi dia melihat yang tidak dilihat oleh mereka semua. Mereka tidak tahu kalau yang terlihat muncul ke permukaan air adalah tipuan yang dibuat Anna. Dan dia melihat bahaya sesungguhnya berada di dalam air, menunggu. Yaitu sosok Anna yang sebenarnya yang sedang mengintai mencari kesempatan.


Doni justru semakin semangat mencecar dengan pukulan walau sejauh ini tidak ada yang berhasil dia kenai.


"Den.. "teriak seorang teman Mang Asep lalu melemparkan golok beserta sarungnya ke dekat Doni.


Doni memungut golok yang jatuh tak jauh dari kakinya lalu menghunusnya, setelah itu dengan sekuat tenaga dia menyabet-nyabetkan golok di tangan ke arah Anna.


Walau sebenarnya dia masih ngeri melihat tampilan musuh. Tapi selama makhluk ini bisa di halau tidak jadi masalah mau semenakutkan apa pun tampilannya, batinnya.


Anna masih tertawa cekikikan sambil perlahan bergerak mundur, hingga kini kaki Doni menginjak tepian sungai yang berair.


"Syukurlah, makhluk ini bergerak mundur, "batin Doni senang. Dari tepi sungai tempatnya berdiri dia terus menyabet-nyabetkan golok sejauh tangannya menjangkau dan memang sosok mengerikan Anna bergerak mundur ke tengah sungai lalu perlahan pupus.


Dan..


"BRUSHH.. SPLASH!! "dua buah tangan keluar dari dalam air, tangan perempuan yang mulus. Sosok sebenarnya si penyihir Anna pun muncul, walau hanya sebatas kedua lengannya saja. Dan kedua tangan tersebut langsung menggenggam pergelangan kaki Doni lalu menariknya.


Doni langsung jatuh terduduk, dengan panik di sabetkannya golok ke arah pergelangan tangan Anna. Berkali-kali sabetan itu berhasil mengena menimbulkan suara "bak buk" tapi tidak menimbulkan luka di tangan Anna yang masih kelihatan licin dan mulus.


"Crash!! "


"Aduh!!! "Jerit Doni, sabetan yang mengenai pergelangan tangan Anna mental lalu mengiris betisnya Sendiri, cukup dalam.


Doni tancapkan golok ke tanah demi tubuhnya tidak ditarik masuk ke dalam sungai. Namun kedua tangan Anna begitu kuat menarik tubuhnya.


Golok yang di tancapkan Doni sampai menimbulkan guratan dalam memanjang di tanah karena menahan tubuhnya yang sedang ditarik.


Kini tubuh Doni sudah terbenam sepinggang, dan..


"BRUSHH!!! "Wajah cantik Anna pun muncul menyeruak dari dalam air. Ekspresi dingin dan seringainya yang kejam menyorot ke arah wajah Doni yang mendadak pucat pasi bagai tak berdarah lagi.


"Mati lah aku, "batin Doni ketakutan. Dalam panik golok yang ditancapkan di tanah sebagai penahan, kini di tariknya dan bacokkan ke kepala Anna.


"Dugh!! "


Golok tajam tepat mengenai pertengahan kepala Anna, tapi tidak menghasilkan luka disitu. Kepala Anna cuma tersentak karena kuatnya pukulan, namun dia justru menyeringai makin lebar kepada Doni.


"Je bent dood, "ucap Anna dengan suara serak dan berdesis.


"Je bent dood. "

__ADS_1


Doni menyerah pasrah, tidak ada lagi yang dapat dia lakukan saat ini. Dan perlahan Anna menariknya hingga tubuh Doni terbenam seleher.


__ADS_2