Segi Tiga (Driehoek)

Segi Tiga (Driehoek)
Kerja Keras di Pagi Hari


__ADS_3

Ternyata Nyi Sari mengetahui ada sesuatu yang terjadi pada Aris dan Doni walau tidak bisa memastikan itu apa.


Doni diam mendengarkan perbincangan Aris dengan Nyi Sari, persis seperti yang diceritakan Aris sebelumnya, tampaknya perempuan ini memang memiliki kelebihan yaitu dapat merasakan atau mungkin melihat apa yang sedang terjadi dan yang sudah terjadi walau tidak terlalu akurat.


"Itu mereka juga Ris, tapi entah apa mau mereka, "ujar Nyi Sari.


"Maksudnya arwah Anna dan kekasih gelapnya Dadang Nyi? "Tanya Aris.


"Arwah? "Nyi Sari tertawa sebelum melanjutkan.


"Mana ada arwah orang mati berkeliaran, aku tidak tahu apa ilmu yang diamalkan kedua orang itu, tapi kini bisa aku pastikan bahwa Anna tidak terbunuh oleh kakekku dulu, "jawab Nyi Sari.


"Duh tambah bingung, "batin Aris.


"Anna itu masih hidup, mungkin karena ilmu hitamnya yang menyebabkan dia sanggup bertahan selama ini. Sedangkan Dadang sendiri tubuh fananya dikembalikan sesuai perjanjian dengan junjungannya, tapi dalam kehinaan sebagai kera, "jelas Nyi Sari.


"Kera itu benar jelmaan Dadang si raja begal  Nyi? Trus apa yang dapat kami lakukan? "Tanya Aris kaget.


"Kalau berdasarkan yang aku rasakan, serangan tadi tidak dapat melukai kalian, hanya seperti tipuan mata.."Nyi Sari terdiam sebentar, lalu melanjutkan ucapannya :


"Atau kalaupun Dadang mengambil wujud kera kecil seperti yang selama ini dia lakoni, maka apa lah yang dapat dilakukan seekor kera sekecil itu pada kalian? "Tanya Nyi Sari.


Aris mengangguk, "sepertinya mereka sepasang kekasih itu menyerang dengan menggunakan muslihat untuk menipu pandangan kami dan kami termakan tipuan mereka, syukurnya kecelakaan yang kami alami tidak parah, "batinnya.


"Tapi lain halnya dengan Anna, dia masih memiliki tubuh manusia yang dapat menyerang dan dapat dipergunakan untuk merapal kesaktian, "sambung Nyi Sari lagi.


"Hanya saja, ilmu jenis apapun ada batasannya, tak terkecuali pada Anna, sepertinya ilmunya hanya terbatas di perkampungan yang ditinggalkan, "jelasnya.


"Jadi kami tidak perlu khawatir Nyi? "Tanya Aris.


"Waspada, itu yang perlu. Jangan sampai tertipu seperti sebelumnya karena mereka akan terus berusaha memperdaya hingga kemauan mereka terwujud, dan jangan sampai ketakutan menguasai diri kalian, karena rasa takut tak terkendali dapat mematikan akal, "Ujar Nyi Sari.


"Saranku, lain kali lebih berhati-hatilah, dan perbanyak berdoa sebelum bepergian, itu saja, "sambungnya.


Panggilan pun ditutup.


Aris dan Doni saling berpandangan sesaat.


"Nggak ada solusi pasti, kirain ada yang dapat kita lakukan untuk mengakhiri ini, "keluh Aris pada Doni.


Doni mengangguk.


"Syukurnya dia tidak menyinggung soal botol minyak angin, "ujar Aris ke Doni sambil nyengir.


"Oh iya, benar juga, "jawab Doni. Bisa ngomel tuh orang tua kalau tahu air di dalam botol minyak angin tidak jadi mereka minumkan ke Rudi.


Aris menatap ponsel di tangan, saat hendak mengunci ponsel terlihat pemberitahuan medsos muncul di layar ponsel berbunyi "temanmu Novi Dahlia Falguni dan Rudi Mahesa sebentar lagi berulang tahun..

__ADS_1


Aris membuka pesan pemberitahuan  tersebut.


"Lha baru nyadar, ternyata Rudi dan Novi tanggal dan bulan lahirnya sama, "ujar Aris.


Doni ikut-ikutan membuka ponsel, diketuk-ketuknya layar ponselnya, "lha iya ya, "ujarnya.


"Semoga Rudi udah pulih sepenuhnya saat ultahnya nanti, "ujar Doni mengingat ini sudah tanggal 10 November.


"Unik ya, tanggal ulang tahunku pun sama, tanggal 15 juga cuma bedanya aku lahir di bulan Januari, sedang mereka berdua di bulan November, "ujar Aris tertawa kecil.


"Kalo lu, lu kan lahirnya saat peletakan batu pertama kota Batavia, "ledek Aris.


Doni cuma nyengir.


"Gua lahir di tangga, "jawabnya ngaco.


Suasana sudah tidak menegangkan lagi seperti sebelumnya. Aris dan Doni beranggapan apa yang menimpa mereka cuma karena kurang berhati-hati sehingga apes. Tapi apakah benar begitu?


Terdengar gerakan dari arah rumah, ternyata Bik Isah yang barusan keluar, dia sedang hendak menutup jendela. Begitu mendengar ada suara orang sedang berbicara di luar pagar dia segera menghampiri.


"Biar aku aja yang jelasin, "ujar Aris kepada Doni.


Doni mengangguk.


Aris pun menceritakan ke Bik Isah kalau kabut menyamarkan jalanan di depan mereka hingga mobil terperosok ke parit.


"Memang kabutnya tebal sekali tadi, kamu juga udah tahu seperti itu keadaannya bukan kembali aja, paling nggak menunggu situasi aman baru pergi. Toh temanmu nggak bakal kemana-mana, "ujar Bik Isah.


"Iya bik maaf, "ujar Aris.


Doni ikut mengangguk berdiri disamping Aris dengan gaya memelas.


"Syukurlah kalian tidak kenapa-napa, "ujar Bik Isah lagi.


Tak lama Novi yang mendengar orang berbicara di depan rumah turut keluar.


"Ada apa bunda? "Tanyanya dan menatap heran karena Aris dan Doni sudah tiba di rumah, berjalan kaki.


Aris pun kembali menjelaskan kepada Novi, dan Novi kaget setengah mati mendengar cerita Aris. Karena baru kali ini kakaknya ini mengalami kecelakaan separah ini.


Dipandanginya Aris dari kepala ke kaki dengan ekspresi cemas.


"Tapi kak Aris dan kak Doni nggak kenapa-napa kan? "Tanyanya khawatir, walau menanyakan keadaan Aris dan Doni tapi matanya hanya menatap Aris.


"Kami nggak apa-apa kok, "jawab Aris menenangkan.


"Iya, terima kasih sudah bertanya, "ujar Doni nyengir tahu dirinya sebenarnya diabaikan.

__ADS_1


"Ya sudah kalian berganti pakaian dulu sana, biar Novi bikinkan minuman hangat untuk kalian, "ujar Bik Isah.


Mereka pun segera masuk ke dalam rumah.


Sementara itu di luar pagar rumah, tak lama Aris dan yang lain masuk ke dalam, kabut putih muncul kembali menggumpal-gumpal begitu pekat, jauh lebih pekat dari sebelumnya. Lalu gumpalan kabut tersebut menghantarkan satu sosok yang begitu saja keluar dari dalamnya.


Sosok itu menatap dingin ke arah rumah Bik Isah. Namun sosok itu bukanlah Anna ataupun kera kecil jelmaan Dadang, sosok itu bertubuh tinggi langsing, yaitu sosok Rudi.


Paginya.. pagi-pagi sekali.


Ditemani Mang Asep dan dua orang temannya, Aris dan Doni mendatangi lokasi kecelakaan tadi malam berboncengan mengendarai tiga sepeda motor.


"Nggak parah den, "ujar Mang Asep setelah mengelilingi dan melihat keadaan mobil.


Aris mengangguk, dia juga berpendapat sama. Dengan sedikit waktu dan biaya, goresan di mobil dapat segera hilang, batinnya lega.


Mereka segera mengeluarkan tali dari dalam mobil, rencananya tali tersebut salah satu ujungnya akan diikat ke pengerek yang memang sudah ada di bagian depan mobil, sedangkan ujung satunya di ikat ke pohon sebagai penahan.


Mang Asep dan kedua temannya menggunakan cangkul melandaikan tebing parit agar dapat di lalui ban mobil.


Aris masuk ke mobil untuk mengemudikannya, untungnya mobil Jeep ini memang disiapkan untuk kondisi di medan seperti ini. Sekitar 15 menit menyiapkan peralatan, dan cuma butuh 5 menit bagi Aris untuk mengeluarkan mobil dari dalam parit, ban Jeep yang besar tanpa kesulitan berhasil menaiki tebing parit yang sebelumnya sudah di landaikan.


Aris dan yang lain memeriksa keadaan Jeep. Benar tidak ada kerusakan apapun, hanya beberapa goresan di bemper depan, dan itu tidak masuk hitungan.


Karena mobil dalam kondisi laik jalan, Aris pun menelpon Bik Isah untuk mengabarkan kalau mereka segera berangkat ke rumah sakit. Aris juga menelpon adik kesayangannya Novi bahwa mereka langsung berangkat ke rumah sakit, sehingga tidak perlu dibikinkan sarapan.


"Hati-hati di jalan kak, jangan bikin Novi cemas, "ujar Novi.


Bik Isah yang sedang menyapu didekat Novi tersenyum mendengarnya.


"Iya, "jawab Aris.


Aris menoleh Doni yang sepertinya sedang menyandingkan ponsel dengan audio mobil.


"Syukur ni anak gak denger pembicaraanku dengan Novi. Kalau dengar udah pasti dia ngeledek, "batin Aris.


Mereka pun berpamitan pada mang Asep dan kedua temannya.


Sekitar 15 menit berkendara dengan kecepatan sedang, mereka pun tiba di rumah sakit. Setelah mereka berdua keluar dari mobil, Aris menekan kunci mobil, mengaktifkan kunci otomatis dan alarm mobil lalu melihat jam di ponsel, pukul 8.30.


"Masih pagi men, kita sarapan aja dulu ya, "ujar Aris lalu mengajak Doni ke kantin. Doni mengangguk senang.


Begitu mereka memasuki kantin ibu penjaga kantin menatap mereka, memperhatikan, lalu menarik napas lega. Ternyata kedua pemuda ini tidak ada membawa rantang sehingga dia tidak perlu menyiapkan piring kosong.


"Teh manis hangat den? "Tanyanya.


Aris dan Doni nyengir lalu garuk kepala bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2