Segi Tiga (Driehoek)

Segi Tiga (Driehoek)
Pertarungan


__ADS_3

Sebelumnya di rumah..


Setelah berbasa-basi sebentar lalu Bik Isah membawa Anita ke beranda dan memperkenalkannya pada Doni.


Kesempatan membalas, batin Doni


"Saya omnya Aris, "sindirnya sambil menyalami Anita.


"Oh bapak tinggal disini toh? "Jawab Anita dengan gaya akrab.


"Dih ini cewe, "batin Doni.


Bik Isah menatap mereka berdua dengan curiga, ada yang janggal dari cara berinteraksi kedua orang ini.


"Kalian sudah saling mengenal ya? "Tebaknya.


"Iya bik, mereka tadi pagi berkunjung ke Rumah Sakit tempat saya bekerja, kebetulan di Rumah Sakit saya yang sedang bertugas piket, "jawab Anita apa adanya.


Karena Bik Isah yang bertanya Doni tersenyum dan mengangguk, lalu tiba-tiba dia teringat sesuatu.


"Gawat.. bagaimana kalau Anita sampai.."


Tapi yang ditakutkan Doni justru terjadi.


"Sayangnya teman yang hendak mereka besuk itu ternyata sudah keluar di malam sebelumnya, "ujar Anita.


Bik Isah menatap heran ke arah Doni, tanpa memalingkan wajah dari Doni dia bertanya.


"Teman mereka yang bernama Rudi? "Tanyanya pada Anita


"Iya bik, jadi .."jawab Anita, tanpa beban gadis ini pun menjelaskan. Karena mengkhawatirkan Rudi yang pergi begitu saja padahal tidak tahu daerah sini, maka Aris meminta nomor Anita setelah itu memberikan nomor Doni kepadanya untuk bertukar informasi seandainya tiba-tiba Rudi kembali ke rumah sakit.


Tanpa bisa di rem Anita meneruskan ceritanya..


Tapi ternyata Rudi tidak juga kembali hingga saat ini, itu sudah dia pastikan barusan dari perawat yang tengah piket. Selain hal tersebut Anita juga menyampaikan kalau ternyata sebelum meninggalkan rumah sakit Rudi menuliskan pesan yang aneh.


Anita pun menunjukkan pesan tersebut yang sebelumnya telah dikirimnya melalui chat ke Doni.


"Na twintig jaar zullen bloemen bloeien.


Driehoeken worden losgemaakt en vrienden worden vijanden. "baca Bik Isah pelan.


"Apa artinya? "tanyanya.


Sebentar bi biar Anita terjemahkan, "ujar Anita lalu mengetuk-ngetuk ponselnya.


"Setelah dua puluh tahun, bunga akan mekar.


Segitiga dilonggarkan dan teman menjadi musuh."ujar Anita membaca terjemahan di ponselnya.


Mereka bertiga saling menatap bingung. Tapi kemudian Bik Isah menatap tajam ke Doni.

__ADS_1


Memang banyak hal aneh belakangan ini terjadi dan kecurigaannya terus bertambah setiap hari. Dia yakin masih banyak lagi yang ditutupi Aris dan teman-temannya, bisa jadi itu berhubungan dengan menghilangnya Novi.


"Apa sebenarnya yang kalian rahasiakan? Kenapa kalian tidak menceritakan kalau Rudi ternyata sudah pergi dari Rumah Sakit? "tanya Bik Isah ke Doni.


Doni diam tak menjawab.


"Sebentar bi, ada lagi yang hendak kusampaikan, setelah itu baru kita sama-sama dengarkan apa kata bapak ini, "ujar Anita.


Bik Isah mengangguk tanpa melepaskan pandangan dari Doni, seolah kuatir pemuda ini lari meninggalkan tempat ini.


Anita pun melanjutkan ceritanya..


Barusan sebelum dia berangkat kesini, adik dari kakek Anita yaitu yang bernama Nyi Sari berkunjung ke rumahnya. Rumah Anita memang tidak jauh dari rumah Nyi sari, jadi sudah biasa mereka saling mengunjungi. Tapi tadi entah tahu darimana Nyi Sari tersebut tiba-tiba saja menanyakan pada Anita apakah Aris dan temannya ada bertemu dengannya di rumah sakit. Dan Anita pun menjelaskan apa yang dia alami saat bertemu Aris dan Doni.


Sudah cukup, batin Bik Isah, dia juga mengenal Nyi Sari walau tidak terlalu dekat. Semenjak kecil dia telah mengenal orang tua yang jadi teman keluarganya itu, dan dia tahu kalau nenek itu punya kemampuan pengobatan pada penyakit yang berkaitan dengan gangguan ghaib.


"Apa sebenarnya yang kalian sembunyikan, "ulang Bik Isah pada Doni.


Doni meringkuk diam dalam duduknya, barusan dia terkejut karena Anita ternyata kenal Bik Isah. Ditambah keterkejutan lain ternyata rumah Anita tidak terlalu jauh dari sini, dan yang paling mengagetkan adalah Anita masih terhitung cucu dari Nyi Sari. Apes.. apes.. mana Aris nggak disini, bagaimana aku harus menjelaskan pikirnya.


"Mm.."Doni bingung hendak memulai cerita ini darimana karena yang lebih paham sebenarnya adalah Aris. Dan ide Aris juga untuk menyimpan cerita hingga saat ini.


"Ceritakan saja apa adanya, "ujar Bik Isah. Sungguh semua kejadian ini yang beruntun terjadi menguras kesabarannya, dia hanya ingin ini semua berakhir dan menjalani kembali kehidupan normal seperti sebelumnya.


Dan begitulah, Doni menceritakan secara singkat apa yang dia tahu juga yang dia alami. Yaitu tentang kejadian disaat mereka memancing, lalu saat Rudi dia bawa ke Rumah Sakit, juga soal cerita Nyi Sari kepada Aris hingga gangguan di malam hari saat hendak menjenguk Rudi dan berakhir dengan menghilangnya Rudi.


Mata Bik Isah terbelalak kaget karena mendengar cerita Doni.


Sama juga dengan Anita yang benar-benar kaget karena dia tidak menyangka ternyata masalahnya seruwet ini.


Mereka terdiam sesaat, mencerna dan merenungi apa-apa yang barusan mereka dengar. Banyak yang tidak masuk akal dari cerita Doni, tapi memang itu yang telah terjadi. Hening, hanya terdengar suara orang mengaji di masjid karena memang sudah hampir Maghrib.


"Ehm..Bik, sebelum aku lupa. Nenek sebentar lagi juga mau kemari, dia bilang tadi ada perlu sebentar setelah itu dia akan kesini diantar cucunya, "ujar Anita memecah keheningan.


"Dia juga tadi yang menyuruhku kesini untuk membantu menerangkan, karena katanya aku juga termasuk saksi dari cerita ini, "sambungnya.


Sementara itu di hutan..


Orang-orang yang bersama Aris sudah mengepung pria yang mereka temukan di hutan.


Setiap orang bersenjata tajam di tangan masing-masing, klewang, dan golok.


Sedangkan Aris sedari berangkat hanya bertangan kosong.


Aneh menurutnya, bagaimana mungkin satu orang pria ini bisa membawa Novi (seandainya ini memang penculik Novi), melihat posturnya yang terbilang kurus.


Dia berhati-hati mendekat sambil menggunakan inderanya semaksimal mungkin, karena bisa jadi ini jebakan, teman orang ini mungkin menunggu di kegelapan untuk menyerang saat mereka lengah.


"Hati-hati terhadap sekeliling, "ujar Aris.


Kini dia hanya beberapa meter di depan pria ini ..

__ADS_1


Lha..kok dia merasa mengenali orang ini, dari postur dan pakaiannya tidak terlihat asing sama sekali.


"Rud.. ini kamu? "Tanya Aris bingung, akhirnya dia mengenali sosok ini. Hanya saja dia harus memastikan apa mungkin ini benar Rudi atau cuma ilusi hasil pekerjaan sihir Anna, batinnya. Lagipula ngapain Rudi disini, trus apa ada hubungannya dia dengan para penculik Novi?


Pria itu berbalik, dan benar itu adalah Rudi. Dia mengenakan pakaiannya yang dibawa oleh Doni saat mengantarnya ke rumah sakit.


"Jangan mendekat, "ujar Rudi, ekspresinya begitu dingin.


"Lha, "batin Aris heran.


"Aku ingin kalian pulang, "ujar Rudi dengan nada memerintah.


Hening sejenak..


Lalu terdengar kembali Rudi berbicara, tapi bukan pada Aris ataupun orang-orang yang bersamanya. Karena Rudi berbicara sambil menunduk, seolah-olah ada orang lain yang tak terlihat sedang berbicara pada dirinya.


"Aku tidak akan melukai mereka, itu urusanmu dengan keluarga mereka, aku hanya inginkan gadis itu, "tunjuknya ke atas pohon besar dengan gusar.


Aris dan yang hadir disitu merasa heran dengan ocehan Rudi yang nggak jelas ditujukan pada siapa. Begitupun mereka menoleh ke tempat yang ditunjuk Rudi.


Memang terlihat samar-samar ada sesuatu pada ketinggian sekitar empat atau lima meter di dahan pohon.


Aris menyorot dengan senternya, dan terlihat ada seseorang terbaring di sana. Tertelungkup di antara beberapa dahan yang berdekatan.


"Novi!! "Teriak Aris girang.


Dia mengenali dari pakaian dan bentuknya, siapa lagi kalau bukan Novi. Novi terbaring diam tak bergerak, gadis itu mengenakan pakaian dan jilbab yang sama dengan yang dikenakannya pagi tadi.


Sedangkan di bagian bawah, Aris menarik napas lega karena Novi mengenakan celana olahraga hitam.


Dia jadi teringat Novi memang selalu mengenakan celana di balik roknya agar dapat beraktifitas dengan bebas.


"Alhamdulillah Novi selamat, dan masih utuh, "batin Aris senang, benar-benar lega. Hanya saja sepertinya gadis itu pingsan.


Dua dari teman mang Asep segera bergerak menghampiri pohon tanpa di perintah.


"Tunggu!! aku ingatkan kalian, "ujar Rudi.


"Gadis itu pergi bersamaku, sedangkan kalian pulang lah demi keselamatan kalian!! "Ujar Rudi.


"Apa maksudmu Rud? Itu adikku, "ujar Aris bingung.


"Apa yang merasuki mu? "Tanya Aris lagi mulai curiga, tidak bisa diabaikannya fakta bahwa Rudi menghilang dari rumah sakit dan tiba-tiba bisa berada disini bertepatan dengan ditemukannya Novi.


Kedua teman Mang Asep meneruskan mendekat lalu satu orang terlihat berusaha memanjat pohon.


Rudi menghentakkan kakinya ke tanah, "blam" terasa tanah didekat mereka bergetar.


"Aku sudah ingatkan kalian, tapi kalian masih membandel, baiklah sepertinya kalian perlu di beri peringatan lebih keras, "ujar Rudi.


Tubuhnya bergerak dengan cepat menyerang dua orang teman Mang Asep yang berada di dekat pohon.

__ADS_1


"Bletak!!"


"Duak!!"


__ADS_2